
Robin mendesah panjang ketika berada diambang pintu. Tangannya ragu untuk membuka pintu rumahnya sendiri. Dalam hati ia berharap bahwa si mantan Jonah itu sudah meninggalkan rumahnya. Tapi saat ia membuka pintu, hal yang pertama kali ia lihat justru keberadaan sosok itu.
Jessie sedang duduk di sofanya menonton TV sambil memasukkan potongan buah kedalam mulutnya. Wanita itu segera menoleh ketika Robin muncul dibalik pintu.
"Aih, kenapa kau masih disini?!"
Jessie mengerjapkan matanya sembari kembali menatap layar TV, tak mengiraukan Robin.
Jonah memperhatikan hal di sekeliling Jessie. Bantal sofa berhamburan, kulit kacang berserakan, dilantai dan di atas meja juga terdapat sedikit genangan air. Belum lagi tentang Jessie yang kini memakai kemeja serta selimutnya.
"Apa yang kau lakukan terhadap rumahku?! Ya Tuhan, kau bahkan memakai kemeja kesayanganku!" Robin mengusap wajahnya kasar.
"Aku tak punya baju ganti, jadi ku pakai saja bajumu. Memangnya kenapa? apa karena ini mahal? aku bisa menggantinya." sahut Jessie.
"Ah, sial. Kau juga mengotori selimutku! aku membelinya di luar negeri!" Robin segera mendekat dan langsung menarik selimutnya dari tubuh Jessie.
Wanita itu menjerit seketika. Robin juga secara refleks melempar kembali selimut itu pada Jessie. Pasalnya Robin tak mengetahui bahwa Jessie tak memakai celana. Otomatis saat ia menarik selimut tadi pakaian dalam wanita itu terpampang jelas.
"Ah, sial. Kenapa kau tidak memakai celana?!"
"Sudah kubilang aku tidak bawa pakaian ganti dan semua celanamu tidak ada yang cocok untukku, ya sudah, kututupi saja dengan selimut. Kau saja yang tak tahu malu membukanya sembarangan." sahut Jessie sembari kembali memperbaiki posisi selimutnya.
"Kalau begitu pulang sana ke rumahmu."
"Tidak mau." Wanita itu melipat kedua tangannya didada.
"Hey, rumahku bukan tempat penginapan!"
"Aku akan pulang jika Jonah yang menjemputku dan mengantarkanku pulang." ujar Jessie.
"Sadarlah! Jonah itu sudah menikah! untuk apa kau mengharapkannya?! jangan pernah berpikir untuk merusak kebahagiaan orang lain." Robin menasihatinya.
"Sialan. Ini semua akibat wanita pembawa sial itu. Apa yang membuat Jonah bersedia menikahinya?! apa bagusnya ia dibanding aku?!" celoteh Jessie.
__ADS_1
"Mana aku tahu! lebih baik kau pulang sekarang, pergi dari rumahku!"
"Ck, biarkan aku disini beberapa hari dulu. Nanti aku bayar sewa."
"Lebih baik kau menginap di hotel saja sana!"
"Ck, aku sudah terlanjur disini. Aku tidak dulu ingin keluar untuk beberapa hari." Jessie mengencangkan kuciran rambutnya.
"Ini rumahku! aku berhak mengusirmu!" bentak Robin.
"Aish, berbaik hatilah pada wanita yang sedang patah hati." cicit Jeesie, wanita itu memasang tampang memelas.
"Jessie, lebih baik kau pulang sebelum aku mengusirmu, jika kau tak keberatan aku bersedia mengantarmu." tutur Robin dengan tarikan napasnya.
"Aku tidak bisa pulang. Apartemenku penuh dengan foto Jonah, yang ada nanti aku menangisinya lagi." Jeasie mencemberutkan wajahnya.
"Panggil orang untuk mengangkut semua foto Jonah keluar. Setelah itu kau pulang." Robin tak kehabisan akal.
"Astaga!" Robin menepuk jidatnya.
"Lebih baik kau saja yang pergi jika keberatan aku disini." sela Jessie.
"Yang benar saja?! ini rumahku! kenapa malah aku yang di usir?!" Robin frustasi akan tingkah Jessie.
"Kalau begitu biarkan saja aku tinggal disini untuk beberapa hari."
"Ya Tuhan! pantas saja Jonah memutusimu." Robin bergumam.
"Apa kau bilang?!!" Jessie melebarkan matanya menatap nyalang ke arah Robin.
"Ya! aku bilang lebih baik kau pergi sekarang!"
"Ah berisik sekali! pergi ke kamarmu dan ambil tasku, di dalamnya ada kartu akses apartemenku, ambil dan pergilah kesana. Kita bertukar tempat tinggal untuk sementara." usul Jessie.
__ADS_1
"Saran konyol macam apa itu?! tidak masuk akal sekali!" protes Robin.
"Kau bisa tinggal disana dan membersihkan semua foto Jonah, bukankah itu bagus? aku bisa pulang setelahnya jika seluruh foto Jonah telah tiada." tawar Jessie lagi.
"Itu sama sekali tidak menarik.
"Terserah kau saja. Aku hanya mencari jalan tengah. Apapun itu, aku tetap tidak akan pergi dari sini untuk beberapa hari ke depan." Jessie kembali memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya.
"Sial!" umpat Robin. Pria itu kemudian bergegas menuju kamarnya. Saat pertama kali membuka pintu, ia harus menarik napas panjang, berusaha sabar saat melihat keadaan kamarnya.
Bantal dan gulingnya tergeletak di lantai, seprei yang teracak-acak, lemari pakaiannya seperti habis di bobol perampok, baju-bajunya berhamburan, dan yang paling mencolok adalah gaun serta bra yang pastinya milik Jessie yang juga tercecer di lantai.
"Dasar monster!" umpat Robin kesal.
Saat melihat tas milik Jessie yang tergeletak di atas nakas, Robin langsung meraihnya lalu mencari sesuatu yang dibutuhkannya, kartu akses apartemen Jessie.
Pria itu lalu mengambil beberapa pakaian lantas segera beranjak keluar. Ia berhenti tepat di ruang tamu menghadap Jessie.
"Hanya satu malam!"
Jessie mendelik. "Dua malam."
"Satu malam. Titik!" Robin menegaskan.
"Terserah apa katamu. Aku akan tetap berada dua malam disini." Jessie mengibaskan rambutnya.
"Ck, baiklah hanya dua malam! setelah itu tidak ada tawar-menawar lagi! ingat, jangan membakar rumahku!"
"Haaah, ya ya ya, cepat pergi sana kau ini sangat berisik!"
"Setelah ini aku tidak akan kasihan lagi denganmu!"
Setelah berkata demikian, pria itu lantas meraih kunci mobil yang tadi sempat ia letakkan di meja di samping televisi. Setelah itu Robin bergegas keluar rumah.
__ADS_1