Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Tragedi di Restoran


__ADS_3

Jonah segera melajukan mobilnya. Selang lima belas menit, mobilnya menepi ke sebuah restoran bernuansa mewah dipusat kota.


"Ini restoran favoritku. Aku yakin kau menyukainya." ujar Jonah.


Dua sejoli itu turun dari mobil dan segera berjalan memasuki pintu restoran.


Aura tempat makan ini luar biasa. Bahkan saat memasukinya pun mata sudah dimanjakan dengan tata letak furnitur yang rapi serta kemewahan isinya. Bahkan di lantainya pun seakan bisa bercermin saking kinclongnya.


"Kita duduk di situ." Jonah menuntun Ally menuju salah satu meja.


"Kau ingin pesan yang mana?" tanya Jonah seraya membuka sebuah daftar menu yang ada di meja.


Ally menautkan alisnya demi melihat nama-nama serta tampilan gambar makanan yang belum pernah ia makan ataupun lihat sebelumnya.


"Emm... samakan denganmu saja." ucap Ally pada akhirnya.


Jonah mengangguk. Ia segera melambaikan tangannya ke arah seorang pelayan. Orang yang merasa terpanggil tersebut segera mendekat.


"Aku pesan yang seperti biasa, dua porsi, tidak usah pakai anggur."


"Baik, Tuan Jonah." tanggap pelayan itu. Dengan sopan ia meraih buku daftar menu yang ada di meja lalu membawanya pergi.


"Apa dia tahu maksudmu?" tanya Ally heran sebab Jonah tak menyebutkan nama menu yang ingin dipesan.


"Tenang saja. Dia tadi mengenalku dan dia pasti tahu." jawab Jonah dengan tampang angkuhnya.


Ally mendengus jengah. Tidak bisa dipancing sedikit, pria itu pasti selalu menemukan kata-kata untuk menyombongkan diri, Ally selalu kesal karenanya.


"Ally, apa kau suka tempat ini?" tanya Jonah seketika.


Ally menatapnya balik. "Iya, suka," ucapnya singkat dan jujur. "Kenapa?"


"Tidak, hanya bertanya. Jika kau tak suka maka kita bisa pindah restoran." titah pria bernetra hitam itu.


"Tidak usah. Aku suka tempat ini." gadis itu tak bisa menahan dirinya untuk tidak menghirup aroma bunga didalam vas kaca yang ada dihadapannya sejak tadi. "Harum." gumamnya tersenyum.


Jonah ikut tersenyum memperhatikan Ally yang tengah memejamkan matanya saat mencium aroma bunga yang ada diatas meja mereka.


"Jonah?!" seru seseorang tiba-tiba membuat tak hanya Jonah tapi Ally juga ikut terkejut dengan pekikan nyaring itu.

__ADS_1


Keduanya menoleh ke arah seorang yang barusan memanggil nama Jonah.


Pria yang namanya dipanggil itu membelalakkan matanya ketika menangkap sosok seorang yang memanggil namanya tadi.


"Jessie?" Jonah ternganga menatap wanita itu, tak mengira akan bertemu dengannya.


"Akhirnya aku menemukanmu! Ya! Kemana saja kau sebulan ini?! kenapa kau memblokir nomor teleponku?!" cerocos wanita bernama Jessie itu.


Kini matanya menoleh ke arah Ally, lalu kembali menoleh Jonah. "Siapa wanita ini?! kenapa dia bisa bersamamu?!"


"Jessie, kau ini apa-apaan? tidak bisakah kau bertanya tanpa membentak?! Ini di tempat umum, tolong jaga sikapmu." Jonah merasa malu ketika beberapa orang di meja lain mulai menatapi mereka.


"Siapa wanita ini?!" tanya Jessie sekali lagi.


"I-ini, ini Ally. Dia, ah... dia..."


"Dia apa?!" bentak Jessie.


Ally memperhatikan keduanya heran. Jonah terlihat seperti takut dengan wanita ini, ia terlihat sungkan memperkenalkan Ally sebagai istrinya, hal itu membuat Ally jengah.


"Aku istrinya." celetuk Ally sembari menatap tajam Jonah.


"Hey, jaga mulutmu!" tegur Jessie. "Tak tahu malu mengaku sembarangan!"


"Yang benar saja?! Jonah, jangan bercanda?!" Jessie mengerutkan keningnya.


"Jonah, siapa wanita gila ini? kenapa dia datang langsung marah-marah?!" Ally ikut bertanya.


"Hey!! beraninya kau menyebutku wanita gila?! apa kau ingin diberi pelajaran?!" Jessie memelototi Ally lalu menoleh ke arah Jonah lagi. "Jonah jawab aku jujur siapa wanita in?!"


"Dia memang istriku. Kami sudah menikah." Jonah memperlihatkan sebuah cincin dijari manisnya kepada Jessie.


"Tidak..." Jessie menoleh ke Ally, gadis itu dengan angkuhnya ikut memperlihatkan jari manisnya yang berhias dengan cincin sama seperti Jonah.


Plak!!


Jessie menampar Ally lalu meneriakinya. "Dasar jalang! beraninya kau menikahi Jonah. Wanita sinting, Jonah itu milikku!!"


Ally spontan memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan Jessie. Ia meringis.

__ADS_1


"Jessie?! apa yang kau lakukan?!!" Jonah mendekati Ally untuk melihat keadaannya. Saat ingin memegang pundak Ally, tak disangkanya gadis itu menampar balik Jessie.


Plak!!


"Beraninya kau menamparku?! kau tidak tahu siapa aku ya?!!" Jessie menatap Ally murka sambil mengusap pipinya.


"Aku tak peduli siapa dirimu! Jika ada berani menamparku, maka orang itu harus menerima balasannya!" sengit Ally.


Habis sudah. Jonah tak tahu lagi harus bagaimana, jika kedua gadis pemarah ini berkelahi maka semuanya akan kacau.


"Dasar jalang tak tahu diri, rasakan ini!" Jessie melemparkan tas tangannya ke arah wajah Ally. Tas itu mengenainya tepat sasaran.


"Kurang ajar!!!" Ally segera melepas sepatunya lalu melemparnya ke arah Jessie, sepatu Ally mengenai pundaknya. Jessie memekik kesakitan.


"Dasar ********! kemari kau!!" Jessie segera menjambak rambut Ally tanpa peringatan. Ally membalas menjambak rambut Jessie, keduanya saling berteriak.


Jonah kewalahan memisahkan keduanya. Beberapa kali ia terjatuh karena ikut terdorong. Keduanya saling dorong hingga menyebakan meja disamping Jonah terjatuh beserta vas bunga yang kini pecah berhamburan.


Ally memperkuat tarikannya, Jessie ternyata memakai wig. Alhasil, rambut palsu berwarna cokelat muda itu terlepas dari kepalanya. Jessie spontan melepaskan genggaman tangannya pada rambut Ally, lantas menutupi kepalanya sendiri.


"Kurang ajar!!!!" Jessie meraung tak terima dirinya dipermalukan seperti itu. Dengan cepat ia menyerang Ally, tubuh mungil itu segera terjatuh ketika badan Jessie menimpanya.


"Jessie, lepaskan Ally!!" Jonah panik berusahan menarik tubuh Jessie agar Ally terbebas dari tindihannya.


Wanita yang rambut palsunya terlepas itu segera meraih pecahan beling dari vas bunga yang terhambur di lantai. "Akan kubuat kau menderita selamanya!" Dengan cepat Jessie mengarahkan beling itu ke bagian intim Ally.


Ally hanya berteriak tak jelas, sementara Jonah dan beberapa pelayan restoran itu berusaha menghentikan tindakan Jessie. Tepat saat beling itu akan ditancapkanya pada alat vital Ally, Jonah dan seorang pelayan berhasil mencegahnya. Beling itu hanya sempat menggores bagian pangkal paha Ally, syukurlah tidak lebih buruk dari itu.


Jessie sudah berhasil dikuasai seorang pelayan. Sementara Jonah membantu Ally berdiri, terlihat nampak darah mengucur disepanjang kaki sebelah kiri Ally. Tak banyak memang, tapi Jonah yakin rasanya tetap saja sakit demi melihat wajah Ally meringis.


"Lepaskan aku! aku harus memberinya pelajaran!!" jerit Jessie berusah melepaskan lengannya yang kini dipegang oleh sekuriti.


"Jessie ini keterlaluan. Jangan pernah menemuiku ataupun Ally lagi. Jangan pernah mengganggu kami!" Jonah menatap tajam wanita bergaun ungu itu.


"Jonah, ini bukan salahku, ini—"


"Ayo, Ally kita pergi, Ally." Jonah memapah Ally yang sulit berjalan akibat rasa nyeri di pahanya.


"Jangan lupa pakai kembali rambut palsumu." ucap Ally sempat-sempatnya mengejek.

__ADS_1


"Sialan!!! Wanita berengsek! aku bersumpah akan membunuhmu!" jerit Jessie.


"Tolong bawa wanita ini ke kantor polisi." ujar Jonah sebelum akhirnya benar-benar keluar dari pintu restoran.


__ADS_2