Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Kau Masih Ingat?


__ADS_3

Tidak seperti biasanya, seusai makan malam Jonah tak ikut bergabung bersama Ally menonton tv di ruang tengah. Biasanya setiap malam mereka selalu menonton drama atau saluran berita yang membuat keduanya beradu mulut.


Ally menatap layar tv sambil memangku Lucy, kucing itu bergelayut manja saat tangan Ally mengelusi bulunya yang halus.


Sementara itu, Jonah tengah sibuk bergelut dengan laptop di ruang kerjanya. Pria tersebut mengatakan bahwa ia dan perusahaannya akan mengadakan kerja sama dengan perusahaan besar lainnya di luar kota, maka dari itu ia perlu persiapan yang matang saat presentasi pada rapat nanti.


Drama yang Ally tonton saat ini banyak mengandung unsur komedi, gadis itu beberapa kali tertawa bahkan sampai terbahak-bahak.


"Kau lihat itu, Lucy? dia sangat bodoh." ucapnya sambil tertawa pada kucing yang menatapnya polos itu.


"Ya Tuhan, perutku sakit." Ally memukul-mukul sofa sembari memegangi perutnya sementara ia tertawa lantang. Ia mengusap air mata yang tak sengaja keluar selama ia tertawa.


"Kenapa kau ini? kerasukan?" Jonah menghampiri gadis yang tertawa melengking sedari tadi.


Ally masih kewalahan menenangkan diri untuk mengatur napas dan berhenti tertawa.


Jonah meraih Lucy dari pangkuan Ally, menciumi gemas kucing lucu itu. "Lihat, suara tawamu membuat Lucy ketakutan."


"Sini, kemarikan Lucy. Maaf mengganggumu, sana kau kembali ke ruang kerjamu, aku takkan tertawa lagi." Ally mengulurkan kedua tangannya untuk menerima Lucy. Tapi pria itu malah ikut duduk bergabung di sampingnya alih-alih menyerahkan kucing itu.


Jonah meraih remote tv lalu mengganti saluran. "Jangan terlalu sering menonton drama, nanti hidupmu kebanyakan drama." titah Jonah yang kini telah mengubah saluran drama menjadi saluran berita.


Dering ponsel Ally membuatnya mengalihkan atensi pada benda pipih itu, layar ponsel menerang dan menunjukkan sebuah nomor tak dikenal. Gadis itu segera meraih dan menekan tombol hijau.


"Halo." sapa Ally.


"Kurang ajar sekali kau ini berganti nomor dan tidak menghubungi sahabatmu lagi." omel seseorang di seberang telfon.


"L-luna? A-apa kabarmu?" sahut Ally terkejut ketika mendengar suara yang familiar itu.


"Tidak usah basa-basi, membuat muak saja. Aku menunggu penjelasanmu."

__ADS_1


"P-penjelasan apa?" Ally was-was.


"Katakan bahwa Jonah yang kau nikahi itu bukanlah musuhmu saat kita sekolah dulu." ucap Luna mengintimidasi.


"Tunggu–"


"Kau punya banyak kesalahan terhadapku. Pertama, kau ganti nomor dan tidak pernah menghubungiku. Kedua, kau pindah ke Ibukota juga tak memberitahuku. Ketiga, ini keterlaluan, kau menikah dan tak mengundangku?!! apa aku ada dosa terhadapmu, hm?!!"


"Bukan! bukan seperti yang ada dipikiranmu." Ally meringis mendapati hujaman sahabatnya itu.


"Ibumu bilang kau menikah dengan pria yang bernama Jonah, dia juga bilang bahwa suamimu itu dulunya juga bersekolah di Saviey National High School. Aku harap ada manusia selain dia yang bernama Jonah di sekolah itu."


Ally melirik ke arah Jonah yang sedari tadi memperhatikannya dengan penuh penasaran dan beberapa kali mencoba menguping.


"Ku harap juga seperti itu, tapi sepertinya hanya dia yang bernama Jonah." tutur Ally dengan nada putus asa. Pria di sampingnya mengerutkan dahi mendapati namanya dibawa-bawa.


"Jadi kau menikah dengannya?"


"Kupikir selama ini aku mengenalmu dengan baik. Ternyata aku salah. Aku tak mengerti dengan cara pikirmu."


"Ini perjodohan, aku tak bisa menolak." kala Ally berkata seperti itu ia paham pembicaraan apa yang sedang dibahasnya.


"Kau menyiksa dirimu sendiri."


"Tidak, aku–"


"Untuk apa dia menikahimu? aku yakin dia tidak mencintaimu."


"Aku ingin memberitahumu jika kita bertatap muka." elak Ally.


"Baiklah, bulan depan aku akan ke Ibukota."

__ADS_1


Mata Ally membulat mendengar kalimat Luna.


"Awas saja jika kau tidak bercerita padaku nanti," ancam Luna. "simpan nomorku. Kalau pria tengil itu berani menyakitimu beritahu saja aku. Aku ada urusan sekarang." Setelah berkata demikian sambungan telfon diputusnya.


Ally menghela napas panjang. Menatap malas Jonah yang nampaknya akan segera bertanya.


"Siapa yang menelfon?"


"Luna."


"Apa aku kenal dengannya?"


"Hm." sahut Ally malas.


"Luna temanmu yang sama menyebalkannya sepertimu itu?"


Ally mendengus jengah mendengarnya.


"Apa katanya?"


"Haahh... sudahlah." Ally menyenderkan punggungnya ke sofa, mendongakkan kepala dan menutup matanya.


"Hey, ngomong-ngomong soal Luna, aku ingat ketika ia ingin membantumu saat kau tercebur ke kolam renang, tapi dianya malah ikut tercebur." kekeh Jonah.


"Apa?! kau masih ingat?"


"Tentu saja. Aku juga ingat waktu itu saat kau menjual dirimu padaku."


"Jaga ucapanmu!! aku tidak pernah begitu!" jerit gadis itu sembari melempar bantal sofa ke arah Jonah.


"Kau lupa? mau ku ceritakan?"

__ADS_1


__ADS_2