
Setelah selesai berbincang panjang lebar dengan Diva, Jonah pamit pulang karena hari sudah agak sore dan hampir senja. Dengan segera Jonah mengendarai mobilnya menuju pulang, dijalan ia sempat mampir sebentar untuk membelikan Ally bubur. Siapa tahu jika Ally belum makan mengingat sepertinya Ally agak demam tadi pagi.
Setelah sampai dirumah, Jonah segera memasukkan mobilnya kedalam garasi dan lantas dirinya memasuki rumah.
Jendela rumah masih terbuka. Sepertinya Ally belum ada keluar kamar. Jonah mendesah dan lantas menutup semua jendela yang ada.
Segera setelahnya Jonah langsung menuju kamatmr tidur. Tubuh Ally masih setia terbaring diatasnya dan masih berbungkus selimut. Jonah yakin Ally belum beranjak dari sana seharian.
"Ally...," panggilnya berusaha membangukan Ally.
"Ally, tolong bangun sebentar." ucap Jonah sambil menepuk-nepuk pipi Ally pelan.
Ally mengerjap dan membuka matanya perlahan.
"Makan dulu. Kau belum ada makan sejak sarapanmu tadi pagi. Jangan lewatkan makan siangmu." tegur Jonah.
Ally tak menjawab. Gadis itu hanya bergumam dan menggelengkan kepala dengan lemah.
"Ally, jangan membuatku susah. Aku tidak ingin repot mengurusmu jika kau sakit." Jonah membentak sedikit.
"Biarkan aku tidur. Aku tidak enak badan." lirih Ally.
"Maka dari itu kau perlu makan. Tunggu sebentar, aku akan menyiapkannya." ucap Jonah. Setelahnya, laki-laki itu segera beranjak menuju dapur untuk menyiapkan bubur yang ia beli sewaktu diperjalanan menuju pulang tadi. Kemudian ia segera kembali menuju kamar tidur.
"Ally, ayo makan."
"Jonah, aku tidak ingin makan. Aku hanya ingin tidur." tolak Ally.
"Jangan membatah. Kau perlu makan, jika tidak sakitmu akan semakin parah."
"Aku tidak lapar."
"Buka mulutmu, makanlah selagi hangat." ucap Jonah menyodorkan sesendok bubur kemulut Ally.
"Aku sedang tidak ingin makan, Jonah." lirih Ally.
__ADS_1
"kumohon jangan menyusahkanku, Ally." tegas Jonah. "Ayo, kubantu kau duduk."
"Jonah, apa kau mendengarkanku!? aku tidak ingin makan! tolong jangan memaksa." ucap Ally menekan tapi dengan suara yang lemah.
"Aku tak peduli. Ayo duduk. Jika tidak, aku akan mendudukkanmu secara paksa." tekan Jonah.
"Aku tid— Akhh!"
Ucapan Ally terpotong seketika. Jonah yang ingin mendudukkannya menarik selimut yang membuat tubuh Ally terpampang dengan jelas. Jonah spontan menutup matanya dengan tangan.
"Apa yang kau lakukan!? tidak tahu malu!" cerca Ally kembali menarik selimut untuk menutupinya.
"Ah, sial! kenapa kau masih belum berpakaian juga?!" sebal Jonah.
"Aku tidak ada tenaga untuk berdiri. Kepalaku pusing. Maka dari itu biarkan aku tidur selagi aku bisa." sahut Ally.
"Baiklah akan kubiarkan kau tidur setelah menghabiskan bubur ini."
"Jonah, apa kau tuli?! aku tidak mau makan! tolong jangan memaksaku!"
"Ck, Ally. Kumohon makanlah walau sesuap."
"Ah, tidak. Aku akan membiarkanmu tidur setelah sepuluh suap." protes Ally.
"Tidak mau! kau bilang hanya sesuap."
"Terserah kau saja. Jangan salahkan aku jika kau takkan bisa tidur semalaman."
Ally memutar bola mata malas. " Ck, baiklah. Kemarikan buburnya."
"Tidak perlu. Aku yang akan menyuapimu." ucap Jonah meraih mangkok bubur.
"Tidak perlu aku bisa makan sendiri." ucap Ally sambil berusaha bangun dari rebahannya.
"Jangan keras kepala. Kau duduk saja, biar aku menyuapimu." tegas Jonah.
__ADS_1
"Jonah, aku bisa sendiri!"
"Lebih baik tanganmu itu kau gunakan untuk menahan selimut agar tubuhmu tetap tertutup." sela Jonah.
Ally tercekat. Ia baru ingat kalau ia tak mengenakan pakaian barang sehelai benang pun sejak mandi tadi pagi. Ally mendengus dan akhirnya membiarkan Jonah menyuapinya.
"Baiklah. Suapi aku hanya sepuluh suap saja. Jangan lebih." Ally mengingatkan.
Jonah segera menyuapinya dan menyodorkan air minum disela-sela kunyahan Ally.
Bibi Diva salah. Justru Ally yang seperti ini lebih baik dibandingkan dengan Ally yang biasa. Ally justru lebih menyebalkan saat tenaganya prima. Sedangkan jika Ally sakit, gadis ini cenderung lebih penurut walau sedikit menyusahkan.
"Sudah sepuluh suap. Aku selesai." sela Ally.
"Baru sembilan. Ini yang kesepuluh." protes Jonah berusaha menyodorkan sendok kemulut Ally.
"Aku sudah menghitungnya. Sudah pas sepuluh suap. Aku tak ingin makan lagi, bisa-bisa aku muntah."
"Baiklah, anggap ini bonus. Buka mulutmu." paksa Jonah.
Ally berdecak sebal lalu dengan malas membuka dan menerima sesendok bubur itu.
"Jangan ganggu aku lagi. Aku ingin tidur." ucap Ally kembali merebahkan tubuhnya kekasur.
Jonah mendengus lalu keluar kamar untuk mencuci mangkok sisa bubur Ally. Setelah itu ia kembali kekamar untuk sekedar melihat Ally.
"Ally, aku akan keluar sebentar dan akan pulang agak larut." ucap Jonah memberitahu.
Ally hanya berdehem menyahutnya. Setelah itu, Jonah segera keluar rumah dan mengendarai mobilnya entah kemana.
Jonah bosan. Hidup seperti ini tak pernah telintas dipikiran Jonah. Selama ini Jonah tak ada pikiran untuk menikah. Jika saja ini bukan paksaan Ibu tercintanya, Jonah sudah pasti menolak.
Hanya saja yang paling tak bisa ia bayangkan adalah ia benar-benar menikah dan satu atap bersama Ally.
Gadis yang memusuhinya sejak duduk dibangku sekolah tingkat atas. Jonah sendiri hampir stres memikirkan tentang apa yang akan terjadi dihari selanjutnya. Kegelisahannya makin menjadi-jadi.
__ADS_1
Bagaimana cara ia akan bertahan bersama orang yang dibencinya?
Apakah ada yang bisa menghentikan semua ini?