
Pagi mulai merangkak naik. Jonah tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Banyak hal yang menjadi perkaranya. Seperti, dinginnya tidur tanpa selimut, pegalnya badan karena harus meringkuk di sofa, belum lagi bayangan tentang tubuh Ally yang membuat hasrat nya sempat bergejolak.
Jonah mengambil napas panjang lalu segera beranjak menuju kamar mandi. Baik Jonah maupun Ally telah mengantisipasi masalah, mereka selalu menaruh handuk dikamar mandi.
Saat Jonah memasuki kamar mandi, lantainya basah dan dindingnya juga lembab. Sepertinya Ally sudah lebih dulu mandi.
Selesai mandi, Jonah segera menuju kamar. Saat membuka pintu, Jonah tak menemukan Ally disana. Tapi perhatiannya kemudian tertarik untuk menatap pintu toilet yang ada di dalam kamar tersebut. Ada suara-suara dibaliknya. Sepertinya Ally didalam sana.
Dan benar saja, tak lama pintu itu terbuka dan muncullah sosok Ally yang tengan mengenakan hot pants dan tanktop abu-abu. Membuat tubuh indah tercetak dengan jelas. Jonah hampir meneguk ludah karenanya.
"Kenapa menatapku seperti itu? aku tahu tubuhku memang bagus tapi kau tidak perlu menatapku seperti itu." celetuk Ally tersenyum sinis.
"Cih, aku hanya heran saja melihatmu berpakaian. Bukankah kemarin kau sibuk bertelanjang sepanjang hari bahkan sampai malah?" sahut Jonah.
Ally memutar bola matanya malas. "Ya, ya, ya, aku memang hobi bertelanjang. Tapi aku takkan membiarkanmu melihat tubuh cantikku." cibir Ally.
"Terserah kau saja. Lagipula aku juga sudah melihatnya." cicit Jonah.
Ally mengernyitkan keningnya. "Apa kau bilang?!"
"Kau pikir siapa yang memindahkanmu dari kamar mandi kekamar tidur saat kau pingsan dalam keadaan telanjang, hm?"
Ally berdecak. Ia kesal bagai kecolongan. "Ck, baiklah anggap itu keberuntunganmu dapat melihatku."
"Beruntung apanya? tubuhmu itu jelek, tak ada yang menarik." tandas Jonah.
Ally membulatkan kedua matanya. "Oh, jadi tubuhku tidak menarik, ya? lalu apakah kau bisa menjelaskan siapa pria yang tadi malam hampir memperkosaku?" tanya Ally dengan penuh penekanan.
Jonah terlihat gugup. "Mana ada orang yang ingin memperkosa tubuh jelek sepertimu. Tidak bernafsu." cela Jonah.
"Oh, tidak nafsu, ya? lalu, Tuan Jonah, apakah kau bisa menjelaskan tanda apa ini?!" ucap Ally menunjukkan area samping lehernya yang memerah agak keunguan.
Jonah tercekat. "Ma-mana aku tahu!"
"Jonah Avery, kau pikir aku lupa kelakuanmu tadi malam, hah?! ini bekas ciumanmu, bodoh!" sambar Ally. "Kau bilang kau tidak bernafsu, ya? lalu kenapa 'adik kecilmu' sangat keras tadi malam?! kau pikir aku tidak bisa merasakannya, hm?" kata Ally dengan nada mengejek.
Jonah terpojok. " Ck, baiklah aku mengaku. Tadi malam aku sedang banyak pikiran dan tidak bisa berpikir jernih. Jika saja pikiranku tenang, tidak mungkin aku menyentuhmu." cibir Jonah.
"Cih, siapa juga yang ingin disentuh olehmu!" tandas Ally. "Mulai malam ini kau tidur di sofa saja." sambungnya lagi.
"Apa maksudmu?!"
"Aku tidak ingin keperawananku terancam karena ulahmu! jika kau tidak mau tidur di sofa, beli saja dua ranjang yang lebih kecil dari ini agar ranjang kita terpisah." sara Ally menatap ranjang.
"Kau ini bicara apa?"
"Apa kau masih belum mengerti juga?! kubilang beli ranjang!" titah Ally.
Jonah berdecak sebal. "gadis keras kepala!" batinnya.
"Ck, baiklah!" ucap Jonah akhirnya.
Ally langsung tersenyum gembira. Wanita itu segera kedapur untuk memasak sarapan. Setelah selesai sarapan, Ally bersantai diruang tengah sambil memotong kuku.
Saat melihat Jonah keluar dari kamar tidur dan hendak berjalan keluar rumah, Ally memanggilnya. "Jonah, sebelum pergi makanlah dulu. Aku sudah menyiapkanmu sarapan."
Jonah mengerutkan dahi. " Apa aku tidak salah dengar? kau memasak untukku? apa kau yakin tidak menaruh racun didalamnya?" selidik Jonah.
"Ck, terserah kau saja mau memakannya atau tidak." ucap Ally.
Jonah tertawa lalu dengan penasaran berjalan ke meja makan untuk melihatnya. Sepiring pancakes dengan topping potongan buah pisang dan lumuran madu dengan minuman segelas susu hangat. Jonah hampir tertawa melihat Ally menyiapkannya susu hangat seperti itu. "Memangnya aku anak TK yang harus sarapan dengan susu hangat." gumam Jonah.
Tak butuh waktu lama, Jonah segera menyantapnya. Jonah sempat tertegun. Bibi Diva memang tidak berlebihan saat mengatakan bahwa masakan Ally sangat enak. Itu memang fakta.
Setelah menghabiskan sepiring pancakes dan segelas susu Jonah segera bangkit untuk menuju ruang tengah. "Aku pergi dulu." pamit Jonah pada Ally.
"Ya, pergilah. Pergilah yang jauh." sahut Ally.
__ADS_1
Jonah mendengus lalu meraih kunci mobil dan segera keluar rumah.
Setelah Jonah pergi, Ally pun bersantai sambil menonton TV. Tapi tak beberapa lama kemudian, terdengar tangisan bayi diluar sana. Ally yang penasaran pun segera berjalan kearah pintu dan lantas membukanya.
Persis didepan pagar rumah, ada seorang wanita yang sedang menenangkan seorang bayi yang tengah menangis didalam kereta dorong.
Ally perlahan berjalan mendekatinya. "Kenapa menangis?" ucap Ally sok akrab sambil menyentuh pipi bayi itu.
Wanita disamping Ally agak kaget dengan kedatangan. "Oh, sepertinya dia ingin diambilkan mainan. Anakku yang pertama sedang mengambilkannya," ucapnya sambil tersenyum. "Apa ini rumahmu?" tanyanya lagi.
Ally mengangguk. "Aku Ally." ucapnya mengulurkan tangan.
Wanita itu menyambut tangan Ally. "Namaku Sera. Kita tetangga. Rumahku persis disamping kanan rumahmu ini." kata Sera.
"Ibu ini mainan yang kau minta." seru seorang anak kecil yang tengah berlari ke arah Ally dan Sera.
"Terima kasih, sayang." senyum Sera mengambil sebuah mainan dari tangan anak itu.
"Ally, kenalkan ini putra pertamaku. Namanya Yohan," ucap Sera. "Yohan, kenalkan ini tetangga kita. Cantik kan? panggil dia Bibi Ally."
"Hai, Bibi Ally, namaku Yohan." salam Yohan menyalami dan mencium tangan Ally.
"Hai, Yohan. Kau sangat tampan." ucap Ally mengacak-acak puncak kepala Yohan.
"Tentu saja. Teman-temanku juga mengatakan itu. Aku juga punya pacar." ucap Yohan kecil itu.
"Yohan!" seru Sera menatap Yohan tajam.
Setelah dilihat seperti itu, Yohan langsung berlari menjauh. Ally tertawa melihatnya. "Sera, putramu sangat lucu."
"Haahh... aku tak mengerti kenapa anak kecil berumur lima tahun sepertinya bisa berpikiran seperti itu." hela Sera.
"Tidak apa, Sera. Putramu sangat lucu," Ally terkekeh. "Lalu siapa nama putri cantik ini, Sera?" tanya Ally sambil menunduk menyentuh-nyentuh pipi bayi Sera.
"Dia laki-laki." ucap Sera tertawa.
"Kau bukanlah orang pertama yang mengira dia perempuan," kata Sera. "Ini putra bungsuku, namanya Denny."
Sera terseyum lebar ketika tak sengaja melihat leher Ally yang berbekas merah keunguan. "Jika kau ingin menghilangkan bekas ciuman, letakkan saja sendok kedalam freezer kulkas beberapa lama, setelah itu tempel-tempelkan sendok yang sudah dingin itu ke area itu." saran Sera.
Ally langsung refleks menutup lehernya dengan tangan. "Ah, bukan... ini... ini—"
"Aku paham, Ally. Aku juga punya." Sera lalu menurunkan sedikit kerah lehernya untuk menunjukkan bekas yang sama seperti milik Ally. "Lihat?" kata Sera menunjukkan bekas tanda miliknya dibagian atas dada.
"Tak perlu malu, Ally. Ini kan tanda cinta." ucap Sera tertawa. Ally tersenyum kikuk. Dirinya sangat malu sekarang akibat bekas sialan dilehernya yang ditinggalkan Jonah itu.
Setelah itu, ada sebuah mobil truk pick up yang berlajan pelan ke arah mereka. Ally langsung menarik Sera agar gadis itu masuk kedalam halaman rumahnya.
Tak lama kemudian, mobil Jonah muncul dibelakang mobil truk pick up yang ternyata membawa dua buah ranjang.
Jonah turun dari mobilnya lalu berseru pada orang-orang yang ada didalam mobil truk pick up itu.
"Bawa saja kedalam." seru Jonah.
"Kalian membeli ranjang?" tanya Sera sambil menyentuh bahu Ally.
"I-iya. Karena ranjang kami yang ada sudah rusak." ucap Ally berbohong.
"Wah, ternyata kalian berdua sangat bergairah sampai-sampai merusak ranjang." ucap Sera sambil tersenyum penuh arti menatap Ally.
Wajah Ally memanas karena malu.
"Kenapa kalian membeli dua? apakah untuk cadangan? jaga-jaga apabila ranjang kalian akan rusak lagi?" cicit Sera lagi.
"Ah, aku akan memperkenalkan suamiku," ucap Ally mengalihkan pembicaraan. "Jonah, kemari!" seru Ally.
Jonah yang tengah sibuk berbincang dengan kurir itu segera menghampiri Ally. "Ada apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Ini tetangga kita. Namanya Sera," ucap Ally. "Sera, ini suamiku namanya Jonah."
Jonah dan Sera segera berjabat tangan. "Ini bayimu, Sera?" tanya Jonah.
"Iya," sahut Sera. "Ini anak keduaku."
"Menggemaskan sekali." senyum Jonah.
"Kalian juga pasti akan segera memiliki bayi." kata Sera menatap keduanya.
Jonah dan Ally tersenyum canggung.
"Ah, itu putraku. Yohan, kesini." Sera melambai ke arah anak kecil yang sedang mengintip dipagar rumah.
"Sedang apa kau disitu?" tanya Sera saat Yohan mulai mendekat.
"Aku hanya penasaran saat melihat truk besar itu." sahut Jonah.
"Wah, siapakah ini?" tanya Jonah sambil berjongkok agar wajahnya sejajar dengan anak kecil itu.
"Perkenalkan dirimu, sayang." ucap Sera pada anaknya.
"Halo, Paman. Namaku Yohan. Siapa namamu?" tanyanya.
"Panggil saja aku Paman Tampan." senyum Jonah.
"Tapi aku jauh lebih tampan daripada paman." seru Yohan. "Aku akan memanggilmu Paman Gagah saja."
"Ya, aku suka nama panggilan itu." ucap Jonah sambil mencubit pipi Yohan. Jonah kembali berdiri.
"Sera, anak-anakmu sangat lucu." puji Jonah.
"Terima kasih," ucap Sera. "Dua hari lagi ulang tahun Yohan yang kelima. Aku mengundang kalian untuk pesta kecil-kecilan dirumah. Kuharap kalian berkenan untuk datang." tutur Sera.
"Tentu saja. Kami pasti datang." ujar Jonah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya🥰 Author butuh dukungan kalian biar semangat update-nya😚
__ADS_1