
"Ya Tuhan, listriknya mati." ujar Jonah. "Sepertinya akibat hujan ini." Jonah berasumsi.
"Ya Tuhan aku tidak bisa melihat apa-apa," ucap Ally, suaranya bergetar. "Ponselku, aku meletakkannya disini." Ally berusaha meraba-raba sofa disampingnya. Berusaha menemukan telepon pintarnya itu, tangannya malah tak sengaja meraba sesuatu milik Jonah.
"Akh!" Jonah terpekik kaget merasakan miliknya disentuh.
"Ya Tuhan, apa yang barusan ku pegang!? aku, aku tidak sengaja!" Ally yang panik segera bangkit dari tempat duduknya, baru saja ingin mengambil langkah, kakinya malah terbentur meja yang akhirnya membuatnya oleng dan jatuh.
Posisi jatuh yang kurang menyenangkan, ia menimpa tubuh Jonah dan tangannya lagi-lagi menyentuh benda milik Jonah itu.
"Aku, aku berani bersumpah, aku, aku serius tidak sengaja." Ally mengumpati dirinya sendiri dalam hati. Wanita itu segera bangkit, tapi Jonah menahannya agar tetap dalam posisi itu.
"A-ada apa?" tanya Ally, ditengah keadaan yang gelap gulita, ia sama sekali tak bisa melihat ekspresi wajah Jonah.
"Aku menunggu kau meminta maaf." ujar Pria yang ia tindih itu.
"A-aku, aku minta maaf, sekarang lepaskan aku." gugup Ally, sumpah demi apapun, Ally ketakutan sekarang. Suara derasnya hujan dan petir yang sesekali menyambar, ditambah dengan keadaan gelap dan perilaku Jonah yang tidak bisa ditebak itu sukses membuatnya meremang.
"Aaakkh!"
__ADS_1
Demi tuhan, jika ia bisa melihat saat ini, Ally ingin sekali mencakar wajah Jonah. Pria sialan itu dengan lancang meremas dada Ally secara tiba-tiba.
Jonah tertawa lantang. "Prediksiku benar, aku menyentuhnya hanya untuk memastikan apakah itu benar dadamu, atau sesuatu yang lain."
"Menyentuh katamu? kurang ajar sekali hal barusan yang kau lakukan kau sebut dengan 'menyentuh'?" Ally naik pitam.
"Apa aku salah? baiklah, aku meremas dadamu. Apa itu sudah benar?"
"Keparat." Ally berusaha memukul Jonah. Tapi tangannya malah mendarat mengenai sandaran sofa.
Jonah tertawa lagi. Ia tahu bahwa Ally gagal memukulnya. "Jangan menyakiti dirimu sendiri seperti itu." tawanya makin jadi saja.
"Oh, aku takut sekali. Apakah kau akan balas meremas dadaku juga?" Pria itu makin terbahak. "Silakan, remas sekarang juga." insting pria itu peka sekali, dengan tepat ia meraih tangan Ally lalu ditempatkannya diatas dada bidangnya.
"Ayo, remas dadaku, Nona Ally."
Dengan murka, Ally segera menghujami dada pria itu dengan pukulan. "Rasakan ini, dasar mes— aaaakkkkkkkkkk!!!"
Jonah menjauhkan wajahnya sebisa mungkin dari Ally, rasanya suara teriakan gadis itu lebih nyaring daripada petir barusan.
__ADS_1
"Ya Tuhan, yang barusan itu mengerikan sekali." tutur Ally yang tertuju pada petir yang membuatnya menjerit barusan.
"Itu adalah petir kutukan untuk seorang istri durhaka yang memukuli dada suaminya." bisik Jonah.
Ally mendengus. "Minggir, aku ingin mencari ponselku." pinta Ally.
Jonah segera mengambil benda pipih yang sedari tadi ia tindih semenjak tubuh Ally jatuh menimpanya. "Ini." Jonah segera menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya.
Ally segera menerima dan membuka ponselnya untuk menyalakan senter. Segera setelah senter itu menyala, ia langsung mengarahkannya kewajah Jonah, membuat pria itu spontan menyipitkan matanya karena silau.
Wanita itu segera mengambil langkah menjauh dari hadapan Jonah dengan bantuan cahaya senternya.
"Ya, mau kemana?" tanya Jonah.
"Ke dapur. Kenapa?"
"Apakah kau berani sendirian?" Jonah menyipitkan matanya ketika Ally mengarahkan senter ponsel itu padanya lagi.
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Ally penasaran.
__ADS_1
"Oh, jadi kau belum tahu rumor itu, ya?"