
Kegugupan Ally kembali menyerang kala memasuki area pesta itu. Ruangan luas itu di penuhi orang-orang dengan pakaian formal, Jonah sesekali bertukar sapa dengan beberapa orang.
"Jangan gugup." bisik Jonah.
Ally mengangguk. Ia menarik napas lagi, lebih dalam.
Seseorang mendekati mereka, seorang pria berumur dengan perawakan lebar tersenyum ramah pada keduanya.
"Hey, Jonah, lama tak berjumpa. Apa kabar?" pria itu berjabat tangan dengan Jonah.
"Hai, Paman Roy, senang bertemu anda. Kabarku baik, bagaimana dengan anda? apa proyek anda waktu itu berjalan lancar?" balas Jonah.
"Aku baik, terima kasih. Itu proyek itu tentu saja berhasil karena ada campur tanganmu. Setelah pemasukan nanti aku pasti akan mengirimkanmu uang, yah... lumayan untuk 'jajan'." ucapnya sambil tertawa nyaring.
"Ah, tidak perlu repot-repot." Jonah ikut tertawa kecil.
"Ah, ngomong-ngomong siapa wanita cantik di sampingmu? kekasih baru?"
"Ah, ini Ally. Dia istriku." Jonah menyenggol Ally.
Gadis itu sadar dan segera mengulurkan tangan untuk berjabat. "Ally." ucapnya tersenyum ramah setelah pria bernama Roy itu menerima uluran tangan Ally.
"Wah, kau sudah menikah? kenapa tidak mengundangku?"
"Yah... kami hanya melakukan pernikahan sederhana, yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja." jelas Jonah.
"Oh, pantas saja." Roy menatap Jonah dan Ally bergantian. "Tapi memang sebaiknya pernikahan kalian dilakukan secara diam-diam, karena pasti akan banyak orang yang patah hati diluar sana jika mengetahuinya." gurau pria itu.
Ally dan Jonah kompak tertawa kecil. "Ah, anda bisa saja." ujar Jonah.
"Hahaha... baiklah kalau begitu aku mau kesana dulu." Roy menunjuk ke sisi kanan.
"Silakan." Jonah sedikit membungkuk kala Roy beranjak pergi dari hadapannya.
Jonah menatap Ally di sampingnya. "Apa kau masih gugup?"
"Jika semua orang ramah seperti pria tadi, kurasa aku bisa beradaptasi." jawab Ally.
Jonah kembali berjalan, membuat Ally yang bergandeng otomatis harus mengikuti langkahnya. Beberapa pasang mata memperhatikannya.
"Apakah aku harus tersenyum pada orang-orang?" tanya Ally sedikit berbisik.
"Hanya tersenyum jika mereka tersenyum lebih dulu." ujar Jonah. Ally mengangguk paham. Ia berusaha bertingkah normal melawan kecanggungannya sendiri. Mereka makin berjalan ke arah kerumunan.
__ADS_1
"Itu dia." gumam Jonah.
Ally ikut memperhatikan seorang pria yang kira-kira masih seumuran dengan Jonah berjalan mendekat. Senyumnya tercetak selagi ia melangkah.
"Hey, ku pikir kau tidak datang." kedua pria itu saling berjabat akrab.
"Ada sedikit kendala, jadi agak terlambat. Mana mungkin aku tidak datang." ujar Jonah.
Pria itu nampak begitu memperhatikan Ally selagi bercengkerama dengan Jonah. "Selamat atas pencapaianmu, sekarang kau sudah resmi jadi CEO." kata Jonah sambil menepuk pundak pria itu.
"Terima kasih. Ku harap kau segera menyusul." titahnya sembari tertawa, sedikit menyindir.
"Kau tak berniat memperkenalkan wanita di sampingmu, hm?"
"Haha... aku menunggumu minta di perkenalkan." titah Jonah sedikit angkuh. "Kenalkan, ini istriku."
Ally memaksakan senyumnya sambil mengulur tangan. "Ally." ucapnya.
"Erik." pria tersebut menerima jabat tangan Ally sambil menatapnya dalam. "Istri?" ia menoleh Jonah.
"Ya, istri." Jonah menunjukkan sebuah cincin di jari manisnya pada Erik.
Ekspresi tak percaya dari pria yang sampai detik ini belum melepas jabat tangan Ally itu begitu kentara.
"Ekhem!" Jonah berdehem sembari melirik tak suka pada jabat tangan antara Erik dan Ally.
"Ah, maaf." Erik tertawa canggung dan refleks melepaskan tangan Ally.
"Tidak lama. Baru sekitar sebulanan lebih." Jonah menjawab pertanyaan Erik sebelumnya.
"Wah, tidak mengundangku, ya?" Erik tertawa hambar.
"Tidak, bukan seperti itu. Memang pernikahan kami hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja." jelas Jonah.
"Wah, aku pikir pernikahan seorang Jonah Avery akan berlangsung mewah." Erik lagi-lagi curi pandang pada Ally.
"Ini kehendak masing-masing pihak keluarga. Tapi jika boleh berpendapat, menurutku upacara pernikahan sederhana seperti itu lebih sakral."
"Omong-omong, dimana kau bertemu dengan istrimu?" tanya Erik menjurus ke hal-hal pribadi.
"Ah, dia wanita pilihan Ibuku. Bahkan saat masih dalam kandungan pun Ibuku sudah memesannya untukku." gurau Jonah, tapi itu fakta.
Erik mengangguk-angguk sambil ikut tertawa. "Baiklah, selamat atas pernikahanmu kalian." Erik menjabat Jonah dan Ally bergantian.
__ADS_1
"Terima kasih," ujar Jonah. "Kuharap kau segera menyusul...."
Baiklah, Jonah pikir itu cukup menggores harga diri Erik.
"Haha... untuk urusan menikah aku tidak ingin terburu-buru." Suaranya bergetar. "Baiklah, aku harus menyambut tamu lainnya. Aku pergi dulu, silakan nikmati pestanya." Erik berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Ally!"
Pekikkan itu sukses membuat sepasang suami-istri itu terkejut. Madam Eliza dengan heboh mendekat lalu langsung memeluk Ally.
"Kita bertemu lagi. Awalnya aku mengira itu bukan kau, tapi setelah melihat Jonah di sampingmu aku baru yakin bahwa itu benar-benar kau. Astaga, lihat dirimu! cantik sekali, katakan padaku salon mana yang meriasmu? aku akan menanam sahamku pada salon itu!" cerosos Madam.
"Ally merias dirinya sendiri, Madam." adu Jonah.
"Ya Tuhan, saat bertemu waktu itu kau seperti bocah sekolah menengah, sangat polos dan lugu. Tapi lihat dirimu sekarang! Ya Tuhan, sangat anggun dan elegan! kau benar-benar seperti bangsawan kelas atas, jika kau belum menikah aku yakin pria-pria di ruangan ini pasti berebut ingin menikahimu." titahnya lagi.
"Ah, anda terlalu berlebihan, Madam." pipi Ally memerah akibat pujian itu.
"Dan terima kasih sudah memakai tas pemberianku. Aku merasa terhormat gadis secantikmu mau memakainya." ucap Madam dramatis berlagak menghapus air mata hayalannya.
"Seharusnya aku yang berterima kasih. Aku yang merasa terhormat karena diberi tas mahal ini." semyum Ally sembari sedikit membungkuk.
"Yah... sebenarnya bukan 170 juta, harganya hanya 150 juta. Aku berbohong kala itu." ucap Madam sambil tertawa melengking. Jonah ikut tertawa, sudah paham dengan kelakuan Madam Eliza.
"Ah, sama saja. Itu tetap harga yang sangat mahal. Sekali lagi terima kasih banyak, Madam." Ally kembali membungkuk.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa kau tidak marah setelah mengetahui harga aslinya? Kau ini malaikat, ya?" Madam meraih kedua tangan Ally. "Hey, Jonah! jangan pernah menyakitinya atau kau akan berurusan denganku!"
Jonah mengangguk alun. "Tidak akan."
"Sayang, jika Jonah berani menyakitimu beritahu aku. Biar aku memberinya pelajaran." ucap Madam membelai pipi Ally.
Ally tersenyum cerah lalu mengangguk pelan.
"Baiklah, kalau begitu aku tinggal dulu. Aku harus menemui rekan bisnisku di meja itu." Madam menunjuk sebuah meja bundar yang tak jauh dari mereka.
"Dah, sayang." Madam melambai dan menjauh. Ally dan Jonah membalas lambaian itu.
"Ternyata dia menyenangkan." tutur Ally menatap Jonah.
"Sudah tidak takut lagi?" Jonah menaikkan sebelah alisnya.
"Kurasa aku menyukainya." jawab Ally sembari tertawa renyah, hal yang otomatis juga membuat Jonah tertawa.
__ADS_1