
Gadis itu berjalan perlahan mendekati seorang anak laki-laki yang tengah duduk dibawah pohon sambil bermain game dengan ponselnya.
Sebelumnya ia tak pernah berbicara sama sekali dengan anak tersebut, tapi kali ini Ally harus mencoba.
Kedatangan Ally membuat laki-laki tersebut mendongak menatapnya dengan ekspresi bingung, ditambah lagi ketika Ally ikut-ikutan duduk dirumput.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
"Aku, ah-namaku Ally." Ally yang canggung bertindak konyol mengulurkan tangan.
"Aku sudah tahu namamu, kita kan satu kelas."
"Oh, begitu." Ally hanya bisa tertawa cengengesan sambil menarik tangannya kembali.
Jonah melepas earphone yang ia kenakan lalu meletakkan ponselnya di atas rumput. Seluruh atensinya ia berikan pada gadis manis yang entah apa tujuannya ada di hadapannya.
"Katakan." pancing Jonah.
Ally meneguk ludah. Menghela napas, lalu mulai membuka suara. "Begini, aku,a-aku ingin minta tolong."
"Apa itu?"
__ADS_1
"Semua orang tahu bahwa kau murid terpintar di kelas kita. Tapi, bisakah kau mengalah untukku di semester ini?"
"Apa maksudmu? Kau ingin aku pura-pura jadi bodoh agar kau bisa merebut posisiku?!" Jonah berlipat dahi.
"Tidak, sebenarnya bukan seperti itu. Maksudku aku hanya–"
"Jika ingin menjadi peringkat pertama maka kau harus belajar."
"Aku sudah melakukannya sedari dulu. Tetap saja aku selalu di nomor dua, jadi aku mohon di semester akhir ini biarkan aku yang di posisi pertama. Aku sudah berjanji pada Ibuku untuk jadi yang nomor satu." gadis itu memohon.
Jonah tertawa. "Kau ini lucu sekali. Apa hubunganku dengan Ibumu? Memangnya jika aku mau mengalah, apa keuntumgan yang ku dapat? apa yang bisa kau berikan padaku?"
"Kau menjual diri?"
"Sialan, jaga mulutmu!" Ally kelepasan memaki, tapi ia sadar setelah melihat wajah Jonah meringis ke arahnya. "Ah, maaf. Mkasudku aku–"
Jonah meraih ponselnya lalu berdiri dari duduknya. Menunduk menatap Ally yang kini mendongak menatapnya balik. "Jika ingin merebut posisi itu dariku, mari kita bersaing secara adil." ucapnya sambil berlalu meninggalkan Ally yang kini hampir menangis karena usahanya gagal.
***
Setelah hari dimana Ally menghampiri Jonah di bawah pohon kala itu, mereka yang dulunya biasa saja kini mulai saling sinis saat bertemu pandang. Mulai bersaing dengan menunjukkan kepintaran saat guru bertanya, saling beradu argumen, dan mulai saling ingin menjatuhkan satu sama lain.
__ADS_1
Hari ini ujian Matematika. Ally yang semalam begadang mempelajari materi akhirnya terpaksa membuka kertas contekan yang telah ia siapkan tadi malam sebagai antisipasi, dan ternyata ia memang membutuhkan itu karena saat ini ia lupa rumus.
Gadis itu melihat sekeliling, orang-orang larut sendiri dengan kertas ujian mereka. Posisi tempat duduk Ally di tengah-tengah membuatnya sulit terjangkau oleh pandangan guru. Hal itu menguntungkannya, perlahan iya membuka kertas kecil yang ia selipkan di dalam pulpen. Melihat rumus lalu mulai menghitung jawaban.
"Pak!" suara itu langsung membuat semua yang ada di dalam kelas menoleh ke arah Jonah.
"Ada apa, Jonah Avery?"
"Ada yang curang." Jonah menatap tajam ke arah Ally ketika mengucapkannya.
Sontak semua orang juga ikut memandang Ally. Gadis itu kini berkeringat dingin, menunduk tak berani menatap ke arah Guru yang kini berjalan menujunya.
"Ally?" Pak Guru berjalan mendekatinya.
"Apa benar?"
Ingin berbohong pun percuma, gelagatnya saja sudah mampu menjelaskan semuanya. Tanpa berkata apapun gadis itu sudah mengaku hanya dengan tingkahnya.
"Saya sedikit kecewa, silakan anda keluar kelas. Untuk ujian kali ini anda hanya mendapat nilai seadanya."
Dengan lemas Ally berjalan keluar, berlari sekuat tenaga menuju toilet. Mencuci wajahnya yang pucat pasi, gadis itu lagi-lagi menahan tangisnya. Dalam hati, ia bersumpah Jonah Avery adalah musuhnya dari sekarang.
__ADS_1