
Rest In Peace, Jane Avery
Wanita kuat yang berjuang melawan penyakitnya selama lebih dari 7 tahun itu kini sudah tenang. Biarkan dia beristirahat dengan damai.
***
Suasana duka dan penuh isak tangis menyelimuti pemakaman Jane. Seluruh sanak saudara, teman-sahabat, rekan-rekan, dan orang-orang yang pernah ia tolong dimasa hidupnya itu berdatangan ke rumah duka untuk menyampaikan rasa belasungkawa dan juga ikut mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakahir.
Seusai pemakaman, para keluarga terdekat marga Avery itu tak langsung pergi setelahnya. Mereka semua kompak berusaha menghibur dan menguatkan anak semata wayang Jane tersebut. Sampai malam tiba, barulah satu persatu dari mereka mulai berpamitan untuk pulang.
"Besok tak usah ke kantor. Ambil saja cuti untuk beberapa hari." pesan Dorland Avery sambil menepuk punggung Jonah sebelum ia pamit untuk pulang. Kini yang tersisa di rumah besar keluarga Avery itu hanyalah Jonah, Ally, dan para pekerja di rumah itu.
Malam sudah makin larut. Sejak tadi Ally berkeliling mencari keberadaan Jonah di rumah besar itu, padahal tadi sebelumnya pria itu masih berada di sofa ruang tamu. Ally mencoba bertanya pada beberapa pembantu di rumah itu tapi dari sekian yang ditanyai mengaku tak melihat Jonah sedari tadi.
Ally terus mencari sampai akhirnya ia mendegar isak tangis halus dibalik pintu besar kamar mendiang Bibi Jane. Ia lantas mendorong pelan pintu yang untungnya tak di kunci itu, dan benar saja Jonah ada di situ. Pria itu duduk di sisi tempat tidur dengan posisi membelakangi Ally.
__ADS_1
"Jonah..." panggil Ally sambil mendekat.
Orang yang dipanggil itu sedikit terperanjat. " Oh, A-ally..." sahutnya sedikit gagap sambil menghapus air matanya.
Ally ikut duduk di samping Jonah. Hatinya terasa sesak melihat Jonah yang seperti ini. Ia tak mengira bahwa pria sepertinya ternyata bisa memiliki sisi seperti ini terhadap orang terkasihnya. Ia lalu meraih tangan Jonah untuk di genggam. "Sudah, berhentilah menangis. Ibumu takkan suka jika kau menangisinya sampai seperti ini."
Mendengar ucapan Ally barusan justru membuatnya makin menangis. Gadis itu bahkan berucap dengan mata yang sembab dan berkaca-kaca tapi ia masih berusaha menguatkan Jonah.
Ally menyeka air mata Jonah jatuh berhamburan. "Berhenti menangis."
"A-aku, aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Aku kehilangan satu-satunya orang penting dalam hidupku." lirih Jonah parau.
"Masih ada aku," lirih Ally pelan persis disebelah telinga Jonah yang tengah ia peluk. "Semuanya akan baik-baik saja."
Jonah langsung mempererat pelukannya dengan Ally. Ia menangis sejadi-jadinya saat itu juga. Perasaan hampa yang semula ada dihatinya kini perlahan tertutupi oleh kehangatan yang gadis itu berikan melalui ucapan serta pelukannya. Yang tak paling ia sangka adalah gadis itu dulunya orang yang ia benci, namun saat ini ialah yang memeluknya dan menguatkannya.
__ADS_1
Jonah mempererat pelukannya lagi seakan tak ingin pelukan itu melonggar barang sedikit. "Terima kasih...," lirihnya pelan namun penuh ketulusan. "...istriku."
"Terima kasih karena sudah ada disisiku." Jonah melepas pelukannya lalu meraih kedua tangan Ally untuk digenggam.
"Mulai sekarang bantu aku memperbaiki semuanya." Jonah menatap mata Ally dengan begitu dalam.
"Aku ingin memulai awal yang baru bersamamu."
***
Kehilangan orang yang disayang itu rasanya ...... banget :(
author mau ngucapin makasih banyak buat pembaca sekalian yang udah bangu ngedo'ain author dan alhamdulillah sekarang udah mendingan banget huhu makasih semua ㅠㅠ
author selau usahain up cepet ya di sela-sela kesibukan yang bejibun ini, makasih sekali lagi buat kalian yang setia dukung novel yang sebenernya rada gaje ini hehe
__ADS_1
love u all~
^^^-see you^^^