
Suara ketukan langkah sepatu hak terdengar menggema di sepanjang lorong, sampai akhirnya sang pemilik sepasang kaki itu memasuki sebuah Studio. Ada banyak orang disana, gadis itu bertanya kepada siapapun yang menjawab tentang keberadaan orang yang di carinya.
"Kau mencariku, Stevi?" suara itu muncul tepat di belakangnya. Gadis itu langsung menoleh.
"Ah, Madam." keduanya saling mendekat dan saling memeluk satu sama lain.
"Ayo, kita duduk disitu." ajak Madam sembari menunjuk tempat duduk kosong di samping meja rias. Stevi mengangguk dan mengekorinya menuju kursi itu.
"Lama tak bertemu. Ada apa mencariku?" tutur Madam memulai percakapan.
Stevi hanya tersenyum menanggapinya. "Ah, ini. Aku membawakan kue kesukaanmu." gadis muda itu menyodorkan paperbag yang sedari tadi ia tenteng.
"Oh, sayang. Terima kasih." Madam sukacita menerimanya.
"Aku datang kesini karena mendengar kau sudah memiliki model untuk lauching tas mu nanti. Apa itu benar?" sebenarnya ia sudah tahu bahwa hal tersebut valid, tapi Stevi hanya berbasa-basi.
"Ahaha..., aku mendapatkan model super dadakan." cicit Madam dengan tawa renyahnya.
"Dulu kau pernah bilang kau ingin aku untuk menjadi modelnya." lirih Stevi lucu dengan wajah cemberut yang di buat-buat.
"Benarkah aku pernah berkata seperti itu? Yaampun, aku tidak ingat, kau tahu Madam-mu ini mulai pikun." ucap Madam sambil menepuk pelat jidatnya sendiri.
Stevi tertawa akan candaan wanita paruh baya dihadapannya. "Ingatanmu mungkin mulai berkurang, tapi tidak dengan kecantikanmu." bisik Stevi gemas.
"Ah, kau ini paling bisa memujiku." keduanya lalu tertawa bersamaan.
"Aku penasaran sehebat apa model yang kau pilih, apa aku boleh melihatnya?"
"Tentu saja. Ayo, ikuti aku." Madam menuntun Stevi menuju bagian lain dati ruangan itu, tempat dimana pemotretan dilakukan. Terlihat beberapa staff mulai membersihkan dan mengangkat-angkat beberapa barang yang tak terpakai lagi. Sepertinya pemotretan akan berakhir tak lama lagi.
"Lihat, betapa cantiknya dia." bisik Madam sembari menyenggol halus bahu Stevi dengan bahunya.
__ADS_1
Stevi menatapi sang model dengan seksama. Ia setuju dengan Madam bahwa gadis yang tengah berpose di depan kamera itu begitu cantik. Tapi yang ia agak heran adalah model itu nampak amatir. Hal itu terlihat dari ekspresi wajahnya yang terlihat gugup dan pose-nya yang selalu di arahkan.
"Dia model dari agensi mana?" tanya Stevi penasaran.
"Dia sebenarnya bukan model. Aku yang memaksanya jadi model." terang Madam diakhiri dengan tawa khas-nya.
Stevi akhirnya mengangguk paham. Ia mengulum bibirnya lalu kembali memperhatikan model tersebut. Ia baru menyadari bahwa wajah model itu seperti tak asing baginya. Ia merasa seperti pernah bertemu orang dengan wajah tersebut. Stevi kembali mengingat-ngingat tentang wajah orang yang ia maksud dalam pikirannya.
"Siapa namanya?"
"Ally." sahut Madam.
Tepat sekali. Memang dia orangnya.
Seorang staff lalu menghampiri mereka berdua, seorang wanita muda datang sambil membawakan ponsel Madam yang berdering karena ada panggilan masuk, hal tersebut membuatnya harus meninggalkan Stevi untuk mengangkat panggilan masuk itu.
Kini tinggal Stevi sendiri yang duduk memperhatikan Ally, hingga tak lama pemotretan pun selesai. Semua staff yang terlibat bertepuk tangan atas kerja keras mereka.
Seorang staff wanita menuntun Ally menuju ruang ganti pakaian, Stevi mengekori mereka. Ia langsung masuk ke dalam ruangan yang lumayan besar itu, di lihatnya Ally tengah duduk di depan meja rias.
"Hai." sapa Stevi langsung.
Ally langsung menoleh pada sumber suara. "Oh, hai." pekiknya senang sekaligus kaget. "Stevi?!"
"Senangnya kau masih mengingatku." wanita itu menarik kursi di ujung ruangan lalu menempatkannya di samping Ally agar mereka duduk berdekatan. "Aku tadi hampir tak mengenalimu karena polesan make-up itu."
"Mana mungkin aku melupakan orang yang pernah menolongku." tutur Ally. "Aku tak menyangka kita bisa bertemu disini. Bagaimana bisa?" tanyanya.
"Aku kenal dengan Madam, jadi aku kesini." jelas Stevi.
"Yaampun, dunia ini sempit sekali." cicit Ally sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Staff wanita yang tadi kembali datang menghampiri Ally. "Mari Nona Ally." ajaknya.
Ally mengangguk. "Aku mau berganti pakaian dulu." pamitnya pada Stevi.
Wanita anggun itu mempersilakan sambil memperhatikan tubuh ramping cantik ally memasuki ruangan kecil yang ada disitu. Ia menunggu sambil berbalas pesan singkat dengan Madam. Hingga tak lama Ally kembali usai berganti pakaian. Dress casual kesukaannya membuat ia benar-benar terlihat seperti gadis remaja jika tanpa make-up bold itu.
"Madam bilang dia ada urusan mendadak. Dia meminta maaf karena harus membatalkan janji makan siangnya denganmu. Dia meminta ku memberitahumu karena katanya ponselmu mati." kata Stevi pada Ally setelah membaca pesan singkat yang di kirimkan oleh Madam beberapa detik yang lalu.
"Oh, iya ponselku kumatikan. Kalau begitu sepertinya aku akan langsung pulang saja."
"Jika kau tak keberatan bagaimana kalau kita makan siang bersama saja?" tawar Stevi. "Hanya jika kau mau." wanita itu menekankan.
"Kalau kau tak keberatan, maka aku juga takkan keberatan."
"Kalau begitu, ayo." semangat Stevi.
"Baiklah kalau begitu, aku mau menghapus riasan ini terlebih dahulu."
"Kenapa dihapus? kau sangat cocok berdandan seperti itu." tutur Stevi menyunggingkan senyum.
"Entahlah. Aku tidak terlalu biasa menggunakan riasan, rasanya agak aneh." keluh Ally.
"Jika kau menghapus riasan, orang-orang nanti akan mengira kita adik-kakak." Stevi mencemberutkan wajahnya.
Ally tertawa gemas melihatnya. "Baiklah kalau begitu aku akan takkan menghapusnya."
......*****......
punten numpang lewat.....
^^^:)^^^
__ADS_1