
"Setelah kejadian tadi malam, Ally jadi menjauhi Jonah. Wanita itu bahkan bertambah pemarah. Malangnya bahkan tadi malam Jonah terpaksa tidur di sofa ruang tengah. Setelah saling mendiamkan satu sama lain sejak dari pagi tadi, Jonah inisiatif mengajak gadis itu berbicara lagi demi menghilangkan kecanggungan diantara keduanya.
"Ally, aku—"
"Jangan mendekat! tetap berada dalam jarak aman!" jerit Ally ketika melihat Jonah perlahan mendekat
"Kenapa kau ini?! aku bukan monster." kernyit Jonah.
"Kau itu monster. Bahkan lebih buruk daripada monster. Jika dekat-dekat denganmu bisa-bisa keperawananku hilang." ucap Ally.
Jonah tersenyum miring sementara kakinya bergerak maju mendekati sofa tempat gadis itu duduk. "Nona Ally kau sangat berlebihan."
Ally langsung berdiri dari tempat duduknya sambil menunjuk Jonah dan menatapnya sangat sebagai peringatan agar pria itu paham situasinya sekarang.
Jonah tak menghiraukan pelototan mata gadis itu. Ia terus berjalan maju seiring dengan Ally yang berjalan mundur demi menjauh.
Tiba-tiba ide jahil terlintas dibenaknya. "Awas dibelakangmu!"
Ally refleks menoleh ke belakang searah dengan tangan Jonah yang menunjuk sesuatu. Saat Ally lengah menoleh ke belakang itulah kesempatan baginya untuk mengangkat tubuh ramping gadis itu.
"Kyaaa!!" gadis dalam gendongannya itu tak pelak langsung berteriak dan meronta minta diturunkan. Jonah hanya tertawa acuh dan membawa tubuh Ally untuk dibaringkan di sofa terdekat.
Saat tubuh gadis itu sukses mendarat di sofa, Jonah langsung menindihnya. Ally yang dari tadi menjerit dan meronta mendadak langsung diam.
"Sudah selesai berteriaknya?" sindir Jonah.
Ally menelan ludah dengan susah payah karena saat ini posisi wajahnya dengan Jonah benar-benar dekat. "Me-menyingkir dariku." ucap Ally dengan nada bergetar. Gadis itu berusaha bangkit tapi Jonah menahannya.
"Baiklah aku akan menyingkir, tapi setelah ini." tanpa ba-bi-bu Jonah langsung mencium bibir Ally. Gadis itu bahkan sempat terbelalak kaget. Ia berusaha merapatkan bibir agar Jonah kelihangan akses, tapi yang ada justru Jonah menyerangnya dengan rakus dan menuntut Ally untuk membalas ciumannya.
Deru napas keduanya makin tak karuan. Ally bahkan beberapa kali memalingkan wajah agar ciuman mereka terlepas tapi Jonah tetap berhasil mendapatkan bibir gadis itu lagi.
"Ally-ah... aku tak tahan." Jonah segera melepas kaosnya. Pria itu kini bertelanjang dada.
"Ah, tunggu, tunggu dulu, Jonah." Ally panik ketika Jonah mulai membuka satu-persatu kancing bajunya sambil terus menciumnya.
Ding... Dong...
Baik Ally maupun Jonah terkejut bersamaan. Suara bel yang ditekan itu membuat keduanya terpaku sejenak.
"Sialan. Jangan hiraukan itu." celetuk Jonah sambil kembali menyerang bibir Ally. Gadis itu sudah sangat tersengal dari tadi. Ally lalu mengigit bibir Jonah, alhasil pria itu akhirnya meringis dan berhenti menciumnya.
"Itu peringatan agar kau mau berhenti." desis Ally. Ally akhirnya bisa bangkit dari sofa. Gadis berambut lurus itu segera berjalan ke arah pintu lalu membukanya.
"Sera?"
Ternyata tetangganya yang menekan bel. "Ah, Ally. Apakah kau sedang sibuk atau akan berpergian?" tanya Sera.
"Sepertinya tidak. Memangnya kenapa?"
"Hari ini suamiku ada pertemuan penting. Aku harus ikut dengannya. Pengasuh kami sedang sakit jadi dia tidak bekerja hari ini dan aku tak mungkin membawa anak-anak ikut bersamaku. Bisakan aku menitipkan Yohan dan Danny padamu?" tutur Sera. Wajahnya terlihat panik.
"Tak apa, Sera. Jangan khawatir, aku bisa menjagakan mereka." Ally tersenyum.
"Ya Tuhan, Ally, aku sangat berterima kasih padamu. Tunggu sebentar."
Sera segera berlari menuju rumahnya. Tak lama kemudian ia muncul lagi bersama kedua anaknya. Denny kecil ia bawa dalam gendongannya, sedangkan Yohan mengikutinya di belakang.
"Aku aku sangat bergantung padamu." Sera segera menyerahkan Denny kedalam gendongan Ally.
__ADS_1
"Tak perlu sungkan, Sera. Kau bisa mempercayaiku."
"Syukurlah kau begitu. Aku akan kembali sekitar pukul dua siang. Ini susu Denny, jika ia menangis berikan dia susu lalu tidurkan saja. Denny bukan anak yang menyusahkan, tapi..." Sera menggantung kalimatnya.
"Tapi apa?"
"Yohan agak sedikit nakal. Maklumi jika ia merusak barang, jangan khawatir, aku akan menggantinya." ucap Sera.
Ally tersenyum simpul. "Tak apa, Sera. Aku yakin Yohan pasti bersikap manis."
"Ah, semoga saja. Kalau begitu aku harus bersiap-siap sekarang, aku hampir terlambat. Ally aku titip anak-anakku." Sera segera berlari kecil keluar halaman rumah.
"Ayo, Yohan, masuk." ajak Ally pada Yohan yang tengah duduk di teras sambil memainkan mobil mainannya.
Yohan mengangguk lalu mengekori Ally memasuki rumah. Jonah masih duduk di sofa, pria itu menatap Ally ambigu.
"Apa kita bisa melanjutkan tadi?" tanya lelaki yang masih bertelanjang dada itu.
Ally melotot ke arah pria yang seakan tak paham situasi itu. "Lebih baik kau awasi Yohan saja."
"Kenapa kau membawa anak orang lain? Mana Ibunya?" tanya Jonah.
"Sera sedang ada urusan. Makanya dia meminta bantuanku." jelas Ally. Jonah hanya mengangguk-anggukan kepalanya paham.
"Paman, kenapa kau tidak memakai baju?" celetuk Yoham.
"Tidak apa-apa. Hanya sedang ingin saja." sahut Jonah tercengir.
"Bibi, aku haus. Apa aku boleh meminta minum?"
"Tentu saja, sayang. Jonah, tolong ambilkan minuman untuk Yohan." perintah Ally.
"Aku sedang menggendong Denny!" bentak Ally.
"Ya, ya, ya, baiklah!" Jonah segera bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju dapur. Yohan mengikutinya.
"Hey, apa kau ini manusia purba?! pakai kaosmu!" Ally meraih dan melemparkan kaos yang tergeletak dilantai itu pada Jonah. Jonah menangkap kaos itu dengan tepat lalu memakainya.
Jonah mengabil gelas lalu mengisinya dengan air putih hingga setengah dan menyodorkannya pada Yohan. "Ini."
"Aku tidak ingin air biasa. Aku ingin jus." Yohan bersedekap tangan.
"Minum ini saja. Rasanya sama seperti jus." desak Jonah.
"Paman, aku tidak bodoh!" bentak Yohan.
Jonah meringis. "Minum ini saja, nanti akan ku beri mainan mobil yang besar." tawarnya.
"Benarkah?" Yohan antusias.
"Tentu saja. Aku janji."
"Kalau paman berbohong aku akan adukan kepada ayahku dan ia pasti akan memukul wajah paman." ancam anak kecil itu.
"Memangnya orang seperti apa ayahmu itu?"
"Yang jelas ia adalah pria gagah, lebih gagah daripada paman."
"Tapi aku lebih tampan, kan?" cicit Jonah.
__ADS_1
"Tapi aku lebih tampan. Semua gadis dikelasku ingin jadi pacarku. Tapi aku ini pria setia, aku hanya cinta pada satu gadis." sombong Yohan.
"Kau punya pacar?!" tanya Jonah seakan tak percaya.
"Tentu saja aku punya. Bahkan gadisku yang menyatakan cintanya lebih dulu." tutur Yohan.
"Anak kecil sepertimu apa paham arti cinta? aku saja yang orang dewasa masih bingung apa itu cinta." geleng Jonah.
"Tentu saja aku paham. Kata Ibu, cinta itu adalah kebutuhan, semua orang butuh cinta, dengan cinta hidup akan jadi lebih berwarna dan bahagia, cinta juga artinya saling menjaga, melindungi, dan mengasihi dan menyayangi. Tanpa cinta hidup akan hampa, oleh sebab itu aku berpacaran karena aku tak ingin hidupku hampa." tutur Yohan polos.
"Ibumu benar tapi kau tak harus berpacaran sekarang. Maksudnya adalah saat kau dewasa nanti. Anak sekecilmu sudah berpacaran? kau bahkan masih tidur dengan orang tuamu." sinis Jonah.
"Jangan sok tahu, Paman. Aku ini pemberani, aku tidur sendiri." sahut Yohan.
"Itu karena kau dipaksa tidur sendiri, bukan? Jika tidak mana mau kau tidur sendiri."
"Kau salah. Aku yang meminta untuk dibuatkan kamar sendiri. Jika tidur dengan ayah atau ibu aku selalu terbangun saat ibu berteriak dan tempat tidur bergoyang, aku pikir itu gempa tapi ternyata bukan." jelas Yohan.
Jonah hampir tertawa namun ia menahannya. "Jadi akibat ranjang bergoyang dan Ibumu sering berteriak saat malam-malam kau ingin tidur sendiri?" tanya Jonah.
"Iya."
"Kau tahu apa yang mereka lakukan?" tanya Jonah lagi.
"Tidak. Tapi aku pernah melihat ayahku menindih ibuku dalam selimut, lalu ibu berteriak. Aku pikir Ibu kesakitan karena ia merintih tapi setelahnya ia berteriak meminta agar diteruskan. Aku bingung, tapi karena aku mengantuk jadi aku lanjutkan tidur saja." tuturnya.
Jonah meledak dengan tawanya seketika. Sambil menepuk-nepuk bahu Yohan, ia berkata "Tidur sendiri adalah pilihan bagus untukmu."
"Memangnya apa yang Ayah dan Ibu lakukan hingga ranjang menjadi bergoyang, Paman?" tanya Yohan penasaran.
"Setiap pasangan yang sudah menikah pasti melakukan yang seperti itu. Kau akan tahu jawabannya saat kau besar nanti." jelas Jonah.
"Berarti, Paman dan Bibi Ally juga pernah menggoyang ranjang?" tanya Yohan polos.
"Ah, erghhh.... anu, ah, siapa nama pacarmu?" ucap Jonah mengalihkan topik.
"Nama pacarku adalah Clara." sahut Yohan antusias.
"Jika kau paham cinta, apa saja yang pernah kau lakukan dengan Clara-mu itu?" pancing Jonah.
"Tentu saja seperti yang orang lain lakukan. Bergandengan tangan, mencium dahi dan pipi, makan bersama dan saling menyuapi, berpelukan, dan... pokoknya banyak sekali."
Jonah tertawa gemas memandangi Yohan. "Apa Ibumu tahu bahwa kau punya pacar?"
"Dia tahu. Aku bahkan meminta agar dinikahkan dengan Clara tapi Ibuku menolak. Dia bilang belum saatnya." sungut Yohan.
"Tentu saja Ibumu menolak. Kau hanya boleh menikah saat besar saat kau sudah memiliki pekerjaan dan uang yang banyak." terang Jonah.
"Kalau begitu aku ingin cepat besar agar dapat segera menikahi Clara. Paman, apa kau punya saran agar aku cepat tumbuh besar?"
"Makan yang banyak." sahut Jonah.
"Kalau begitu, Paman, siapkan aku makanan sekarang juga!" seru Yohan.
Jonah terlonjak. "Kenapa kau malah memerintahku?!"
"Paman sendiri yang bilang bahwa aku harus makan yang banyak, kan? kalau begitu siapkan aku makanan sekarang!"
"Ternyata kau ini memang menyebalkan." desis Jonah.
__ADS_1