
Jonah sampai di depan rumahnya, ia membuka pagar lalu memasukkan mobil ke dalam garasi. Segera setelahnya ia berlari ke depan rumah. Jonah menekan bel berkali-kali, sengaja agar Ally kesal karenanya.
Pintu terbuka dan nampaklah sosok Ally dengan rambut berantakan dan wajah bantal seperti habis bangun tidur.
"Berisik sekali. Padahal pintunya tidak di kunci." ucap Ally kesal dengan nada lemas.
"Kau tidak mengunci pintu? astaga, kenapa lalai sekali?! itu berbahaya apalagi larut malam seperti ini. Kita tak akan pernah tahu kemungkinan buruk apa yang bisa saja terjadi." omel Jonah.
Ally menguap menanggapinya. "Ya, baiklah. Cerewet." gadis itu kembali berjalan menuju sofa, tempat ia tidur sebelumnya.
Jonah mengikutinya masuk. "Kau tidur di sofa? kau menungguku?"
"Cih, yang benar saja. Aku sedang menonton film, makanya aku disini." tukas Ally yang kembali meringkuk di dalam selimut.
"Ya, mengaku saja kau menungguku. Kau itu kan penakut." cibir Jonah.
"Sudah ku bilang aku sedang menonton film!"
__ADS_1
"Menonton film apanya? kau hanya tidur, pergi bercermin dan lihat wajahmu." cela Jonah.
"Kau ini bisanya membuat orang kesal saja!" Ally berbalik sambil merapatkan kembalibselimutnya.
Melihat selimut yang Ally pakai, Jonah teringat akan selimut di dalam mobilnya.
"Ah, aku ada sesuatu untukmu. Tunggu sebentar." Pria itu segera berlari keluar menuju garasi mobil. Ia mengeluarkan selimut penuh figura itu dan membawanya masuk kedalam rumah.
Ia menempatkannya di hadapan Ally, gadis itu bangkit ke posisi duduk lantas mengerutkan kening karena bingung.
"Masih ada satu lagi." Pria itu kembali berlari keluar dan tak seberapa lama kembali dengan membawa dua bingkai foto besar ditangannya.
Ally melipat dahinya penasaran, gadis itu lalu perlahan membalik figura besar tersebut. "Ya, apa ini?! aku tidak butuh." ucapnya setelah melihat foto Jonah.
Tangannya beralih pada selimut dan lantas membuka ikatannya. Tumpukkan figura berukuran kecil yang membalut foto Jonah segera menyambut penglihatannya.
"Kenapa kau membawa barang tak berguna seperti ini, huh? sebanyak ini? apa kau mau menumpuk sampah di rumah ini?!"
__ADS_1
"Mulutmu itu tidak ada filter! berani sekali mengatai fotoku sampah!" sebal Jonah.
"Lalu untuk apa benda-benda ini, huh?!!"
"Yahh... rumah ini terasa membosankan. Jadi aku berinisiatif untuk menghiasnya, kurasa fotoku cukup untuk mempercantiknya." ujarnya bangga dengan melipat kedua tangan di dada.
"Narsis sekali. Yang ada hanya aku yang akan pusing jika harus melihat fotomu sebanyak ini setiap harinya!" protes Ally. "Aku tak setuju dengan ide konyolmu!" Ally tak terima.
"Hey, jangan membantah suami." tegur Jonah.
Ally memutar bola mata malas. "Terserah saja. Aku lelah menghadapi kelakuanmu." Ally berniat ingin ke kamar tidur, saat ingin meraih selimut di sofa, Jonah lebih dulu mengambilnya.
"Ya, mulai sekarang ini selimutku. Kau punya yang baru." Jonah segera menyingkirkan semua bingkai foto di atas selimut lalu menyerahkan selimut itu pada Ally.
Mata gadis itu membola begitu melihat selimut itu, sebelumnya tertutup tumpukan figura, jadi ia tidak tahu bahwa selimut itu bergambar potret Jonah.
Ally membuka mulut ingin protes, tapi ia terlalu mengantuk untuk berdebat. Dengan kesal ia menerima selimut itu dan segera berjalan ke kamar. Jonah tersenyum puas sembari menatap punggung Ally yang mulai menjauh.
__ADS_1
"Baiklah, saatnya menghias." gumam Jonah menatap figura yang berserakan.