Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Jonah Sakit


__ADS_3

Ally terbangun paksa ketika terkejut mendengar suara bersin yang nyaring dari sampingnya. Ini masih pukul 5 pagi, dilihatnya Jonah sedikit menggigil, wajahnya sangat pucat serta hidungnya merah. Ally bergerak menyentuh kening Jonah yang ternyata sangat panas, Jonah demam.


Ally menepuk jidatnya sendiri, harusnya tadi malam ia mencuci rambut dan kepala Jonah terlebih dahulu karena pria itu sehabis kehujanan. Akhirnya akibatnya jadi seperti ini.


"Ally, kepalaku sakit..." lirih Jonah lemah disusul dengan bersin.


"Kau demam, kau kehujanan tadi malam." Ally mengusapi kening Jonah, menyingkirkan helai rambut Jonah yang menutupinya. Gadis itu ingin beranjak turun dari tempat tidur, tapi dengan cepat Jonah menahan lengan Ally.


"Kau... mau kemana?" tanya pria itu pelan.


"Aku harus mengompres keningmu," sahut Ally sambil perlahan melepas genggaman tangan Jonah.


Ally lalu mengambil handuk kecil dan membawa baskom kecil berisi air hangat. Handuk kecil itu ia rendam ke dalam air hangat tersebut lalu ditempelkannya pada dahi Jonah. Selanjutnya ia mengambil kotak tisu di meja ruang tengah untuk memberikannya pada Jonah.


"Lain kali jangan terlalu banyak minum," tutur Ally halus sembari membenarkan letak handuk di dahi Jonah.


"Maaf. Aku pasti menyusahkanmu." lirih Jonah menatap dalam ke mata Ally.


Gadis itu beranjak duduk di sisi kasur sambil merapikan selimut yang membungkus Jonah. "Aku juga minta maaf. Harusnya kemarin aku tak keras kepala."


"Aku juga minta maaf karena membentakmu." suara Jonah terdengar seakan ia benar-benar menyesal.


"Tak usah dipikirkan." sahut Ally tersenyum sambil mengelus punggung tangan Jonah. Gadis itu lalu berdiri dari duduknya, ia ingin keluar kamar tapi lagi-lagi tangannya ditahan Jonah.


"Kau... mau kemana?"


"Aku mau mandi." jawab Ally dengan perlahan melepas genggaman tangan Jonah pada tangannya.


Ia segera berjalan keluar kamar meninggalkan Jonah yang menatap punggungnya dengan tatapan bak anak kecil yang takut ditinggalkan Ibunya. Selang beberapa menit Ally kembali ke kamar dengan tubuh yang hanya dililit handuk, ia mengambil pakaian di lemari lalu masuk kedalam toilet yang ada di kamar.


"Kenapa kau berpakaian di dalam sana?" dengus Jonah dengan suara lemah yang dipaksa kuat.


"Memangnya kenapa?" sahut Ally di dalam sana. Suaranya terdengar menggema.


"Kau bisa berpakaian disini, tak perlu bersembunyi seperti itu. Aku tidak akan menerkammu juga." balas Jonah dengan suara khas hidung tersumbat.


"Tidak. Terima kasih." sahut Ally lagi. Selang detik berikutnya ia keluar dari toilet setelah selesai berpakaian.


"Sebegitunya kau tidak ingin tubuhmu terlihat olehku, huh?" gerutu Jonah dengan wajah cemberut. "Seharusnya kau berpakaian disini saja, aku juga tidak bisa melihat tubuhmu itu dengan posisiku seperti ini. Aku juga tidak bisa bangun untuk menyerangmu." racau Jonah.


"Hey, kau masih mabuk ya?" Ally memeras handuk yang kembali ia rendam ke dalam air hangat itu.


"Terserahlah apa katamu." Jonah membalik tubuhnya membelakangi Ally. Gadis itu terkikik pelan lalu memaksa tubuh Jonah agar kembali ke posisi telentang. "Jangan sampai ini terjatuh." Ally meletakkan handuk kompres itu ke dahi Jonah, lagi.


Tiba-tiba hujan turun, suara jatuhan air hujan yang menimpa atap terdengar nyaring pertanda bahwa hujan turun dengan deras. Akhir-akhir ini hujan memang sering turun. Jonah makin meringkuk di dalam selimut.


Ally yang memahaminya kemudian menyalakan pengahangat ruangan agar udara menjadi lebih hangat. Ia kembali mendekat ke arah Jonah, sedikit kesal karena handuk kompres itu selalu saja terjatuh dan Jonah nampak tak memperdulikannya.


"Aih, sudah kubilang jangan sampai jatuh. Apa aku harus menambahkan perekat, huh?" omel Ally. Ia meletakkan kembali handuk itu pada posisi sebelumnya, di dahi Jonah.


"Jangan sampai jatuh. Mengerti?" tegas Ally. Jonah mengangguk polos, ia tiduran dengan posisi telentang tanpa berani berganti posisi lagi.


Ally lalu melangkah menuju pintu, tapi dengan cepat Jonah kembali menahannya sesaat dengan cara menarik bajunya, membuat gadis itu tersentak dan membalik tubuhnya menghadap Jonah.

__ADS_1


"Kau... mau kemana?" tanya pria itu lagi untuk yang ketiga kalinya .


Ally menghela napas menahan tawa. "Aku ingin memasak." sahutnya sambil melepas bajunya dari cengkraman Jonah. "Kau ini kenapa?" tanya Ally sedikit terkekeh.


Jonah lalu menarik tangannya sendiri ke dalam selimut. Lagi-lagi handuk kompres itu terjatuh, Ally menghela napas keras lalu meletakkan kompres itu untuk kesekian kalinya. "Kali ini jangan sampai jatuh, saat aku kembali nanti jika ini terjatuh lagi maka aku akan menendang pantatmu." ancam Ally bercanda. Jonah hanya mengangguk polos.


Gadis itu akhirnya berlalu keluar kamar tanpa ada penahanan dari Jonah lagi. Ia menuju dapur untuk memasak. Sekitar kurang lebih satu jam pekerjaan memasaknya itu selesai. Ally membawa semangkok sup ayam dengan secangkir teh hijau ke kamar.


Dilihatnya Jonah tengah tertidur dengan tisu yang menyumpal salah satu lubang hidungnya. Handuk kompres itu tetap berada di dahinya, membuat Ally tertawa kecil.


"Bangun..." Ally menepuk pelan pipi Jonah. Pria itu langsung membuka matanya ketika tangan Ally mengelus pipinya lembut.


"Aku membuatkanmu sup ayam." tutur Ally sambil membantu Jonah duduk.


"Aku tidak napsu makan." lirih Jonah lemah. Pria itu terus-terusan menyapu hidungnya dengan tisu.


"Padahal aku sudah susah payah memasaknya untukmu." ujar Ally pura-pura sedih, gadis itu mencebikkan bibirnya.


Melihatnya begitu Jonah jadi tak tega, tapi ia tetap tidak ingin makan. "Kau makan sendiri saja, ya." usul Jonah.


"Ayolah makan sedikit saja. Kau harus makan." bujuk Ally.


"Baiklah. Tapi ada syaratnya."


"Apa?" tanya Ally.


"Kau harus memberiku hadiah." titah Jonah.


"Wah, apa kau ingin aku memberimu mobil? astaga, yang benar saja." oceh Ally kesal.


"Baiklah, asal jangan yang aneh-aneh saja." gadis itu setuju. "Sekarang, habisi semangkok sup ayam ini.


"Baiklah, suapi." cicitnya yang lantas membuka mulutnya.


"Dasar manja..." desis Ally. Ia lalu menganyunkan sendok ke dalam mulut Jonah dengan hati-hati agar tidak tumpah.


Baru suapan pertama, Jonah nampak antusias sekali. Ia merebut mangkok itu dari tangan Ally lalu memakan sendiri sup itu dengan lahap.


Ally yang melihatnya jadi tersenyum. "Enak?" tanyanya.


"Ini enak sekali." sahut Jonah tanpa menoleh, ia sibuk menyesap kuah sup itu.


Tak berselang lama, semangkok sup itu telah kering alias habis ia santap. Jonah meletakkan mangkoknya ke atas nakas, lalu meraih secangkir teh hijau panas yang Ally suguhkan. "Aku kekenyangan." cicit Jonah sembari menepuk perutnya. Ally tertawa kecil, lalu ia berdiri membawa nampan berisi mangkok dan cangkir kosong itu ke dapur. Setelah mencucinya, ia pun kembali ke kamar.


Allu ikut naik ke tempat tidur dan bergabung menyembunyikan kakinya di dalam selimut. Udara benar-benar dingin meskipun penghangat ruangan sudah dinyalakan.


"Siapa yang mengantarku tadi malam?" ucap Jonah membuka percakapan.


"Aku tak tahu namanya. Dia seorang pria yang tingginya kurang lebih sama denganmu, dan dia juga tampan." jelas Ally sedikit mendiskripsikan sosok yang ia ingat.


Jonah sempat mendengus jengah ketika Ally menyebutkan kata 'tampan'. "Mobilnya warna apa? kau ingat?"


"Warna putih."

__ADS_1


"Oh, itu pasti Robin."


"Robin? gadis kecilmu yang waktu itu? wah dia rupanya." seketika Ally teringat kejadian waktu itu.


Pria itu berdecak sebal. "Lalu siapa yang mengganti pakaianku?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang serius.


Ally sedikit kaget. Ia diam sesaat sebelum menjawab. "Aku..." pipinya jadi memerah.


"Wah, jadi kau sudah lihat, ya? bagaimana punyaku? besar bukan?" goda Jonah tanpa malu.


Ally langsung memukul lengan Jonah. "Aih, apa-apaan itu."


"Aku yakin kau pasti takjub melihat ukuranku." goda Jonah lagi. "Kau mau melihatnya lagi?"


"Dasar gila! Urat malu milikmu sudah putus, ya ?!" jerit Ally.


"Kenapa harus malu, kau kan istriku." jawab Jonah santai. "Lihat, astaga... pipimu sangat merah. Apa yang ada di pikiranmu saat ini, huh?" Jonah tertawa sambil menunjuk wajah Ally.


"Bedebah!" Ally langsung mendaratkan pukulan bertubi-tubi pada lengan Jonah. Pria itu malah tertawa karena pukulan Ally lebih cenderung ke pukulan manja, Jonah menahan tangan Ally lalu segera mendekap gadis itu agar tak bisa bergerak lagi.


"Ya! lepaskan." ujarnya.


"Tidak." Jonah mengeratkan pelukannya.


"Aku sesak napas." jerit Ally.


"Aku juga." pria itu lagi-lagi mengeratkan pelukannya.


Dengan sisa ruang yang ada, Ally memukul-mukul dada Jonah. "Jonah, ku mohon." nada suaranya seperti anak kecil merengek, sangat imut.


Jonah perlahan melonggarkan dekapannya, dengan cepat Ally segera meloloskan diri dan langsung duduk. Ia menarik napas dalam sembari menatap kesal ke arah Jonah.


Pria itu terpaku menatap satu titik di tubuh Ally, gadis itu otomatis ikut melihat titik apa yang tengah Jonah lihat. Ternyata bajunya turun, sehingga membuat bagian dadanya jadi lebih terekspos, Ally segera menarik bagian belakang bajunya agar belahan dadanya tertutup. "Jangan lihat-lihat." desisnya. Jonah hanya tertawa kecil disusul dengan bersin.


Dari arah pintu terdengar ngeongan kecil, Lucy berjalan dengan anggun menuju ke tempat tidur. Kucing imut itu lalu melompat ke atas ranjang, ikut bergabung dengan Jonah dan Ally.


"Lucy!" pekik Ally girang. Ia langsung membawa kucing Ragamuffin itu ke atas pangkuannya. "Anak mama sudah bangun." Ally menciumi puncak kepala kucing itu berkali-kali. Jonah tersenyum gemas, bukan karena kucing itu. Tapi karena tingkah Ally.


"Kau pasti kedinginan, ya? ayo kita tidur bersama." Ally segera merebahkan tubuhnya dengan posisi memeluk kucing itu dari samping.


Jonah yang melihatnya jadi iri. " Ughhh...." pria itu pura-pura kesakitan memegangi kepalanya.


"Ada apa?" reaksi Ally seperti apa yang diharapkan Jonah.


"Kepalaku sakit, dan aku kedinginan." Aktingnya bukan main, pria itu bahkan pura-pura menggigil.


Ally lantas ingin bangkit dari tidurnya, tapi Jonah langsung menahannya dan membuat Ally berbaring kembali. Jonah mengangkat Lucy untuk ia pindahkan ke belakangnya, lalu dengan segera ia meringkuk untuk lebih dekat dengan Ally.


"Ini sangat menghangatkan." Jonah meletakkan kepalanya tepat di ceruk leher Ally, wajahnya persis di dada depan Ally. Pria itu memeluk Ally erat.


"Astaga, suhu tubuhmu masih panas. Kau perlu di kompres lagi."


Jonah hanya menggeram halus sambil lebih merapatkan tubuhnya yang menempel pada Ally, seakan isyarat untuk Ally agar ia juga turut memeluk pria yang tiba-tiba jadi manja itu. Ally tersenyum halus, ia lalu tak segan untuk memeluk pria yang matanya tengah terpejam itu, dapat Ally lihat bahwa Jonah menarik kedua ujung bibirnya, pria itu tersenyum. Hal itu otomatis membuat Ally ikut tersenyum, gadis itu menyisir rambut Jonah dengan jemarinya. "Get well soon..." bisiknya.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, dan komen ya~ Tambahkan ke favorite biar kalian tau kalo author up❤


__ADS_2