
Siang hari, Rey keluar untuk mencari makan. Mungkin di indonesia ini sudah jam 7 malam. Tapi di London ini masih jam 1 siang.
Rey pergi menggunakan mobilnya yang memang sengaja di tinggalkannya di sini. Ia melihat kanan kiri di jalan, kali saja dia menemukan Bulan.
Benar kata Elioz. Akan susah mencari Bulan di kawasan kekuasaan keluarga Zaynco. Ini tidak akan mudah, tapi demi anak ku, aku akan melakukan semuanya. batin Rey.
Sudah 20 menit dia mencari-cari Bulan, tapi hasilnya nihil. Ia memukul setirnya kuat, ia kesal dan merasa bodoh.
Ini semua karna Leon. Kalau saja dia mengatakan semuanya dari awal, aku tidak akan berpisah dengan Bulan! batin Rey. Rey pun turun dan memilih restoran bintang lima.
Rey masuk dengan Coolnya, membuat semua perhatian perempuan tercuri. Rey yang tidak memakai pakaian kantor, membuat auranya sedikit ramah dan lebih tampan. Celana pendek berwarna coklat dan kaus putih berlengan pendek membuatnya sangat menggoda. Apa lagi saat ia menatap tajam restoran itu. Ia menatap semua sudut restoran itu, ia berharap akan bertemu Bulan di sana.
Saat sedang fokus menyisiri semua meja restoran, sudut demi sudut, Rey pun terpaku pada satu meja.
Bulan? batin Rey. Rey pun menghampiri meja bernomor 19. Ia mengira itu adalah Bulan.
Rey menyentuh bahu wanita itu dan memanggilnya. "Bulan." panggil Rey. Wanita itu pun berbalik. Dan Rey terkejut.
•••
"Bro lu beneran gak ingat sama Risa?" tanya Elang.
"Gua gak ingat Lang. Terus pacar lu Jane kemana?" tanya Galang.
"Kenapa lu nanyain Jane?" tanya Elang.
"Ya kalau lu putus, kali aja Jane mau sama gua." ucap Galang.
"Dih, lu balik lagi jadi buaya. Woi memori otaknya Galang yang sama besar sama memori flasdick gua, salurkan lagi data semua masa lalu si ferguso ini agar kembali ke otaknya." ucap Elang sambil memukul pelan kepala belakang Galang.
"Woi sakit kaga gitu juga caranya ferguso. Yang ada pala gua sakit! Tanggung jawab lu kalau gua geger otak!" ucap Galang.
"Nanti gua ganti otak gua sama lu. Nanti gua bersihin otak lu. Biar gua ngerasain juga, jadi orang pintar di bodoh-bodohin gimana." ucap Elang.
__ADS_1
"Maksud lu apa?" tanya Galang.
"Liat waktu SMA, bisa-bisanya lu gak belajar dapat rank 3 umum. Nah sekali lu belajar, lu bisa ngalahin si Stella yang pinternya nauzubillah. Heran gua sama tu anak, dia di kasih makan paan sama emak bapaknya? padahal Vano sebelas dua belas sama gua." ucap Elang.
"Tapi masih pinteran dia dari pada elu!" jawab Galang. "Ogah juga gua, kalau gua pake otak lu yang ada gua bego kaya lu!" ucap Galang.
"Ntar, kapan mama gua tobat? berapa tahun yang gua lupain?" tanya Galang.
"Ntar terakhir lu ingat gua pacaran sama Jane kan? Berapa bulan?" tanya Elang.
"Sekitar 2 bulan." jawab Galang.
Gua udah putus sama Jane 3 tahun lalu. Berarti emang bener dia gak ingat sama Risa. batin Elang.
"Kenapa lu diam?" tanya Galang.
"Ga ada. Tapi bro, Gilang memang kembaran lu. Lu gak boleh nyangkal hal itu." ucap Elang.
•••
"Dokter Bulan, kita butuh pasokan darah. Bisa minta hubungi rumah sakit lain untuk menanyakan stok darah mereka?" tanya salah satu dokter.
"Apa golongan darah pasien? dan berapa kantong darah yang di perlukan? " tanya Bulan.
"AB resus negatif. Tiga kantong darah dok!" jawab dokter itu.
"Oke, tapi mohon jangan panggil saya dokter, saya belum bekerja di sini dan saya harus menempuh pendidikan yang lebih lagi agar bisa bekerja di Zaynco Hospital ini" ucap Bulan. Dokter itu pun mengangguk dan berterima kasih.
AB resus negatif? Itu golongan darah yang lumayan langka. Bagaimana cara aku mendapatkannya. batin Bulan
Oh my my my... Oh my my my....
Dering handpone Bulan terdengar olehnya. Bulan langsung mengangkat telpon itu. Tertulis nama sang penelpon "Eliza My Love" tak lupa emoticon love di akhir nama itu.
__ADS_1
"Haii apa kabar, gimana kuliahnya? gak ada masalah kan?" tanya Bulan.
"Kok kakak jahat banget. Kakak baru sampai di London, makanya aku cepat-cepat pulang. Eh sampai rumah kakak gak ada." ucap Eliza dengan nada kesalnya.
"Ihh lucunya. Kamu ini sembilan belas tahun atau sembilan tahun?" tanya Bulan.
"Kak, bulan besok aku dua puluh lo." ucap Eliza.
"Ya dehh. Oh ya, kamu ada yang kenal orang dengan darah AB resus negatif gak?" tanya Bulan.
"Buat apa kak?" tanya Eliza.
"Ada pasien yang sangat butuh sekali darah itu. Tadi waktu perjalanan dari bandara ke rumah, kakak ketemu dia di tengah jalan udah terkapar. Trus kakak bawa ke rumah sakit. Makanya kakak di rumah cuman sebentar." ucap Bulan.
"Tapi bukan kakak yang nabrak kan?" tanya Eliza.
"Ya enggak lah." ucap Bulan.
"Darah Liza AB resus negatif kak. Ambil aja darah Liza." ucap Eliza.
"Harus dua orang." jawab Bulan.
Sebanarnya darah kak Rey AB resus negatif. Tapi gak mungkin aku minta tolong sama dia. Dia kan di indonesia. batin Bulan.
"Nanti Liza bantu cari ya kak." ucap Liza. Bulan pun mengiyakan perkataan Eliza dan menutup sambungan telfonnya. Bulan duduk perlahan di kursi tunggu rumah sakit itu.
Kenapa kepikiran kak Rey terus. Apa iya aku udah jatuh cinta sama dia? Selama ini aku yang berusaha untuk buat dia jatuh cinta sama aku. Tapi kenapa kejadiannya seperti senjata makan tuan? Aku masuk ke lubang yang ku buat khusus untuk kak Rey, tapi bukannya kak Rey yang masuk, malah aku yang terperangkap pesona kak Rey. Emang cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan! batin Bulan.
•••Bersambung...
Duh jadi sedih ni liat Bulan. Yang sabar ya Kak Bulan, author akan lakukan yang terbaik untuk Bulan. Doain aja author gak lagi jahilin para pembaca untuk buat konflik yang serius antara Bulan dan Rey 🤣🤣🤣.
Oke jangan lupa dukungannya selalu ngalir ya. Mohon maaf jika novelnya membosankan atau kebanyakan konflik dan lain sebagainya. Semua keluhan bisa di utarakan di kolom komentar, Insyaallah author jawab 😄
__ADS_1