Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Hang Out


__ADS_3

Seminggu lebih setelah makan siangnya bersama Stevi, Ally mendapat pesan singkat darinya yang berisikan ajakan untuk bertemu. Setelah Ally membalas isi pesan tersebut, Stevi langsung menelponnya.


"Syukurlah kau tak sibuk, kalau begitu kita bertemu di lokasi barusan yang ku kirim lewat pesan singkat, ya."


"Haha, aku tak pernah sibuk, kok. Baiklah, aku akan siap-siap sekarang." sahut Ally.


"Kau naik mobil sendiri?"


"Oh, tidak aku akan naik taksi saja."


"Ah, kalau begitu biar aku saja yang jemput"


"Tidak perlu, jangan merepotkan dirimu sendiri."


"Tidak apa-apa, kirim saja alamatmu lewat pesan, ya?"


"Tidak, benar-benar tidak perlu repot." tekan Ally.


"Ya ampun kau ini, baiklah kalau begitu. Sampai ketemu nanti, ya."


Nada bicara yang ramah itu membuat Ally menarik kedua sudut bibirnya keatas.


Sebenarnya Ally menjadi kepikiran tentang apa sebenarnya hubungan wanita itu dengan suaminya. Beberapa kali ia berusaha mengambil kesempatan untuk memancing Jonah agar membahasnya, namun beberapa kali juga Jonah dengan entengnya langsung mengalihkan topik pembicaraan. Hal itu membuat Ally semakin penasaran.


"Apa sebaiknya aku tanya pada Stevi saja?" ucapnya pada diri sendiri sembari membelai kucing kesayangan. Gadis itu hanya menghela napas panjang lalu berjalan menuju kamar untuk segera bersiap. Ia lalu memesan taksi online dan segera berangkat ketika taksi tersebut datang menjemput.


Stevi mengirim sebuat alamat yang belum pernah ia tahu sebelumnya. Ally mengirimkan pesan singkat untuk memberitahunya kalau ia sudah diperjalanan menuju tempat tersebut.


Selang 15 menit, akhirnya mobil taksi itu berhenti di depan sebuah Cafe dengan konsep outdoor. Di sebuah meja paling ujung, Ally melihat Stevi dengan semangat melambaikan tangan ke arahnya. Ally membalas lambaian itu sesaat lalu mulai berjalan menujunya.


"Maaf ya aku terlalu lama di jalan, lalu lintas agak sedikit macet."


"Jangan pernah meminta maaf untuk hal sepele seperti itu." titah Stevi. "Aku sudah pesankan es krim untukmu, sebentar lagi pasti mereka akan membawanya kesini. Kau suka es krim, kan?"


"Suka!" sahut Ally semangat.


Tak berselang lama, seorang pelayan datang membawakan semangkok besar es krim stroberi ke meja dua wanita itu.


"Aku tak tahu rasa favorite-mu. Jadi aku pesankan yang stroberi saja. Apa kau suka?"


Walau sedikit kecewa karena rasa favorite-nya adalah vanila, Ally tetap tersenyum menghargai Stevi. "Suka, kok!"


Stevi langsung tertawa sumringah. Hal itu membuat Ally jadi bertanya mengapa.


"Kau sangat imut astaga, rasanya ingin ku makan." gurau Stevi.


Ally menjadi ikut tertawa sekaligus merona karena pujian itu.

__ADS_1


"Aku senang sekali, setelah sekian lama selalu sendirian akhirnya aku bisa merasakan yang namanya berteman lagi." tutur Stevi.


Ally menautkan alisnya sambil menatap dalam mata wanita itu, seolah meminta Stevi untuk berbicara lebih banyak.


"Aku tak punya teman sebelum bertemu denganmu." ucapan wanita itu terjeda karena Stevi menyendok es krim kemulutnya. "Aku tak tau kenapa, pertemananku tak pernah awet. Rasanya tidak pernah ada pertemanan yang sehat, aku selalu saja dibicarakan dibelakang dan terus-menerus dikhianati."


Wanita itu kembali menyendok es krim-nya sementara Ally dengan serius mendengarkannya. "Aku selalu merasa kesepian, kemana-mana sendirian karena tak memiliki teman. Bahkan pria yang ku sukai sudah direbut orang." Stevi menambahkan tawa garing di ujung kalimatnya.


Ally yang mendengarnya menjadi sedikit prihatin. "Jangan terlalu memikirkan tentang pria, wanita secantik dirimu pasti banyak yang suka. Jika kau membuka pendaftaran pasti banyak yang antri." gurau Ally mencairkan suasana yang agak berubah sesaat.


"Tapi aku sangat mencintai pria itu. Bagaimana, dong?" tutur Stevi dengan ekspresi cemberut yang menggemaskan.


"Tenang saja, kalau berjodoh pasti akan kembali lagi padamu." titah Ally berharap perkataannya itu bisa menyenangkan Stevi.


"Kau benar. Jika jodoh pasti akan kembali, jika tak jodoh maka akan ku usahakan agar berjodoh." gurau Stevi mengundang tawa. Ally menjadi senang karena sesaat sebelumnya Stevi terlihat sedikit muram namun sekarang sudah ceria kembali.


"Kau sendiri berarti berjodoh dengan Jonah, ya."


Celetukan itu membuat Ally terpaku sejenak. "Eh..., iya?"


"Beruntung sekali, Jonah itu pria terbaik yang pernah ku kenal, ku harap nanti jodohku seperti dirinya."


Ally hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa.


"Coba ceritakan bagaimana perjalanan cinta kalian."


Ally mendadak canggung jika harus membahas hal yang berkaitan dengan pernikahannya. Namun melihat ekspresi wajah Stevi yang terlihat antusias, ia berusaha menjawabnya sebisa mungkin.


"Wah, hebat! kalian sudah berpacaran sejak SMA?"


"Tidak." sela Ally cepat. "Kami dijodohkan." entah kenapa ia menjadi tidak ragu sama sekali untuk membagi cerita pada Stevi.


"Oh, begitu rupanya. Kalian terlihat begitu serasi." puji Stevi.


"Haha, apakah terlihat seperti itu?"


Stevi terdiam sejenak. "Apa kenyataannya tidak seperti itu?"


Ally hanya menghela napas sambil menoleh ke arah lain. Berharap Stevi dapat memahaminya tanpa ia harus berkata apa-apa.


Wanita itu lalu mengambil dan menggenggam sambil memberi usapan halus halus pada tangan Ally. "Jangan khawatir, Jonah pria yang baik. Akan mudah bagimu untuk mencintainya."


Ally mengalihkan atensinya pada Stevi, menatap dalam pada sepasang mata indah milik gadis itu. "Kau sangat kenal akrab dengan Jonah, ya?"


"Tidak terlalu juga."


"Sekarang giliranmu, coba ceritakan bagaimana kisah pertemanan kalian." Ally merasa beruntung karena dapat melontarkan pertanyaan yang sudah berhari-hari mengganjal isi pikirannya itu.

__ADS_1


"Bagaimana ya awalnya?" Stevi terlihat berpikir sesaat. "Ah, waktu itu ketika dia datang ke agensi kami." satu sendok es krim kembali masuk ke dalam mulutnya.


"Saat itu aku baru bergabung dengan agensi, dan itu merupakan photoshoot pertamaku. Aku tidak begitu memperhatikan sekitar karena masih gugup, jadi aku tidak tahu saat itu dia sedang berada di sudut mana. Tapi saat di ruang ganti, dia masuk lalu duduk di sebelahku dan memuji kerja kerasku. Dia memperkenalkan diri, lalu kami menjadi teman."


"Wah, luar biasa! kalian terlihat sangat akrab. Apa kalian sering pergi bersama?" pancing Ally ingin mengetahui lebih banyak.


"Kami sering pergi makan ramai-ramai dengan yang lainnya. Tapi, sesekali dia juga pernah mengajakku pergi hanya berdua. Tapi itu dulu." tekan Stevi dengan raut wajah agak cemas.


Ally tertawa kecil. "Aku takkan marah hanya karena itu."


Stevi terseyum canggung. "Habisnya itu kan suamimu. Lagipula itu dulu sebelum kalian menikah, dan aku takkan mau pergi bersama suami orang lain." cicitnya.


Stevi lalu seperti teringat akan sesuatu, gadis itu kembali memasang raut wajah harap-harap cemas. "Kau ingat hari dimana Ibu Jonah meninggal?"


Ally mengangguk serius.


"Hari itu aku bertemu Jonah di Gym. Kami mengobrol banyak karena lama tak bertemu, lalu dia menawari untuk tumpangan pulang dan kami berniat mampir ke Cafe waktu itu. Tapi ketika masuk mobil, Jonah terlihat panik menelpon seseorang, dan tiba-tiba saja dia bilang harus ke Rumah Sakit." Stevi menjeda ceritanya.


"Ketika kami sampai disana, aku melihatmu tertidur dipundak Bibi Jonah, saat itu aku sempat bertanya-tanya apa hubunganmu dengan keluarga Jonah, tapi sekarang aku sudah tahu jawabannya. Kau istrinya."


Ally agak sedikit tercekat mendengar pengakuan tersebut.


"Aku tak tahu apakah Jonah sudah pernah menceritakan hal ini padamu, tapi kurasa aku harus tetap menceritakan ini padamu. Maaf waktu itu aku menerima ajakan Jonah karena aku tidak tahu bahwa ia sudah menikah." terang Stevi sambil tertunduk.


"Tak apa, itu bukan kesalahan." Ally tersenyum lebar agar Stevi tak merasa bersalah. "Tapi saat itu aku tak melihatmu, apa kau langsung pulang setelahnya?"


"Ketika kami tiba disana kau sedang tertidur di pundak Bibi Jonah." Stevi mengulang kembali point diceritanya yang mungkin tak begitu ditangkap oleh Ally. "Saat itu Jonah langsung ingin mengantarku pulang karena ia tak ingin aku ikut menunggu, walau aku sudah bilang tak mau dia tetap memaksa, namun akhirnya mengalah juga. Jadi ia tak jadi mengantarku pulang."


Setelah mendengar cerita dari Stevi, entah mengapa ada perasaan aneh yang mengganjal dibenak Ally. Entah apa itu namun hal tersebut terasa sangat tak nyaman. Stevi menyadari perubahan air wajah Ally.


"Aku sudah bosan disini, ayo kita pergi ke tempat lain. Cuacanya sangat bagus hari ini."


Ally mengangguk dan memberikan seulas senyum. "Ayo."


...***...


Ada yang kangen ga ya? xixixi


Setelah sekian abad author yang sok sibuk ini balik lagi ke lapak berdebu ini :) selain karena banyak kerjaan, sering kena writer's block juga sih ㅠㅠ


Buat yang nanya "kok ga up lagi, udah tamat ya?" jawabannya belum ya, belum tamat. Ceritanya masih agak panjang dan bakal lanjut kok sampai tamat walau up nya lama bingits wkwk


Kangen bacain komentar kalian yang bikin author seneng banget karena ternyata lumayan banyak yang suka novel hasil gabut ini huhu sayang kalian <3


Do'ain kerjaan author lancar ya hihi


Jangan lupa vote dan tinggalin jejak di kolom komentar ya!

__ADS_1


nanti auhor balik lagi, dadah <3


^^^See you^^^


__ADS_2