
"Ahh, Ally... sebaiknya kita lakukan sekarang saja."
Ally meringis. Dengan sengaja ia membenturkan kepalanya dengan kepala Jonah. Pria itu mengaduh sakit, juga Ally.
"Apa maksudmu lakukan sekarang?!" sengit Ally ketika tangan Jonah berhasil ia singkirkan.
"Aku ingin punya anak, ayo kita buat." tangan pria itu kembali merengkuh tubuh Ally. Wanita yang dipeluk itu hanya terdiam tanpa tahu harus berkata apa.
"Kenapa diam saja? apa kau tidak mau? atau kau tidak bersedia melayani suamimu ini?"
Helaan napas Ally terdengar. "Dua puluh lima..."
"Hm?"
"Dua puluh lima." ulang Ally.
"Apa maksudnya itu?" heran Jonah.
"Kurasa aku akan siap saat umurku sudah menginjak angka itu." jelas Ally.
"Kau bercanda?! itu berarti masih tiga tahun lagi?!" Jonah melongo.
"Aku perlu mempersiapkan hatiku."
"Ya, kau ini mau mempersiapkan hati atau mau membangun perumahan? kenapa lama sekali?!" protes Jonah.
"Aku tahu untuk sekarang kita masih belum mencintai satu sama lain, yang benar saja jika kau meminta anak sekarang." wanita itu kembali berusaha menjauhkan tangan Jonah yang mengusap tubuhnya sana-sini.
"Tapi tiga tahun itu terlalu lama." protes Jonah.
"Kita butuh proses. Akan mudah jika kita tak kenal satu sama lain sebelumnya. Tapi kenyataannya kita adalah musuh saat sekolah dulu dan aku tahu bagaimana sifatmu." ini diluar kesadarannya, Ally mulai mengusap-usap tangan Jonah yang melingkar dipinggangnya.
__ADS_1
"Memangnya bagaimana sifatku?" tanya Jonah sembari merapat dan menempatkan dagunya disela leher dan bahu Ally.
"Kau itu licik dan susah ditebak. Siapa tahu nanti saat aku mengandung anakmu kau malah meninggalkanku." entah mengapa Ally mengucapkan begitu saja apa yang ada dipikirannya.
Jonah tertawa dengan hidungnya, mempererat dekapannya dan membenarkan kembali letak dagunya dibahu Ally. "Jadi kau takut ku tinggalkan, ya?" pancingnya.
Ally mendengus jengah tak berniat menjawab pertanyaan itu.
"Ally, aku suka seperti ini. Sangat nyaman. Kita lakukan ini setiap malam sebelum tidur, oke?" yang dimaksud Jonah adalah pelukan. "Hangat..." tuturnya.
Ucapan pria itu barusan menyadarkan Ally, dengan cepat ia menarik tangannya yang sedari tadi mengusap lengan Jonah yang melingkar ditangannya. Pipi Ally memanas, malu.
"Kenapa berhenti?" Jonah terkikik. "Ayo usap lagi."
"Ah, sudahlah. Lepaskan aku sekarang, aku ingin tidur. Jangan berani menyentuhku lagi." ancam Ally.
"Tidak mau," Jonan mempererat pelukannya. "Seperti ini saja."
"Hey, jika kau terus bergerak maka kau harus bertanggung jawab jika 'adik' ku bangun." ucap Jonah membuat Ally pasrah.
Ally membuang napasnya panjang. Dan akhirnya mengalah.
***
Pagi harinya, apa yang terjadi akibat hujan tadi malam sangat menganggu pemandangan.
Beberapa pot tanaman terjatuh sehingga tanahnya berceceran di teras. Ratutan atau bahkan ribuan lembar daun yang terlepas dari pohonnya berhamburan di halaman dan di kolam renang.
"Ya Tuhan, hujan tadi malam sangat mengerikan."
"Sangat berantakan. Aku akan panggil orang untuk membersihkan semua kekacauan ini." ujar Jonah.
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku bisa mengatasinya." sanggah Ally cepat.
Jonah mengangkat alisnya. "Kau bercanda? kau takkan sanggup." remehnya.
"Aku bisa. Lagipula aku tidak punya pekerjaan selain hanya tiduran dan menonton tv. Membosankan."
Jonah terdiam sejenak. Benar juga. Selama ini Ally tak pernah keluar rumah semenjak pindah kemari. Tentu saja Ally merasa bosan.
"Kau bosan? apa kau ingin jalan-jalan?"
Ally segera menoleh menatap Jonah. Ia menautkan alisnya. "Hah?"
"Apa kau ingin jalan-jalan?"
Ally tertawa hambar. "Tidak, tidak. Tidak perlu. Lagipula aku tak tahu daerah disini, apa kau lupa aku bukan berasal dari sini."
"Maksudku jalan denganku." jelas Jonah.
Ally menatap Jonah makin heran. Ia tertawa hambar kembali. "Yang benar saja..." ucapnya sangat pelan.
"Kebetulan aku juga malas ke kantor hari ini. Aku bisa menemanimu jika kau ingin pergi."
"Tidak. Aku ingin dirumah saja." sahut Ally.
"Apa kau yakin tidak ingin membeli sesuatu?"
Tiba-tiba Ally teringat stok bahan makanan dikulkas yang sudah menipis. Apa sebaiknya ia pergi belanja saja?
"Em... sebenarnya mak—"
"Baiklah, kalau begitu langsung siap-siap saja. Jangan lambat. Kita akan pergi berbelanja." sambar Jonah memotong ucapan Ally yang sudah bisa ia tebak itu.
__ADS_1