Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Pesta Erik #3


__ADS_3

Pesta resmi di mulai setengah jam lebih yang lalu ketika Erik sang pemilik pesta mengucapkan kalimat sambutan pada tamu udangan.


Ally terlihat menikmati pesta, setelah bertemu Madam tadi ia mulai percaya diri, gadis itu tak merengek meminta pulang seperti yang Jonah khawatirkan.


Di tengah kerumunan mata pria itu tak sengaja melihat sosok wanita yang ia kenal. Ia mendadak panik, pria itu mengalihkan wajahnya.


"Aku tiba-tiba tidak enak badan. Ayo kita pulang." ucapnya pada Ally yang kini tengah duduk cantik menyantap dessert.


"Kenapa buru-buru? aku belum mencoba semua kue, tunggu sebentar lagi." sahut Ally santai sambil mengunyah.


"Tidak bisa. Ayo pulang sebelum aku pingsan disini!" desis Jonah.


"Kenapa malah kau yang merengek minta pulang?!"


"Cepatlah! aku bisa membelikanmu semua jenis kue yang kau mau nanti. Yang penting kita pulang sekarang!" Jonah bangkit dan segera meraih tangan Ally, memaksanya berdiri dan berjalan mengikutinya.


"Wow, wow, pelan-pelan, hey?!" Ally mengernyit. "Apa ada yang mengejar kita?" tanyanya sembari menoleh ke belakang.


Jonah tak menjawab, pria itu masih saja berjalan cepat menarik Ally. Hingga berhenti di depan Erik.


"Terima kasih atas pesta luar biasanya, maaf tapi kami harus pulang lebih dulu." ujar Jonah.


"Ya, kenapa buru-buru sekali? pestanya baru mulai."


"Kami minta maaf, tapi kami ada kepentingan di rumah, di ranjang tepatnya." ucap Jonah tersenyum ambigu.

__ADS_1


Ally tercekat mendengarnya. Mata gadis itu membola.


"Ahaha... kau ini bisa saja. Ya sudah kalau begitu terima kasih sudah datang, selamat bersenang-senang." ujarnya menepuk pundak Jonah.


Setelah keluar dari ruangan itu, Ally segera melepas tangannya dari lengan Jonah. Gadis itu mencubit pinggang Jonah.


"Aww!" Jonah memekik.


"Ya, kenapa kau mengatakan alasan memalukan pada Erik, huh?!" sengitnya.


"Santai saja. Saat berbicara dengannya memang harus seperti itu. Harus sombong." sahut Jonah.


"Sombong apanya?! yang tadi itu memalukan, dasar bodoh!"


"Memang apa salahnya? urusan ranjang? maksudku aku lelah dan ingin tidur. Memangnya kau pikir apa, huh?" pancing Jonah.


"Aish, otakmu ini kotor. Kau pasti berpikir jauh, ya?" usik Jonah sambil mendorong pelan dahi Ally dengan telunjukknya.


"Otakmu yang kotor!! dasar tak tahu diri!" Ally segera berjalan cepat mendahului Jonah. Pria itu hanya tertawa gelak mendapati reaksi Ally.


Jonah mengambil kunci mobilnya dari Parkir Valet lalu menyusul Ally yang kini tengah berdiri bersedekap di samping mobil.


Jonah memasuki mobil lalu diikuti oleh Ally. Selang beberapa mobilnya belum juga ia jalankan.


"Ck, kau ini menunggu apa?!" bentak Ally.

__ADS_1


Jonah menatap gadis itu sinis. "Tch, dasar." Ia mencondongkan tubuhnya pada Ally, gadis itu refleks mundur sambil memicingkan mata, ia mengira Jonah ingin menciumnya.


Tapi faktanya pria itu hanya berniat memasangkan Ally sabuk pengaman, sengaja mendramatisir untuk menggoda Ally. "Hey, otak kotor. Kau ini berpikir apa, huh? aku hanya memasangkan sabuk pengaman."


Ally membuka matanya segera. Menipiskan bibir karena pipinya memanas. "Ya, aku menutup mata karena wajahmu itu menyeramkan jika dilihat dari dekat." elak Ally.


"Ya jujur saja, kau pasti berpikir aku mau menciummu, kan?" tebak Jonah sambil menatap Ally. Matanya mendapati di bibir bagian bawah Ally terdapat sisa krim kue yang menempel.


Tangannya refleks menyapu bagian itu dengan ibu jarinya. "Kau ini makan seperti anak kecil." celetuknya.


Pipi Ally memanas semakin parah. Gadis itu menggigiti pipi bagian dalamnya guna menenangkan detang jantungnya yang entah kenapa jadi berdebar.


Jonah akhirnya melajukan mobilnya. Berkendara santai membelah jalanan kota sambil memutar lagu untuk memecah keheningan.


"Kenapa ingin pulang tiba-tiba?" tanya Ally kemudian.


Hal itu kembali membuat Jonah teringat akan sosok itu lagi.


"Aku mengantuk." bohong Jonah.


Ally ber-oh ria saja sambil kembali memperhatikan jalanan di balik kaca mobil.


Kini Jonah bergelut dengan pikirannya lagi. Berusaha membagi fokus karena ia sedang menyetir.


Tapi tetap saja hal itu membuatnya kalut. Ketakutan jika akan bertemu sosok itu, terlebih lagi jika dengan Ally.

__ADS_1


Bagaimana bisa ia memperkenalkan Ally sebagai istrinya pada orang yang ia sukai?


Hal itulah yang membuat Jonah takut bertemunya di pesta tadi, ia takut bertemu dengan Stevi.


__ADS_2