
Setelah menjemput Yohan dan Denny dari rumah Ally, Sera mengingatkan kembali agar Ally ingat untuk datang ke perayaan ulang tahun anak pertamanya.
Malam ini adalah tepatnya. Ally segera bersiap-siap untuk mengadiri acara tersebut.
"Apa kau sudah menyiapkan kadonya?" tanya Ally pada Jonah yang tengan memainkan ponselnya diatas tempat tidur.
"Hm." sahut Jonah.
"Lalu apa yang kau tunggu?! Kenapa masih belum berganti pakaian juga?!" bentak Ally kesal.
"Kau saja yang pergi. Aku ingin tidur cepat malam ini, besok aku mulai masuk kerja kembali." jelas Jonah.
"Jangan mempermalukanku! kau sudah berjanji!"
"Memangnya kenapa!? kutarik kembali ucapaku waktu itu." ucap Jonah enteng.
Ally segera menyambar bantal diranjangnya lalu melemparkannya pada Jonah. Pria itu mengaduh sakit.
"Cepat ganti pakaianmu!"
"Aku mau tidur! tidak ingin pergi!" sengit Jonah.
"Kita sudah berjanji pada Sera, Jonah! ayolah!"
"Masa bodoh dengan itu!" sahut Jonah.
Ally mendengus jengah. Ia meraih bantal guling lalu melemparkannya lagi pada Jonah.
Jonah berusaha menepis guling yang terbang mengarah padanya. "Ya, ya, ya! baiklah! aku akan ikut denganmu!" Jonah segera bangkit lalu menuju lemari untuk mencari pakaian dengan malas.
Ally tersenyum puas lalu mengambil langkah keluar kamar. Ia duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu Jonah. Tak lama, pria itu muncul dari balik pintu dengan pakaian rapi.
"Dimana hadiah Yohan?" tanya Ally.
Jonah segera berlari kecil menuju garasi untuk mengambil kado itu dari dalam mobil. Ally menyusul Jonah ke halaman depan.
"Apa isinya itu?" Ally penasaran.
__ADS_1
"Ini mainan mobil denan remote control, jenis ini keluaran terbaru, diimpor langsung dari Jerman, harganya sangat mahal, ini seharga—"
"Ya, ya, ya! hentikan ocehan tak jelasmu itu," sela Ally. "Ayo pergi sekarang." ajaknya
Jonah mendengus pelan. Ia mengikuti Ally berjalan keluar lalu menutup dan mengunci pintu setelahnya.
Ally dan Jonah berjalan beriringan menuju kediaman Sera dan keluarganya. Dari luar rumah itu sudah terdengar ramai.
"Sepertinya Sera mengundang banyak tamu." bisik Jonah.
Ally dan Jonah memasuki halaman rumah Sera. Ally segera menekan bel yang melekat di dinding samping pintu.
Pintu terbuka, bukan Sera yang menyambut mereka, melainkan seorang wanita paruh baya yang tak dikenal.
"Silakan masuk, Sera sedang sibuk, jadi aku yang membuka pintu." sambutnya.
"Ah, terima kasih." Ally membungkuk sedikit demi menghormati orang dihadapannya. Ia lantas melenggang masuk kedalam dengan Jonah yang mengekornya.
"Pestanya dihalaman belakang," celetuk wanita yang menyambut mereka tadi. "lewat sini." ia mengarahkan jalan.
Perlahan alunan musik terdengar disertai dengan riuhnya teriakan anak kecil. Mereka melewati pintu kaca yang menghubungkan dapur dengan halaman belakang rumah Sera.
Anak-anak kecil itu berlarian kesana-kemari dengan riang. Yang lebih imutnya adalah mereka semua memakai kostum yang senada. Dress code kali ini bertema World Disney. Anak kecil itu mengenakan kostum bak putri dan pangeran yang ada di film-film Disney. Contohnya Yohan, si kecil tampan itu sangat mempesona dengan kostum pangeran.
"Hai, Yohan, selamat ulang tahun." Ally menepuk puncak kepala Yohan pelan.
"Ini hadiahmu." Jonah menyerahkan kado besar itu pada Yohan.
"Woah, Pamam, ini besar sekali. Semoga isinya juga besar, bukan cuma kotaknya saja." celetuk anak itu.
"Yohan, kenapa berkata seperti itu?! Ucapkan terima kasih pada Paman Jonah dan Bibi Ally." tegur Sera.
"Baiklah, terima kasih, Bibi, Paman."
"Terima kasih, Ally, Jonah, karena sudah datang." Sera menyela.
"Ini kehormatan bagi kami, Sera. Terima kasih sudah mengundang." Ally menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Hey, omong-omong kostum apa yang kau pakai ini?" tanya Jonah sembari menatapi Yohan.
"Ini kostum The Pince Charming, pangeran Cinderella." jawab Yohan.
"Pilihan yang bagus." puji Ally.
"Terima kasih, Bibi. Aku memilih kostum ini karena pacarku akan memakai kostum Cinderella." tutur pangeran kecil itu.
"Yohan, tolong jaga ucapanmu, sayang." tegur Sera.
Jonah dan Ally tertawa kecil. Yohan begitu menggemaskan.
"Lalu, dimana Cinderella-mu itu?" tanya Jonah.
"Aku tidak tahu. Sepertinya dia terlambat. Semoga saja dia datang. Jika tidak, aku akan memutuskannya dan mencari pacar baru." Yohan mendengus jengah.
Air wajahnya keruh sesaat, hingga kemudian matanya berbinar saat melihat ke arah pintu. Yohan berseru antusias.
"Itu dia Cinderella-ku, dia bersama ayah!" Yohan segera menunjuk kearah seorang pria yang tengah menggandeng putri kecil dalam balutan gaun Cinderella yang berkilauan saat tertimpa cahaya lampu.
"Kenapa Clara bersamamu, Steve?" tanya Sera kepada lelaki yang menggandeng 'Cinderella' itu.
"Ibunya menelponku bahwa dia ada urusan mendadak. Dia memintaku untuk menjemput Clara. Ibunya akan menyusul nanti." jawab pria yang bernama Steve itu.
"Oh, begitu." Sera mengangguk. " Ah, iya. Ally, Jonah, ini dia suamiku. Steve." Sera memperkenalkan.
Steve menyalami Ally. "Sera sudah menceritakan tentang kalian kepadaku," ujarnya.
"Nah, Jonah, senang rasanya kau bersedia hadir dipesta Yohan kali ini. Asal kau tahu, kau adalah tamu pria dewasa pertama kami," terang Steve tertawa ringan. "biasanya anak-anak hanya akan ditemani oleh ibunya saat mengadiri acara seperti ini. Oleh sebab itu, kau adalah tamu kehormatan." sambungnya sembari mengulurkan tangan.
"Ah, kau membuatku merasa sangat tersanjung." Jonah menerima uluran tangan Steve dan menjabatnya.
"Mau berbincang dibalkon?" tawar Steve pada Jonah.
"Boleh." angguk Jonah.
"Sera, aku ingin berbincang dengan tamu kehormatanku dulu. Ally, kau temani Sera mengurus pesta, ya." ucap Steve.
__ADS_1
"Dengan senang hati."