Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Ice Cream


__ADS_3

Setelah beberapa hari setelah kepergian sang Ibu, Jonah kembali beraktivitas seperti sedia kala. Ia berusaha mengikhlaskan dan tak ingin terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Meskipun berat rasanya untuk merelakan kepergian ibu tercinta, ia berusaha tabah.


Namun hal itu membuat emosinya jadi susah dikontrol, ia jadi sensitif. Pagi tadi bahkan ia sudah memarahi tiga karyawan hanya karena masalah sepele. Jonah mengusap kasar wajahnya sebagai ungkapan kesal terhadap dirinya sendiri.


"Jonah, kau mendengarkanku tidak?" sela Paman-nya, Dorland Avery yang sedari tadi sudah banyak bicara namun diabaikan.


"Iya? bagaimana?"


"Haaaahhh...," Dorland menghela napas. "Sudah ku bilang kau harusnya tidak usah bekerja dulu. Percuma kau ada disini jika tidak melakukan apa-apa."


"Ah, aku tadi hanya melamun sebentar. Jadi—"


"Pulanglah." potong Dorland cepat.


"Paman, aku hanya—"


"Apa gunanya kau disini jika hanya melamun dan marah-marah?"


Jonah tak bisa menjawab lagi. Pria itu hanya diam sambil menatap keramik lantai. Dorland lalu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Jonah. "Bawa berkas-berkas ini ke ruanganku sebelum pulang." ucapnya sambil menepuk pundak Jonah dan berlalu.


"Paman, kapan aku bisa mengambil alih perusahaan seutuhnya?" tanya Jonah random tiba-tiba.


Dorland tersentak hampir tertawa mendengarnya. "Apa kau bilang tadi?"


"Ayolah, jangan pura-pura tak mendengar."


"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"


"Aku sudah banyak kehilangan, setidaknya berilah aku sesuatu yang berharga lagi." tutur Jonah polos.


Dorland benar-benat tertawa kali ini. Pasalnya ia melihat Jonah bagai anak kecil yang minta diberi mainan.


"Apanya yang lucu?"


"Tidak ada. Hanya lucu saja tiba-tiba kau minta perusahaan untuk diambil alih."


"Bukankah ini sudah saatnya?"


"Semua sudah pernah ku bilang sebelumnya. Kau bisa memiliki perusahaan saat Ally melahirkan anak pertama kalian."


Jonah langsung menghela napas jengah dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Perasaannya jadi makin berkecamuk. Ia hanya bisa pasrah.


Setelah Dorland Avery meninggalkan ruangan itu, Jonah segera memanggil sekretarisnya untuk menyuruhnya mengantar berkas-berkas yang berserakan di atas meja di hadapannya itu ke ruangan Dorland. Sedangkan Jonah langsung meraih jas dan kunci mobil yang tergeletak di atas meja kerjanya. Tak berlama-lama ia segera menuju parkiran dan mengendarai mobilnya untuk pulang.


Perasaannya sedikit lebih baik ketika melewati jalanan yang lumayan lengang. Sesampainya di rumah ia mendapati pintu rumah yang terkunci dari luar. Tak bertele-tele Jonah langsung menelpon Ally. Mereka telah bertukar nomor telepon setelah kejadian di kantor tempo hari.


"Kau dimana?" tanya Jonah to the point.


"Aku di mall untuk berbelanja bahan makanan, sudah selesai dan ini sudah ingin pulang." sahut Ally di seberang telpon, suara keramaian mengiringinya.


"Kenapa tidak bilang bahwa kau akan keluar rumah?!"


"A-aku takut menganggu pekerjaanmu, jadi-"

__ADS_1


"Tunggu disana. Aku jemput." potong Jonah cepat.


"Tidak usah aku bisa pulang sendiri."


"Jangan berani pulang sebelum ku jemput." tegas Jonah sebelum mengakhiri panggilan. Pria itu lalu mengendarai mobilnya lagi menuju pusat perbelanjaan terbesar di Ibukota.


Mood-nya jadi stabil karena tidak sulit baginya untuk mencari lahan parkir sesampainya di Mall karena ini bukan akhir pekan jadi pengunjung tidak terlalu padat. Jonah langsung turun dari mobil setelah memarkir sedan mewahnya dan sedikit berlari memasuki gedung perbelanjaan itu.


"Kau dimana?" tanya Jonah yang kembali menghubungi Ally untuk menanyakan posisinya.


"Aku di kedai es krim dekat eskalator lantai dua."


Jonah mempercepat langkahnya untuk menuju lantai dua, bahkan sampai berlari di eskalator agar lebih cepat sampai ke lantai selanjutnya.


"Disini banyak kedai es krim, kau dimana?" lagi-lagi Jonah bertanya lewat sambungan telpon yang daritadi belum terputus.


"Aku melihatmu. Aku disini." seru Ally sambil melambaikan tangan ke arah Jonah.


Pria itu lalu memutus sambungan telpon dan melangkah ke arah Ally yang tengah duduk santai menyantap semangkok es krim.


"Dasar bocah, kenapa tidak bilang jika ingin keluar rumah?" serang Jonah langsung.


"Kan sudah kubilang tidak ingin menganggu pekerjaanmu. Kenapa kau pulang cepat hari ini? apa ada masalah?"


"Tidak ada." sahut Jonah seadanya.


Jonah menghela napas lega sambil menatap Ally yang sibuk menyedok es krim itu ke mulutnya. Entah mengapa rasanya Ally bagai anak kecil di bawah umur yang tak pantas jika bepergian sendirian. Namun sebenarnya di lubuk hatinya, Jonah juga takut jika Ally tak sengaja bertemu dengan Erik lagi.


"Kau mau?" Ally menyodorkan satu sendok es krim kepada Jonah.


"Ya sudah." ia langsung membelokkan arah sendok itu ke mulutnya sendiri dan memakannya. " Emm, es krim ini benar-benar enak."


Jonah menatap Ally sambil menggelengkan kepalanya. Ally benar-benar terlihat seperti anak TK yang dibelikan es krim oleh ibunya. Terlihat menggemaskan tapi juga sedikit menyebalkan di waktu yang bersamaan, pasalnya mulut gadis itu sedikit belepotan.


"Yeay, habis. Aku kekenyangan. Es krimnya banyak sekali, mereka sengaja menambahkan porsinya untukku, katanya bonus orang cantik." cicit Ally dengan disusul tawa renyahnya. Tiba-tiba tanpa bisa ia duga, Jonah memajukan badan sambil meraih rahangnya dan langsung mengecup sambil sedikit menjilat ujung bibir Ally.


"Ada sisa es krim." ucap Jonah santai sambil tersenyum miring.


Ally ingin membuka suara untuk memakinya, tapi Jonah lebih dulu menyela.


"Apa? ingin marah? coba saja marahi aku maka aku tak segan menciummu saat ini juga." ancam Jonah.


Mendengar ancaman itu Ally langsung menutup mulutnya kembali. Jonah tertawa dalam hati melihat ekspresi wajah Ally yang cemberut marah, tapi pipinya memerah akibat ulahnya tadi.


"Ayo pulang." ajak Jonah. Ia mengambil satu kantong belanjaan untuk di bawa, satunya lagi yang lebih ringan ia membiarkan Ally yang membawanya. Lalu ia menuntut gadis itu untuk menggenggam tangannya.


"Mumpung lagi disini, lebih baik kita temui seseorang." Jonah menarik tangan Ally menuju sebuah toko tas mewah. Apa lagi kalau bukan Toko Madam.


"Ally! Jonah!" teriakan nyaring langsung menggema ketika mereka memasuki toko karena Madam sedang ada di situ.


Wanita paruh baya itu langsung berhamburan memeluk Jonah lalu Ally secara bergantian.


"Oh, sayangku!" cicit Madam saat memeluk Ally.

__ADS_1


Setelah sesi pelukan itu selesai, Madam kembali sedikit merapat ke Jonah. "Aku sudah dengar beritanya. Maaf aku tidak datang saat hari pemakaman Ibumu Jonah." tuturnya sedih. Bagaimanpun juga, Jane di semasa hidupnya banyak berjasa pada Madam Eliza.


"Tak apa, Madam. Saat itu kau kan sedang di luar negeri."


Madam terseyum kecut sambil mengelus pundak Jonah. "Kau jangan terlalu bersedih, ya. Ada Ally." ucap Madam pelan sambil melirik ke arah orang yang dimaksud.


Jonah mengangguk dan tersenyum simpul. "Iya. Keberadaannya disisiku sudah lebih dari cukup." bisik Jonah.


Madam tertawa kecil mendengarnya. "Awas saja jika ujung-ujungnya kau menyakitinya." ancamnya gemas.


Madam lalu mendekati Ally yang sedari sibuk melihat-lihat tas di etalase. "Kau mau tas, Ally?"


"Oh, tidak. Hanya melihat saja."


"Jonah, Ally ingin tas tolong belikan dia satu." teriak Madam tiba-tiba.


"Kau mau?" Jonah langsung merapat ke tempat Madam dan Ally berdiri.


"Ah, tidak. Madam cuma bercanda." jelas Ally.


Madam tertawa kecil melihat sikap polos Ally. "Mintalah sesuatu kepadanya, suamimu itu banyak uang."


Ally hanya tertawa renyah mendengarnya sambil melirik Jonah yang pasti bangga akan pujian


"Madam, dari yang ku dengar kau akan mengeluarkan merk tasmu sendiri, apa itu benar?" tanya Jonah.


"Benar! tas nya bahkan sudah jadi, hanya tinggal menunggu waktu launching dan tim-ku sedang mencari model yang cocok untuk iklan nanti." tutur Madam.


"Ah! benar!" jerit Madam tiba-tiba yang membuat Ally terperanjat kaget karena Madam sambil melotot menatapnya.


"Kenapa bukan kau saja?! astaga kau sangat cocok." Madam memegang kedua pundak Ally dan menatapnya serius. "Ally, kau mau kan jadi modelnya?!"


Ally dengan ekspresi kagetnya melirik Jonah seakan meminta bantuannya untuk mengatasi Madam di hadapannya.


"Ayolah. Kita hanya perlu pemotretan dan melakukan sedikit syuting video singkat untuk iklan nanti." terang Madam antusias.


"T-tapi bukankah ada banyak model profesional yang lebih pantas daripada aku." tolak Ally secara halus.


"Kau tak perlu bakat. Kau ini sangat Photogenic, bahkan tanpa ekspresi sekalipun kau tetap memukau." puji Madam jujur.


Ally terdiam sesaat sambil melirik Jonah lagi. Pria itu hanya memberikan isyarat dengan mengangkat kedua alisnya.


"Lebih baik aku memberimu waktu untuk berpikir, tapi aku benar-benar mengharapkanmu. Semoga kau tertarik." tutur Madam sembari mengusap pundak Ally.


***


Hai semua!! Apa ada yang masih kangen author?!! sumpah kangen banget buat balik ke lapak ini yang udah lama banget di tinggal sampe berdebu ㅠㅠ


Minta maaf banyak-banyak karena setelah baca komen di bab sebelumnya banyak yang kecewa karena gapernah update lagi. Ga nyangka aja novel iseng ini ternyata lumayan banyak peminat 🥺


Sehabis insiden kecelakaan kemaren banyak kerjaan yang terbengkalai jadi harus nge-handle itu semua dulu. Sebenernya udah ngusahain nyicil nulis, tapi malah jadi ngawur jalan ceritanya.


Ah, sudahlah. Author kangen Jonah sama Ally pake banget, alhamdulillah bab ini jadi walaupun singkat, gapapa di up aja. Hehe...

__ADS_1


Semoga masih ada yang baca... :)


^^^to be continued^^^


__ADS_2