
Kereta yang ia tumpangi akhirnya berhenti di stasiun tujuan. Setelah menempuh perjalanan hampir 10 jam, akhirnya Ally kembali menginjakkan kaki di Ibukota. Ini pertama kali baginya melakukan perjalanan jauh seorang diri.
Ally mencari tempat duduk dan mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Ibunya sesuai janjinya.
"Ibu, aku sudah sampai tujuan dengan selamat."
Keadaan di stasiun selalu sibuk seperti biasanya, dipenuhi dengan orang-orang memadatinya. Entah itu orang-orang yang akan bepergian, orang-orang yang datang karena ingin melepas atau menyambut kerabatnya, atau pedagang yang sibuk menjajakan jualannya.
"Permisi, apa aku boleh duduk disini?" seorang wanita yang membawa koper besar berdiri di hadapan Ally.
"Tentu saja. Silakan." Ally langsung menggeser posisi duduknya menjadi lebih ke pinggir agar adil.
Wanita itu tersenyum simpul lalu mendaratkan pantatnya pada bangku. Ia lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu memencet tombol panggilan. "Sayang, kau sudah di stasiun? aku sudah sampai, jemput aku dekat pot bunga besar. Aku tunggu, dah...."
Ally refleks menoleh pada wanita di sampingnya itu. Wanita itu memasukkan ponselnya kembali kedalam tas lalu tersenyum pada Ally.
"Suamimu?" tanya Ally dengan memamerkan senyum manis.
"Iya." jawab wanita itu. "Kau sendiri juga menunggu jemputan?"
"Oh, iya..." dusta Ally.
"Kalau begitu aku duluan, ya. Itu anak dan suamiku." wanita itu menunjuk seorang pria tinggi yang sedang menggandeng tangan seorang gadis kecil yang sedang melambai-lambai ke arahnya. Wanita itu setengah berlari menghampiri kedua orang tersebut. Ally menyaksikan dari tempat duduknya bagaimana hangatnya keluarga kecil itu saling berpelukan.
Gadis itu tersenyum hambar. Ada rasa ngilu sedikit dihatinya kala menyaksikan hal tersebut, ada sedikit keirian yang menyeruak. Entah bagaimana ia jadi menginginkan Jonah menjemputnya saat ini juga. Tapi tentu saja itu tidak mungkin karena ada banyak perkara.
Pertama, pria itu pasti sedang sibuk di kantor dan Ally tentu saja tidak ingin mengganggu urusan pekerjaannya. Lagipula ia juga sengaja tidak ingin memberitahu Jonah bahwa ia sudah pulang karena pria itu tahu, ia pasti akan mengomel, pasalnya pria itu sudah melarangnya pulang sebelum ia sendiri yang menjemput. Lagi, jika ia memang ingin melakukannya pun hal itu tetap tak bisa, bagaimana cara ia memberitahu Jonah sedangkan ia saja tidak memiliki nomor ponsel pria itu? ironis memang.
Gadis itu menghela napas lalu berjalan ke luar stasiun dan langsung memanggil taksi.
Ia lalu turun dari mobil taksi itu ketika sudah sampai di depan rumah. Melihat pintu yang tertutup membuat perasaannya jadi tak enak. Ally segera berlari kecil ke arah pintu, dan hal yang ia takutkan memang benar terjadi, pintu terkunci.
"Ck." ia berdecak sebal. Kunci rumah sudah pasti di bawa Jonah. Ally melirik arloji di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul 13:11 siang. Jika ingin menunggu Jonah pulang itu berarti ia harus menunggu selama 4 jam lebih lagi.
Ally lalu berjalan keluar pagar untuk menuju rumah di sebelahnya, rumah Sera. Ia berharap bisa menetap di rumah Sera sampai Jonah datang. Tapi saat melihat pagar rumah Sera yang terkunci, Ally menghela napas putus asa.
"Apa sebaiknya aku ke kantor Jonah saja untuk mengambil kunci, ya?" ide itu tiba-tiba terlintas di kepalanya. Ally berpikir lumayan lama untuk mengambil keputusan. Meskipun kurang yakin ia pada akhirnya setuju pada ide itu.
"Baiklah, Ally. Pergi kesana, ambil kunci, lalu pulang." doktrinnya pada diri sendiri.
***
Setelah menyebutkan nama Avery United Group pada sopir taksi sebagai tempat tujuannya, Ally kini telah menginjakkan kakinya di halaman gedung perusahaan tempat suaminya bekerja. Dengan sedikit rasa gugup, ia berjalan memasuki gedung itu.
Perubahan udara dari panas ke dingin begitu ketara ketika satpam yang menjaga di depan itu membukakan pintu untuknya. Ally lalu berjalan menghampiri meja Resepsionis.
Wanita muda yang tadinya duduk itu langsung berdiri begitu Ally mendekat. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.
"Ah, iya. Bisa beritahu dimana ruangan Jonah Avery?"
"Mohon maaf sebelumnya, apakan Nona sudah ada membuat janji dengan Tuan Jonah?" tanya Wanita Resepsionis itu.
"Ah, tidak ada. Tapi—"
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nona. Jika tidak ada janji, anda tidak bisa menemuinya." jelasnya.
"Tapi aku istrinya." seru Ally meyakinkan.
"Maaf Nona, tapi ini bukan pertama kalinya ada seorang wanita yang mengaku sebagai istri Tuan Jonah." kata Resepsionis itu dengan sedikit terkekeh. Dari awal ia memang sudah menduga bahwa orang yang datang kali ini pasti salah satu pacar Jonah Avery.
Ally berdecak sebal. "Kalau begitu telpon saja dia. Katakan bahwa aku ada disini."
"Maaf, tapi kami tidak bisa seenaknya melakukan panggilan kepada atasan." terangnya lagi.
"Ayolah, aku hanya ingin mengambil kunci rumah." desak Ally.
"Sekali lagi saya minta maaf. Jika Nona sudah tidak memiliki kepentingan lagi, silakan meninggalkan gedung." usirnya dengan ramah.
"Kalau begitu berikan saja nomor Jonah, biarkan aku yang menelponnya!" Ally mulai tersulut emosi akibat kesal. Hal itu tentu saja menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di lobby itu.
__ADS_1
"Ada apa ini, Denise?" sela seseorang tiba-tiba. Wanita resepsionis yang namanya disebut itu langsung menundukkan badan memberi salam.
"Ah, Tuan Dorland. Ini ada seo—"
"Loh, Ally?"
"Paman!" pekik Ally ketika menoleh, ternyata seseorang itu adalah Dorland Avery, sang pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan ini.
Sang resepsionis alias Denise itu kaget bukan main ketika menyaksikan interaksi dua orang di hadapannya.
"Ada apa ke kantor?"
"Ah, aku ingin bertemu Jonah." sahut Ally.
"Oh, tentu saja. Denise, kau antarkan dia ke ruangan suaminya."
"Baik, Tuan." Denise langsung menuntun Ally menuju lift. Daritadi perasaannya sangat tak karuan, perasaan shok masih tersisa.
Saat keduanya memasuki lift, wanita muda itu memberanikan diri membuka suara. "Nyonya, tolong maafkan saya atas kejadian tadi. Saya tidak tahu kalau anda ternyata benar-benar istri Tuan Jonah."
Tentu saja ia tidak tahu karena selama ini tidak pernah ada berita resmi yang menyebutkan bahwa Jonah Avery sudah menikah, yang ada selama ini hanyalah sekelompok wanita yang datang secara bergantian dan mengaku-ngaku sebagai pacar, tunangan, bahkan istrinya. Tentu saja Denise sudah tak asing dengan situasi macam tadi.
"Tak apa." sahut Ally.
Denise menghela napas lega. Setidaknya ketakutan akan dipecat akibat berlaku buruk terhadap istri atasannya itu perlahan menghilang.
"Em... tadi kau bilang ini bukan pertama kalinya ada yang mengaku sebagai istri Jonah. Apa maksudnya itu?" tanya Ally pura-pura tak mengerti.
"Ah, itu... sebelumnya beberapa wanita pernah datang kemari dan mengaku-ngaku sebagai istri Tuan Jonah. Terakhir kali wanita yang bernama Jessie datang sekitar 3 bulan yang lalu." jelas Denise.
"Aishh, ****** itu." desis Ally pelan.
Pintu lift akhirnya terbuka, mereka sampai di lantai 20, lantai tertinggi di gedung ini. Denise membawa Ally pada sebuah pintu yang berukuran besar berwarna hitam.
"Ini ruangan Tuan Jonah." tutur Denise. Ia lalu mengetuk pintu itu.
"Katakan padanya aku sibuk." seru seseorang dari dalam ruangan.
Ally memutar bola matanya malas karena keangkuhan pria tersebut. "Ini aku!" serunya dengan nyaring.
Jonah yang mengenali suara itu. "Ya! masuk!" titahnya.
Denise lalu pamit undur diri meninggalkan Ally yang sudah memasuki ruang kerja Jonah yang keadaannya lumayan berantakan karena kertas yang sedikit berhamburan. Pria yang mengaku sibuk tadi ternyata hanya duduk santai menghadap kaca jendela sambil meminum kopi.
"Kenapa kau kemari? kenapa kau pulang tanpa memberitahuku? bukankah sudah ku—"
"Shhttt!" Ally langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir pria itu. "Aku sedang tak ingin berdebat."
Jonah menghela napas mengalah. "Lalu mau apa kau kesini?" tanyanya.
"Aku kesini hanya karena ingin mengambil kunci." jelas Ally.
"Hanya karena itu? kau yakin bukan karena merindukanku?"
"Jangan terlalu percaya diri." ledek Ally.
"Hanya karena kunci rumah? kau bisa saja menelponku tanpa harus bersusah payah kemari." kekeh Jonah.
"Jika saja aku punya nomor telponmu. Aku pasti sudah melakukannya." cicit Ally dengan senyum paksa di wajahnya.
Benar juga kata Ally. Memang sejak mereka menikah, keduanya tak pernah sekalipun berpikiran untuk bertukar nomor telepon.
"Sini cepat berikan kunci rumah padaku." seru Ally menadahkan tangannya.
Jonah melirik jam dinding yang tergantung di ruangannya. "Sekitar satu jam setengah lagi aku pulang. Nanti saja sekalian pulang denganku." usulnya.
"Ah, tidak mau. Aku lelah dan ingin istirahat." rengek Ally.
"Kau bisa tidur disini. Disitu." Jonah menunjuk sofa besar yang ada di pojok ruangan.
__ADS_1
Ally ikut menoleh pada objek yang di tunjuk Jonah sambil menghela napas jengah pertanda setuju. Gadis itu mengeluarkan ikat rambut dari dalam tas lalu menguncir rambut panjangnya.
Jonah menatap Ally dengan seksama. Cara gadis itu mengumpulkan seluruh rambutnya untuk diikat itu terlihat seksi dimatanya.
"Tunggu, apa itu?" sebuah tanda merah ungu-kebiruan di leher Ally itu membuatnya spontan menyela dan menunjuk area tersebut.
Ally reflek menutup leher sebelah kirinya dengan tangan. "Astaga, sejak kapan ini terlihat? padahal sebelumnya sudah ku tutupi dengan foundation. Apa itu luntur karena aku berkeringat?" racau Ally bergumam sendiri.
"Hey, aku tanya apa itu?! siapa yang memberimu tanda itu?!" bentak Jonah sedikit emosi.
"Ya, bodoh! ini bekas ciumanmu! dua hari yang lalu sebelum kau ditelpon pamanmu dan pulang duluan!" terang Ally dengan nada tinggi.
Jonah lalu teringat akan hal itu. Ia tertawa kecil bak orang bodoh, merasa bangga karena bekas itu bertahan cukup lama di kulit Ally.
"Kenapa malah tertawa, bodoh." sinis Ally.
Jonah lalu berjalan mendekat ke arah Ally di sampingnya. Gadis itu terpekik ketika tiba-tiba saja Jonah langsung mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di atas meja kerja.
"Apa—"
Cup! belum selesai Ally bicara, seulas kecupan dari Jonah mendarat di bibirnya.
"Kau—"
Lagi-lagi Jonah memotong ucapan Ally dengan kecupan.
"Jonah!" Ally kesal karena tak diberi kesempatan untuk bicara.
Cup! cup! cup! cup! Jonah malah memberikannya hujan kecupan. Ally berusaha menahan pria itu agar berhenti. Jonah tak dapat menahan tawanya karena ekspresi lucu Ally. Gadis itu menjadi ikut-ikutan tertawa karenanya.
"Ya! kau ini kenapa?!" bentak Ally dengan tawa yang masih tersisa.
"Tak apa, hanya tiba-tiba jadi ingin menciummu saja." sahut Jonah enteng. Jawaban itu langsung membuat pipi Ally memanas saat mendengarnya.
Jonah lalu mendekatkan wajahnya untuk menempelkan bibirnya dengan bibir Ally. Gadis itu langsung memejamkan matanya ketika Jonah mulai memainkan mulut serta lidahnya. Ally juga hanyut dan tanpa sadar membalas ciuman lembut itu.
Perlahan Jonah makin mencondongkan tubuhnya, tubuh Ally yang sedari tadi duduk kini mulai turun karena Jonah perlahan mendorongnya dan akhirnya sempurna dalam posisi telentang di atas meja dengan kaki yang menjuntai kebawah. Keduanya masih dalam posisi saling menikmati bibir satu sama lain. Ally bahkan melenguh sesekali.
Tok! tok! tok!
Suara ketukan di pintu langsung membuat Ally membuka mata dan berhenti meladeni ciuman Jonah.
Tahu akan kekhawatiran Ally, pria itu tersenyum dan menenangkan. "Tenang. Tidak ada yang berani masuk sebelum aku mengijinkan." Jonah kembali menyerang bibir sensual gadis itu. Tangannya bahkan mulai bergerak membuka kancing teratas kemeja yang Ally kenakan.
"Jonah! aku—" suara pintu yang dibanting serta suara seseorang yang masuk tanpa permisi itu mengejutkan dua sejoli yang tengah bercumbu itu. Ally bahkan langsung terduduk saking kagetnya.
Robin, pria yang masuk ke dalam ruangan itu juga sama kagetnya. Ia tak mengira bahwa akan disuguhkan dengan pemandangan seperti ini. Saking kagetnya, map yang ia pegang sampai terjatuh ke lantai.
"M-maaf aku lancang. Ka-kalian lanjutkan saja, anggap saja aku tak pernah masuk." setelah berucap demikian, Robin langsung meninggalkan ruangan dengan setengah berlari.
Situasi mendadak canggung. Ally mengalihkan pandangannya sembari mengancing kembali kemejanya. Pipinya sangat panas sampai-sampai nyeri seperti kesemutan.
"A-aku sebaiknya pulang sekarang." ucapnya canggung.
Jonah langsung mengangguk dan mengeluarkan kunci rumah dari saku jas yang ia kenakan lalu menyerah kunci itu pada Ally. "Hati-hati di jalan." ucapnya salah tingkah.
Ally mengangguk pelan lalu meraih tasnya yang ada dimeja dan berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan itu.
Jonah yang tersisa diruangan itu lalu menghela napas panjang dan mengusap kasar wajahnya. "Robin sialan!" jeritnya.
*****
Author tau kalau gabisa lama-lama hiatus jadi author usahain up demi kalian yang dukung cerita ini huhu sayang banget sama kalian🥺❤
Btw, ini tangan author yang kanan masih belum bisa gerak tapi udah mendingan. Makasih banget buat kalian yang udah nge-do'ain author❤
Untuk Up selanjutnya, kayaknya bakalan lama tergantung kondisi kesehatan author :( Jadi author minta do'a kalian lagi yaa hehe, biar makin banyak yang nge-do'ain semoga pulihnya lebih cepet 🥰
^^^-see you^^^
__ADS_1