
Ah, ini dia." guman Jonah. Untuk ke sekian kalinya Jonah kembali membawa Ally memasuki sebuah pintu kaca sebuah toko. Kali ini adalah toko tas mewah.
Ally tertanga. Pasalnya tas-tas yang selama ini hanya ia lihat di majalah kini berada dihadapan matanya langsung. Ally tahu berapa fantastisnya harga tas-tas itu.
"Hai, Madam." sapa Jonah kepada seorang wanita yang dandanannya menor menurut Ally.
"Hey, Jonah! Ya Tuhan, akhirnya datang juga!" hebohnya sembari berjalan mendekat dan memeluk Jonah yang juga membalas pelukan wanita itu. Ally memperhatikan keduanya, sepertinya dua orang ini sudah sangat akrab.
Wanita dengan model pakaian mencolok itu menangkap sosok Ally di matanya. "Wow, Jonah. Kau ganti pacar? kemana gadismu yang dulu-dulu? apa kau ganti selera?" ucapnya menatap Ally sedikit sinis.
Ally merasa canggung diperhatikan seperti itu. Dilihat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wanita berpenampilan badai itu menatapi pakaian Ally yang sederhana, hanya berbalut mini dress polos beserta ikat pinggang berbahan rantai dan kakinya berbungkus sebuah sepatu hak rendah. Dan lagi, polesan diwajahnya tak begitu rumit. Mungkin hanya sebatas pemerah bibir.
Bukankah selama ini biasanya Jonah akan membawa wanita-wanita yang berpenampilan tak jauh beda darinya. Make–up tebal, bulu mata palsu, lipstik merah, gaun mewah, tas branded, serta sepatu hak tinggi yang akan menyita perhatian.
"Oh, ini Ally. Kenalkan, dia istriku." jelas Jonah.
"Oh My God, Jonah?! Kau sudah menikah?!" Wanita yang dipanggil Madam itu menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Ya! tega sekali kau tidak mengundangku!"
Jonah tertawa canggung.
"Oh Tuhan, pandai sekali kau memilih istri, sayang." Madam itu segera berjalan mendekati Ally.
Ally tersenyum canggung. Madam langsung memeluknya. Ally dengan gugup membalas pelukannya.
Sekali lagi Jonah lucu melihat ekspresi Ally terhadap orang yang asing.
__ADS_1
Madam melepaskan pelukannya, tangannya kini menangkup pipi Ally. "Ya Tuhan, Jonah! Istrimu sangat sangat cantik. Wajahnya natural, pipinya lembut bagai kapas dan juga kenyal, tubuh dan rambutnya juga sangat harum, aku suka aromamu, Ally." Madam kembali membaui leher Ally, gadis itu bergidik ngeri saat Madam kembali memeluknya.
"Tubuhnya ideal, dadanya juga berisi. Mari kita lihat apakah bokongnya juga kencang." Madam segera memutar tubuh Ally dan secepat kilat meremas pantat gadis itu.
"Sempurna! Kau sangat beruntung memilikinya Jonah. Oh, aku juga mau satu yang sepertinya." cerocos Madam.
Jonah hanya tertawa, berbanding terbalik dengan Ally yang kelihatan syok.
"Gadismu yang dulu-dulu tak ada apa-apa di bandingkan Ally," Madam kembali menatap wajah Ally. "Tinggal dipoles sedikit riasan saja maka wajahnya setara dengan para selebriti papan atas itu," pujinya. "Kau harus mempertahankannya, jangan sampai ia direbut orang lain." ucap Madam lagi.
Jonah hanya mengangguk-angguk. "Ally, ini Madam Eliza." Jonah memperkenalkan.
"Panggil saja aku Madam, semua orang memanggilku begitu." cetus wanita bernama Eliza itu centil.
"Oh, apa kalian kesini ingin membeli tas untuk gadis cantik ini?" tanya Madam.
"Iya, kami—"
"Kalau begitu pilihlah tas yang kau inginkan, Ally. Aku akan memberikannya secara cuma-cuma khusus untukmu." titahnya memotong perkataan Jonah dan menatap Ally dengan senyum lebarnya.
Ally menatap Jonah bingung. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana. Pria yang ia tatap mengangguk memberi isyarat.
"Ayo dipilih. Jangan malu-malu, jika kau malu aku akan meremas bokongmu." ujar Madam sembari tertawa.
Ally merinding, ia mencoba ikut tertawa. Matanya tertuju pada sebuah etalase yang mempersembahkan tas-tas elegan khas konglomerat, desainnya beragam, dari yang bermodel sederhana sampai yang berpenampilan heboh. Matanya tertuju pada sebuah tas tangan berwarna silver yang berdesain simple. Tak berkesan mencolok namun masih terlihat mewah. Pilihannya tertuju pada tas itu, Ally lebih suka semua yang terlihat sederhana. Pasti itu akan lebih murah pikir Ally.
__ADS_1
"Aku suka yang itu." Ally menunjuk tas pilihannya.
Jonah dan Madam sama-sama berjalan mendekat. Jonah mengangguk, menyukai pilihan Ally.
"Waw, seleramu luar biasa, sayang. Itu tas keluaran terbaru dan edisi terbatas. Desainernya berasal dari Perancis, dan tas itu hanya ada tujuh di dunia," terang Madam. "Harganya sekitar 170 juta jika aku tak salah, itu yang termahal disini untuk sementara." tambahnya lagi.
Ally melongo tak percaya. Ia tak mengira bahwa tas yang terlihat paling sederhanya tersebut justru memiliki harga yang paling tinggi.
"Kenapa? kau kaget, ya?" Madam tertawa. "Aku juga mulanya agak bingung kenapa bisa tas yang terlihat sederhana itu bisa memiliki harga yang begitu fastastis," Madam berjalan mengambil tas tersebut lalu membawanya ke dekat Ally. "Tapi, setelah aku melihat dalamnya, aku tahu jawabannya."
Madam membuka tas tersebut demi memperlihatkan bagian dalamnya pada Ally. Gadis itu tertegun begitu melihat apa yang ada didalam tas itu, kulit bagian dalamnya ternyata penuh dengan berlian. Benar-benar penuh berlian.
"Bagaimana? sekarang kau tahu alasannya bukan mengapa tas ini sangat mahal?" ucap Madam tersenyum.
Ally mengangguk takjub.
"Selamat, tas itu resmi jadi milikmu, Ally." senyumnya.
"Kurasa aku tak pantas menerimanya." ucap Ally sungkan.
"Apanya yang tidak pantas? Justru dirimulah yang paling berhak memiliknya," Madam menepuk pundak Ally.
"Kau memilihnya dengan hati. Tidak seperti gadis lain yang hanya mementingkan tampilan luarnya. Kau tahu, sejak awal tas itu ku pajang, tidak ada yang tertarik membelinya. Biasanya, mereka yang kaya raya akan bertanya "Mana tas yang paling mahal?" aku hanya tersenyum dan menyahutinya "pilihlah tas yang sesuai dengan seleramu", maka rata-rata gadis-gadis itu akan memilih tas berdesain mewah dan mencolok dan lantas berkata "sepertinya ini yang paling mahal, aku beli yang ini" padahal mereka tak tahu saja bahwa tas yang paling mahal itu adalah tas yang paling mereka abaikan." cerita Madam panjang lebar.
"Secara tidak langsung, sang desainer ini mengajarkan kita untuk jangan menilai segala sesuatu dari luar." tambahnya.
__ADS_1