
Karena ada kendala dikantor, Jonah harus memakan waktu sedikit lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaannya. Akibatnya, rencana untuk pergi H-2 sebelum pernikahan Zayn harus ditunda menjadi H-1 sebelum acara. Parahnya lagi, saat hendak berangkat pun masalah kembali terjadi.
"Iya, paman. Tak ada jadwal penerbangan untuk hari ini karena baru saja terjadi kebakaran hutan."
"Kalau begitu, kalian tidak usah hadir saja, tidak apa-apa."
"Tidak, kami akan kesana bagaimanapun caranya."
"Hey, kau akan kesini naik apa memangnya?!"
"Aku akan menyetir sendiri."
"Ya! 12 jam perjalanan darat itu melelahkan, aku melarangmu!"
"Jika aku yang menyetir itu bisa jadi hanya 10 jam perjalanan."
"Jangan ku bilang!"
"Ayolah, Paman. Ini bukan kali pertamanya aku kesana dengan menggunakan mobil."
"Sudahlah, Jonah. Lebih baik kau tetap disana."
"Bagaimana bisa aku tidak hadir di pernikahan Zayn sementara dia hadir dipernikahanku?"
Dorland lama terdiam tanpa suara. Jonah adalah tipe keras kepala yang percuma melarangnya jika ia sudah berkata iya maka sampai akhir akan tetap iya. "Baiklah jika itu maumu, berhati-hatilah."
Jonah tersenyum puas lalu menutup telpon setelah berpamitan. Ia segera menghampiri Ally yang tengah duduk disalah satu kursi tunggu bandara.
"Bagaimana?"
"Kita tetap jadi berangkat. Aku akan menyetir sendiri."
Ally sedikit kaget dengen kenekatan Jonah. "Kalau begitu, apa sebaiknya kita pakai kereta api, saja?"
"Jika naik kendaraan umum akan lebih lama sampainya."
Entah kenapa perasaan Ally mendadak jadi tidak enak. "Jika kau ragu berkendara 12 jam, kau bisa tinggal dirumah. Aku akan pergi sendiri." Jonah menyadari raut wajah Ally yang nampak ragu.
"Tidak, aku ikut."
"Kau yakin? ini 12 jam perjalanan asal kau tahu." Jonah mengingatkan.
"Aku ikut denganmu." ucap Ally mantab walau hatinya jadi gelisah.
Jonah langsung tersenyum mendengar keputusan Ally. "Baiklah, jam berapa sekarang?"
"Masih pukul 8 kurang, apa kita berangkat sekarang?"
"Tentu saja, ayo!"
***
"Kau yakin hafal jalannya?" tanya Ally, ia menjadi semakin ragu karena Jonah saat ini tengah sibuk mencocokkan jalan dengan google maps.
"Tenang, saja. Ini bukan pertama kalinya bagiku." titahnya sambil sibuk dengan google maps-nya. Sudah sekitar hampir 10 menit mereka menepi dipinggir jalan.
"Oh, jalan nya benar. Hanya saja sedikit berbeda karena sekarang banyak bangunan baru." Jonah mulai menjalankan mobilnya kembali.
__ADS_1
"Aku hanya heran ditempat tadi seharusnya adalah restoran, aku tahu karena aku sering berhenti disana. Tapi sekarang tempatnya sudah menjadi rumah mewah. Kurasa penjualnya sudah sukses." cicit Jonah asal menyimpulkan.
"Bagaimana jika pemiliknya bangkrut lalu menjual tanahnya pada orang lain dan orang lain itulah yang mendirikan rumah mewahnya?" Ally malah menimpali.
"Wah, pikiranmu jauh sekali." Jonah menjadi sedikit kesal mendengarnya.
Ally tertawa kecil melihat ekspresi kusut Jonah. Ia lalu kembali menyalakan pemutar musik agar suasana perjalanan lebih bisa dinikmati.
"Jika mengantuk tidur saja." ucap Jonah.
Justru sebenarnya Jonah yang membutuhkan kalimat tersebut. Ally ingat bagaimana pria itu tadi malam pulang agak larut demi menyeselaikan pekerjaannya di kantor, lalu harus bangun pagi sekali demi melakukan perjalanan panjang antar kota ini.
"Jika kau mengantuk, nanti berhenti saja di rest area." Rasanya ingin sekali menggantikan posisi Jonah, tapi ia sendiri tak bisa menyetir.
"Kau mengkhawatirkanku, sayang?" Jonah malah menggodanya.
"Aku mengkhawatirkan diriku sendiri, aku tak ingin celaka bersama sopir yang mengantuk."
Jonah tertawa renyah mendengarnya. Gadis itu digoda sedikit saja pipinya langsung merah.
"Jika lapar bilang, ya." kata Jonah lagi.
"Hm." sahut Ally tanpa menoleh. Gadis itu sibuk memperhatikan jalanan dari balik kaca mobil. Sudah lama sekali ia tidak melihat pemandangan menyejukkan dari kota kecil seperti ini sejak tinggal di Ibu Kota. Hal itu membuatnya sedikit merindukan sang Ibu.
"Sebenarnya ada jalan pintas, tapi melewati perdesaan." tutur Jonah tiba-tiba.
"Kita lewat jalan utama saja." Ally langsung menatap Jonah tajam, ia tahu bahwa pria itu berpikiran ingin mengambil jalan pintas.
"Kita akan lebih cepat sampai."
"Tidak usah mengambil resiko, bagaimana jika kita tersesat?!" protes Ally sengit.
Mereka sudah menempuh perjalanan sekitar 4 jam lamanya. Cuaca yang semula cerah, kini mulai sedikit berawan. Padahal perjalanan masih sangat jauh.
"Kau masih belum lapar?" tanya Jonah.
"Belum, kau sudah lapar? Jika kau lapar berhenti saja nanti jika ada tempat makan."
"Aku tak begitu lapar, mungkin nanti kita akan berhenti di tempat pengisian bensin lalu berbelanja di minimarket untuk bekal diperjalanan."
"Ide bagus." puji Ally.
Setelah berjalan beberapa kilometer ke depan akhirnya mereka menemukan pom bensin dan langsung mengisi full bahan bakar mobil, sementara Ally sendirian ke minimarket pom itu dan membeli beberapa roti, makanan ringan, serta air mineral secukupnya.
Mereka melanjutkan perjalanan, Ally sudah beberapa kali tertidur setelah memakan roti dan cemilan. 6 jam perjalanan sudah mereka tempuh, itu artinya mereka sudah lebih dari setengah jalan. Cuaca mulai memburuk, langit nampak gelap dan suara gemuruh beberapa kali terdengar, membuat perasaan Ally makin tak karuan.
"Apa kita masih lama sampai?"
"Baru setengah jalan." sahut Jonah. "Jika saja kita mengambil jalan pintas tadi pasti sudah hampir sampai." tambahnya lagi.
Ally memayunkan bibirnya, sedikit kesal namun ia berharap pilihan tetap dijalan utama adalah yang terbaik.
"Aku masih punya jalan pintas yang lainnya, yang ini juga sedikit lebih cepat. Bagaimana?" Jonah kembari menawarkan.
"Kita tetap dijalan utama saja."
"Aku yakin hujan akan segera turun, itu akan sedikit menghambat perjalanan. Lebih baik jika kita mengambil jalan pintas." jelas Jonah.
__ADS_1
"Memangnya dijalan pintas tidak akan hujan? bukannya sama saja?" sindir Ally.
"Setidaknya jadi lebih cepat sampai dan juga bebas dari macet, kau tidak ingat bagaimana kau mengeluh bebarapa saat tadi hanya karena macet sedikit?"
Gadis itu terdiam sejenak mempertimbangkan ucapan Jonah. Memang tadi mereka beberapa kali melewati kemacetan pendek, tapi ia benar-benar ragu apakah mengambil jalan pintas adalah yang terbaik untuk saat ini.
"Apa kau sudah pernah melewatinya sebelumnya?"
"Jalannya berbuhungan dengan jalan pintas yang kutawarkan saat pertama kali tadi."
Ally menghela napas dan berdo'a dalam hati. "Baiklah, apa katamu saja."
Jonah tersenyum puas, meskipun dirinya sendiri juga sedikit ragu apakah ia masih menghafal jalanan itu dengan baik. Namun karena Ally mendukungnya, ia jadi optimis.
"Di depan sana akan pelabuhan, disana biasanya titik macet terjadi. Aku ingin menghindarinya karena kita takkan tahu seberapa parah macetnya karena hari ini tak ada penerbangan." terang pria yang fokus menyetir itu.
Ally akhirnya mengerti kenapa Jonah bersikeras ingin mengambil jalan pintas, ucapan Jonah benar adanya. Tak heran mengapa lalu lintas hari ini terlihat lebih padat.
"Nah itu dia, belok kiri." setelah melihat rambu lalu lintas pertigaan, Jonah segera membelokkan mobilnya ke arah kiri.
"Kau yakin bukan kanan?" tanya Ally meyakinkan.
"Percaya saja." sahut Jonah.
Hujan mulai turun dimulai dari rintik-rintik kecil hingga perlahan membesar dan lumayan deras. Langit yang semula indah untuk dipandang kini menjadi kelabu, udara yang semula hangat pun berubah menjadi lembab.
Mobil terus menerjang hujan berjalan semakin jauh dari jalan utama. Jalanan didominasi oleh pepohonan yang rapat, bangunan yang berdiri jaraknya lumayan jauh antara satu dengan yang lainnya. Kendaraan yang lewat pun terhitung sangat sedikit, bersyukur aspal yang mereka lalui masih mulus setidaknya untuk sampai saat ini.
"Kau yakin tak salah jalan, kan?" Ally kembali khawatir.
"Ya ampun, tak bisakah kau percaya padaku?!" Jonah mulai kesal karena Ally terus-terusan menanyainya yang sebenarnya juga ragu.
Meskipun agak kaget dibentak, Ally hanya diam setelahnya karena ia sadar selalu bertanya dan membuat Jonah terusik. Gadis itu lalu mengambil ponsel dan berniat ingin membuka sosial media untuk mengalihkan perhatiannya.
"Loh, tidak ada sinyal disini?!" Ally mengernyit mendapati bar sinyal diponselnya kosong menandakan tak adanya sinyal di area itu.
Jonah ikut mengecek ponselnya juga, dan hasilnya sama dengan apa yang Ally katakan. "Kurasa karena hujan."
"Tidak, kurasa karena ini daerah pegunungan." bantah Ally. "Kau yakin bisa tanpa google maps?"
"Aku masih ingat jalannya." berkali-kali gadis itu bertanya berkali-kali pula Jonah harus meyakinkannya. "Kau tidur saja, jangan bawel."
Ally sebenarnya menahan lapar, tapi karena kecil kemungkinan bisa menemukan restoran ditempat yang seperti itu ia memutuskan untuk tidur seperti yang Jonah sarankan.
"Nanti jika ada tempat makan kita akan berhenti." seolah bisa membaca pikiran Ally, pria itu mengatakan hal yang ingin Ally dengar.
Gadis itu lalu berusaha tidur meskipun sulit karena menahan lapar serta jalanan yang mulai banyak goncangan karena kini aspal mulus sebelumnya kini telah berganti jadi jalan berbatu.
Jonah melirik Ally yang tengah tertidur. Sejam yang lalu ketika gadis itu mulai memejamkan mata karena bosan kehilangan sinyak, ia masih saja pulas meskipun tubuhnya terguncang-guncang karena bebatuan dijalanan. Hujan masih saja turun dengan awet dan lebat yang konsisten membuat beberapa bagian jalan tergenang air.
Jalan mobil perlahan melambat, hingga berhenti. Ally yang menyadarinya mulai bangun dari tidurnya.
"Apa kita sudah sampai?" Ally mengusap wajahnya lalu menatap Jonah yang terlihat seperti orang bingung.
"Ada dimana kita? mengapa berhenti disini?" Ally menjadi heran karena disisi kiri dan kanan jalan hanya ada pepohonan.
Wajah cemas pria itu tak tertolong. "Kurasa mobilnya mogok."
__ADS_1
...***...
Absen dulu sini biar author makin semangat update-nya <3