Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
S.2 Petak Umpet #2


__ADS_3

Rey mendapatkan kabar dari anak buahnya jika mereka menembak orang yang salah. Rey segera pergi ke apartemennya, karna para anak buah Rey sudah berkumpul di sana.


Rey masuk dengan marah kedalam apartemennya. Anak buah Rey pun menundukkan kepala takut. Jujur saja, Reano lebih baik dari pada Rey yang emosional.


Rey tiba di hadapan mereka, Dengan amarah yang terus di tahan. Tapi tidak berhasil.


"Kenapa kalian sangat bodoh! Kenapa Ruby bisa kabur sampai kesini. Kalian memang tidak becus!" ucap Rey.


"Maaf tuan muda." ucap mereka bertujuh.


"Sudahlah jangan menambah beban ku sekarang lacak dia dan cari! jangan sampai salah orang lagi!" ucap Rey.


"Tapi tuan muda, saat kami ingin membawa wanita itu ke dokter, kami melihat nona muda menolongnya." ucap salah satu anak buah Rey.


"Nona Muda? Bulan?" tanya Rey.


"Iya tuan muda, kami melihat nona muda Bulan." jawab anak buah itu lagi.


"Kalian mengikutinya?" tanya Rey.


"Iya, tapi kami kehilangan jejak di sebabkan banyak kendala. Seperti mobil kami yang tiba-tiba mogok." jawab anak buah itu.


Sepertinya Elioz lebih pintar dari ku. Baiklah kita sedang bermain petak umpet dan aku pasti memenangkannya lihat saja. batin Rey


"Baiklah kalian boleh pergi mencari Ruby. Lacak dia dan tangkap dia walau dia lari sampai ke pelosok-pelosok." ucap Rey. Anak buah Rey mengangguk dan segera melakukan pekerjaannya ia takut Rey semakin marah dengan hal ini.


•••


"Black Hard, jika saja Elioz tidak membuat mobil anak buahnya mogok, pasti mereka bertemu dengan Bulan." ucap Elioz kepada Katya dan Arzi.


"Gimana kalau Bulan lanjut kuliah di Harvard University. Itu berada di Amerika. Keluarga Zaynco masih menang telak dari pada keluarga Anggara di sana." ucap Katya.


"Nanti Bulan sendirian, kasian." ucap Arzi menolak.


"Sayang, kan ada Eliza." ucap Katya.


"Eliza? tapi dia baru kuliah disini." ucap Elioz.


"Iya juga. Kalau gitu, Elioz Daddy pindah tugaskan ke Amerika buat jaga Bulan ya." ucap Arzi.


"Oke siap laksanakan. Ini baru aman." ucap Elioz tertawa.


"Yaudah iya, suruh adik kamu kesini, kita bicarain tentang kuliahnya lagi." ucap Katya. Elioz mengangguk dan segera menelpon Bulan.

__ADS_1


"Aku dapat rambut Mommy!" ucap Arzi.


"Beneran? Sekarang kita tinggal cabut rambut Elioz!" ucap Katya.


"Udah dapat juga!" ucap Arzi menunjukkan dua pack kecil berisi rambut Elioz dan Mommy nya.


"Aaa suami ku pintar sekali. Nanti malam kita akan Tes Dna dan membongkar semuanya." ucap Katya.


"Oke dia sadis." gumam Arzi


•••


Setelah mendapatkan telfon dari Elioz, Bulan segera pulang. Ia langsung menemukam kedua orang tuanya dan Elioz di ruang keluarga.


"Mom nyari Bulan?" tanya Bulan. Katya mengangguk dan menepuk sofa di sampingnya dan menyuruh Bulan duduk di sampingnya.


"Kata kamu, kamu mau lanjutin kuliah S2 kan?" tanya Katya.


"Iya mom!" jawab Bulan sumringah.


"Gimana kalau kamu ambil di Harvard University, fakultas kedokteran spesialis bedah?" tanya Katya.


Bulan terdiam, ia seperti melupakan sesuatu. Saat ia ingat apa itu, muka Bulan menjadi murung.


"Nanti anak Bulan gimana Mom? Gak mungkin Bulan kuliah sambil hamil kayak gini." ucap Bulan.


"Sayang, banyak juga kok yang kayak kamu. Dia menikah dulu baru ambil S2. Nanti kalau kehamilan kamu udah delapan Bulan, kamu cuti dulu." usul Arzi.


"Nanti kalau Bulan lahiran, yang jaga anak Bulan siapa?" tanya Bulan.


"Elioz!" jawab Arzi dan Katya bersamaan.


Sesat! batin Elioz.


"Kok Elioz Mom, Dad? Elioz mana ada keahlian ngurus bayi!" ucap Elioz bersuara pelan kepada Arzi dan Katya.


"Bisa, Elioz bisa. Yakan Elioz?" tanya Katya sedikit menekan.


"Iya hehehe, Bulan kakak bisa kok." ucap Elioz.


"Nah bisa kan." ucap Katya.


Maafkan Daddy Elioz, Daddy gak bisa menyelamatkan kamu. batin Arzi.

__ADS_1


Duh ngurus bayi? kenapa gua jadi bapaknya tu bayi. Meresahkan juga anak Anggara satu ni! Serharusnya dia yang jaga anaknya bukan gua. batin Elioz


"Oke Bulan setuju!" balas Bulan.


"Yeah!" ucap Katya dan Arzi sembari berhigh five. Sedangkan Elioz? Dia masih memikirkan nasibnya yang akam menjadi babysitter dari keponakannya.


Bah, nasib-nasib. batin Elioz


•••


"Sorry Sa, Galang masih belum ingat sama lu. Gua udah berusaha tapi dia memang Galang yang dulu, pencinta cewe dan perkataannya lumayan pedas. Jangan lupakan dia yang liar. Tadi aja dia ngajak gua sama Vano buat balapan." ucap Elang.


"Gimana cara balikin ingatannya? padahal dia udah balik dari rumah sakit." ucap Risa.


"Coba bawa ke tempat kesukaan kalian. Yang banyak kenangannya." usuk Vano.


"Dimana? aku jarang keluar sama Galang karna tante Cika." ucap Risa.


"Bawa aja ke rumah lu, kali aja dia ingat sesuatu." ucap Vano.


"Gini lah, gua pernah liat di sinetron mak gua. Cowonya lupa ingatan terus cewenya nunjukin foto mereka berdua. Nah coba dulu kali aja berhasil." ucap Elang. Risa pun mengambil handponenya dan mencari foto dirinya dan Galang. Untung saja itu masih tersimpan. Risa langsung berjalan kearah Galang yang sedang sibuk menonton televisi.


"Galang!" panggil Risa. Galang pun menoleh kearah Risa.


"Apa?" tanya Galang.


"Coba lihat ini!" ucap Risa sembari memberikan handponenya kepada Galang. Galang pun mengambil handpone Risa dan melihatnya.


"Oh kau dulu wanita ku juga. Tapi aku tidak mengingatmu. Banyak wanita yang bersama ku." ucap Galang sambil mengembalikan handpone Risa.


Bukan wanita untuk bermain Galang! Tapi aku pacarmu yang sesungguhnya. batin Risa. Risa pun beranjak dari sana dan menghampiri Elang dan Vano


"Gimana?" tanya Elang. Risa menggeleng.


"Aku pulang aja!" ucap Risa langsung pergi.


"Wah susah ni bro. Galang itu anaknya keras kepala kayak dulu." ucap Elang.


"Iya, coba gua tanya Stella dia anak kedokteran pasti tau yang beginian." ucap Vano. Elang pun mengangguk.


•••Bersambung....


Wah Bulan mau kuliah di Amerika ni. Menurut kalian Rey bakalan ketemu Bulan sebelum pergi ke Amerika atau Rey bertemu Bulan di Amerika?

__ADS_1


Oke jangan lupa dukungan buat author selalu ngalir ya. Agar author lebih semangat menulis lagi 😆


__ADS_2