
Gadis itu berjalan santai sembari menenteng satu kantong belanjaan di tangan kanannya.
Saat ingin keluar dari area Mall, dirinya tak sengaja berpapasan dengan orang yang sebelumnya pernah ia temui.
"Ally?"
"Oh, h-hai." sahut Ally seadanya karena ia lupa nama orang itu.
"Wah ternyata benar kau. Masih ingat aku? aku Erik, kita bertemu tadi malam dan kebetulan kita bertemu lagi disini. Apakah ini yang dinamakan jodoh?" guraunya membuat Ally tertawa hambar.
"Haha, hanya bercanda. Oh, dimana Jonah? kau sendiri?"
"Dia bilang ada rapat penting dikantor, jadi aku belanja sendiri. Lagipula ini bukan hal yang merepotkan untuk dilakukan sendiri." bela Ally.
"Aih, mana ada rapat yang lebih penting daripada istri. Aku akan menegurnya nanti." cuap Erik seakan sudah sangat akrab dengan Jonah.
"Kalau begitu, aku akan pulang sekarang." kata Ally tersenyum canggung, gadis itu ingin berlalu tapi Erik segera menghadangnya.
"Tunggu," Erik melangkah ke samping guna menghalangi Ally. " Kau akan pulang naik apa?"
"Aku sudah memesan taksi online." bohong Ally, padahal dia berniat memesan taksi saat sudah di depan Mall.
"Tidak perlu. Biar ku antar."
"Tidak usah," tolak Ally halus. "Aku sudah terlanjur memesan taksi."
"Itu bukanlah masalah. Ayolah, biar ku antar pulang."
"Serius. Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkan."
__ADS_1
"Merepotkan apanya? aku yang memaksa, lagipula aku dan Jonah itu teman dekat. Kau takut dia marah ya jika aku mengantarmu?"
Ally menggeleng. "Bukan seperti itu, hanya saja—"
"Sudahlah. Tidak apa, ayo." Erik segera meraih lengan Ally, menuntunnya menuju mobil miliknya.
Baiklah, kalo sudah begini Ally juga tidak enak jika menolak.
Eril segera melajukan mobilnya setelah memastikan Ally telah memasang sabuk pengaman.
"Tega sekali Jonah tak menemanimu berbelanja." celetuk Erik membuka obrolan.
"Aku yang memaksa ingin belanja sendiri." jawab Ally segera.
"Tetap saja. Seharusnya dia harus memprioritaskan dirimu."
"Aku hanya berbelanja, tentu saja lebih penting rapat," sanggah Ally. "belok kanan." ucapnya mengarahkan jalan.
"Ah, aku tidak lapar."
"Tapi, aku lapar. Jika kau tak keberatan, kita mampir dulu ke restoran, bagaimana?"
Ally tersenyum sungkan. "Kau saja yang mampir. Aku harus pulang cepat, aku akan memesan taksi online lagi."
"Ah, tidak jadi kalau begitu."
"Jika kau lapar tak masa—"
"Nanti saja setelah mengantarmu." potong Erik cepat.
__ADS_1
"Maaf merepeotkan." sesal Ally, seharusnya ia menolak saja tawaran Erik tadi agar tak mendapati situasi canggung seperti saat ini.
"Santai saja. Aku dan Jonah berteman, kau juga temanku." cicit Erik sembari menoleh.
Ally mengangguk setuju. Benar, teman.
"Belok atau lurus?"
"Lurus saja, tak lama setelah ini akan ada perumahan." jelas Ally.
Erik mengangguk, tak lama tepat di depan gerbang kawasan perumahan elit itu ia segera membelokkan mobilnya untuk memasuki area itu.
"Jadi kalian tinggal disini?" tanya Erik.
"Iya." sahut Ally seadanya.
"Bagus memang. Ini kawasan elit, tapi ku kira kalian akan tinggal di mansion Jonah." tukas Erik.
"Berhenti di depan, tiga rumah setelah ini." ucap Ally tak berniat menanggapi sindiran Erik.
Erik memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Jonah dan Ally. Gadis itu segera turun, agak tergesa.
"Terima kasih banyak. Maaf merepotkan." ucap Ally sedikit kikuk.
"Sama-sama. Tak usah sungkan, santai saja."
"Kalau begitu, aku masuk dulu. Sekali lagi terima kasih." ucapnya, segera setelah itu Ally berbalik membuka pagar lalu sedikit berlari kecil ke dalam rumah. Saat menutup pintu, dapat dilihatnya mobil Erik masih setia berdiam di tempat.
Erik yang sebelumnya memperhatikan Ally saat gadis itu berlari kecil ke dalam rumah itu menyunggingkan senyum. "Tipe pemalu, sangat menarik." seringainya sambil mengusap dagu.
__ADS_1
"Baiklah, Erik. Mari kita lihat bagaimana nanti ke depannya." gumam pria itu sebelum kembali menjalankan mobilnya.