Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Cry Baby


__ADS_3

"Jadi, ini rumah kalian?" Stevi memandangi sejenak rumah minimalis yang mewah itu.


Setelah menghabiskan waktu hampir seharian, kebersamaan dua wanita cantik itu harus berakhir karena Manager Stevi menelponnya untuk urusan mendadak, lagi.  Ia mengatarkan Ally pulang walau sebelumnya gadis itu menolaknya, namun dengan usahanya yang terus memaksa akhirnya Ally megiyakannya.


"Iya. Apa kau masih ada waktu untuk mampir sebentar?" Ally basa-basi meskipun tahu bahwa Stevi ada urusan setelah ini, ia melepaskan sabuk pengaman sambil melirik mobil Jonah yang terparkir di halaman, hal itu membuatnya sedikit gelisah.


"Lain kali saja, ya. Aku sedang buru-buru." tolak Stevi halus.


"Ya sudah kalau begitu. Terima kasih banyak ya untuk hari ini." seru Ally sumringah sambil turun dari mobil Stevi.


"Lain kali kita jalan lagi ya! dah, aku pergi sekarang."


"Dah..." Ally melambai seiring dengan mobil Stevi yang perlahan menjauh. Gadis itu berjalan memasuki halaman rumah sambil mengambil kunci rumah dari dalam tasnya.


Ally mendekat pada mobil Jonah untuk melihat dengan jelas kedalam, dilihatnya Jonah masih duduk di kursi kemudi sambil memejamkan mata. Entah pria itu tengah tertidur atau hanya sekedar menutup mata saja.


Dengan sedikit ragu, Ally mengetuk kaca mobil dengan pelan. Pria dalam mobil itu langsung membuka mata dan menatap tajam ke arah Ally. Jonah segera turun dari mobil dengan wajah masam.


"Kau sudah lama menunggu?" tanya Ally takut-takut.


"30 menit lebih." sahut Jonah sedikit ketus.


"Maaf, aku tidak tahu hari ini kau pulang sedikit lebih awal dari biasanya."


Jonah langsung merebut kunci rumah yang daritadi dipegang Ally, ia langsung berjalan menuju pintu rumah dan membukanya tanpa menghiraukan gadis yang masih berdiri mematung disamping mobil itu.


Ally menghela napas pasrah, ia berlari  mengekori Jonah. "Kenapa tidak memberitahuku saja? kau bisa menelponku dan aku akan segera pulang."


Sungguh, bukan perihal lama menunggu yang membuatnya kesal, melainkan karena Ally pergi tanpa mengabarinya. "Apa itu penting? kau sendiri saja tak memberitahuku bahwa kau pergi keluar."


"Maaf kali ini aku benar-benar lupa, sungguh." lirih Ally.


"Memangnya kapan kau pernah mengingatku untuk urusan pribadimu?" sindir pria itu lagi.


Pintu terbuka, Jonah langsung masuk dan menghempaskan tubuh di sofa setelahnya. Ally ikut duduk di samping Jonah dengan perasaan bersalah.


"Maaf, aku sungguh lupa." lirih Ally.


Jonah menghela napas jengah. Rasa letih dan kesal yang memuncak membuatnya ingin sekali mengamuk, melempari barang-barang yang ada di sekitarnya. Namun, ia tidak segila itu untuk sekarang.


Pria itu memejamkan mata sambil mengatur napas. "Apa aku harus memberi tanda pada tubuhmu agar kau tak lupa lagi bahwa kau berada di bawah kuasaku?"


Nada bicara yang dingin menusuk itu membuat Ally jadi semakin gelisah. "Ma-maksudmu?"


"Ck, sudahlah. Jangan ajak aku bicara dari sekarang sampai besok. Kau membuatku ingin membanting barang."


Ally hanya menghela napas pasrah. Ia sadar kesalahannya karena ini bukan pertama kali baginya pergi ke luar tanpa memberitahu Jonah.


"Baiklah, aku akan siapkan air hangat untukmu mandi."


Ally beranjak menuju kamar mandi hingga tak berselang lama ia kembali, Jonah masih sama pada posisinya. Duduk bersandar mendongak di sofa dengan mata terpejam dan salah satu tangan berada di dahinya.


"Air hangatnya sudah siap. Kau bisa mandi sekarang."


"Kali ini aku ingin air dingin." sela Jonah cepat.


Ally tak ingin protes. Ia segera kembali ke kamar mandi untuk mengganti air hangat di bath-up  menjadi air dingin.


Ia kembali ke ruang tengah menghampiri pria yang kali ini telah mengubah posisinya menjadi tiduran di sofa dengan posisi tangan yang masih berada di dahi.


"Airnya sudah ku ganti."


"Aku berubah pikiran. Ganti kembali saja jadi air hangat." ucap Jonah enteng.


"Ya! kau tak seharusnya begitu!" protes Ally langsung.


"Wah, lihat dirimu. Dari tadi aku menahan kesal agar tak berbicara dengan nada tinggi, tapi kau dengan mudahnya meneriakiku."


"Kau membuatku kesal."


"Kau lebih dulu." sahut Jonah.

__ADS_1


"Terserah kau saja, airnya sudah siap. Aku takkan menggantinya lagi. Kalau kau mau ganti saja sendiri."


Jonah menghela napas, Ally sudah kembali ke mode aslinya. "Baiklah kalau begitu mandikan aku."


"Mandikan?! kau gila?!"


"Iya." sahut Jonah enteng.


"Aish, apa sebelum pulang kepalamu terbentur sesuatu?"


"Ya, harga diriku yang terbentur karena gadis tak tahu diri sepertimu." sindir Jonah.


"Terserah, tapi aku takkan mau memandikanmu. Kau bukan anak kecil, lagipula seluruh anggota tubuhmu baik-baik saja. Jangan menyusahkan orang lain."


"Orang lain katamu? aish, sialan. Selama ini kau hanya menganggap kita sebagai 'orang lain', hm?" ucapan Ally barusan membuatnya sedikit tersindir.


Ally terdiam tanpa berani membalas. Kali ini ia kehabisan kata-kata.


"Kurasa kau perlu didikan agar tahu bagaimana caranya 'Menjadi Istri yang Baik', apa perlu kudatangkan guru khusus untukmu atau kau ingin aku sendiri yang mengajarinya?"


Ally masih terdiam. Ia paling tidak suka jika nada bicara sudah datar seperti itu.


"Oh, bukannya tadi kau meminta maaf, ya?


Ally mengangguk samar karena Jonah menatapnya tajam.


"Akan kumaafkan jika kau memandikanku."


Ally benar-benar tak paham dengan otak manusia yang satu ini. "Itu berlebihan."


"Bagi sepasang suami istri hal tersebut wajar. Apa tidak sekalian saja kita mandi bersama? bukankan kau juga baru pulang dari luar?"


"Aku bisa mandi sendiri." tolak Ally langsung.


"Kalau aku tidak bisa, jadi harus dimandikan."


"Berhenti mengoceh." sambar Ally.


Jonah bangkit tadi tidurannya. Ia duduk sambil menatap Ally yang masih setia berdiri mematung di depannya. "Ya, lihat wajahmu. Pipimu memerah hanya karena aku menyuruhmu memandikanku." kekehnya.


"Kalau begitu bantu aku melepas pakaian, setelahnya ku maafkan." tawar pria itu menyunggingkan senyum.


Ally terdiam sejenak, memikirkan apakah ia benar-benar memerlukan maaf dari Jonah. Ia memikirkan apa keuntungan baginya, namuj berakhir dengan kesadaran diri bahwa fakta Jonah adalah suaminya. Gadis itu mendengus jengah lalu perlahan berjalan mendekat dan duduk disamping Jonah.


Pria yang di depannya itu tersenyum puas, tak bisa dibantah bahwa Jonah benar-benar tampan apalagi jika tersenyum dan dilihat dari jarak dekat. Ally menjadi sedikit berdebar.


Perlahan Ally melonggarkan dasi Jonah dan melepaskannya. Pria itu memperhatikannya dengan serius, inya menyadari tangan Ally bergetar saat mulai membuka kancing kemejanya dengan ekspresi takut-takut. Tak hanya itu, pipi gadis itu kian merah merona. Hal itu membuat Jonah sangat gemas, hingga Ally lalu menggigit bibir bawahnya sendiri tanpa sadar.


"Kau menggodaku?"


"Huh? apa mak– hmphh!!" mulut Ally langsung dibungkam dengan sebuah ciuman. Jonah mendorong tubuh gadis itu hingga setengah terbaring di sofa. Ally yang mulai kehabisan napas menguatkan pukulannya pada dada Jonah, memperingatkan agar pria itu berhenti.


"Ya! kenapa kau tiba-tiba begitu?!" dengan napas yang tersengal Ally mengomeli pria yang tengah menyengir dengan tampang watados  itu.


"Habisnya aku kesal. Jadinya kulampiaskan saja." jawabnya enteng.


Ally menyeka air liur di sekitar mulutnya dengan tangan sambil menatap kesal ke arah Jonah. Serangan dari pria itu barusan benar-benar ganas. "Benar-benar tak tahu malu." gumamnya pelan.


"Sekarang permintaan minta maafmu sudah ku terima."


...***...


"Kau tahu aku suka asin, kan? tapi ku rasa menu malam ini terlalu asin." kritik Jonah dengan mulut yang sibuk mengunyah.


"Hm, maaf." ketus Ally.


"Kau sengaja melakukannya?" sejak kejadian sore tadi ketika ia mencium gadis itu tiba-tiba, Ally mendadak tak begitu menghiraukannya, padahal biasanya gadis itu suka mengomel.


"Tidak." sahut Ally dingin.


"Kau kesal kepadaku karena aku menciummu?" tanya Jonah serius.

__ADS_1


"Ada yang ingin kutanyakan." Ally langsung mengalihkan obrolan.


Jonah mengangguk memberikan isyarat lampu hijau. "Katakan."


"Hari dimana Bibi Jane meninggal, saat aku menelponmu dan kau berada di Gym, saat itu kau bersama Stevi?"


Jonah tercekat sesaat mendengar perkataan Ally barusan. "Apa siang tadi kau pergi ke luar bersama Stevi?"


"Jawab aku dulu."


"Ah, i-iya. Saat itu kami tak sengaja bertemu." Jonah tiba-tiba menjadi gugup. "Apa siang tadi kau pergi deng–"


"Lalu saat akan pulang kau mengajaknya mampir di suatu tempat?"


"I-tu, itu hanya sekedar basa-basi, lagipula kami tak jadi pergi."


"Berarti benar kau mengajaknya?" tanya Ally bak seorang detektif yang tengah menginterogasi tersangka sebuah kasus.


"Aku melakukannya hanya sebagai formalitas bagi seorang teman. Lagipula kami tak jadi pergi malam itu."


"Aish, aku tak butuh validasi. Jawab saja iya atau tidak." sembur Ally dengan dengusan napas keras.


"Iya." sahut Jonah pelan.


Ally menghela napas ketika mendengarnya. Sebelumnya Ally sudah berprasangka buruk pada Stevi, ia mengira wanita itu mengarang cerita.


"Kau... cemburu?" tanya Jonah pelan.


"Aku kesal. Kau melarangku naik mobil pria lain tapi kau seenaknya mengajak keluar wanita lain. Benar-benar tidak adil."


"Jadi maksudmu kau masih ingin naik mobil pria lain?!" serang Jonah seenaknya menyimpulkan.


"Kenapa? lain kali aku tak perlu pikir panjang lagi jika ada yang memberikan tumpangan. Toh, kau juga tak memikirkanku ketika mengajak jalan wanita lain." cicit gadis itu sambil masih menyendok makanan kedalam mulutnya.


"Wah, apa ini? kau benar-benar cemburu."


"Aku tidak cemburu!" bantah Ally cepat dengan mulut yang penuh makanan, alhasil gadis itu tersedak.


"Uhuk! uhuk!" Jonah dengan sigap menyodorkan gelas dan membantu Ally minum sambil menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu. Ally tersedak lumayan hebat hingga membutuhkan air lebih banyak untuk menghentikannya.


Setelah sedakannya berhenti, napas gadis itu menjadi tersengal dan matanya yang daritadi berkaca-kaca kini jadi air mata yang berjatuhan.


"Kau menangis?!" Jonah panik ketika menyadari Ally terisak pelan.


Tangis Ally menjadi lebih kencang. Gadis itu benar-benar merengek seperti tangis anak kecil. Jonah menjadi bingung bagaimana cara menanggapinya.


"A-aku, aku minta maaf. Jadi tolong berhenti menangis." Jonah tak punya ide lain selain kata barusan.


"Aku tak ingin menangis, tapi entah mengapa rasanya kesal sekali hingga aku tak bisa menahannya lagi." ucap Ally dengan isak halus yang membuat pria itu sedikit kesusahan memahami kata-katanya.


Jonah merasa takjub sekaligus menahan tawa dibuatnya. Ally terlihat seperti seorang remaja yang baru saja diputusi kekasihnya. Mau heran, tapi ini Ally.


"Baiklah, aku minta maaf. Waktu itu aku khilaf, setelah ini aku takkan mengajak jalan gadis manapun lagi kecuali istriku." Jonah menggeser bangkunya kesamping agar lebih dekat dengan Ally, pria itu meraih wajah Ally dan mengusap air matanya.


"Yaampun, aku tak tahu istriku punya sisi lain yang seperti ini." godanya.


Ally langsung membuang muka namun Jonah kembali meraihnya, memaksa wajah itu hanya lurus pada atensinya.


"Sekarang berhenti menangis atau ku cium."


Ally langsung bangkit dari duduknya dan berjalan cepat meninggalkan Jonah diruang makan.


"Malam ini kau yang cuci piring!" seru Ally beberapa detik sebelum terdengar suara bantingan pintu.


Jonah hanya tersenyum cekikikan dan masih melanjutkan makan malamnya. "Tak apa makanan ini terlalu asin, Ally yang tadi benar-benar manis." gumamnya.


...***...


Yaampun kangen banget author tuh sama kalian!! ㅠㅠ


Pengen cepet-cepet bacain komentar kalian yang bikin semangat nulis walau bab ini gaje banget wkwk

__ADS_1


Akhirnya bisa up lagi disela-sela jadwal yang padat (sok sibuk) ini, hehe...


Next part bakal diusahain cepet ya, Jonahnya nyuci piring dulu jadi mohon bersabar hihihi~~


__ADS_2