Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Saran Konyol Robin


__ADS_3

"Kau tidak melupakan Stevi, kan?" tanya Robin.


"Ah, tidak... aku..." Jonah menggantung kalimatnya.


"Dari sekian banyak wanita yang sering kau ajak jalan, kurasa hanya Stevi yang cocok untukmu. Bukankah kau juga pernah mengatakan padaku bahwa kau mulai menyukainya?" tutur Robin.


Jonah terpaku sejenak. Pikirannya kini mulai dipenuhi oleh sosok Stevi yang kembali menyeruak dikepala. Bagaimana mungkin ia hampir melupakan wanita itu?


"Jonah apa kau mendengarku?" ujar Robin membuyarkan lamunan sahabatnya itu.


"Ah, iya, aku, aku mendengarkan."


"Apa kau juga akan mencampakkan Stevi seperti yang lainnya?" desis Robin.


"Ah, bukan seperti itu... hanya saja aku...," Jonah memijit pelipisnya. "Haahh... sial, aku sudah menikah."


Robin yang saat itu tengah menegak minumannya hampir tersedak mendengar pengakuan Jonah. "Apa katamu?! menikah?!"


Jonah berhembus jengah menatap Robin nanar.


"Astaga! ceritakan padaku!" Robin terlihat antusias. "Aku tak menyangka bahwa kau seberani itu. Selama ini kau hanya berani mengencani dan bermain sedikit saja dengan para wanita tanpa berani menyetubuhi secara langsung sebelumnya, tapi lihatlah, kau sudah menikah dan tentu saja kau sudah melakukan malam pertama. Ya Tuhan, kau ini jantan sekali." celoteh Robin.


"Kau ini bicara apa, dasar sial, pelankan suaramu!" desis Jonah.


"Ceritakan padaku bagaimana rasanya?" ucap Robin dengan nada berbisik.


"Ceritakan apanya?!"


"Ck, ceritakan pengalaman pertamu!" kesal Robin.


"Sial, jangan mengejekku!" cicit Jonah. "Lagipula mana aku tahu rasanya seperti apa!"


"Apa-apaan tidak tahu? tidak bisa menggambarkan atau... kau belum melakukannya?" usik Robin.


"Keduanya." sahut Jonah datar menatap keramik lantai.


"Astaga!? apakah istrimu sedang datang bulan sehingga kalian belum melakukannya?" bisik Jonah.


"Tidak." sahut Jonah.


"Aishh, lalu apa!? apakah istrimu jelek?"


"Tidak. Dia cantik badannya juga bagus." jujur Jonah.


"Waw, kau sudah melihat rupanya." sela Robin.

__ADS_1


"Ah, itu tak disengaja." ungkap Jonah.


"Lalu apa alasannya?" tanya Robin serius.


Jonah menarik napas panjang lalu membuangnya jengah. Ia memang perlu tempat untuk berbagi beban. Robin adalah rekan kerja sekaligus sahabat terbaiknya. Meskipun terkesan agak main-main, sebenarnya sahabat Jonah itu selalu mendengarkan dengan baik segala keluh kesah Jonah. Robin benar-benar pendengar yang baik meskipun dia agak menjengkelkan. Oleh sebab itu, Jonah akhirnya membagi ceritanya pada Robin.


"Kau tahu kan Ibuku sakit?" Robin mengangguk. "Ia ingin melihatku menikah sebelum ia tiada, jadi ia menikahkanku dengan wanita pilihannya." tutur Jonah.


"Apa kau tidak menyukainya?" selidik Robin.


"Aku bukannya tidak suka. Tapi gadis itu benar-benar menyebalkan. Dia musuhku saat masih di highschool." Jonah membocorkan.


"Kau menikahi musuhmu?!" ucap Robin membulatkan mata.


"Aku tak bisa menolak wanita pilihan Ibuku," terang Jonah. "Jika saja Ally bersikap manis mungkin akan mudah bagiku untuk belajar mencintainya. Tapi gadis ini sangat pemarah dan keras kepala. Bagaimana bisa aku bersikap baik padanya jika dia selalu saja membentak?!" adu Jonah.


"Jadi, namanya Ally?"


Jonah mengangguk. "Iya. Namanya Allyssia Heron."


"Lalu, apakah dia tahu bahwa kau ini adalah orang yang mesum?" ucap Robin santai.


"Jaga bicaramu! aku mana ada mesum sepertimu." kesal Jonah.


"Aku lebih mengenalmu dari siapapun, Jonah. Bahkan lebih dari Ibumu! kau pikir aku tidak tahu bahwa kau suka mengoleksi vide porno dilaptop dan diponselmu? bahkan kau juga sering bermain sendiri dikamar mandi untuk melepaskan hasratmu? kau pikir aku tidak tahu, Jonah?!" cerca Robin.


"Jangan malu seperti itu, tak apa, santai saja. Beberapa memang ada lelaki yang belum siap melakukannya sebelum menikah jadi mereka melakukan masturbasi sendiri." cicit Robin tanpa beban.


"Sialan kau ini, kau terlalu banyak berhubungan dengan wanita makanya isi kepalamu mesum semua, keparat!" marah Jonah.


"Terima kasih," sahut Robin. Pria itu kini melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. "Ah, sudah agak larut. Kau sebaiknya pulang, siapa tahu istrimu sudah menunggumu untuk bercinta." goda Robin.


"B*rengsek, setelah ini aku tak akan berbagi cerita apapun denganmu lagi!" sesal Jonah.


"Ya, terserah kau saja. Tapi sebelum itu, dengarkan tips ku." ucap Robin yang kini berubah ke mode serius lagi.


"Wanita memang kadang sok jual mahal. Mereka sebenarnya ingin melakukan itu tapi sedikit malu. Jadi mereka bertingkah seakan-akan memberontak padahal mereka menyukainya." jelas Robin.


"Lalu, apa maksudnya?" tanya Jonah.


"Maksudku, mungkin istrimu juga begitu. Meskipun kalian itu musuh, bukankah mau tak mau kalian harus mulai memperbaiki hubungan? apakah kalian akan bermusuhan selamanya? tidak bukan? nah, maka dari itu, diantara kalian harus ada yang mengalah. Kau laki-laki, jadi sebaiknya kau saja yang mengalah, wanita akan tersentuh jika pria bersikap romantis terhadapnya." tutur Robin.


"Ck, jangan berbelit-belit! jelaskan saja intinya!" desis Jonah.


Robin berdecak sebal. "Maksudku perkosa saja istrimu!"

__ADS_1


Jonah terbelalak mendengarnya. "Saran macam apa itu?!"


"Kau ini kenapa bodoh sekali? bagaimana caramu bisa menahan hasrat saat tidur dengannya? apa kau tidak ada perasaan tertarik saat melihat tubuh wanita? apa kau tidak normal?"


"Aku... aku... tentu saja hasratku naik. Tapi aku tidak bisa menyentuhnya, gadis itu suka mengamuk." adu Jonah


"Memangnya kenapa jika ia mengamuk?! dia kan istrimu?! dia tidak bisa menuntutmu, bodoh. Kau ini suaminya! kau berhak mendapatkan pelayanan darinya!" jelas Robin.


Jonah terdiam dan berpikir sejenak. Perkataan Robin ada benarnya.


"Ayolah, Jonah. Jangan jadi pengecut. Kau sudah beristri dan kau harus melakukan itu." ucap Robin tersenyum simpul.


"Tapi... aku..."


"Kau sudah banyak berlatih karena kau sering menonton filmnya bukan? sekarang sudah waktunya kau mempraktekan latihanmu secara langsung." ucap Robin tersenyum miring.


"Jangan khawatir jika dia memberontak, itu akan lebih menantang. Coba dan rasakanlah." ucap Robin lagi


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Yow, gimana pendapatnya tentang chapter ini? :)


Jangan lupa kasih like dan ninggalin komentar ya...

__ADS_1


Klik favorite, vote, dan follow author juga❤


__ADS_2