Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Cantik


__ADS_3

Sinar matahari, bau khas embun di pagi hari, dan kicauan burung adalah hal yang paling menenangkan bagi Ally. Gadis itu tengah menyeduh secangkir teh hangat sembari duduk di meja makan yang langsung menghadap jendela sambil menatap beberapa ekor burung yang bertengger di ranting pohon.


Hal itu membuatnya teringat akan rumahnya di kota kecil yang sebelumnya ia tinggali bersama Ibunya. Biasanya ketika pagi hari rutinitas gadis itu disibukkan dengan kegiatan-kegiatan kecil yang menyenangkan seperti lari pagi sebentar menyusuri jalanan sekitar rumahnya yang masih asri, lalu beristirahat dan duduk sebentar di kursi panjang di depan sebuah danau kecil sambil menikmati indahnya pemandangan dan hangatnya matahari pagi. Jika tidak berolahraga, maka biasanya setelah bangun tidur gadis itu akan segera berlari menuju Ibunya di dapur untuk membantunya atau sekedar ingin mengganggunya.


"Ibu, aku lapar." rengeknya sambil memeluk sang Ibu dari belakang.


"Sana duduk dulu sambil menunggu ini matang." ucap Diva halus sambil mengaduk-aduk isi penggorengan.


"Tidak mau. Aku ingin menunggu disini sambil memelukmu." sungut Ally sembari mengeratkan pelukannya pada punggung Ibunya.


"Ah, Ibu... bagaimana bisa punggungmu senyaman ini..."


"Hey!" bentakan dari suara bariton itu membuat Ally mengerjap dan langsung membuatnya tersadar dari lamunan.


Ally melotot seketika menyadari kini dirinya tengah memeluk Jonah dari belakang. Gadis itu terpekik nyaring lalu segera melepaskan tangannya mendorong badan pria itu.


"Apa-apaan ini!" sengit gadis itu langsung.


"Harusnya aku yang bertanya. Kau ini kenapa? Dari tadi aku memanggilmu tapi kau tak menyahut, saat aku mendekat dan berada di depanmu tiba-tiba saja kau langsung memelukku dari belakang. Ternyata kau ini mesum."


"Aishh... pantas saja punggung Ibu terasa begitu nyata dan nyaman, ternyata..." gumam Ally.


"Kau bilang apa?" tatap Jonah sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Hah? oh, itu... aih, ini pasti karena sejak bangun aku belum mencuci muka makanya jadi melantur." karang Ally sambil berlalu melewati Jonah menuju kamar mandi.


"Ally kau gila. Bagaimana bisa kau melamun seperti itu!" gadis itu bergumam sambil menepuk-nepuk wajahnya yang basah akan air.


Setelah cukup meredakan rasa malunya di dalam kamar mandi gadis itu kembali menuju meja makan tempatnya tadi duduk. Jonah juga sudah duduk disalah satu kursinya sambil memainkan ponselnya.


"Kau menghabisi teh ku?" tanya Ally segera setelah ia duduk dan melihat cangkir tehnya sudah kosong.


"Aku haus dan kau terlalu lama di kamar mandi, jadi aku minum saja." sahut Jonah tanpa menoleh. "Kau akan mempermasalahkan secangkir teh ini, huh?"


"Ah tentu saja tidak. Bagaimana? rasanya enak?"


Jonah mendengus. "Yah, lumayan. Seperti teh pada umumnya, tapi rasanya agak aneh sedikit, tapi tetap enak." cicit Jonah bagai seorang Juri saat memberikan tanggapan pada masakan peserta lomba.


Ally tertawa kecil mendengarnya.

__ADS_1


"Kenapa? apa yang lucu?"


"Tidak, tidak ada yang lucu. Hanya saja teh itu sudah kucampur dengan obat pereda nyeri datang bulan." kali ini Ally sudah tak tahan untuk tidak tertawa ketika melihat ekspresi wajah Jonah yang melongo.


"Sial..." lirih Jonah.


***


"Hey..."


"Hey!" Robin melambaikan tangannya dihadapan wajah Jonah yang tengah melamun tercengir.


"Astaga, hey!!" dengan kesal Robin melemparkan kertas-kertas yang ada di tangannya ke wajah Jonah. Pria itu terperanjat begitu kertas-kertas tersebut menabrak wajahnya.


"Kau tak mendengarkanku?!"


"A-aku mendengarkanmu, jadi... sampai mana pembahasan kita tadi?" tanya Jonah dengan tampang bodoh.


"Aishh, aku susah panjang lebar menjelaskannya sejak tadi tapi kau malah melamun dan tersenyum seperti orang gila." Robin kembali memunguti kertas-kertas yang sedikit berhamburan saat ia melemparkannya tadi.


"Apa yang kau pikirkan sampai mengabaikan urusan pekerjaan ini, huh?" selidik Robin.


Gadis itu sangat cantik ketika tertawa, Jonah bahkan masih ingat jelas bagaimana mata Ally seakan hilang karena tenggelam saat otot pipinya naik ke atas, serta cahaya matahari yang menerobos masuk dan menimpa Ally menambah kesan yang sulit untuk Jonah lupakan.


"Cantik..."


"Apa?!"


Jonah terperanjat ketika Robin berucap dengan nada tinggi. "Lapar! maksudku aku lapar, ayo kita makan sekarang!" elak Jonah.


Pria yang memegang beberapa kertas itu mendengus kesal. "Astaga kita belum selesai membahas ini."


"Ayo cepat kita makan siang di luar, aku traktir." cicit Jonah sambil beranjak dari duduknya.


Robin yang awalnya masih ingin memaki jadi berubah pikiran. Ia berdehem lalu mengekor di belakang Jonah. "Baiklah kalau dipaksa."


***


"Tumben sekali kau tiba-tiba ingin makan sekarang, biasanya jika tidak kau akan makan satu atau dua jam lagi." kata Robin sambil mengunyah. Dua sahabat itu sudah berada di sebuah restoran langganan mereka, restoran yang sama dimana tempat kejadian Ally dan Jessie bertengkar.

__ADS_1


"Rasa laparku datang lebih awal dari biasanya." sahut Jonah.


"Berarti kau sedang bahagia." sela Robin tanpa berhenti mengunyah makanan.


Jonah yang tak mengerti hanya menatap bingung Robin sambil menaikkan alisnya.


Robin yang tengah selesai menelan makanan lantas buru-buru minum sebelum berbicara. "Menurut pengamatanku, kau akan mudah lapar dan ingin selalu makan disaat ada sesuatu yang membuatmu bahagia."


Jonah hanya terkikik mendengarnya.


"Aih, kau meremehkanku? sudah ku bilang aku tahu banyak tentangmu." ujar Robin meyakinkan.


"Aih, kau ini menakutkan." Jonah kembali menyendok makanan kedalam mulutnya. Kedua pria itu menyantap makan siang sembari sedikit demi sedikit membahas masalah pekerjaan yang sebelumnya sempat tertunda sampai membahas hal-hal sepele yang tak penting sekedar bergurau.


Gelak tawa ringan yang saling bersahutan itu harus terhenti sejenak ketika seseorang menghampiri meja mereka. Seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam.


"Wah lihat siapa kedua pria yang terlihat begitu romantis ini."


"Erik?" pekik Robin spontan begitu melihat wajahnya.


"Lama tak berjumpa, Robin. Aku sedikit sedih kau tak datang ke pestaku tempo hari." Erik duduk bergabung disamping Robin, menghadap Jonah.


"Aha, itu aku minta maaf, sedang ada urusan." tutur Robin.


"Urusan mengencani gadis, kan?" goda Erik sembari tertawa.


"Aih, kau ini tahu saja." susul Robin ikut tertawa.


"Sebaiknya kau mengikuti jejak Jonah. Menikah saja, itu lebih baik daripada selalu berganti-ganti wanita." nasehat Erik sambil menatap Jonah sekilas.


"Wah, kau menasehatiku seperti kau sendiri tak melakukannya. Ayolah, kau kan sama saja." Robin menyikut Erik.


"Ya, menikah itu hanya dilakukan oleh pria sejati. Bedebah seperti kalian berdua, aku tak yakin dapat melakukannya. Aku ragu dengan tanggung jawab kalian." sarkas Jonah.


"Ya, kau juga sama dulunya. Jangan sok suci." cicit Robin.


"Ah, ngomong-ngomong beberapa hari yang lalu aku bertemu Ally di Mall. Waktu itu dia seperti orang kebingungan, aku kasihan jadi aku menawarinya tumpangan dan mengantarnya pulang," ujar Erik. "Sebaiknya lain kali kau luangkan waktu untuk menemani istrimu berbelanja, jangan melulu sibuk bekerja." Erik langsung bangkit dari duduknya begitu menyadari perubahan air wajah Jonah.


"Baiklah, aku pergi dulu. Sopirku sudah menunggu." pamit Erik kemudian berlalu meninggalkan kedua pria itu.

__ADS_1


__ADS_2