
"Ya! masuk!" seru Jonah ketika pintu ruang kerjanya diketuk secara beruntun dari luar.
Pintu terbuka dan muncullah sosok Robin.
"Haih, kau rupanya. Hati-hati, itu pintu mahal, jangan mengetuk sembarangan seperti tadi." tegur Jonah.
Robin mendengus Jengah lalu menendang pintu tiba-tiba.
"Hey, kau!!" jerit Jonah langsung berdiri dari duduknya. "Kenapa kau datang-datang cari masalah?! mengajak ribut?!"
"Hey, kau! apa yang kau lakukan pada Jessie, hah?! sialan!" bentak Robin segera.
"Jessie? apa maksudmu?"
"Apa yang kau lakukan padanya kemarin?!" bentak Robin lagi.
"Kenapa bertanya begitu? apa hubunganmu dengannya?"
"Jangan pura-pura bodoh! kau tahu sendiri kan kalau wanita itu selalu datang kepadaku setiap kali ada masalah denganmu! Apa kau tahu apa yang wanita gila itu lakukan?!" Robin memelototi Jonah.
"A-apa?"
"Asal kau tahu, wanita itu datang malam-malam kerumahku sambil menangis. Dia bercerita bahwa dia sehabis dari kantor polisi. Dia bilang kau ingin memenjarakannya. Asal kau tahu, wanita itu menangis hebat dan menjerit dihadapanku," Robin mengambil tempat duduk di sofa yang ada diruangan itu.
__ADS_1
"Dia berteriak bahwa ia akan segera menghabisi Ally, seingatku itu adalah nama istrimu. Apa yang terjadi pada dua wanita ini?" tanya Robin.
Jonah menghela napas, paham inti permasalahannya. Ia lalu ikut duduk disamping Robin. "Jessie tahu bahwa aku sudah menikah, kami tak sengaja bertemu di restoran, dia marah dan langsung menampar Ally. Istriku itu tentu saja membalas, dan akhirnya terjadilah perkelahian dan Jessie melukai Ally." tuturnya.
"Wanita itu sangat terobsesi dengan dirimu, itu adalah penyakit yang harus disembuhkan." desis Robin.
"Aku tak tahu lagi bagaimana cara menghadapinya." guman Jonah.
"Haahh... asal kau tahu, wanita itu tadi malam tidur di ranjangku." kuak Robin menghela napasnya.
"Apa?! lalu? lalu—"
"Ya, tidak usah berpikiran aneh. Aku sama sekali tak menyentuhnya," sela Robin cepat. "Dia menangis saat ku bawa masuk ke dalam rumah. Jessie bercerita sambil sesegukan, kurasa dia haus, jadi kuambilkan minuman untuknya ke dapur. Saat aku kembali ke ruang tengah, wanita itu sudah tidak ada. Kupikir dia pulang, tapi saat aku ke kamar aku terkejut melihat tubuhnya terbaring disana. Aku terpaksa tidur di sofa karena tak ada kamar lain." curhat Robin panjang.
"Untunglah dia datang setelah aku mandi. Jadi pikiranku sudah jernih." papar Robin tercengir.
"Lagipula, kenapa kau membawanya masuk?"
"Memangnya kau tega membiarkan seorang wanita menangis kencang di depan rumahmu? Jika ku biarkan saja, aku yakin sampai pagi pun dia tak akan pergi dari sana. Dia menangis dan menjeritkan namaku sambil memeluk pagar dan juga menekan-nekan bel. Keberadaannya sangat mencolok. Aku merasa tak enak pada tetangga."
"Lalu dimana Jessie sekarang?" tanya Jonah.
"Nah, itu dia yang jadi masalahnya. Wanita itu masih berada dirumahku! Dia tak mau pergi jika bukan kau yang menjemputnya!" sambar Robin. "Jemput wanita itu sekarang juga dan bawa pulang dia ke rumahnya!"
__ADS_1
Seketika Jonah meledak dengan tawanya. "Oke, maaf. Tapi kali ini aku tidak bisa membantumu."
"Memangnya kenapa?"
"Tidak mau saja."
"Hey, tanggung jawab. Ini semua akibat dirimu, kau yang selalu melibatkanku terhadap semua urusanmu dengan Jessie. Aku tidak mau tahu, pokoknya saat ini juga bawa keluar wanita itu dari rumahku!" kecam Robin, pria itu terlihat marah.
"Ah, tidak bisa aku sudah punya istri."
"Ya?! alasan macam apa itu?!" Robin melebarkan bola matanya sambil mengerutkan dahi.
"Ah, lagipula kau ini adalah pria dewasa. Pasti kau bisa menanganinya sendiri." ujar Jonah sembari beranjak dari sofa dan berjalan menuju kursi kerja nya.
"Ya, kau ini teman macam apa?!" Robin segera meraih pundak Jonah agar pria itu berhenti.
Jonah menepis tangan Robin. "Coba dulu tangani sendiri. Jika sudah seminggu dan Jessie masih tak pergi, maka nanti akan ku pikirkan lagi antara membantu atau tidak." Jonah membalik paksa tubuh Robin menghadap pintu. "Sekarang silakan kau pergi dulu, aku masih punya urusan." Ia mendorong paksa tubuh Robin agar berjalan menuju pintu.
"Se-seminggu?! hey, tunggu dulu! kita masih perlu bicara! jika—"
Jonah terus mendorong Robin sekuat tenaga hingga akhirnya berhasil mengunci pria itu diluar.
Robin menggedor-gedor pintu dengan keras. Berteriak samar minta dibukakan pintu.
__ADS_1
"Ya, jangan menggedor keras. Pintuku mahal!" teriak Jonah.