Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Ally Sakit


__ADS_3

Jonah sedang berada disebuah restoran rooftop di pusat kota. Lelaki itu baru saja selesai menyantap makan malamnya.


Jonah masih setia duduk dibangkunya sembari memandangi kerlap-kerlip lampu bangunan dari atas tempat ia berada sekarang. Pemandangan kota saat malam begitu indah.


Ini sudah sekitar tiga jam semenjak ia pamit pada Ally. Entah kenapa, sekarang Jonah mengkhawatirkannya. Jonah melirik arloji ditangannya lalu memutuskan untuk pulang kerumah.


Jonah menempuh waktu sekitar 25 menit dan akhirnya sampai didepan rumah. Setelah mengunci pagar, Jonah segera berlari kecil masuk kedalam rumah dan mengunci pintu utama.


Merasa gerah, Jonah segera menuju kamar mandi dan mandi beberapa menit barulah setelahnya ia ke kamar tidur untuk berpakaian.


Saat memasuki kamar tidur, hal pertama yang menarik perhatiannya adalah Ally yang masih terbaring ditempat tidur.


Wajah wanita itu terlihat gusar walau dengan mata tertutup. Seakan-akan sedang bermimpi buruk. Jonah segera berpakaian lalu dengan cepat menghampiri Ally.


Ally bergumam lirih seakan menahan sakit.


"Ally, ada apa? apa yang sakit?" tanya Jonah berlutut dilantai agar wajahnya persis didepan wajah Ally yang sedang tiduran.


Ally hanya menggeleng tetap dengan wajah gelisahnya.


"Ally, katakan. Apa kau kesakitan?" tanya Jonah memastikan.


Ally tetap bungkam.


Jonah dengan inisiatif memegang kening Ally. Suhu tubuh Ally tinggi. "Ally, kau demam. Dahimu sangat panas." panik Jonah. "A-aku akan telepon Dokter untukmu.


"Jangan!" sela Ally. "Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Aku hanya perlu tidur dan besok aku akan sehat kembali. Jangan khawatir." ucap Ally lemah.


"Ally, tapi—"


"Jonah, aku hanya perlu tidur." ucap Ally menekan.


"Baiklah, jika itu maumu." kalah Jonah.


Ally menghela napas panjang lalu mengeratkan pelukannya pada guling. Jonah akhirnya memutuskan untuk tidur sekarang. Toh, ia juga agak mengantuk.


"Jika ada suatu hal, jangan ragu untuk minta bantuanku." tutur Jonah.


Ally mengangguk samar. Keduanya tiduran dalam posisi sama-sama membelakangi. Dalam posisi seperti ini, Jonah dapat merasakan Ally banyak bergerak. Perempuan itu beberapa kali membolak-balikkan tubuhnya untuk mencari posisi tidur yang nyaman. Lenguhan kecilnya terdengar.


Ranjang tak berhenti bergoyang karena Ally terus-terusan bergerak sambil menggesek-gesekkan kaki ke sprei. Jonah agak terganggu.


"Ally, kau kenapa?" tanya Jonah.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak apa-apa." sahut Ally.


"Apa kau kedinginan?" selidik Jonah


"Tidak. Aku tidak apa," sahut Ally lagi. "Jonah... maukan kau... bertukar guling denganku?" sambung Ally.


"Ada apa memangnya?"


"Aku, aku merasa guling ini tidak nyaman dipeluk." titas Ally.


Jonah menghela napas. "Kemarilah..."


"Aku hanya ingin bertukar guling. Jika kau tidak mau, tidak apa."


"Ally, mendekatlah." pinta Jonah dengan nada sedikit memaksa.


Ally hanya diam tak menyahut. Jonah berdecak lalu memutuskan dia saja yang merapat ke Ally. "Ally, apa kau sudah berpakaian?" tanya Jonah.


"Ak-aku... belum..." lirih Ally.


"Maaf jika aku lancang. Tapi aku juga butuh berada didalam selimut." ucap Jonah.


Ally tercekat. Wanita itu tak bisa berkata-kata saat tubuh jonah beringsut bergerak memasuki selimut.


"Ally, apa kau bisa tidur?" tanya Jonah membuat Ally terkejut.


"Kalau begitu tidurlah." seru Jonah.


Setelah berkata begitu, tak ada suara yang keluar lagi dari mulut Jonah. Sepertinya pria itu sudah tidur. Ally berusaha mengatur napas, menenangkan pikiran dan berusaha rileks untuk tidur. Ini sulit baginya untuk tertidur dalam kondisinya yang tengah sakit seperti sekarang.


"Seandainya ada Ibu." batin Ally.


Untuk yang kesekian kalinya Ally masih sibuk mengatur posisi tidur. Kasur berguncang pelan karenanya.


Tiba-tiba tanpa bisa Ally perkirakan, Jonah merapat mendekat lalu dengan cepat tangan pria itu segera mendekap tubuh Ally.


Ally terkejut. "Jo-Jonah!? apa kau sudah tidur?" tanya Ally memastikan apakah Jonah memeluknya dalam kondisi sadar atau tidak.


"Mana bisa aku tidur dengan kasur yang terus-terusan berguncang akibat ulahmu." sahut Jonah yang ternyata masih sadar.


"Ma-maaf. Sekarang tolong lepaskan aku." ucap Ally berusaha melepaskan tangan Jonah dari atas perutnya.


"Ally, tidurlah." perintah Jonah.

__ADS_1


"Aku akan tidur. Tapi lepaskan dulu aku." balasnya.


Lalu, tanpa ada yang menyuruh, Jonah segera memberi elusan halus pada permukaan perut rata Ally.


"Ah! Jonah apa yang kau lakukan?" protes Ally dengan segera menahan tangan Jonah agar berhenti bergerak.


"Jangan pedulikan aku. Kau tidur saja. Bukankah kau tidak akan bisa tidur saat sakit jika tidak ada yang memanjakanmu seperti ini?"


Ally tertegun. Bagaimana cara Jonah mengetahui akan hal itu?


Tangan Jonah kembali mengelus perut Ally. Wajah lelaki itu persis berada didepan punggung leher Ally. Napas Jonah yang menerpanya membuat Ally sedikit geli.


Ally dapat mendengar napas Jonah sedikit berat. Seperti sedang menahan sesuatu. Disamping itu, Ally yang tadi gusar kini mulai rileks memejamkan mata. Usapan Jonah pada perutnya membuatnya nyaman.


Ally mulai terlelap. Hingga tanpa ia duga tangan Jonah merangkak naik dan perlahan meremas dadanya pelan. Ally terpekik. "Jonah, apa yang kau perbuat!?"


Jonah tak menghiraukan dan dengan terus menggerakkan tangannya.


"Jonah sinting! kau berani-beraninya—ah...!!" Ally tak bisa menahan pekikan yang lolos dari mulutnya.


"Jo-Jonaahh... ber-henti!"


Remasan Jonah tak berhenti meski tangan Ally berusaha menahannya. Tak hanya sampai disitu, kini Jonah mulai mengecup dan menjilat punggung leher Ally.


"Jo-nah berhenti! biarkan aku istirahat!" ucap Ally dengan napas berat.


Jonah tak mau berhenti sedikitpun. "Ini salahmu sendiri karena tak berpakaian." ucap Jonah beringas.


Remasan tangan Jonah pada kedua dada Ally semakin kuat. Bahkan wanita itu beberapa kali melenguh panjang karenanya. Jonah juga mencium, mengigit dah menghisap leher Ally sehingga meninggalkan bekas disana.


"Jonah, lepaskan!" Ally dengan cepat menepis tangan Jonah dan segera berdiri dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Kau ini apa-apaan?! aku kesusahan untuk tidur dan sedang berusaha untuk terlelap! kenapa kau malah memperlakukanku seperti ini?!!" marah Ally, matanya berkaca-kaca.


Jonah yang sempat buta oleh nafsu kini berangsur-angsur sadar. Ia mengusap wajahnya kasar. "Maafkan aku. Aku tidak sengaja." lirihnya.


Ally hampir menangis. "Aku akan tidur dilantai." ucapnya.


"Apa-apaan?! kau sedang sakit, Ally. Tidurlah diatas sini." ucap Jonah menepuk ranjang.


"Apa kau bisa menjamin keperawananku tidak hilang malam ini jika aku tidur denganmu?!" bentak Ally.


Jonah merasa bersalah sekaligus malu. "Baiklah, aku minta maaf atas perlakuanku tadi. Tolong maafkan aku."

__ADS_1


"Aku tidak ingin seranjang denganmu untuk malam ini." lirih Ally.


Jonah menghela napas lalu bangkit dari tempat tidur. "Baiklah, aku akan tidur disofa malam ini. Kau cepatlah berbaring." Setelahnya Jonah segera melangkah keluar kamar.


__ADS_2