
Setelah keberangkatan Jonah, Ally hanya rebahan di sofa, tak ada hal lain yang bisa ia lakukan untuk mengusir rasa bosan selain menonton televisi.
Ia sedang melihat acara berita. Berita yang dibawakan kali ini adalah berita pembunuhan. Pembunuhan sadis yang dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya sendiri.
"Diketahui, bahwa motif pelaku membunuh korban adalah karena kesal terhadap korban yang selalu memarahi pelaku dan mengeluh perihal urusan ekonomi keluarga." pembawa acara tersebut membacakan artikel.
Ally bergidik ngeri. Terlintas dikepalanya sosok Jonah, "Cecunguk itu tak mungkin membunuhku, kan?" gumam Ally pada dirinya sendiri.
Ding Dong!
Ally terperanjat ketika suara bel yang ditekan itu membuyarkan pikirannya. Wanita yang lahir pada musim gugur itu pun segera berlari kecil kearah pintu untuk mebukanya.
Jane.
Ia yang datang.
"Bibi Jane..."
"Bibi?" Jane menautkan alisnya.
"Ah, maksudku Ibu," ucap Ally kikuk. "silakan masuk." Ally mempersilakan Jane masuk. Wanita paruh baya itu tersenyum melewati Ally dan berjalan kearah sofa.
"Ibu... emm... Ada apa Ibu datang?" tanya Ally ragu.
"Ah, aku hanya ingin membawakan kalian sesuatu," Wanita yang sudah berumur itu kemudian meneriakkan nama sopir yang membawanya kemari, menyuruhnya masuk. Tak berselang lama, orang yang dipanggil tersebut muncul dibalik pintu dengan membawa sebuah bungkusan pipih yang besar.
__ADS_1
"Taruh saja." titah Jane, Pria itu menangguk lalu meletakkan barang yang ia bawa bersender disamping sofa dan segera keluar.
Ally menatap benda pipih yg terbungkus itu dengan seksama. Jika ia tak salah menebak, itu adalah sebuah figura yang berukuran besar.
"Apa ini, Ibu?"
"Bukalah..."
Tak butuh waktu yang lama bagi seorang Ally yang penasaran untuk menguliti benda tersebut. Tebakannya benar. Isinya memang benar sebuah bingkai foto. Dan yang membuat Ally terbelalak adalah foto dalam bingkai besar itu.
Foto sepasang pengantin. Sang pria dalam foto tersebut dengan mesranya merangkul pinggang ramping sang mempelai wanita, sedangkan sang wanita dengan manja meletakkan kedua telapak tangannya pada dada yang mempelai pria. Keduanya saling bertatapan mesra.
Itu foto Ally dan Jonah. Foto yang diambil saat hari pernikahan mereka.
Tak ada yang janggal pada foto tersebut, jika hanya melihat, tanpa tahu cerita dibaliknya, orang-orang tentu akan mengira kedua mempelai dalam foto tersebut adalah pengantin yang berbahagia.
Tak hanya itu, Ia juga mengingat bagaimana ia harus rela berciuman dengan Jonah saat hari pernikahannya. Dicium musuhnya sendiri dihadapan masing-masing keluarga. Bukan perasaan bahagia yang ia dapatkan melainkan perasaan bencinya pada Jonah mulai memupuk lagi.
"Ally?"
Ally segera menoleh ketika Jane menyebut namanya.
"Kenapa memandangi fotonya seperti itu?" tanya Jane.
Ally baru sadar jika sedari tadi ia melamun untuk beberapa saat meratapi fotonya sendiri. "Ah, tidak."
__ADS_1
Jane berhela dan tersenyum simpul. "Kau suka?"
"Tentu saja." bohong Ally.
"Kalau begitu, sebaiknya kita gantung dimana foto itu? disini? atau... disitu?" Jane segera menunjuk-nunjuk spot yang sekiranya cocok utuk ditempeli bingkai tersebut.
Ally canggung seketika. "Apa sebaiknya digantung didalam kamar saja?"
"Itu pilihan yang buruk, Sayang. Foto seperti ini memang harus selalu berada didepan, agar setiap memasuki rumah yang pertama orang akan lirik adalah keindahan foto ini. Lihat, bukankah kalian sangat serasi?" Jane menunjuk foto itu dengan dagunya. "Aku juga memiliki foto ini dirumah, kuletakkan diruang tamu juga. Ukurannya lebih besar daripada ini." tutur Jane.
Ally mengangguk dan tersenyum kecut. Ia tak bisa membantah Bibi kesayangan sekaligus Ibu Mertuanya itu.
"Dimana suamimu?" tanya Jane. "Apa ia pergi keluar?"
"Ah, Jonah sudah mulai masuk bekerja." sahut Ally.
"Hahh... anak itu memang gila kerja. Ia ingin segera mengambil alih perusahaan dari pamannya." ujar Jane tertawa kecil.
Ally hanya ikut tertawa meskipun tak tahu apa-apa.
"Baiklah kalau begitu kita minta sopirku saja untuk menggantungnya." ucap Jane.
Akhirnya, foto pengantin yang berukuran besar itu sempurna menggantung di dinding tepat di bagian dinding lebih tinggi dari televisi. Dari pintu depan, jika masuk kedalam maka foto itu benar-benar menjadi suguhan yang menarik perhatian.
"Sempurna..." gumam Jane sambil mendongak menatap foto yang baru saja digantung tersebut.
__ADS_1
"Ah, astaga! aku lupa. Aku akan menyiapkan Ibu minuman." pekik Ally menepuk jidatnya. Ally segera bergerak ingin menuju dapur, tapi Jane menahannya.
"Tak perlu. Aku bisa minum sendiri jika haus. Aku ini bukan tamu yang harus diperlakukan seperti biasanya. Aku ini Ibumu," Jane tersenyum. "Lebih baik kau mengajakku berkeliling rumah kalian." tambahnya.