
Mendengar ucapan Jonah barusan nyali Ally menjadi ciut lagi. Gadis itu hanya bisa mematung.
"Jika kau takut juga maka bergeserlah kesini, aku tak keberatan." kata Jonah. Pria itu lagi-lagi berpikiran licik.
Tanpa gengsi, Ally segera menggeser tubuhnya ke bagian tengah ranjang. Kulitnya lengannya bersentuhan dengan lengan Jonah.
Ah, ada satu hal yang kini baru ia sadari. Yakni, tak adanya guling diatas ranjang mewah ini. Ally berdesak sebal sambil mengeluh dalam hati.
Jonah yang mendengar decakan Ally segera paham. Pria ini memang peka. "Apakah kau baru sadar jika kita tak mempunyai guling sekarang?"
Ally menyahutinya dengan helaan napas.
"Ah, sial. Konon katanya hantu itu—"
"Jonah, berhenti membahas hantu sialan itu!" tegur Ally. Sudah cukup keadaan yang gelap gulita itu merenggut sebagian nyalinya, apalagi hujan deras diluar sana sesekali menyambarkan petir, ditambah lagi Jonah yang mengoceh membahas hantu, serta tak adanya guling menambah penderitaan Ally. Sepertinya ia tak akan bisa tidur semalaman.
Menutup matanya pun rasanya sia-sia. Kini bayangan sosok hantu di film-film yang pernah ia tonton mulai memenuhi kepalanya. Seakan-akan Ally sedang dikelilingi oleh para makhluk itu.
Saat Ally bertarung dengan paraniodnya, petir menyambar. Entah kenapa hujan badai malam ini terasa begitu mengerikan berkali-kali lipat. Menambah ketakutan Ally berkali-kali lipat pula. Gadis itu refleks membalik tubuhnya menghadap Jonah.
Posisi mereka yang sangat dekat sebelum menjadi bertambah dekat lagi saat Ally berbalik, wajahnya tepat berada di depan leher Jonah.
Deru napas Ally yang sedikit memburu menerpa lehernya. "Ada apa? kenapa tersengal begitu? apakah kau sedang menahan hasratmu?" tanya Jonah tanpa beban.
"Singkirkan pikiran mesum mu itu. ini semua karenamu, kenapa kau malah bercerita tentang hantu di saat seperti ini." ucapnya dengan nada bicara yang kesal.
Jonah tertawa. "Kau ini seperti anak kecil saja. Tenanglah, kan ada aku." Tanpa meminta ijin, Jonah merangkul Ally sambil mengusap punggungnya.
__ADS_1
"Wah, ini bisa dijadikan sebagai pengganti guling." cetusnya. Jonah kian merapatkan pelukannya pada Ally. "Aku yakin kau pasti tidak keberatan karena kau juga membutuhkan perantara tidur kan?"
Ally menghela napas. Ucapan Jonah ada benarnya juga. Lagipula ia tak akan bisa tidur tanpa memeluk sesuatu atau dipeluk. Daripada dipeluk hantu, sepertinya dipeluk Jonah tidaklah terlalu buruk. Toh, dia juga suaminya sendiri.
"Terserah kau saja." nada bicaranya tidak mengenakan, tapi yang penting Ally mengijinkan.
Jonah menarik sudut bibirnya keatas. Pria itu merapatkan tubuhnya terhadap tubuh Ally. Rangkulannya pun ia eratkan.
"Ya, jangan terlalu dekat, aku bisa sesak napas." Ally memundurkan tubuhnya sedikit agar ada ruang baginya untuk bernapas.
Seakan tak peduli, Jonah kembali menarik tubuh wanita itu. "Lebih rapat lebih baik, bukankah seperti ini lebih hangat." Jonah menarik pinggang Ally untuk memangkas jarak mereka.
"Tidurlah," ucapnya, sementara tangan kanannya mengusapi punggung gadis dalam dekapannya itu.
Tak bisa dipungkiri, usapan Jonah mampu membuang pikiran kalutnya, kini Ally merasa lebih nyaman. Ketakutan sebelumnya hilang begitu saja.
"Kau juga, tidurlah." entah kenapa Ally mengatakannya.
Jonah tersenyum dengan matanya yang tertutup. Tak hanya Ally, Jonah juga menikmati usapannya sendiri pada punggung halus Ally. Ia mempertipis jarak diantaranya dengan Ally lagi.
Ally tak protes. Entah gadis itu yang tak keberatan atau gadis itu ternyata sudah tertidur. Jonah ingin memastikannya. "Ally..." panggilnya.
Tak ada sahutan dari Ally. Jonah berinisiatif untuk menyentuh wajah Ally. Jarinya meraba wajah mulus gadis itu, dan menemukan matanya memang tertutup. Sepertinya Ally memang sudah tidur. "Cepat sekali tidurnya." gumamnya.
Seketika pikiran jahilnya muncul.
Sekalian untuk memastikan sekali lagi, pikirnya. Apa benar Ally sudah tidur atau hanya pura-pura saja. Tanpa sungkan, satu telapak tangannya berusaha menemukan dada Ally lalu menangkupnya dan meremasnya pelan.
__ADS_1
Ally tak berkutik. Jonah kini yakin bahwa Ally memang sudah benar-benar terlelap. Awalnya hanya untuk memastikan apakah Ally memang tidur atau pura-pura saja, tapi kini tangan Jonah tak bisa berhenti bermain dengan dada wanita itu.
Jonah meneruskan kegiatannya karena tak ada perlawanan sedikitpun dari Ally. Ironisnya, gadis itu sesekali melenguh kecil dalam kondisi tak sadarnya. Hal itu justru semakin membangkitkan Jonah.
"Ah, sial..." Jonah mengumpat sendiri.
"Ally, bangunlah dan larang aku agar berhenti. Jika terus seperti ini aku tak bisa menahannya lagi." ucap pria malang itu.
Jonah menguatkan remasannya. Ally bergerak. Jonah berhenti sejenak dengan aktivitasnya. Ia mengira Ally bangun, ternyata gadis itu hanya membalik posisi tubuhnya yang kini membelakangi Jonah.
Tangan Jonah sudah tak sabar ingin kembali bermain, dengan cepat Jonah menyelipkan tangannya kedalam kaos Ally dan kembali memainkan dada Ally dalam posisi gadis itu membelakanginya.
Ally mendesah pelan. Tubuhnya bereaksi meskipun gadis itu sedang tertidur. Sesuatu dibalik celana dalam Jonah sudah mengeras sejak tadi. Sementara kakinya ia gunakan untuk mengapit kaki Ally.
Jonah menguatkan remasannya "Engh..." gadis itu menggelinjang lalu terbangun.
Jonah sadar akan hal itu, tapi itu tak menghentikan tangannya untuk terus bermain.
"Jonah, apa yang kau—ugh..." Ally kaget berusaha menyingkirkan tangan Jonah.
Ally menggigit bibir bawahnya sambil berusaha menjauhkan posisinya dari Jonah, tapi Pria itu tak membiarkannya menjauh barang sejengkal. Tangan besarnya dengan gesit menahan pinggang dan perut Ally.
"Jo-nah, lep-lepaskan..." Ally berusaha menjauhkan tangan Jonah.
"Tunggu..." desis Jonah. Tangannya beralih untuk menyibak rambut Ally agar ia mendapat akses untuk menciumi tengkuk dan pundak Ally.
Ally tak tahan lagi menerima serangan dari Jonah. Gadis itu lalu mencubit tangan Jonah yang membuat pria itu meringis dan menarik tangannya.
__ADS_1