
Setelah sibuk semalaman mengurus Jonah sakit yang menyebalkan, Ally bangun dengan tubuh yang letih. Seluruh badannya terasa pegal karena posisi tidur yang kurang nyaman akibat Jonah selalu menempelinya, pria itu merengek minta dipeluk semalaman.
Gadis itu melalukan perenggangan badan sebentar lalu beranjak bangkit dari tidurnya untuk mandi. Sengaja ia tidak membangunkan Jonah sampai pria itu bangun sendiri sebab ia tahu tadi malam Jonah susah tidur.
Setelah kembali dari kamar mandi, Ally kembali ke kamar dan mendapati Jonah masih terlelap. Gadis itu tak berniat untuk membangunkannya. Ally pun memutuskan ke dapur untuk memasak.
Sekitar setengah jam berlalu ketika Ally hampir selesai dengan pekerjaan dapurnya, seseorang memeluknya dari belakang, hal itu membuatnya terkesiap.
"Kenapa tak membangunkanku?" lirih Jonah dengan suara parau khas orang bangun tidur.
"Aku tak ingin mengganggu tidurmu." sahut Ally, gadis itu mematikan kompor pertanda ia sudah selesai dengan urusan memasak.
"Lepaskan aku." pinta Ally halus berusaha menyingkirkan tangan Jonah, tapi pria itu malah makin mengeratkan dekapannya. Ally menghela napas jengah, ia terpaksa berjalan menuju meja makan dengan Jonah yang masih memeluknya.
"Kau sudah menggosok gigi?" tanya Ally. Pria yang meletakkan wajahnya di pundah kiri Ally itu mengangguk.
"Kalau begitu cepat makan pancake ini sebelum dingin."
Jonah menurut, pria itu segera melepas Ally lalu duduk dengan tenang di atas meja dengan sajian sepiring pancake dengan topping buah pisang dan segelas susu hangat di hadapannya.
"Makan. Jangan cuma dilihati saja." tegur Ally sambil mengunyah pancake miliknya.
"Kau suka buah pisang, ya?" ucap Jonah sebelum ia menyendok pancake tersebut kedalam mulut.
Ally menjawabnya dengan anggukan.
"Wah, kau suka susu dan suka pisang. Perpaduan yang bagus." ucapnya sembari menyeringai kecil. Gadis di hadapannya itu menyirat tajam.
"Kenapa? apa ada yang salah dengan ucapanku?"
"Makanlah dengan diam. Tidak usah banyak omong." Ally agak kesal karena Jonah telah bugar kembali, itu artinya sikap menyebalkan dari pria itu juga kembali.
"Hey, santai saja. Kenapa kau terlihat bersemangat seperti itu? ini bahkan masih pagi." Jonah kembali menyendok pancake-nya
"Tubuhku pegal semua gara-garamu." Ally meringis pelan.
"Memangnya apa yang sudah aku lakukan terhadap tubuhmu, huh?"
"Ya! kau merengek minta di peluk semalaman, posisi tidurku jadi sangat tidak jelas." Ally berujar dengan mata yang melotot, hal itu membuat Jonah tertawa kecil, pria itu ingat bagaimana tadi malam ia selalu mendesak Ally agar gadis itu mendekapnya semalaman, kapan lagi pikirnya ia bisa bermanja-manja tanpa dicurigai.
"Ah, maaf. Aku sama sepertimu, jika sakit menyusahkan." cicit Jonah.
Mendengar perkataan Jonah barusan membuat Ally teringat dengan kejadian dimana ia demam waktu itu, ia merasa tersindir dan langsung jadi tak enak karena sudah mengeluh perihal itu.
"Ah, omong-omong bagaimana kabar Ibu?" tanya Ally mengalihkan topik.
Jonah mengalihkan atensinya pada Ally. "Dua hari yang lalu salah satu perawat menelponku, mengabarkan kalau ibu baik-baik saja, dia bilang kondisi ibu sudah agak mendingan."
"Syukurlah, apa kita bisa menjenguknya?"
Jonah menggeleng. "Ia tetap tidak ingin di jenguk. Aku tak ingin membantahnya, aku khawatir dengan kondisinya jika aku menentang."
Ally menghela napas. "Kau benar, selagi kita tahu bahwa dia baik-baik saja itu juga sudah cukup."
Jonah terdiam sesaat lalu menatap Ally fokus. "Menurutmu, apakah ucapan Dokter itu akan jadi kenyataan? soalnya, ini sudah 3 bulan." ucapnya lirih.
Ally menghela napasnya sebelum menjawab. "Dokter hanya bisa memprediksi, urusan mati itu di tangan Tuhan. Aku yakin Ibumu mampu bertahan lebih lama." katanya diakhiri dengan seulas senyum.
Jonah ikut tersenyum, ucapan Ally barusan membuatnya sedikit lega. "Kau benar. Dia orang yang kuat."
"Oh, iya kau ke kantor hari ini?"
"Iya, kenapa?" tanya Jonah dengan mulut yang sibuk menguyah.
"Nanti jika pulang mampir dulu ke petshop, makanan Lucy tinggal sedikit." jelas Ally.
"Baiklah."
*****
__ADS_1
Dering telfon yang berbunyi membuat Ally yang tengah makan malam bersama Jonah beranjak dari duduknya untuk mengambil ponsel miliknya yang ia tinggal di sofa ruang tengah, gadis itu lantas menekan tombol hijau dilayar.
"Ya, halo? ini siapa?"
"Ya! sudah ku bilang simpan nomor ku!" suara bentakan di seberang sana membuat Ally sedikit terperanjat karena ia menempelkan ponsel persis di telinganya.
"L-luna? ah, maaf aku lupa menyimpan nomormu."
"Ya, kau selalu lupa apapun tentangku setelah menikah dengan pria itu." ucap Luna dengan nada ketus.
"Ah, tidak ada seperti itu." sela Ally. "Ada apa menelpon?"
"Aku sedang berada di sebuah Cafe dekat sungai kota, bisa kau kesini?"
"Sungai kota mana yang kau maksud? Luna, kita berbeda kota sekarang."
"Aish, aku sedang di Ibukota, kita satu kota sekarang."
"Apa?!"
"Hey, bukankan sudah ku bilang saat aku menelponmu waktu itu bahwa aku akan menyusulmu ke Ibukota? kau kita aku bercanda? cepatlah kesini, pemandangannya sangat indah saat malam."
"Kurasa aku tak bisa kesitu."
"Wah, aku merasa sangat sangat sangat sedih usahaku ke Ibukota untuk menemui sahabatku ternyata sia-sia."
"Apa kau baru sampai? kenapa tidak menelpon saat siang tadi?"
"Ah, aku sibuk mengunjungi beberapa tempat sehingga lupa mengabarimu. Ayolah kesini selagi ada kesempatan, aku akan pulang besok."
"Siapa yang menelpon? kenapa lama sekali?" Jonah yang telah selesai dengan urusan makannya menghampiri Ally yang sibuk menelpon.
"Apa itu Jonah?! berikan ponselmu padanya aku ingin bicara."
Ally segera menuruti permintaan Luna, ia menyerahkan benda pipih itu pada Jonah. Pria itu menerima ponsel itu dengan sedikit kebingungan. Ally memberikan isyarat bahwa si penelpon ingin berbicara dengannya, lalu Jonah menempelkan ponsel tersebut pada telinganya.
"Jonah, bisa kau antarkan Ally ke Cafe dekat sungai kota?"
Jonah menjauhkan ponsel dari telinganya, pria itu menatap Ally seakan bertanya siapa gerangan yang menelpon ini.
"Luna." bisik Ally.
Jonah kembali mendekatkan ponsel ke telinga. "Ada keperluan apa kau ingin menemuinya?"
"Dia sahabatku, aku merindukannya dan ingin bertemu dengannya selagi aku berada disini."
Jonah lalu menatap gadis disampingnya. "Kau ingin menemuinya?" tanyanya, Ally mengangguk samar.
"Di dekat sungai kota ada banyak Cafe, kau berada di Cafe yang mana?"
***
Setelah Luna memberitahukan dimana titik posisinya, Ally dan Jonah segera berangkat menuju lokasi tersebut. Di perjalanan Ally nampak antusias memandangi ke luar jendela.
"Aku tak tahu jika malam sekalipun tempat ini sangat ramai." komentarnya.
"Sangat indah bukan kota ini saat malam?" timpal pria yang tengah memegang stir di sampingnya. Ally mengangguk setuju.
Tak berselang lama mereka berdua sampai di tempat tujuan. Sebuah Cafe besar nan ramai pengunjung yang berada di pinggiran sungai kota. Dari sini pemandangan yang tersuguh adalah keindahan air sungai yang diatasnya banyak kapal-kapal yang tengah mengapung. Tempat ini memang menjadi salah satu destinasi wisata yang terkenal di Ibukota.
Melihat Ally dan Jonah yang tengah beriringan berjalan mendekat ke arah Cafe, Luna langsung melambaikan tangan agar kedua orang itu dapat langsung menemukannya. Ally segera berjalan lebih cepat agar dapat segera sampai ke tempat dimana Luna duduk.
"Ally!" pekik Luna saat tubuh gadis itu bersatu dalam pelukan dengannya.
Mereka melepas pelukan setelahnya, Ally melihat seseorang duduk di sebelah Luna, ia mengenal orang itu.
"Zico?"
"Wah senangnya kau masih mengenaliku." pria bernama Zico itu tersenyum dan lantas berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Mana mungkin aku melupakan temanku." Ally tersenyum lebar sambil membuka tangannya dengan maksud ingin merangkulnya.
Belum sempat Jason menerima peluk rangkul itu, Jonah yang baru tiba langsung menarik Ally mundur. Ia lantas maju menggantikan Ally untuk merangkul Zico. "Wah, hai Zico kau masih ingat aku, kan?" ucapnya basa-basi.
"Jonah Si Nomor Satu. Mana mungkin orang lupa dengan bintang peringkat kelas." cicit Zico diakhiri dengan tawa ringan.
Saat Zico berkata barusan, Jonah menatap sinis ke arah Ally seakan-akan mengejeknya perihal juara kelas. Ally hanya memutar bola matanya malas. Mereka semua kemudian kemudian duduk.
"Aku masih tak percaya bahwa kalian benar-benar menikah. Saat Luna memberitahuku kupikir anak ini tengah mabuk." ujar Zico.
"Melihat kalian bersama rasanya seperti mimpi." timpal Luna.
"Aku sering mendengar istilah 'Benci jadi Cinta', dan kalian adalah buktinya." tambah Zico lagi.
Luna langsung menyenggol Zico. "Apa kau yakin mereka berdua saling mencintai?" ujarnya santai sambil bergantian menatap Ally dan Jonah.
"Jangan salah, mespikun kami dulu saling bertengkar tapi sekarang kami adalah pasangan serasi." titah Jonah sambil merangkul Ally.
Gadia yang dirangkul itu tersenyum kecut. Jonah pandai sekali berbohong.
"Wah, berarti kalian sudah sering yang begituan?" Zico saling menempelkan kedua jari telunjuknya, membuat sebuah gestur isyarat dengan tatapan ambigu.
Luna langsung menyikut pria itu. "Hey! tidak sopan!" tegurnya.
Jonah yang sesaat menjadi canggung langsung mengganti topik. "Kalian berpacaran?"
"Yang benar saja!" Luna langsung tak terima dengan ucapan Jonah barusan.
"Hey, santai saja aku cuma bertanya."
"Kami satu kantor. Jadi dia mengambil cuti dan dia memintaku menemaninya kesini untuk mencari Ally dan membawanya pulang ke kota asalnya." tutur Zico membuat Luna langsung memukul lengannya sambil melotot.
Jonah tertawa ringan. "Tak perlu dibawa pulang. Dia aman disini bersamaku, dan dia juga suka bersamaku. Iya kan, sayang?" Ally hanya tersenyum kecut menjawabnya, dalam hati ia ingin sekali mencakar wajah pria bermuka dua itu.
"Kalian malam ini menginap dimana?" Ally buka suara.
"Di ruma Bibi nya Zico, itu sebabnya aku mengajaknya kesini." jelas Luna.
"Berapa lama kalian disini?" tanya Ally lagi.
"Besok kami pulang. Atasan kami hanya memberikan cuti dua hari." Luna nampak sedih. "Padahal aku sangat ingin berada lebih lama disini."
Memang jarak dari kota mereka ke Ibukota cukup jauh, di tempuh dengan perjalanan darat memakan waktu kurang lebih 9 jam lamanya.
"Kalian masih ingat dengan Gio?" sela Zico .
"Gio? temen sekelas kita?" tanggap Ally.
"Tepat!"
"Ada apa dengannya?" tanya Jonah.
"Lusa dia akan pulang dari Amerika. Jadi dia mengajak semua angkatan kita untuk mengadakan reuni." terang Zico.
"Tempatnya di restoran mewah dekat sekolah kita. Kalian tentunya masih ingat, kan?"
Jonah mengangguk samar. "Kapan?"
"Lusa malam." jawab Luna.
"Kalian harus ikut. Semua orang dikelas kita akan hadir, kurang seru jika kurang kalian." Zico menimpali.
"Akan kami pikirkan dulu." ucap Jonah melirik Ally sekilas.
Zico mengangguk lalu melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. "Sudah hampir pukul 10, kami harus segera pulang ke rumah Bibi-ku."
"Kenapa buru-buru? bagaimana kalau kita jalan-jalan bersama sebentar?" tawar Ally, menahan agar dua orang itu bertahan bersamanya lebih lama.
"Tidak bisa. Bibiku punya anak kecil, rumah akan segera di kunci jadi aku tak bisa pulang larut." jelas Zico. Akhirnya kedua sahabat Ally itu pergi dengan menaiki taksi, Luna melambaikan tangannya sebelum akhirnya taksi itu melaju menajuh.
__ADS_1