
Kedua bersahabat itu kini tengah berada di depan pintu apartemen Jessie. Robin segera menempelkan kartu akses pada alat sensor yang tertanam di pintu itu. Sepersekian detik berikutnya kunci terbuka, Robin segera mendorong pintu untuk membukanya.
"Ayo masuk." ajaknya pada pria yang tengah bersandar di dinding.
"Tidak ada gunanya. Aku akan langsung pulang."
"Masuk dulu sebentar. Ini menarik." Robin segera meraih tangan Jonah dan memaksanya masuk ke dalam.
Segera setelahnya matanya di suguhkan oleh ruangan yang semua sisi dindingnya terisi oleh bingkai foto. Tak hanya disitu, di meja-meja yang ada pun juga terdapat banyak bingkai foto. Dan faktanya, semua foto didalam bingkai itu adalah foto Jonah.
Yang paling menarik perhatian adalah sebuah bingkai paling besar yang menghiasi sebuah potret Jessie dan Jonah. Sebuah foto yang diambil ketika mereka berpacaran saat itu. Hal itu membuat Jonah teringat akan bingkai foto yang ada dirumahnya, bingkai yang membungkus potret dirinya dengan istrinya.
"Wah, kau sangat tertegun," celetuk Robin melihat Jonah begitu serius menatap foto dihadapannya.
"Ku akui ini bagus. Seperti museum, seperti pameran foto atau apalah yang sejenisnya." ucap Robin sambil memperhatikan sekeliling. Ia berjalan menuju sebuah meja yang diatasnya ada figura, ia mengambilnya untuk melihat foto itu lebih dekat.
"Ini parah." desis Jonah.
"Ya, ini memang parah tapi juga bagus dalam waktu bersamaan. Lihat, semua foto ini bagai diambil oleh fotografer profesional." kata Robin.
"Itu karena aku tampan dan keren. Siapapun yang mengambil fotoku pasti hasilnya selalu bagus." Jonah dengan sempatnya menyombongkan diri.
Robin menghela napasnya kesal. "Ya, pulanglah sana. Aku ingin tidur." ia kehilangan mood akibat kenarsisan Jonah.
Pria itu berjalan menuju sebuah pintu yang diyakininya adalah kamar tidur. Benar saja, saat pintu itu dibuka kasur yang besar segera menjadi pusat perhatian. Ralat, bukan kasurnya, melainkan sebuah selimut yang terurai diatasnya.
"Hey, Jonah! kemari, kau harus melihat ini." teriak Robin dari kamar.
Jonah yang masih berada di ruang tengah dengan penasaran segera menghampirinya. "Ada apa?"
"Lihat saja sendiri." Robin mempersilahkan Jonah untuk masuk.
__ADS_1
Jonah menatap heran sebentar ke arah Robin, tapi setelah ia memasuki ruang kamar itu kini ia mengerti.
Ia sedikit bergidik ketika melihat sebuah selimut yang terurai di atas kasur, selimut yang sama seperti selimut pada umumnya, tapi yang membuatnya terlihat ngeri adalah selimut itu di costum dengan foto Jonah.
"Waw, wanita itu sangat niat. Tak hanya dindingnya yang penuh akan fotomu, bahkan selimutnya pun juga bergambar dirimu."
"Ini terlalu parah. Wanita ini psikopat." Jonah benar-benar merinding.
"Dia seperti fans garis keras yang terlalu mencintai idolanya." Robin tertawa kecil.
"Aku tak mengira ternyata dia memang gila." Jonah menggeleng ngeri.
"Iya, dia gila karenamu." sahut Robin.
"Kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan setelah melihat semua ini?" tanya Jonah.
"Kalau aku?" Robin memutar matanya seolah tengah berpikir. "Ya, mungkin jika aku yang mengalaminya aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku ini sangat tampan, jika hal-hal seperti ini terjadi bagiku itu bukan hal mengejutkan."
Robin yang jengah sehabis dilempari bantal memasang wajah kesal. "Kau terlalu berlebihan."
"Apanya yang berlebihan?! dia ini seperti penguntit! aku bahkan tidak sadar ketika dia mengambil foto!"
"Ya, ya, ya! tenanglah. Ia memintaku membereskan ini semua." ujar Robin.
"Apa maksudnya?"
"Jessie memintaku untuk menyingkirkan hal-hal seperti ini dari rumahnya." terang Robin sambil menunjuk selimut bergambar Jonah itu.
"Dia ingin move-on dariku?"
"Kurasa begitu. Ini bagus bukan?" tanya Robin.
__ADS_1
"Oh Tuhan! kau tahu seberapa leganya aku?!! Ayo, cepat bereskan ini semua lalu pergi dari tempat terkutuk ini." Tanpa berlama-lama Jonah segera meraih selimut itu dan membawanya ke ruang tengah.
Ia membentangkan selimut itu dilantai, lalu mengambil semua figura yang membingkai fotonya dan menumpuknya diatas selimut.
"Hey, Robin?! untuk apa hanya diam berdiri disitu?! cepat bantu aku membereskan semua ini." seru Jonah dikala tangannya sibuk menjumputi figura yang ada.
Robin mendengus tapi tetap melakukan apa yang Jonah pinta. Membantu memindahkan figura dan membantu memengangkan kursi saat Jonah berdiri di atas benda itu untuk melepas figura yang tergantung di dinding.
"Oke! akhirnya selesai." seru Jonah sumringah dan mengikat keempat ujung selimut secara silang.
"Kau bawakan yang itu ke mobil." ujar Jonah sambil menunjuk dua bingkai foto yang besar.
Jonah segera mengangkat selimut yang penuh bingkai foto itu. "Ini lumayan berat." gumamnya.
Robin mengikutinya berjalan di belakang sambil membawa figura besar. "Hey, tidakkah kau berpikir orang akan mengira kau baru saja melakukan perampokan?" gurau Robin.
"Aku punya banyak alasan untuk membantah tuduhan itu." sahut Jonah.
Mereka berdua terus berjalan hingga mencapai mobil setelah beberapa kali melewati orang yang menatap curiga mereka. Bahkan, sekuriti penjaga apartemen itu sampai membuat Jonah memperlihatkan isi daripada selimut yang ia bawa agar percaya bahwa ia tidak merampok.
"Sudah ku duga pasti kita akan dikira merampok." tawa Robin setelah mereka berhasil melewati sekuriti.
"Apa yang akan kau lakukan dengan foto-foto ini? apa kau akan membuangnya?" tanya Robin pada Jonah yang kini sudah memasukkan selimut dan figura besar ke dalam mobil.
"Yang benar saja. Biar bagaimanapun, orang di foto itu adalah aku sendiri."
"Lalu akan kau apakan foto sebayak itu?"
"Aku sudah memikirkannya sepanjang jalan menuju ke sini tadi. Sepertinya akan bagus jika ku berikan ini pada Ally." smirk andalannya terlihat.
"Ally? istrimu?" tanya Robin.
__ADS_1
Jonah mengangguk mantab.