Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Tidak Mau ke Rumah Sakit!


__ADS_3

Jonah membantu Ally masuk kedalam mobil. Gadis itu beberapa kali meringis, hal itu membuat Jonah panik.


"Ally, apa sakit sekali?" tanyanya. Gadis yang ditanya hanya menutup mata sembari merintih. "Baiklah, kita akan ke rumah sakit." ucap Jonah.


"Jangan!" pekik Ally cepat. "Tidak perlu, tidak usah ke rumah sakit."


"Kita harus ke rumah sakit. Lukamu harus di jahit." ujar Jonah.


"Jonah, ini bukan luka serius. Ini hanya luka kecil."


"Aku tidak peduli, kita har—"


"Jika kau membawaku ke rumah sakit maka aku akan mogok makan." ancam Ally segera.


"Ally, jangan menyusahkan dirimu sendiri, tolong menurut saja!"


"AKU TIDAK INGIN KE RUMAH SAKIT, AKU TIDAK INGIN BERTEMU DOKTER, AKU BENCI TEMPAT ITU!" Ally meneriaki Jonah nyaring.


Jonah menghela napasnya. Ia mengalah. "Baiklah, kita tidak jadi ke rumah sakit. Kita obati lukamu dirumah saja."


***


Sesampainya dirumah, Jonah segera menarik tangan Ally, menuntun gadis itu menuju kamar, lalu mendudukkannya di atas ranjang.


Jonah berlutut dihadapan Ally yang duduk ditepi ranjang. "Buka kakimu."


"Hah?!" Ally refleks merapatkan pahanya.


"Ck, aku harus melihat lukamu." Jonah membuka dengan paksa lutut Ally yang saling menempel itu. Dengan cepat pria itu juga menyibak rok gaun Ally keatas.


"Ya! Jonah, kau—"


"Kau benar, lukanya tidak terlalu terbuka. Bukan luka yang cukup serius." ucapnya sembari memperhatikan luka di pangkal paha Ally. "Tunggu di sini."


Jonah berlalu keluar, ia menuju mobilnya untuk mengambil kotak P3K, setelahnya kembali ke kamar.


"Ini cukup dibersihkan dan diperban saja." tutur Jonah.


"A-aku bisa melakukannya sendiri." Ally merebut kotak P3K dari tangan Jonah.

__ADS_1


Jonah merebut kotak itu kembali. "Sudahlah biar aku saja. Kau tidak akan becus," cela Jonah. "Buka kakimu." serunya lagi.


"Biar aku saja ya—"


"Buka kakimu!" bentak Jonah.


Ally terkesiap. Dengan rasa ragu dan malu yang bercampur, perlahan ia membuka lututnya sembari menoleh ke arah lain.


Jonah membersihkan lukanya dari sisa darah menggunakan kapas, ia lalu meneteskan obat merah pada luka itu.


"Akh! pelan sedikit." rintih Ally. Ekspresi wajahnya menahan nyeri.


Jonah mengambil perban didalam kotak P3K itu lalu membalutkannya pada paha Ally. Sejenak ia mendongakkan kepala untuk melihat wajah gadis itu, ketika mata mereka bertemu, Ally refleks membuang wajahnya. Jonah terkekeh pelan, ia tahu gadis itu malu. Dengan sengaja ia menyentuhkan tangannya pada area sensitif Ally. Refleksnya bagai tersengat aliran listrik kecil, Jonah tertawa akibat itu reaksi gadis itu. Ally membuang muka seakan tak merasa apa-apa, padahal Jonah sangat tahu bahwa gadis itu merespon sentuhannya.


"Apa nya yang lucu?!" sengit Ally saat Jonah tiba-tiba tertawa.


"Ah, tidak ada. Aku hanya sedikit teringat kejadianmu saat berkelahi tadi." sahut Jonah tepat saat ia selesai membalut perban.


Ally mendengus jengah. "Siapa wanita itu tadi? kau punya kenalan orang gila rupanya."


"Ah, dia itu mantanku." tutur Jonah.


"Yah, namanya juga mantan." Jonah ikut duduk disamping Ally.


"Dia hampir merusak milikku yang paling berharga." desis Ally menatap selangkangannya.


Jonah tertawa kecil. "Aku juga sama paniknya. Masalahnya, hartamu itu hartaku juga." seringainya.


Ally menghela napasnya jengah, merebahkan tubuhnya ke atas kasur. "Huftt... beraninya wanita itu menggores tubuhku." gumamnya.


"Jessie memang mantanku yang paling bermasalah. Biasanya ketika ia mempergokiku dengan wanita lain ia juga akan mengamuk. Tapi kali ini sangat keterlaluan, mungkin karena statusmu yang berbeda." ujar Jonah.


"Wanita itu sangat mengerikan." titah Ally memejamkan matamya.


"Kurasa tidak akan seburuk itu jika kau tidak melawannya." Jonah berasumsi.


"Yang benar saja?! mana bisa aku diam saja saat seseorang merendahkanku seperti tadi!"


"Ya, maksudku... seharusnya kau bersabar saja. Jessie memang menyebalkan tapi biasanya setelah menampar ia akan pergi. Tapi kau membalasnya, dan terjadilah pertengkaran."

__ADS_1


"Oh, kau membela mantanmu yang botak itu rupanya." kekeh Ally.


"Aku tidak membela, hanya memberitahu. Ah, dan juga dia sebenarnya tidak botak, rambut aslinya tertutup oleh wig cap." tutur Jonah.


Pria itu ikut merebahkan diri ke kasur disamping Ally. Sementara Ally masih sempat memikirkan perihal wanita bernama Jessie


"Tapi... wanita itu luar biasa cantik." gumam Ally pelan, matanya menerawang menatap langit-langit kamar.


Jonah yang mendengarnya tertawa halus. "Kau jauh lebih cantik."


Ally menolehkan kepalanya menatap Jonah di samping kirinya. "Ya, tidak usah menyindirku."


"Aku serius. Bagiku kau lebih cantik." tegas Jonah.


"Ah, menggelikan sekali," Ally tertawa hambar dipuji cantik oleh Jonah. "Ah, tapi dia benar-benar cantik. Hidungnya sangat indah juga rahangnya sempurna," Ally kembali mencoba mengingat sosok Jessie. "Sayang sekali wanita secantik itu tapi tak punya akal sehat." tambahnya.


Jonah terkikik mendengarnya. "Ya, itu baru satu. Tunggu sampai kau melihat mantanku yang lain."


"Wah, jadi yang lainnya juga sakit jiwa seperti wanita tadi?"


"Ah, bukan. Maksudku tunggulah sampai kau melihat kecantikan mantanku yang lain." ralat Jonah dengan senyum bangganya


"Cih, mulai lagi sombongnya," decih Ally. "Asal kau tahu, mantan-mantanku juga sangat tampan, kau tidak ada apa-apanya dibanding visual mereka." sindir Ally.


"Kau punya mantan?"


"Tentu saja aku punya! Aku bahkan punya banyak!" sengit Ally.


"Berapa?"


"Aku—ah... rahasia!"


Jonah tertawa seketika. "Ya, jujur saja bahwa kau tak punya mantan. Siapa yang ingin berpacaran dengan gadis pengamuk sepertimu."


"Hey! sudah kubilang aku punya! Dia bahkan sangat jauh lebih tampan dan jauh lebih romantis darimu!" sengit Ally.


"Tapi aku lebih kaya darinya. Aku yakin." sela Jonah cepat.


Ally tercekat. "Ya Tuhan, penyakit sombongmu sudah terlalu parah!"

__ADS_1


__ADS_2