
Mata Rey berkaca-kata manakala Mala menghindarinya, dan untuk pertama kalinya Rey merasakan perasaan aneh dihatinya, Rey merasa sesak saat menatap mata Mala yang tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Rey artikan.
"Mala, kenapa menghindariku, kau tidak ingin berteman denganku lagi?" Ucap Rey sedih, dia menggeser tubuhnya dan berusaha mendekati Mala.
"Siapa kamu?" Tanya Mala membuat Rey menghentikkan niatnya untuk meraih tangan Mala.
"A..aku Rey, ada apa denganmu Mala, kenapa kamu tidak mengenaliku?"
"Rey yang kukenal tidak seperti ini." Ucap Mala seraya menunjuk tubuh Rey. Rey mengamati tubuhnya, dia tercekat saat menyadari penampilannya yang seperti seorang wanita, Rey menatap Mala sendu, air mata yang tak pernah ia titikkan akhirnya untuk pertama kalinya lolos dari pelupuk matanya. "Mala aku.." Ucap Rey ragu.
"Permainan apa yang sedang kalian lakukan padaku?" Mala menatap nanar Rey dan Rafli secara bergantian.
"Aku akan menjelaskannya, tapi tenangkan dirimu dulu." Balas Rafli dengan suara datar, namun wajah pucatnya menunjukkan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
Rafli keluar dari ruangan itu, Mala melirik Rey sekilas, Mala meninggalkan pemuda bergaun polkadot yang masih terduduk dilantai itu dan menyusul Rafli keluar dari ruang pribadi miss Kimberly. Diruang tamu yang begitu luas Rafli tengah duduk diatas sofa, ia melipat salah satu kakinya dan dia letakkan diatas kaki lainnya sehingga membuatnya terlihat begitu angkuh. "Duduklah." Perintah Rafli ketika menyadari Mala sudah berada dibelakangnya.
Mala menggangguk lalu dia duduk diatas sofa yang ditunjuk oleh Rafli. "Apa yang ingin kau ketahui?" Ucap Rafli seraya menatap Mala.
Lama Mala diam, dia sedang memikirkan pertanyaan mana yang akan dia ucapkan terlebih dahulu, karena dikepalanya ada begitu banyak pertanyaan. "Siapa sebenarnya mereka?" Tanya Mala gugup.
"Siapa yang kau maksud, miss Kimberly atau Rey?" Jawab Rafli datar.
"Mereka berdua?"Terang Mala.
Saat Rafli akan menjelaskan kepada Mala, Rey keluar dari ruangan lain, dia sudah berganti pakaian, Mala menoleh kearah Rey, gadis cantik itu menatap tajam kerah Rey. "Inilah Rey yang aku kenal." Batin Mala.
"Kau juga duduklah." Perintah Rafli seraya menunjuk Rey dengan dagunya.
Rafli menatap Mala dan Rey bergantian lalu pemuda berwajah dingin itu menghembuskan nafasnya pelan. "Kau ingin tau siapa mereka?" Ucap Rafli dan hanya diangguki oleh Mala. "Mereka adalah Tuan Arthur." Jawab Rafli tenang.
"Raf."Sela Rey, dia berusaha menghentikan Rafli untuk mengungkap identitasnya.
"Apa maksud anda."
"Mereka adalah kepribadian lain Tuan Arthur, mereka tidaklah nyata." Jelas Rafli sembari menatap tajam kearah Rey.
"Tapi bukankah Rey itu kembaran Tuan Arthur, bagaimana bisa...." Mala tak mampu melanjutkan kalimatnya.
Rafli membuang nafasnya dengan kasar. "Tidak ada kembaran disini, mereka adalah orang yang sama namun dengan kepribadian yang berbeda, Tuan Arthur sengaja mengatakan kalau Rey adalah kembarannya, semanta-mata hanya untuk merahasiakan penyakitnya."
__ADS_1
"Penyakit? benarkah itu Rey, jadi selama ini kau membohongiku?" Mala mentap Rey tajam, gadis itu menuntut penjelasan.
Sementara pemuda yang ditatap Mala hanya terdiam, cekungan diwajah tampannya kini tak nampak lagi membuat Mala sudah tak bisa membedakan apakah dia Rey atau Arthur.
"Tuan Arthur mengidap sebuah penyakit dimana dia memiliki lima kepribadian lain didalam tubuhnya, mereka saling berbagi tubuh namun tidak dengan memori, dua diantaranya sudah kamu jumpai, Rey dan miss Kimberly."
"Jadi Rey itu tidak ada, dia tidak nyata?" Ucap Mala yang membuat Rey terkejut, ditatapnya wajah gadis yang telah dianggap teman olehnya, dia tidak menyangka Mala akan menyebutnya tidak nyata.
"Bisa dibilang begitu." Jawab Rafli seraya menatap Rey.
"Aku nyata, buktinya aku ada didepan kalian sekarang." Seru Rey yang tak terima dianggap tak nyata.
"Yang berada didepanku sekarang adalah tubuh Tuan Arthur, kamu hanyalah jiwa yang tak memiliki raga dan sama artinya bahwa kamu tidak nyata." Cetus Rafli.
"Kalian tidak sedang membodohiku kan?" Mala masih belum mencerna penjelasan Rey, dia hanyalah orang awam yang tak mengerti menganai sebuah penyakit.
"Untuk apa aku berbohong."
Mala bersusah payah menelan salivanya, gadis itu kini merasa telah tertipu, orang yang beberapa hari ini begitu baik padanya tidak lebih dari seseorang yang tidak jelas identitasnya. Mala berdiri, dia menatap sendu kearah Rey yang masih menunduk. "Siapapun kamu, terimakasih karena telah menghiburku disaat aku sedih, namun kedepannya jangan pernah muncul dihadapanku lagi, aku tidak berminat berteman dengan seorang penipu." Ucap Mala tegas. Mala mengayunkan kedua kakinya meninggalkan ruangan itu, namun langkahnya terhenti saat Rafli mencegahnya untuk keluar dari apartemen itu.
"Tunggu, duduklah lagi, masih ada yang harus kita bahas, ini mengenai pekerjaanmu." Rafli kembali menunjuk sofa yang tadi diduduki Mala.
Rafli mengeluarkan selembar kertas kosong dari dalam tas kerjanya, dia menuliskan kalimat yang begitu panjang, setelahnya dia mengeluarkan materai dan menempelkannya diatas kertas yang kini sudah terisi oleh tulisan tangan Rafli.
"Tanda tangani ini." Rafli menyerahkan kertas itu kepada Mala.
"Apa ini?" Tanya Mala sembari memandangi secarik kertas yang berada ditangannya.
"Surat perjanjian rahasia. Aku tidak ingin rahasia ini terungkap, kau boleh menuliskan apapun yang kau inginkan, anggap saja sebagai imbalan karena kamu telah marahasiakan masalah ini, tapi jika kamu berani mengungkapkan rahasia ini, maka bersiaplah untuk mendekam dipenjara selamanya." Ucap Rafli diiringi dengan sebuah ancaman.
"Tak perlu anda ancampun saya akan merahasiakan masalah ini, meskipun saya miskin, tapi saya masih memiliki etika untuk tidak menyebarkan aib orang lain." Jelas Mala sembari menandatangani surat perjanjian itu tanpa membacanya lagi.
Mala menyerahkan surat itu kepada Rafli, asisten Arthur itu tersenyum smrik saat memandangi surat yang sudah ditandatangani oleh Mala.
"Kalau tidak ada yang dibahas lagi, saya permisi." Mala berdiri dan segera meninggalkan ruangan itu tanpa melihat Rey sedikitpun, gadis itu masih jengkel karena merasa ditipu oleh Rey.
****
Hampir tengah malam ketika Mala sampai dirumah pamannya, dia bahkan harus melewatkan pekerjaannya gara-gara masalah Arthur.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu." Sambut bi Ningsing dengan sinis. Kedatangan Mala rupanya sudah ditunggu oleh bibi dan kedua sepupunya.
"Bekerja."Jawab Mala singkat.
Rani mengamati penampilan Mala yang berbeda. Saking jengkelnya, Mala sampai lupa mengganti pakaiannya tadi.
"Lihat penampilannya bu, dia pasti habis menghabiskan uang warisannya untuk mempercantik diri." Ujar Rani sambil menatap iri kepada Mala.
"Dasar anak tidak tau diri, bisa-bisanya kamu bersenang-senang sendiri." Maki bi Ningsih seraya menarik rambut Mala yang terurai.
"Sakit bi."Pekik Mala, dia mencoba melepaskan tangan bi Ningsih dari rambutnya. "Mala bahkam belum menemui pengacara itu bi." Ucap Mala jujur.
"Bohong bu, lalu dari mana dia mendapatkan uang untuk membeli baju mahal ini." Celetuk Rani yang semakin memanaskan keadaan.
"Mungkin dia jual diri, hahah." Ucap Sofyan dengan tatapan penuh hina.
"Aku tidak bohong, ini baju milik atasanku, beliau menyuruhku untuk menemani belanja dan meminjamiku baju ini. Kalian tidak perlu khawatir mengenai warisan, karena aku akan membaginya dengan kalian."
Mendengar kata warisan, mata ketiganya berbinar, perlahan bi Ningsing melepaskan tangannya dari rambut Mala.
"Kenapa tidak bilang dari tadi. sudah sana masuk kekamarmu." Ucap bi Ningsing dengan wajah bahagia.
Tanpa berucap apapun Mala segera meninggalkan ketiga orang itu. Sesampainya dikamar, gadia itu segera membuka laptopnya dan mencari tau mengenai penyakit yang disebutkan oleh Rafli.
Mala menutup mulutnya saat membaca artikel mengenai penyakit yang diderita Arthur, dia tidak menyangka dibalik wajah sombongnya tersimpan penderitaan yang begitu dalam dan kini Mala mulai menyimpan simpati untuk Arthur, atasannya yang bermulut tajam.
BERSAMBUNG..
Hy apa kabar, semoga kalian semua sehat ya.
gimana ceritaku, ngebosenin ya.. Maaf ya karena aku masih belajar menulis, tinggalakn kritik dan saran kalian agar aku bisa memperbaiki tulisanku..
jangan lupa like, komen, favori agar aku semakin semangat menulisnya..
**NOTE..
Kepribadian ganda atau gangguan identitas disosiatif adalah suatu kondisi ketika seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda antara satu dengan lainnya. Pengidap gangguan ini mengalami kepribadian yang berubah-ubah, tetapi hal ini tidak disadarinya. Gangguan ini ditandai dengan gangguan memori, kesadaran, atau kepribadian, yang umumnya dipicu oleh stres atau kejadian traumatis yang dialami orang tersebut pada masa kecilnya. Bentuk trauma ini dapat berupa kekerasan fisik atau emosional yang terjadi secara berulang-ulang.
sumber. halodoc.com**
__ADS_1