
Setelah makan malam, Rey mengajak Mala jalan-jalan dengan motor matic kepunyaannya. Mala yang masih bergelut dengan hati dan fikirannyapun menurut ketika Rey mengajaknya pergi, memang benar akal sehatnya memberi tahukan untuk tidak tertarik pada Rey, namun nyatanya tidak dengan hatinya, perasaanya tak bisa dibohongi, dia merasa senang pergi bersama Rey, rasa nyaman yang tak pernah ia rasakan saat sedang bersama Arthur nyatanya Mala rasakan setiap kali bersama Rey. Ya meskipun kini Arthur mulai bersikap lembut padanya, namun Mala tetap merasa segan kepada Arthur, entahlah ditubuh yang sama itu Mala merasakan dua perasaan yang berbeda, nyaman dan segan.
Rey mengemudikan motor meticnya, sementara Mala membonceng dibelakangnya. Mala merasa senang namun juga canggung, setelah ciuman itu, Rey tak membahas apapun lagi seolah Rey tak mengingat kejadian itu, kejadian yang membuat Mala merona saat mengingatnya.
Ditengah rasa canggungnya tiba-tiba Rey berhenti, dia tak berkata apapun, namun tangannya segera meraih kedua tangan Mala dan melingkarkannya dipinggang, Mala hendak melepaskan tangannya, namun Rey menahannya segera. "Nanti jatuh, pegangan yang erat." Ucap Rey, lalu dia kembali melajukan sepeda motornya.
Mala mengulum senyum, tak bisa dipungkiri dia sangat bahagia mendapat perlakuan manis dari Rey. "Maafkan saya Tuan Arthur." Batin Mala, dia merasa bersalah dengan Arthur namun Mala tak ingin melewatkan momennya bersama Rey.
Rey menghentikan motornya dibahu jalan, mereka kini berada diatas jembatan layang sehingga mereka bisa melihat pemandangan ibu kota pada malam hari. Disepanjang jembatan layang itu ada banyak sekali penjual kopi keliling yang sedang menjajakan dangangan mereka, Mala masih belum mengerti kenapa Rey membawanya ketempat seperti ini.
Rey turun dari motor, begitupun dengan Mala, mereka berjalan ke arah pembatas jalan, Mala masih bungkam, dia mengamati Rey yang terlihat sedang menikmati pemandangan malam ini.
"La, kau tau aku sangat menyukai malam." Ucap Rey seraya menatap langit malam yang tak berbintang. Sekarang sangat sulit menemukan bintang dilangit jakarta pada malam hari.
"Apa alasannya?" Jawab Mala penasaran.
"Karena saat aku muncul untuk pertama kalinya, hanya ada langit malam yang menemaniku, aku menganggap malam itu adalah malam kelahiranku, malam dimana aku mulai hidup ditubuh orang lain."
"La."Panggilnya lagi.
"Ya."
"Apa aku juga boleh menyukaimu? Seperti malam yang selalu menemaniku, aku ingin kamu selalu berada disisiku, menemaniku, dan menjadi bagian dari hidupku."
Deg, Mala tertegun, dia tak bisa berkata apapun, tenggorokannya seakan tercekik, seandainya Rey nyata mungkin Mala akan segera memeluk Rey dan mengungkapkan perasaannya juga, namun kini Mala dilema, dia senang sekaligus gusar, bagaimana mungkin Mala menyukai Rey yang hidup ditubuh Arthur.
__ADS_1
"La, kenapa hanya diam." Tanya Rey lagi, kini mereka sudah saling berhadapan.
"Aku...." Mala menggantung kalimatnya, dia bingung, tidak tau harus menjawab apa.
"Apa karena aku tidak nyata? Lihatlah, aku berada didepanmu sekarang." Rey menjeda kalimatnya, dia meraih tangan Mala dan menempelkannya didada. "Kamu juga bisa menyentuhku kan, kamu juga bisa merasakan detak jantungku, aku nyata begitupun perasaanku padamu La." Ungkap Rey dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi aku.." Mala kembali ragu untuk berbicara, gadis itu menunduk, dia tidak berani menatap Rey yang kini tengah menatapnya.
"Apa karena Arthur, apa kamu menyukainya?"
"Tidak." Sangkal Mala dengan cepat.
"Lalu, apa kamu takut padanya?"
Mala hanya mengangguk..
"Arthur tidak perlu tau tentang kita, kita cukup menyimpannya berdua. Aku sangat menyukaimu La dan aku harap kamu memiliki perasaan yang sama denganku."
Mala melemah, pertahanannya mulai goyah ketika dia menatap mata Rey, mata itu seperti membiusnya, menghilangkan semua keraguan dan ketakutan yang ada dalam fikirannya, perlahan Mala mengangguk membuat Rey tersenyum karena perasaannya terbalas, Rey tak menyiakan waktunya, dia menarik pinggang Mala dan membawanya kedalam pelukannya. Begitupun dengan Mala, akal sehatnya dilemahkan oleh sebuah perasaan bernama cinta, dia tidak memikirkan lagi siapa Rey, dia tak peduli lagi dengan Arthur, baginya yang kini tengah memeluknya adalah pria yang dicintainya, pria yang selalu ada saat susahnya dan pria yang membuatnya nyaman. Mala membalas pelukan Rey, dia membenamkan wajahnya didada bidang Rey.
Malam ini dibawah gelapnya langit malam, dua pasang anak manusia tengah mengungkapkan perasaan mereka, sebuah perasaan yang harusnya tak hadir diantara mereka, namun nyatanya perasaan cinta mulai tumbuh dan mulai berkembang dihati mereka meskipun dengan sekuat tenaga mereka telah menahannya.
Lama mereka saling memeluk, melepaskan hasrat yang selama ini tertahankan. Rey mulai melepas pelukannya, dia memegang kedua bahu Mala dan menatapnya penuh kasih. "Terimakasih karena telah menerima apa adanya diriku, aku menyayangimu Mala." Ucap Rey lembut lalu dia mengecup kening Mala.
"Kamu mau mecoba itu." Ucap Rey seraya menunjuk pedangang kopi keliling.
__ADS_1
Mala hanya mengangguk, wajahnya tengah merona sehingga dia menunduk malu, Rey terkekeh melihat Mala yang membuatnya gemas, dia mengusap rambut Mala dengan lembut. "Tunggu sebentar." Imbuhnya lagi lalu dia pergi untuk membelikan Mala kopi.
Sementara itu Mala kembali melihat sekeliling, dia menatap kebawah jembatan layang, dia terkejut saat kereta listrik tiba-tiba lewat dibawahnya, dia baru tau jika ada rel kereta listrik dibawah sana.
"Lihat apa?" Seru Rey, gadis yang ditanyapun menoleh, dia tersenyum kearah Rey yang sedang membawa dua gelas plastik berisikan kopi panas.
"Kereta." Jawab Mala seraya meraih salah satu gelas palstik dari tangan Rey.
Mala kembali melihat kebawah, mengamati rangkaian kereta yang sedang berhenti dibawah jembatan layang. "Kenapa keretanya berhenti?" Tanya Mala.
"Didepan sana ada stasiun, mungkin keretanya sedang antri untuk masuk stasiun." Jelas Rey dan hanya dijawab anggukan oleh gadis yang berdiri disebelahnya.
Mala meniup kopi miliknya dan perlahan dia mulai menyesapnya dengan hati-hati, Rey mengamati Mala dan dia merasa bersalah kepada gadisnya. "Maafin aku ya, dihari pertama kita, aku hanya membelikanmu kopi murah ini." Sesal Rey.
"Tidak masalah, aku terbiasa membeli kopi dan makanan dipinggir jalan." Ucap Mala dengan senyum diwajahnya. Semilir angin malam membuat mereka menikmati kopi murah mereka, kopi yang tidak akan pernah Mala nikmati bersama Arthur.
Malam semakin larut, Rey mengajak Mala untuk pulang, sepajang perjalanan tangan Mala tak pernah lepas dari pinggang Rey, sesekali tangan Rey mengelus punggung tangan Mala dan membuat Mala merasakan kehangatan tangan Rey.
Tengah malam mereka sampai dibasement, setelah memarkirkan motornya mereka berjalan menuju lift, Rey meraih tangan Mala dan menggenggamnya, tangan mereka tak lepas hingga mereka sampai didalam apartemen. "Tidurlah, sampai jumpa besok malam." Ucap Rey setelah mereka berada didepan pintu kamar Mala.
"Hem, kamu juga tidurlah, aku akan menunggumu saat malam tiba."
Rey tersenyum mendengar kalimat Mala yang akan menunggunya. Namun malam ini dia harus mengakhiri kebersamaan mereka, dengan tidak rela Rey akhirnya melepas tangan Mala dan membiarkan gadisnya untuk masuk kedalam kamarnya.
"Rey." Panggil Mala, gadis itu urung untuk masuk kedalam kamar. Mala kembali mendekat ke arah Rey, tiba-tiba dia berjinjit dan mengecup bibir Rey dengan lembut. Rey terpaku, dia terkejut ketika Mala menciumnya. Mala melepaskan bibirnya, namun tangan Rey menahan pinggangnya. Mala menatap Rey yang juga tengah menatapnya dan saat itu juga Rey membalas kecupan Mala dengan sebuah ciuman. Rey mengangkat tubuh Mala disela ciuman mereka yang semakin dalam, Rey membawa Mala masuk kedalam kamar Mala, bibir mereka masih saling bertautan, mereka saling mengecap sehingga menciptakan sebuah suara khas orang yang tengah berciuman.
__ADS_1
Lalu apa yang terjadi setelahnya, emm entahlah Authornya juga tidak tau, kalian tebak aja sendiri apa yang terjadi didalam kamar, maklum Author masih polos..🤣🤣🤣
BERSAMBUNG...