
"Maafin aku, aku sangat menyesal, aku mohon kembalilah, aku sangat merindukanmu."
Jade hanya kebingungan mendapati gadis yang pernah menolongnya kini tengah memeluknya dengan erat seraya menangis, ia lalu berinisiatif untuk menepuk punggung Mala dengan lembut.
Mala mengurai pelukannya, ia menatap pria yang tengah menatapnya dengan wajah bingung. Mala hendak menghapus air matanya, namun Jade lebih dulu menyekanya dengan ujung jarinya. Melihat air mata berlinang di wajah Mala membuat Jade merasakan sesak di dadanya, entah mengapa, namun ia tak menyukai tangisan Mala.
Lagi dan lagi, Jade merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya, detik berikutnya matanya yang di penuhi rasa putus asa berganti dengan tatapan sendu dan hangat, tatapan yang hanya di miliki oleh satu kepribadian yaitu Rey.
Rey, entah takdir rumit seperti apa yang meliputinya, sejak pertama kali bertemu Mala, gadis itu seolah mengundangnya dengan air mata, setiap kali Mala menangis maka setiap itu juga Rey akan muncul dan menghiburnya. Hal tersebut terulang setiap saat, bahkan sampai detik ini, saat ia sudah tak ada harapan lagi tentang Mala dan hidupnya, saat ia sudah merelakan jiwanya, namun isak tangis Mala kembali menggugahnya dan menuntunnya untuk melihat gadis itu, mengahapus air matanya dan memberinya kebahagiaan.
Dari sini mungkin dapat di simpulkan, jika Rey terbentuk atas janji Arthur terhadap Mala 15 tahun silam, janjinya untuk selalu menjaga Mala dan membahagiakannya.
Rey menyeka sisa air mata yang tersisa di sudut mata gadis terkasihnya. Ia mencoba tersenyum hingga menampakkan kedua lesung pipinya. "Jangan menangis." Ucapnya lembut, jemarinya masih tertinggal di pipi Mala.
Mala yang salah menyangka dengan cepat memeluk tubuh Rey, ia benar-benar tak bisa membedakan lagi antara Rey dan Arthur, tatapan hangat yang dulu hanya di miliki Rey kini juga di miliki Arthur, lesung pipi yang dahulu hanya di nampakkan Rey kini Arthur juga memilikinya..Sungguh ironi, namun inilah fakta menyakitkan yang harus di terima Rey, ia harus menerima takdirnya yang pahit, satu-satunya penyemangatnya untuk bertahan kini bahkan tak lagi mengenalinya.
"Aku sangat merindukanmu, maafin aku karena meragukanmu, maafin aku karena tak mempercayaimu." Ucap Mala, ia masih membenamkan wajahnya di dada Rey.
Rey mencoba untuk tersenyum, ia membalas pelukan Mala, namun saat ia hendak mengelus punggung Mala, tangannya terasa kaku, ia tak bisa menggerakkan tangannya sama sekali.
Rey melirik Rafli dan Dokter Sheila yang juga tengah menyaksikan tangannya yang tak bergerak, ketiga orang itu saling melempar pandang, mempertanyakan apa yang terjadi lewat tatapan mata.
Mala melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Rey yang ia kira kekasihnya, ia menyentuh wajah Rey dengan lembut lalu ia beralih menatap Rafli dan juga Dokter Sheila.
"Tuan Bagaskara pelakunya, ia berencana membunuh nyonya Lidya, aku menemukan pelayan yang menjadi kaki tangannya." Seru Mala seraya mengeluarkan ponselnya. Ia lalu memutar rekaman yang diam-diam ia rekam saat pak Darman mengakui semua perbuatannya.
Dekter Sheila nampak begitu terkejut, namun tidak dengan Rafli, pria itu seolah telah mengetahui jika tuan Bagaskaralah dalang di balik semuanya. Rafli lalu meraih ponsel Mala dan mengirim bukti rekaman itu ke dalam ponselnya, ia harus membuat beberapa salinan, kelicikan tuan Bagaskara membuatnya lebih berhati-hati.
"Sayang, kenapa kamu hanya diam? Mala menoleh ke arah Rey yang sedari tadi hanya diam.
__ADS_1
"Aku,, aku sedikit lelah, bisakah kita pulang sekarang."Kilah Rey, sebenarnya ia sedang kesulitan menggerakan tubuhnya.
"Baiklah, mari kita pulang, tapi sebelumnya bisakah kita mampir ke rumah utama, mama Wulan pasti sangat mengkhawatrikanmu."
Rey mengangguk pelan, ia tak mungkin menolak sementara Mala masih menganggapnya Arthur, dengan sekuat tenaga Rey memaksakan langkahnya yang terasa begitu berat.
Mereka kekuar dari ruangan itu dan turun ke lantai dasar untuk menunggu taxi online yang Mala pesan. Selepas kepergian mereka berdua, Dokter Sheila baru menyadari jika yang bersama Mala adalah Rey, sebelum pergi sekilas ia melihat mata Arthur yang begitu sendu, sebagai dokter pribadinya tentu saja Dokter Sheila mengenal tatapan itu.
"Astaga, itu bukan Arthur, itu Rey." Pekiknya, ia berniat menyusul Mala namun Rafli menahan tangannya.
"Biarkan saja, beri Rey waktu untuk bersama Mala." Ucap Rafli yang ternyata menyadari kehadiran Rey di dalam tubuh Arthur. Akhirnya kedua manusia itu memberikan Rey dan Mala pergi.
***
Mala dan Rey sudah berada di dalam taxi online menuju kediaman keluarga Bagaskara, di dalam mobil Rey lebih banyak diam, ia menikmati waktu saat Mala menggenggam tangannya dengan erat, entah mengapa Rey merasa jika hari ini adalah waktu terakhirnya bersama Mala.
Mama Wulan segera memeluk Mala, ia tak kuasa menahan tangisnya, tanpa mereka sadari tuan Bagaskara turut bergabung bersama mereka.
"Mala, maafkan kesalahan Arthur sayang, mama yakin Arthur tak sengaja melakukannya." Ujar mama Wulan di tengah isak tangisnya.
Mala mengurai pelukan mama Wulan, ia memegangi kedua tangan Wulan dengan erat. "Tidak ma, bukan Arthur yang melakukannya, Arthur hanya di jadikan alat oleh seseorang." Jawab Mala, sekilas ia melirik tuan Bagaskara yang berada di belakang tuan Raymon.
"Apa Mala yakin?" Jawab mama Wulan meragu, pasalnya ia telah melihat rekaman tersebut.
"Mala yakin ma." Mala lantas mengeluarkan ponselnya, ia kembali memutar rekaman suara pak Darman. Tuan Raymon dan mama Wulan begitu terkejut, keduanya kini menatap sang romo yang membisu di atas kursi rodanya..Tuan Bagaskara kembali merutuki kebodohannya, seharusnya ia juga menyingkirkan pak Darman saat Marsel menemukannya, ia terlalu lengah saat itu, kini ia harus menelan pil pahit atas perbuatannya sendiri.
"Romo, benarkah demikian?" Tanya tuan Raymon seraya menatap nanar ke arah ayahnya.
Tuan Bagaskara masih membisu, tangannya bergetar namun ia berhasil menyembunyikannya, rahasia besar yang di simpannya dengan rapi sejak puluhan tahun silam kini harus terbongkar.
__ADS_1
"Jawab romo!" Teriak tuan Bagaskara..Pria paruh baya itu tak kuasa menahan amarahnya. Bagaimana tidak, ayah yang selalu ia hormati dan begitu ia percaya, nyatanya adalah penyebab putranya menderita.
"Romo, kami sungguh kecewa terhadap romo, bagaimana bisa romo setega itu. Tiga nyawa romo, tiga nyawa melayang karena ulah romo dan jahatnya romo menjadikan Arthur sebagai perisai atas kesalahan yang romo perbuat." Tuan Raymon mengusap wajahnya dengan kasar, ia hampir hilang kendali, jika saja romonya tidak dalam kondisi sakit parah mungkin tuan Raymon akan memukulnya.
"Romo melakukan itu demi kebaikan Arthur." Kilah tuan Bagaskara, egonya terlalu besar hanya untuk mengakui kesalahannya.
"Kebaikan Arthur. Cih, lihatlah romo, gara-gara romo Arthur bahkan menyerah akan tubuhnya sendiri. Romolah yang membuat Arthur menderita."
"Cukup Raymon, romo menyingkirkan Lidya juga untuk kebaikanmu, jika dia tidak lenyap maka semua yang kau nikmati sekarang tak lepas dari bayang-bayang wanita gila itu. Jika romo tidak menyingkirkannya, maka selamanya Arthur akan hidup sebagai seorang perempuan."
"Cukup!!!! Semua ini adalah kesalahan kalian. Teganya kalian menumbalkan Arthur hanya demi sebuah kemewahan." Lerai mama Wulan, wanita cantik itu akhirnya meluapkan amarahnya.
"Jangan munafik Wulan, kau juga menikmati kemewahan yang Raymon punya." Cerca tuan Bagaskara, ia menatap hina menantunya.
"Seandainya aku tau jika semua kemewahan ini kaliam dapatkan dengan cara kotor, aku tidak akan sudi menikmati kemewahan ini, lebih baik aku hidup sederhana bersama anak-anakku."
Mala membuang nafas kasar, ia memijat pelipisnya mendengar pertengkaran yang tak berujung itu. "Tuan Bagaskara, bukankah anda berhutang maaf kepada saya?" Seru Mala menyela perdebatan mereka.
Tuan Bagaskara tertawa mendengar perkataan Mala. "Maaf katamu, haha. Bocah ingusan sepertimu mengharapkan kata maaf dariku, jangan berharap gadis kecil."
"Benarkah, apakah artinya anda lebih memilih membusuk di penjara?"
"Anda lupa, saya memiliki saksi dan juga bukti atas kejahatan anda, baik di masa lalu maupun sekarang." Ancam Mala seraya tersenyum.
"Silahkan saja, uang dan kekuasaanku bisa membeli hukum di negara ini." Balas taun Bagaskara dengan angkuhnya.
Mala terkekeh membuat tuan Bagaskara mengeryitkan dahinya. "Tuan, sekarang bukan era anda lagi, kalaupun polisi tidak bisa menghukum anda, maka saya akan membiarkan masyarakat yang menghukum anda. Saya hanya perlu mengunggah rekaman ini ke sosial media, di tambah saksi kunci yang saya miliki maka anda akan hancur dalam sekejap mata tuan. Pendiri Bagaskara Group adalah seorang pembunuh. Duarr, pasti beritanya akan sangat meledak, hahaa."
Semua orang menatap Mala, mereka melihat sisi yang berbeda dari gadis itu, mungkin benar apa yang di katakan orang, rasa sakit bisa menjadi kekuatan terbesar bagi seseorag yang merasakannya.
__ADS_1