My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 143 Berita suka dan duka


__ADS_3

Sesuai permintaan pak Karto, Rafli segera pergi menjemput Arthur di apartemennya, namun sayangnya yang berada di sana adalah pakde Karto, jadi dengan terpaksa Rafli membawa pakde Karto ke tempat ibunya. Mala juga ikut bersama dengan mama Wulan, Lea dan tuan Raymon, mereka ingin tau mengapa pak Karto ingin bertemu Arthur.


Pakde Karto masuk ke dalam rumah bu Yati, ia sendiri bingung mengapa Rafli membawanya ke rumah ibunya, sementara itu pak Karto nampak terkejut melihat penampilan pakde Karto yang sangat mirip dengan penampilannya dulu.


(Semoga part ini gak bingung ya,sebutan pakde Karto adalah Arthur, sementara pak Karto adalah pria tua yang sakit jiwa, oke,, jangan bingung ya gays)


"Dia sangat mirip denganku." Ucapnya lemah seraya menunjuk pakde Karto.


"Dia adalah tuan muda Arthur, namun karena suatu hal, tuan muda Arthur harus berpakaian seperti itu." Rafli menujuk pakde Karto yang masih berdiri dengan wajah bingung.


"Kemarilah." Ucap pak Karto.


"Saya." Pakde menunjuk dirinya sendiri dan pak Karto hanya menjawabnya dengan anggukan.


Pakde Karto berjalan mendekati kursi roda pak Karto, ia berdiri dan menundukan kepalanya sehingga bisa melihat wajah pak Karto.


"Aden masih ingat bunga mawar yang saya berikan dulu?"


Pakde Karto hanya menggeleng.


"Aden, maafkan saya karena pernah salah sangka kepada aden, saya ingat sekarang jika bukan aden yang membakar villa itu, tapi den, bapak masih belum mengerti mengapa dulu aden tertawa begitu puas melihat kebakaran itu?" Ucapnya membuat semua orang merinding, bagaimana tidak, seseorang yang telah lebih dari sepuluh tahun mengalami gangguan jiwa kini tiba-tiba otaknya seakan di refresh ulang dan menjadi waras, ia bahkan mengingat peristiwa kelam di masa lalu dan kesalahpahamannya terhadap Arthur.


Pakde Karto menggaruk lehernya, ia bingung harus menjawab apa karena ia tak tau maksud dari pembicaraan pria tua yang duduk di kursi roda tersebut.


Akhirnya Mala berinisiatif untuk berbicara kepada pak Karto. "Kakek, kami semua sudah tau jika bukan Arthur pelakunya, kakek tidak perlu merasa bersalah, kakek harus melupakan masa lalu dan hidup di masa sekarang, kakek tidak boleh terjebak dalam kehidupan dulu, lupakan semuanya kek, berbahagialah bersama anak dan cucu kakek." Ucap Mala dengan lembut.

__ADS_1


"Syukurlah, dengan begitu bapak bisa tenang sekarang. Sus saya ingin istirahat."


Suster Hanum hanya mengangguk, ia lalu mendorong kursi roda pak Karto masuk ke dalam kamarnya, sementara semua orang yang ada di ruangan itu merasa lega karena semua kesalah pahaman di masa lalu telah terpecahkan.


Permasalahannya kini mereka hanya perlu membangunkan Arthur, pria malang itu masih enggan untuk keluar, ia masih menyalahkan dirinya sendiri dan memilih untuk menyerah dengan tubuh dan hidupnya.


"Karena semuanya sudah selesai, aku ingin mengumumkan kabar bahagia untuk kalian." Ujar Lala penuh semangat.


"Oh ya, apa itu?" Mala begitu penasaran.


"Aku hamil."


Mala menganga tak percaya, ia tak menyangka jika sahabatnya akan menjadi seorang ibu. "Kamu yakin?" Tekannya meyakinkan diri.


"Kyaaaa." Mala berteriak histeris melihat hasil tes kehamilan milik Lala, ia segera memeluk sahabatnya dengan erat, sungguh sebuah kebahagiaan yang teramat sangat.


"Selamat sayangku. Apakah artinya aku akan di panggil tante?" Mala lalu membungkuk, ia mengusap perut Lala yang masih belum menonjol sama sekali. "Hay baby, sehat selalu di dalam sana, aunty tak sabar ingin segera melihatmu."


"Ya aunty, dede juga sudah nggak sabar lihat aunty menikah." Sahut Lala dengan suara di buat-buat.


Mala merubah posisinya, ia melirik pakde Karto yang berdiri tak jauh darinya. "Kau dengar itu sayang, dedek bayi saja ingin aku segera menikah, kalau kau tak bangun-bangun lebih baik aku menikah dengan pakde Karto saja." Ucapnya berusaha memancing Arthur.


"Cah ayu, opo kowe gelem nikah sama orang tua kaya pakde? Dasar ngawur, koyo prawan nggak laku ae mau nikah sama kakek-kakek." Celetuk pakde Karto menimpali ucapan Mala.


Mala mengeluarkan ponselnya, ia menyalakan kameranya dan mengarahkannya di depan wajah pakde. "Tua dari mana, lihat pakde, wajah setampan ini kok di bilang tua, pakde mungkin sudah tua tapi Arthur belum." Tegas Mala, namun tanpa di sadarinya ucapan tersebut menyinggung perasaan pakde Karto, pria itu merasa bersalah akan Arthur, tak seharusnya ia berada di tubuh pria muda dan tampan seperti Arthur.

__ADS_1


"Sudah-sudah jangan berdebat." Lerai mama Wulan. Selanjutnya wanita itu menghampiri Lala dan memeluknya. "Selamat ya sayang, akhirnya mama akan di panggil oma." Ucapnya tulus.


"Terimakasih nyonya." Jawab Lala.


Mama Wulan melepaskan pelukannya, ia menatap Lala dengan wajah tak suka. "Mama, bukan nyonya. Rafli sudah seperti anak mama, jadi kalian di larang memanggil saya dengan sebutan nyonya. Mengerti!"


"Iya nyo, eh maaf. Mengerti mama." Lala mengoreksi panggilannya.


"Nah begitukan terdengar lebih enak. Lala harus jaga kesehatan ya, jaga pola makan juga, jangan terlalu cape, bilang sama suamimu untuk tidak terlalu gila kerja."


Semuanya terkekeh mendengar ceramah panjang dari mama Wulan. Tuan Raymon mengulas senyum melihat kebaikan istrinya, ia sungguh beruntung menemukan perempuan seperti mama Wulan, bukan hanya baik, ia juga mau menerima Arthur dan menyayanginya seperti putra kandungnya sendiri.


"Tuan, nyonya, pak Karto...." Seru suster Hanum dengan nafas tersenggal-senggal.


"Kenapa?" Rafli berlari masuk ke dalam kamar di ikuti oleh anggota keluarga yang lain, mereka begitu terkejut melihat pak Karto tengah sekarat, tubuhnya kejang-kejang dan matanya membelalak ke atas.


"Raf, hubungi anaknya." Perintah bu Yati.


"Kita bawa ke Rumah Sakit sekarang. Sayang tolong hubungi pak Aryo, aku akan menyiapkan mobil." Ujar Rafli, ia menyerahkan ponselnya kepada Lala dan berlari keluar.


Namun belum sempat Lala menghubungi Aryo, pak Karto lebih dulu menghembuskan nafas terakhirnya, matanya mulai terpejam dan wajahnya mulai memucat. Suster Hanum memeriksa tanda vital pak Karto, ia menggeleng lemah dengan wajah sedih. "Pak Karto sudah wafat."


Semuanya nampak terkejut dengan kematian pak Karto yang begitu mendadak, setelah mengucapkan penyesalannya dan meminta maaf atas kesalah pahamannya, kini pak Karto memilih untuk pergi selama-lamanya, tidak ada lagi beban di pundaknya, rasa sesak di hatinya sudah ia keluarkan begitu kata maaf terucap dari mulutnya, jiwanya yang tak waras sudah ia lepaskan bersama penyesalannya. Kini pak Karto tidur dengan damai, tak ada lagi beban yang mengganjal di hatinya, penderitaannya telah usai, rasa sakitnya telah berakhir, pak Karto wafat dalam keadaan bahagia..Semoga.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2