My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 34 Perubahan sikap Arthur


__ADS_3

"Bagaimana?" Tanya Tuan Raymon kepada kedua anak buahnya.


"Gadis itu kini tinggal bersama tuan muda, dia diusir oleh keluarganya setelah pamannya meninggal, harta peninggalan kedua orangtuanya juga diambil alih oleh bibinya." Terang anak buah Tuan Raymon.


"Kau yakin dia gadis yang selama ini aku cari?"


"Yakin tuan."


"Lalu kenapa selama ini aku tidak menemukannya?" Ucap Tuan Raymon seraya menaruh cerutunya. Pria yang selalu membawa tongkat itu menatap kedua anak buahnya menuntut penjelasan mereka.


"Pamannya mengganti nama belakangnya, sehingga kami tidak bisa menemukan gadis itu selama ini tuan?"


"Pergilah, tetap awasi gadis itu, cari tau apakah dia mengingat kejadian 15 tahun yang lalu."


****


Rafli mengikuti Lala masuk kedalam rumahnya, Rafli bahkan lupa jika tangannya kini bertaut dengan tangan Lala. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan karena Rafli tak menolak sentuhan tangannya, dia menarik Rafli hingga mereka tiba diruang tamu rumahnya.


"Anda ingin minum sesuatu?" Tanya Lala dengan wajah sumringahnya, dia sangat senang karena bisa membawa pujaan hatinya masuk kedalam rumah.


"Tidak, aku harus segera pulang." Tolak Rafli, dia melepaskan tangan Lala dan berjalan menuju pintu utama.


Ekspresi wajah Lala berubah seketika, senyum diwajahnya menghilang, kini digantikan dengan bibir manyunnya, dia segera menyusul Rafli dan menghadang Rafli didepan pintu, gadis itu memblokir akses agar Rafli tak bisa keluar dari rumahnya.


"Apa lagi?" Ucap Rafli ketus.


"Kenapa tidak duduk dulu."


"Aku sibuk, aku harus pergi sekarang, awas." Seru Rafli, dia menarik tangan Lala dengan keras sehingga gadis itu terhuyung kedepan, kesempatan itu Rafli gunakan untuk segera keluar dari rumah Lala.


"Lihat saja nanti, suatu hari kau akan menolak saat aku suruh pulang." Teriak Lala dengan lantang, namun Rafli tidak menggubrisnya, dia sudah keluar jauh dari rumahnya.


****


Pagi tiba, Mala bangun pagi seperti biasanya, setelah istirahat cukup lama, tubuh Mala sudah bugar kembali. Dia segera pergi kedapur untuk memasak sarapan, karena persediaan sayur sudah habis, Mala memilih menanak nasi dan akan ia goreng untuk menu sarapan pagi ini. Sambil menunggu nasinya matang, Mala memutuskan untuk membersihkan apartemen terlebih dulu.


Semuanya beres, tinggal kamar Arthur yang belum ia bersihkan, dia ragu untuk mengetuk, untuk itu Mala lebih memilih untuk menunggu Arthur keluar terlebih dahulu. Mala kembali kekamarnya untuk mengambil baju dan peralatan mandinya, lalu dia segera turun kelantai dasar untuk mandi.

__ADS_1


Selesai mandi Mala kembali kedapur untuk menyiapkan sarapan.


"Kau sudah bangun?" Seru sebuah suara yang mengagetkan Mala. Gadis itu menoleh dan mendapati Arthur yang tengah meminum air sambil berdiri, Mala menelan ludahnya, gadis itu tak berkedip melihat Arthur bak seorang model air mineral, jakunnya naik turun membuatnya terlihat sangat sexy.


"Apa kau menginginkanku?" Ucap Arthur membuat Mala tersadar dari fikiran nakalnya. Gadis itu mengusap tengkuk, Arthur membuatnya salah tingkah. "Apa maksud tuan?" Tanya Mala gugup.


"Sejak tadi kau melihatku seakan-akan ingin memakanku."


"Tidak." Sangkal Mala, dia memalingkan wajahnya dan kembali fokus pada bumbu-bumbunya.


Arthur tersenyum melihat tingkah Mala yang menggemaskan. "Bagaimana kondisimu?" Tanya Arthur dengan suara datar.


"Sudah lebih baik tuan."


"Baguslah." Ucap Arthur, lalu dia pergi dari dapur, namun kemudian dia berhenti dan memutar tubuhnya. "Aku mau sarapan, jadi sisakan juga untukku." Imbuh Arthur lalu dia kembali kekamarnya.


Mala hanya mengangguk, lalu dia kembali berkutat dengan kesibukannya. Setelah selesai Mala menyiapkan sarapan untuk tuannya diatas meja makan.


Tok..tok..tok


"Tuan, sarapannya sudah siap.?" Ucap Mala setelah mengetuk pintu kamar Arthur.


Mala mengeluarkan susu dari microwave dan menaruhnya didekat Arthur, sebelumnya dia sudah menyiapkan sepiring nasi goreng untuk tuannya. Mala beranjak, dia berniat untuk membersihkan kamar Arthur, namun lagi-lagi Arthur menahannya.


"Temani aku makan." Ucap Arthur dengan santai, namun tidak dengan Mala, gadis itu merasa aneh dengan sikap atasannya akhir-akhir ini, Arthur tak pernah memakinya lagi, Mala justru merasa jika Arthur mulai perhatian kepadanya.


"Maaf tuan, tapi saya harus membersihkan kamar tuan sebelum kita berangkat kekantor." Tolak Mala dengan halus, dia hanya tidak ingin sarapan bersama Arthur.


"Temani aku makan." Ulang Arthur, kali ini kalimatnya penuh penekanan.


Mala memutar bola matanya, namun dia menurut karena tidak ingin mendengar makian Arthur yang sudah lumayan lama tak didengarnya, gadis itu menarik kursi dan duduk dihadapan Arthur.


"Kau mau menontonku makan? Ambil makananmu."


"Ya tuan."


Mala kembali berdiri dan mengambil nasi goreng yang masih berada diatas kompor. Setelahnya Mala kembali duduk ditempatnya. Arthur mengulas senyum, lalu dia kembali menikmati nasi gorengnya.

__ADS_1


"Apa dia baru saja tersenyum? Dia sangat manis saat tersenyum, dia juga sangat mirip dengan Rey. Ya Tuhan, Sadarlah Mala, Rey dan Arthur adalah orang yang sama, tentu saja mereka mirip." Batin Mala seraya memasukan nasi goreng kedalam mulutnya.


"Hari ini istirahatlah dirumah." Ucap Arthur setelah mereka selesai sarapan.


"Tapi tuan, saya sudah baikan, saya tidak perlu libur." Tolak Mala, dia tidak ingin gajinya berkurang nanti karena dia tidak masuk hari ini.


"Aku memberimu libur berbayar, manfaatkan untuk istirahat." Jelas Arthur.


"Apa ini, apa dia juga punya kepribadian lain yang berprofesi sebagai dukun, kenapa dia bisa membaca fikiranku." Gumam Mala didalam hati.


"Baik tuan, terimakasih untuk kebaikan tuan."


Arthur tak menanggapi ucapan Mala, dia bangun dari duduknya lalu kembali kekamar untuk mengambil beberapa dokumen yang harus dia bawa kekantor.


"Apa dia akan kesepian?" Tanya Arthur pada dirinya sendiri. Lalu dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Ya nak, ada apa pagi-pagi sekali menelfon mama, kamu butuh sesuatu?" Tanya seseorang diseberang sana.


"Ma, mm begini.. mm Mala sedang tidak enak badan, bisakah mama dan Lea kemari untuk menemaninya." Ucap Arthur dengan sedikit ragu.


"Mala sakit? Sakit apa nak?" Suara mama Wulan terdengar khawatir.


"Dia hanya demam."


"Baiklah, mama segera kesana. Apa kau butuh sesuatu?"


"Tidak ma."


"Ya sudah, mama bersiap sekarang."


Arthur mematikan panggilannya, dia segera keluar karena Rafli sudah menunggunya dibawah. Dia melirik Mala yang masih sibuk berbenah didapur. "Aku berangkat." Pamit Arthur.


Mala segera menghentikan aktivitasnya, dia berlari mengejar Arthur yang sudah berada didepan pintu. "Hati-hati dijalan tuan." Ucap Mala.


"Hem, jangan buka pintu untuk orang tak dikenal." Pesan Arthur sebelum dia keluar.


Mala menggaruk tengkuknya, gadis itu semakin heran dengan sikap Arthur yang semakin aneh.

__ADS_1


"Apa ini, Kenapa ini seperti adegan istri sedang mengantar suaminya sebelum berangkat bekerja."


BERSAMBUNG...


__ADS_2