My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 74 Tertangkap basah


__ADS_3

"Mikhayla" Teriak seseorang dari balik pintu rumah Lala.


Pasangan yang tengah asyikk berciuman itu segera melepas pagutan mereka. Keduanya menatap ke arah sumber suara. Mata Lala membulat sempurna ketika melihat seseorang yang tengah berdiri di depannya sambil berkacak pinggang dan mata melotot.


"I..ii..ibu." Lala seketika menjadi gagap saat melihat Erni, ibunya.


"Ibu." Ulang Rafli dengan setengah berteriak, ia sungguh tak menyangka aksi mesyumnya akan tertangkap basah oleh ibu Lala.


"Ibu, Lala bisa jelas.....


Lala belum menyelesaikan kalimatnya saat tangan ibunya sudah berada di telinga dan menjewernya.


"Dasar anak kurang ajar, tidak tau malu, tidak punya tata krama." Omel ibu Erni tanpa melepas telinga putrinya.


"Aaa..auww,, ibu sakit, lepasin bu. Lala bisa jelaskan." Lala mengaduh sambil berusaha melepas tangan ibunya dari telinganya.


"Jelasin apa? Bikin malu. Lebih baik nggak usah lanjutin kuliahmu. Nikah saja." Lanjut sang ibu dengan mata berkaca-kaca. Mungkin bagi anak muda zaman sekarang ciuman bibir adalah hal yang lumrah ketika mereka berpacaran. Tapi tidak dengan ibu Erni, baginya sentuhan fisik hanya boleh di lakukan saat keduanya sudah menikah dan apa yang di lakukan Lala sungguh membuatnya kecewa.


"Tantee.." Rafli menyela omelan ibu Erni, ia tak tega melihat kekasihnya kesakitan.


"Tante, tolong lepaskan. Lala tidak salah, saya yang salah karena sudah menciumnya." Rafli mencoba untuk menenagkan ibu sang kekasih.


Bukannya menjawab, ibu Erni justru menjewer telinga Rafli dengan tangannya yang lain lalu membawa kedua muda-mudi itu masuk kedalam rumahnya.


"Bu, lepasin dia." Rengek Lala karena tak enak hati melihat Rafli di jewer oleh ibunya.


Ibu Erni melepas telinga keduanya, Rafli dan Lala segera mengusap telinga masing-masing yang terasa panas akibat di jewer.


"Duduk." Perintah ibu Erni.


Tak lama seorang laki-laki paruh baya datang menghampiri mereka bertiga. Lelaki itu menatap heran istri dan juga anaknya.


"Ada apa, pagi-pagi kok sudah ribut?" Tanya pak Dahlan selaku ayah Lala.


"Anakmu itu lo, kurang ajar, masa ciuman di depan rumah. Gimana kalau ada tetangga yang liat. Bikin malu saja."


Pak Dahlan kini berganti menatap putrinya. "Bener La?" Tanyanya lembut.


"Maaf yah." Jawab Lala lirih, gadis itu menunduk, ia tak berani menatap wajah ayahnya.


"Apa dia yang menciummu?" Pak Dahlan berganti menatap Radfi

__ADS_1


Tiba-tiba Rafli merasa gugup, kepercayaan dirinya seolah hilang saat pak Dahlan menatapnya tajam. Image cool dan selalu tenang dalam menghadapi masalah sepertinya harus Rafli relakan.


"Siapa namamu?" Tanya pak Dahlan.


"Rafli om."


"Kenapa kamu mencium anakku?"


Rafli menelan ludahnya berkali-kali, ia mendapatkan pertanyaan yang sungguh sulit untuk dijawab. Rafli tidak mungkin jujur jika ia tergoda dengan bibir ranum milik Lala.


"Maaf om. Maafkan saya."


"Kenapa kamu mencium anakku." Ulang pak Dahlan dengan suara lebih keras.


Hening, tak aja yang bersuara.


"Karena saya mencintainya om." Jawab Rafli dengan tegas, ia bahkan mengangkat kepalanya sehingga ia bisa bertatap muka dengan pak Dahlan.


Lala menoleh ke arah Rafli, ia sungguh tak percaya Rafli akan mengatakan hal itu mereka baru satu hari perpacaran, rasanya aneh mendengar kata cinta keluar dari mulut Rafli.


"Cinta,, hahaha." Pak Dahlan mentertawakan jawaban Rafli. "Kalau cinta itu ya menjaga bukan merusak." Sindirnya.


"Kamu sudah kerja?" Pak Dahlan bertanya lagi.


"Sudah om."


"Di tempat Lala magang."


"Kamu magang juga?"


"Tidak yah, dia sekretaris bos Lala." Sela Lala di tengah pertanyaan ayahnya yang bertubi-tubi.


"Sudah punya rumah?" Lanjut Pak Dahlan.


"Sudah om."


"Kalau mobil?"


"Ayah." Rengek Lala karena ayahnya bertanya terlalu detai.


"Sudah juga om."

__ADS_1


"Ya sudah kita nikahkan saja mereka Yah, dari pada bikin malu, lagian Rafli juga sudah mapan." Ucap ibu Erni.


"Bu, nikah itu bukan cuma perihal mapan saja. Harus ada kesiapan mental sebelum memutuskan untuk berumah tangga. Menikah itu bukan untuk main-main, satu kali untuk seumur hidup. Anakmu itu masih kecil, sekolah saja belum selesai kok mau nikah."


Semuanya diam saat pak Dahlan memberikan wejangan soal pernikahan. Bukan hanya materi yang di butuhkan dalam menjalani biduk rumah tangga, mental juga harus di persiapkan dengan matang. Banyak pasangan muda yang bercerai hanya karna belum siap mental, mereka fikir menikah hanya butuh cinta saja, padahal sebuah pernikahan harus didasari oleh banyak hal seperti kepercayaan, saling mengerti dan menerima satu sama lain dan yang paling utama adalah saling menghormati.


"Ayah tidak akan melarang kalian memiliki hubungan, tapi ayah harap kalian tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh pasangan yang belum menikah." Ucap pak Dahlan lembut.


Rafli mengulas senyum, ia mulai merasa tenang setelah mendengar ucapan pak Dahlan.


"Terimakasih om, sekali lagi saya minta maaf..Saya janji akan menjaga Lala."


"Bikinin teh buat tamu kita bu." Perintah pak Dahlam kepada istrinya.


"Maaf om, tante, ngetehnya lain kali saja, saya harus pergi karena ada pekerjaan." Tolak Rafli dengan halus.


Setelah berpamitan Rafli segera pergi dari rumah Lala dan menyusul Mala beserta pakde Karto ke tempat peraduan Jangkrik. Sepanjang jalan bibir Rafli tak berhenti untuk tersenyum, ia merasa senang karena keluarga Lala menerimanya meskipun harus menghadapi kejadian yang memalukan.


Beberapa menit kemudian Rafli tiba di tempat tujuannya, setelah memarkirkan mobil ia berjalan menapaki gang sempit untuk tiba di lokasi peraduan jangkrik.


Dari kejauhan Rafli melihat Mala dan pakde Karto sedang tertawa bersama, jauh di dalam lubuk hatinya, Rafli sungguh bersyukur dengan kedatangan Mala ke dalam hidup Arthur, selain bisa membuat Arthur lebih manusiawi, Mala juga bisa berbaur dengan semua kepribadian Arthur.


Perhatian Rafli beralih kepada seorang laki-laki yang tengah mengamati Arthur dari kejauhan. Karena merasa khawatir akhirnya Rafli menghampiri laki-laki yang terlihat berusia 30-an tahun.


"Apa yang anda lihat?" Tanya Rafli yang sontak membuat laki-laki itu terkejut.


"Eh, anu.. Saya lagi liatin anak muda yang pake baju lurik itu." Ucapnya gugup.


"Kenapa anda melihatnya seperti itu?" Cecar Rafli.


"Melihat penampilan anak muda itu mengingatkan saya pada bapak saya, beliau juga sangat suka mengenakan baju lurik dan blangkon."


"Benarkah, lali dimana bapak anda sekarang?"


"Ya benar, bapak saya juga dulu hobi adu Jangkrik." Imbuh laki-laki itu. " Sayangnya beliau sekarang ada di Rumah Sakit Jiwa." Jawabnya sedih.


"Maaf, saya tidak bermaksud."


"Tidak papa. Kalau begitu saya permisi."


Laki-laki itu berlalu meninggalkan Rafli dengan langkahnya yang gontai.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2