
Rey memarkirkan mobilnya di dekat dermaga Muara Angke, salah satu dermaga yang melayani rute penyeberangan menuju pulau Tidung. Keduanya memutuskan untuk pergi ke pulau itu, selain jaraknya tidak terlalu jauh, disana juga masih belum teralu ramai pengunjung.
Rey menyewa sebuah kapal Speedboat yang akan membawa mereka menuju pulau Tidung, perjalanan laut ini kira-kira memakan waktu dua sampai tiga jam perjalanan.
Mala terlihat takjub saat keduanya masuk kedalam kapal berukuran 16meter x 4meter tersebut, didalam kapal yang berkapasitas sepuluh orang tersebut terdapat Ac, toilet, home teather dan living room yang membuat mereka tak akan merasa bosan menempuh perjalanan tersebut.
"Rey, kenapa hanya ada kita berdua?" Tanya Mala bingung karena tak ada penumpang lain selain mereka.
"Aku menyewanya jadi tidak ada orang lain selain kita berdua." Jawab Rey santai, dia tersenyum lalu memeluk pinggang Mala.
"Sewa?" Pekik Mala, gadis itu benar-benar terkejut. "Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu untuk menyewa kapal ini?" Imbuhnya dengan tatapan penuh selidik.
"Dari sini." Ucap Rey seraya menunjukkan black card dengan salah satu tangannya. "Uang Arthur sangat banyak, mubadzir kalau nggak dipakai." Lanjut Rey dengan senyum puasnya, dia memang berniat bersenang-senang dengan Mala dan memakai uang Arthur, sudah lama dia tidak membuat Arthur marah, Rey ingin membalas Arthur yang sudah membuatnya dan Mala jarang bertemu.
"Bagaimana kalau Tuan Arthur tau, dia pasti akan sangat marah padamu." Mala mencoba mengingatkan Rey.
"Biar saja, dia juga tidak mungkin memukulku kan, hahaha." Jawab Rey dengan tawa.
Mala hanya menggeleng, semuan perkataan Rey memang benar, meskipun Arthur marah dia tidak mungkin melukai Rey karena sama saja dengan melukai dirinya sendiri. Mala hanya pasrah, dia akan menikmati momennya bersama Rey sekarang, urusan Arthur marah akan ia fikirkan nanti.
__ADS_1
Tepat Pukul 8 pagi kapal mulai berlayar, keduanya memilih duduk diberanda luar kapal, mereka menikmati birunya samudera dan pemandangan laut, angin bertiup kencang sehingga menyibakkan rambut panjang Mala yang tergerai, hampir seluruh wajahnya tertutup oleh rambut hitamnya, Rey hanya terkekeh, namun sesaat kemudian dia merapikan rambut yang menghalanginya untuk menatap wajah Mala. Rey menyelipkan rambut Mala ke belakang telinganya, dengan lembut dia mengusap pipi Mala.
Mala merasakan kehangatan tangan Rey diwajahnya, gadis itu menatap Rey yang juga tengah menatapnya, pandangan mereka saling bertemu, tatapan Rey diselimuti oleh kasih, namun justru tatapan Mala terlihat sendu, seolah dia tengah bersedih ditengah kebahagiaannya bersama Rey.
Jemari Rey mulai berpindah, perlahan dia mulai menyentuh bibir Mala, tatapannyapun kini berpindah kepada bibir berwarna merah muda itu, seketika darahnya berdesir, jakunnya terlihat naik turun sebagai tanda ia tengah mendamba dan ingin segera mengu*lum bibir ranum itu. Rey menarik sudut bibirnya saat melihat Mala memejamkan matanya, seakan lampu hijau telah menyala, Rey segera mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Mala sekilas, Rey sedikit menarik wajahnya, dia memperhatikan Mala yang masih terpejam dan dengan segera ia kembali mengecup bibir Mala, kali ini bukan hanya sebuah kecupan, Rey mulai mengu*lum bibir bawah Mala, rasanya begitu manis sehingga tak cukup hanya mengulumnya saja, saat mulut Mala terbuka, lidahnya mulai masuk kedalam rongga mulut Mala, ciuman mereka semakin memanas saat Mala membalas tautan lidah Rey, mereka saling menge*cap dan bertukar saliva, suara decapan mengalun indah diatas perahu motor tersebut, kedua insan yang tengah dimabuk asmara tengah menikmati permainan bibir mereka, suara deburan air laut dan angin yang berhembus menjadi saksi bisu bagimana mereka saling mendamba satu sama lainnya.
Lama saling berci*uman, dengan perasaan tidak rela Rey melepas tautannya, kening mereka saling bertemu dan senyum merekah diwajah keduanya.
"Dingin?" Tanya Rey ketika melihat Mala terus menggosok lengannya.
"Lumayan."
Mala hanya tersenyum, dia memang berniat mengajak Rey ke pantai, namun dia tidak mengira jika mereka harus menyeberangi lautan lepas untuk sampai ke pantai tujuan mereka.
Rey mencubit hidung Mala dengan gemas, ia lalu membuka resleting jaketnya, lalu menarik tangan Mala, membawanya masuk kedalam jaketnya dengan posisi memeluk pinggangnya.
"Hangat kan?" Tanyanya lagi dan Mala hanya mengangguk.
"Mau masuk sekarang?" Tawar Rey seraya menatap Mala yang tersipu didalam pelukannya.
__ADS_1
"Hem." Jawab Mala singkat, ia lalu melepaskan pelukannya dan berniat masuk kedalam kapal. Belum sempat beranjak, Rey lebih dulu menarik tangannya sehingga Mala kembali jatuh kedalam pelukan Rey dan membuat gadis itu bingung.
"Lepas Rey, kamu bilang mau masuk kedalam kapal?" Rengek Mala dan membuat Rey semakin gemas di buatnya.
"Begini kan juga bisa." Ucap Rey dengan senyum liciknya, lalu perlahan dia mulai mendorong tubuh kecil Mala menuju pintu masuk. Mala hanya menggelengkan kepalanya , dia tak percaya Rey bisa bertingkah seperti itu, bayangkan saja, Mala harus berjalan mundur dengan posisi memeluk Rey, sementara Rey dengan hati-hati mengarahkan Mala agar gadis itu tak tersandung.
Butuh waktu sedikit lama agar keduanya sampai di dalam kapal, Rey sengaja mengarahkan Mala ke sebuah sofa panjang yang berada didalam kapal, karena ketidaktahuannya, kaki belakang Mala tak sengaja menabrak ujung sofa, karena mendapat tekanan dari tubuh Rey mengakibatkan tubuh Mala tak seimbang lalu gadis itu terhuyung ke belakang dan sedetik kemudian tubuh besar Rey sudah berada diatas tubuhnya dengan salah satu tangan Rey menyangga tubuhnya agar tak menindih tubuh kecil Mala.
"Ka..kamu sengaja kan?" Tanya Mala dengan gugup, bagaimana tidak wajah Rey sangat dekat dengan wajahnya, bahkan Mala sampai merasakan hembusan nafas Rey di wajahnya.
Rey mengulum senyum, semua yang di katakan Mala memang benar, dia sengaja melakukan hal ini untuk mengerjai Mala. Namun dugaannya sedikit meleset karena pada akhirnya dia juga merasakan desiran yang seharusnya tak ia rasakan saat ini. Berada diatas tubuh Mala dan mengungkungnya membuat naluri Rey sebagai laki-laki seolah tergugah, belum lagi dua gundukan yang menyumbul dibalik kaos Mala membuat dadanya semakin bergemuruh.
"La." Ucap Rey dengan suara serak.
"Boleh aku menciummu?" Tanyanya tanpa ragu.
Mala menggeleng cepat, gadis itu sudah faham akan situasinya, belum lagi dia merasakan sesuatu menekan pahanya yang membuatnya khawatir jika dia dan Rey tak bisa menahan diri, dia tak mau melakukan hal itu, dia tidak siap, terlebih dengan status Rey yang tak jelas membuat gadis itu semakin enggan untuk melakukannya.
Rey segera bangun setelah mendapat penolakan dari Mala, keduanya kini duduk dengan canggung dan saling memunggungi, entah apa yang ada di dalam fikiran keduanya, mungkin saja mereka tengah meredam hasrat masing-masing.
__ADS_1
BERSAMBUNG...