My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 130 Vampire


__ADS_3

Mala sudah berada di butik langganan Arthur bersama dengan mama Wulan dan Arthur. Gadis itu tengah kebingungan memilih banyaknya gaun pengantin yang berjejer di hadapannya.


"Coba saja semuanya." Bisik mama Wulan di telinga calon menatunya.


Mala menoleh ke samping dan memperhatikan mama Wulan yang tengah menatap gaun-gaun indah itu dengan penuh kekaguman. "Semuanya ma?Jangan bercanda ma, itu banyak sekali." Tolak Mala.


"Aku setuju lebih baik coba saja semuanya." Sahut Arthur dari arah belakang, kedua wanita itu menoleh dan tersenyum melihat Arthur yang nampak tampan menggenakan tuxedo berwarna hitam.


"Ma, siapa pria tampan ini?" Goda Mala seraya mengerlingkan sebelah matanya


"Entahlah sayang, mungkinkah dia pengeran dari negeri dogeng?" Sahut mama Wulan, kedua wanita itu kompak menggoda Arthur.


"Berhenti menggodaku dan cepat coba gaunnya sekarang." Kilah Arthur untuk menutupi salah tingkahnya.


Mala dan mama Wulan tertawa bersama, kemudian Mala masuk ke dalam ruang ganti, di ikuti oleh karyawan butik yang membawakan beberapa gaun untuk Mala coba.


"Kenapa tidak bikin saja, pasti lebih pas di tubuh Mala?" Tanya mama Wulan saat Mala sudah berada di dalam ruang ganti.


"Mala tidak mau ma, repot katanya."


Mama Wulan mengangguk mengerti, ia mengenal siapa calon menantunya yang sangat sederhana itu. Di tengah perbincangan ibu dan anak itu, Mala keluar dari ruang ganti, ia mengenakan gaun model ball gown dengan bagian atas memiliki model sabrina sehingga memperlihatkan bahu putihnya.



Arthur tercengang melihat penampilan calon istrinya, beberapa kali ia kesulitan menelan salivanya, Mala nampak begitu cantik dengan balutan gaun berwarna putih itu.


"Kalian memang pasangan yang serasi, cantik dan juga tampan." Puji mama Wulan seraya menatap keduanya secara bergantian.

__ADS_1


Arthur masih membisu, ia masih belum berkedip memandangi calon istrinya itu, darahnya kembali berdesir melihat tubuh bagian atas Mala yang terekspos, lalu tanpa di sadarinya ia berdiri dan mengahampiri Mala, tanpa sepatah katapun Arthur membawa Mala masuk kembali ke dalam ruang ganti dan menutupnya dengan rapat.


Mama Wulan hanya tersenyum melihat kelakuan putranya, ia menyuruh karyawan butik itu untuk beristirahat. "Ambil ini, belilah beberapa makanan untukmu dan yang lainnya." Mama Wulan memberikan lima lembar pecahan uang seratus ribuan kepada karyawan tersebut.


"Tapi nyonya." Karyawan tersebut menolak pemberian mama Wulan.


"Sudah terima saja, beli makanan yang enak, dan jangan kembali sebelum aku menghubungi kalian." Ujar pemilik butik yang tiba-tiba berada di belakang mama Wulan.


Karyawan itu menerima uang dari mama Wulan dan segera keluar dari butik. Sementara mama Wulan dan pemilik butik saling menatap dan tersenyum penuh arti.


"Tunggu di ruanganku aja jeng, takut ganggu." Ajak sang pemilik butik.


Mama Wulan tersenyum dan mengikuti pemilik butik tersebut. "Aku sudah tidak sabar ingin menimang cucu." Ucapnya dan di akhiri tawa oleh kedua wanita itu.


Di dalam ruangan ganti, Arthur masih menatap Mala membuat sang gadis merasa malu. "Berhenti menatapku dengan tatapan mesyum itu." Hardik Mala seraya menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan.


"Tentu saja, aku kan bi...


Mala belum menyelesaikan kalimatnya, namun Arthur lebih dulu membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman. Tak mendapat penolakan dari sang kekasih, Arthur semakin memperdalam ciumannya, ia mulai menyesap bibir bawah Mala yang terasa begitu manis untuknya.


Sudut bibir Mala sedikit terangkat di sela ciuman Arthur, ia lalu mengalungkan tangannya di bahu Arthur dan membalas ciumannya. Arthur menekan pinggang Mala sehingga tubuh keduanya tak berjarak lagi, ia semakin mencium Mala dengan rakus, tangannya mulai bergerak liar di tubuh bagian belakang Mala, ia mengusap punggung Mala dengan gerakan sensual yang mengundang gairah.


Ciuman bibir itu terhenti, Arthur memberikan waktu kepada Mala untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya, kesempatan itu tak Arthur lewatkan begitu saja, ia kembali mencium Mala namun kini berpindah di leher jenjangnya. Mala yang terkejut reflek mendorong tubuh Arthur, namun dengan cepat Arthur meraih kedua tangan Mala dan menguncinya di atas kepala, dengan posisi seperti itu Arthur lebih leluasa untuk mencium leher Mala.


"Emmmbb." Lenguhan kecil keluar dari bibir Mala saat Arthur menggigit lehernya, pria itu tiba-tiba menjelma menjadi vampire yang tengah menghisap leher korbannya. Mala mengulum bibirnya dengan rapat, kelakuan Arthur sungguh membuatnya ingin kembali mende*sah.


Puas berada di leher, Arthur kembali menciun bibir Mala, ia sempat melirik dua benda kenyal yang menyumbul di balik gaun Mala, namun ia segera mengalihkan pandangannya sebelum ia khilaf yang berkepanjangan.

__ADS_1


Beberapa menit saling bertukar saliva, Arthur akhirnya melepaskan ciumannya, ia menyeka bibir Mala yang basah dan sedikit bengkak karena ulah nakalnya.


Sementara itu Mala terkejut melihat penampilannya di cermin, sebuah tanda berwarna merah keunguan terlihat jelas di lehernya. Mala lalu menatap Arthur dan melotot kepada calon suaminya.


"Kamu." Pekiknya seraya menutupi kiss mark buatan Arthur.


"Ganti bajumu sebelum aku semakin bernafsu. Oh ya, aku pilih gaun ini untuk pernikahan kita nanti.".


Arthur merapikan tuxedo yang di pakainya sebelum ia keluar dari ruangan itu..Mala hanya menggeleng melihat kelakuan Arthur yang semakin liar padanya, ya meskipun sebenarnya dia juga menikmati setiap sentuhan yang Arthur berikan kepadanya.


Mala keluar dari ruangan ganti itu setelah berganti pakaian, ia sengaja menggerai rambut panjangnya guna menutupi bekas gigitan vampire di lehernya.


Mama Wulan tersenyum melihat rambut Mala yang tergerai, sementara kedua pasangan itu tersipu Malu di hadapan sang mama.


"Oh ya, Mala mulai hari ini kamu akan tinggal bersama mama di rumah utama sampai pernikahan kalian!" Ucap mama Wulan saat mereka sudah berada di luar butik.


"Kenapa ma?" Tanya Arthur yang nampak tak menyukai ucapan mamanya.


"Kata Romo kalian harus di pingit sebelum menikah, lagian hanya satu minggu, setelah itu kalian akan tinggal bersama selamanya." Jelas mama Wulan.


"Tapi ma." Rengek Arthur, ia sungguh tak rela berpisah dari Mala bahkan sedetikpun.


"Baik ma, Mala akan tinggal bersama Mala." Sahut Mala seraya melirik calon suaminya dan tersenyum puas.


"Kau.."


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2