
Satu minggu sebelum pernikahan...
Hari ini Mala berencana untuk fiting baju pengantin bersama Arthur dan mama Wulan, wanita paruh baya itu sungguh bersemangat menanti hari pernikahan Arthur dan Mala. Meskipun pernikahan mereka akan di gelar secara sederhana, namun tetap saja Mala di buat sibuk dengan persiapan pernikahan mereka. Untung saja ada mama Wulan yang siap sedia menangani gedung, catering, undangan bahkan WO yang akan di pakaipun mama Wulan yang memilihnya.
Waktu masih menunjukkan pukul empat dini hari, namun tidur Mala terusik oleh suara berisik dari arah dapur. Gadis itu membuka matanya dan mempertajam pendengarannya, benar saja, suara berisik itu berasal dari dapur.
Mala keluar dari kamarnya, malam ini ia tidur di kamar Ara sehingga lebih dekat dengan dapur, Mala meraih tongkat kasti yang berada bellalang pintu kamar Ara dan membawanya keluar untuk berjaga-jaga.
Mala melangkahkan kakinya dengan pelan, ia hampir seperti hantu yang berjalan mengambang di atas lantai. Mala memutar bola matanya jengah saat melihat sosok yang sangat ia kenali tengah memasak di dapur seraya menggoyang-goyangkan pinggulnya.
"Miss Kim." Teriak Mala seraya mengacungkan tongkat kasti ke arahnya.
Yang di panggilpun menoleh, Miss Kimberly tersenyum kecut melihat kedatangan Mala yang mengganggu aktivitasnya.
"What are you doing?" Tanyanya seraya menatap tongkat kasti yang berada di tangan Mala.
"Harusnya aku yang bertanya, apa yang sedang miss Kim lakukan pagi-pagi begini?" Mala menurunkan tongkat kastinya membuat miss Kimberly sedikit bernafas lega.
"Cooking." Jawabnya singkat.
"Masak? Pakai dress? Are you crazy?" Sahut Mala seraya menunjuk dress berwarna merah menyala bermotif polkadot.
"Shut up. You berisik sekali, sungguh mengganggu konsentrasi I. Lebih baik you duduk manis and tunggu sampai I selesai cooking-cooking. Okay?"
"Memangnya sedang masak apa?" Mala akhirnya penasaran juga karena belum pernah melihat miss Kimberly memasak sebelumnya.
Miss Kimberly hanya menggerakkan dagunya menyuruh Mala untuk duduk, gadis itupun menurut, ia memperhatikan sang kekasih yang tengah menjelma menjadi orang lain. Ya begitulah Mala, ia benar-benar mencintai kekasihnya dengan tulus, ia menerima semua jenis kepribadian Arthur dan berusaha untuk membantu sang kekasih untuk terlepas dari penderitaan yang membelenggunya
"Taaraa." Ucap miss Kimberly seraya meletakkan piring berisikan pasta di atas meja.
__ADS_1
"Apa ini? Mala menatap piring yang berada di hadapannya.
"Spaghetti alla carbonara." Jawab miss Kim seolah-olah ia adalah seorang chef.
"Cobalah." Imbuhnya seraya memberikan garpu kepada Mala.
Mala meraih garpu tersebut, ia sedikit ragu melihat penampilan carbonara buatan miss Kimberly, namun melihat antusiasnya miss Kim dalam memasak membuat Mala merasa kasihan, akhirnya ia menyendok masakan berbahan dasar pasta tersebut dan memasukannya ke dalam mulutnya.
Mala membuka matanya dengan sempurna, masakan miss Kim sungguh jauh dari ekspetasinya, masakan yang Mala anggap tidak enak itu justru menyuguhkan rasa yang sebaliknya, tekstur pasta yang kenyal serta saus carbonara yang gurih serta creamy menyatu dengan sempurna di dalam mulut Mala.
"Bagaimana, enak?" Tanya miss Kimberly tak sabaran.
Mala hanya mengangguk dan mengacungkan kedua jari jempolnya, mulutnya tak bisa berkata-kata karena penuh dengan makanan. Miss Kim tersenyum, ia lantas mengambil piring miliknya dan bergabung bersama Mala. Akhirnya dua orang itu makan bersama pada pagi-pagi buta.
Selesai makan, Mala duduk di sofa seraya menonton televisi, miss Kimberly menyusul gadis itu dan duduk di sebelahnya. Ia menatap Mala yang tengah fokus menonton acara berita pagi.
"Emm, Mala, boleh I ngomong sesuatu sama you." Ucap miss Kimberly, suaranya terdengar sedikit ragu.
"I sudah bosan hidup seperti ini, bisakah you membantu I membuang semua pakaian dan barang-barang yang I punya, maybe dengan seperti itu I tidak punya keinginan untuk keluar lagi, I lelah hidup menempel pada tubuh Arthur." Ujar miss Kimberly, wajahnya yang tertutup make up tebal terlihat sendu.
"Apa maksudnya miss?" Mala meraih tangan miss Kimberly dengan perasaan tak karuan, ia merasa senang namun juga sedih di waktu yang bersamaan, mendengar ucapan miss Kimberly seolah-olah kepribadian centil itu tengah berpamitan kepadanya.
"I tau you akan segera menikah dengan Arthur, jujurly I ikut happy, really hapyy. But, I jadi merasa kalau I adalah orang jahat yang menghalangi kebahagiaan kalian, untuk itu I ingin menghilang untuk selamanya, I lelah Mala, sungguh I tidak tau lagi harus hidup seperti apa."
"One more, I hidup bersama Arthur sejak bocah tampan itu masih sangat kecil, I bersyukur dia bisa bertahan hidup sejauh ini, untuk itu I mohon sama you tolong jaga Arthur dan sayangi dia." Miss Kimberly lalu memeluk Mala dan menepuk punggung gadis itu. "I bersyukur bisa bertemu dengan Mala lagi." Bisiknya sebelum akhirnya ia terkulai lemas di pelukan Mala.
"Miss, miss Kimberly!" Mala mengguncang tubuh miss Kimberly yang masih berada di dalam pelukannya, tanpa di sadarinya ia mulai menitikkan air mata. Benarkah miss Kimberly akan menghilang begitu saja, mungkinkah ia akan kembali lagi suatu saat nanti? Pertanyaan itu memenuhi kepala Mala, ia tak tau harus senang ataupun sedih, namun Mala yakin jika ini yang terbaik untuk Arthur dan juga miss Kimberly
Sepuluh menit kemudian, pria yang berada di dalam pelukannya mulai bergerak, Mala menyadari hal itu dan segera mengurai pelukannya, di tatapnya pemuda yang kini nampak bingung itu.
__ADS_1
"Arthur?"Terka Mala meski ia tak terlalu yakin.
"Sayang, apa yang terjadi?"
Mala bisa bernafas lega, mendengar kalimat sayang menandakan jika si pemilik tubuh telah kembali. "Miss Kim baru saja keluar." Jawab Mala seraya menunjuk pakaian yang melekat di tubuh Arthur. Pria itu menunduk, ia mendengus kesal melihat tubuh kekarnya di balut oleh drees ketat berwarna merah menyala.
"Apa yang di lakukan miss Kim pagi-pagi begini?" Ucapnya dengan kesal.
"Berpamitan." Sahut Mala.
Arthur mengangkat kepalanya dan menatap sang kekasih. "Maksudnya?"
"Miss Kim menyuruhku untuk menyingkirkan semua barang-barang miliknya, dia bilang dengan begitu dia tak punya keinginan untuk terus muncul."
"Benarkah, apa artinya aku mulai sembuh?" Wajah Arthur nampak begitu bahagia.
"Aku harap begitu."
Arthur segera merengkuh tubuh Mala ke dalam pelukannya, ia merasa sangat bahagia mendengar penuturan Mala mengenai miss Kimberly, rasanya Arthur seperti melihat secercah harapan untuk kesembuhan penyakitnya. "Terimaksih sayang, ini semua berkat kehadiran dirimu." Bisik Arthur, ia mempererat pelukannya.
"Aku tidak bisa bernafas." Pekik Mala, dengan cepat Arthur melepaskan pelukannya dan mengusap wajah Mala.
"Maaf, aku terlalu bersemangat."
"Ya sudah, ganti pakaianmu, setelah itu kita bereskan barang-barang milik miss Kim."
Arthur beranjak dari duduknya, ia berlari menuju kamarnya untuk berganti baju. Mala menatap kepergian miss kekasihnya, tiba-tiba ia teringat ucapan terakhir miss Kimberly kepadanya. "I bersyukur bisa bertemu Mala lagi."
Lagi, kata lagi sungguh mengganggu Mala, mungkinkah mereka pernah bertemu di masa lalu? Tapi tidak mungkin mereka pernah bertemu, bukankah menurut tuan Bagaskara kepribadian Arthur muncul setelah kebakaran itu?
__ADS_1
Mala mencoba menepis fikiran itu jauh-jauh dari kepalanya, yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Arthur semakin terlihat nyata.
BERSAMBUNG...