My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 67 Gara gara anak anjing


__ADS_3

Rafli di buat kelimpungan karena semua pekerjaan hari ini harus ia tangani seorang diri. Dari mulai bertemu dengan client, memeriksa cetak biru untuk desain proyek selanjutnya, semuanya Rafli selesaikan seorang diri.


Setelah bertemu dangan client, Rafli memilih kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih menumpuk, sesampainya di depan Art Life dia melihat Lala tengah bercengkerama bersama seorang pria yang tak asing baginya.


"Dokter Lutfi." Rafli menghampiri Dokter Lutfi dan Lala dengan ekspresi yang sulit di tebak.


"Asisten Rafli." Sapa Dokter Lutfi sambil tersenyum ke arah Rafli.


"Ada perlu apa anda kemari?" Tanya Rafli namun terdengar tidak ramah di telinga Dokter Lutfi.


"Ahh,, kebetulan saya ada pekerjaan di dekat sini dan berniat menemui Tuan Arthur untuk memeriksa kesehatannya, tapi kata Lala, Tuan Arthur tidak ada. " Jelas Dokter Lutfi.


"Lalu kenapa kau juga disini?" Rafli menatap sinis ke arah Lala.


"Ini sudah jam pulang kantor Asisten Rafli, saya tidak sengaja bertemu Dokter Lutfi." Jawab Lala tak kalah sinis dari tatapan Rafli, keduanya saling menatap tajam, mereka seperti sepasang kekasih yang tengah bertengkar.


"Mana nomer telefonmu La." Dokter Rafli menyela di tengah pertarungan tanpa suara itu.


Lala mengeluarkan ponselnya, jemari lentiknya menari diatas gawai pintarnya, otaknya yang kadang lemot membuat dia tak menghapal nomer ponselnya.


"Dok, bagaimana kabar Sisie, aku sangat merindukan gadis kecil itu." Kata Rafli dan membuat Lala menghentikan aktivitasnya.


"Sisie baik." Jawab Dokter Lufti singkat, dia penasaran kenapa tiba-tiba Rafli menanyakan Sisie.


"Kapan anda berencana memberinya adik." Rafli kembali melayangkan pertanyaan yang membuat dahi Dokter Lutfi mengkerut.


Dokter Lutfi semakin mengkerutkan keningnya, sungguh tak biasanya seorang Rafli menanyakan Sisie, ajing peliharaannya yang berjenis kelamin perempuan.


"Sisie, adik, apa Dokter Lutfi sudah menikah." Gumam Lala dalam hati, kemudian dia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas, dia tidak mau bertukar nomor dengan pria beristri.


Rafli menyunggingkan senyum saat melihat Lala urung memberikan nomor ponselnya, sedikit trik ia mainkan agar mereka tak bertukar ponsel.


Aku saja belum punya nomernya, mana boleh anda memilikinya, begitulah yang mungkin ada di benak Rafli sebelumnya sehingga dia menggunakan Sisie untuk membuat Lala salah paham terhadap Dokter Lutfi.


"Mmm, kalau begitu saya permisi." Ucap Lala kemudia dia berlari meninggalkan kedua pria tampan yang saling menatap sinis itu.


"Kenapa anda bermain curang Asisten Rafli, Lala pasti mengira aku adalah pria yang tidak baik." Protes Dokter Lutfi.


Rafli hanya mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum mengejek, tanpa permisi dia meninggalkan Dokter Lutfi dan masuk ke dalam kantor. Rafli bersiul sepanjang langkahnya menuju ruang tempatnya bekerja, lelahnya sedikit terobati setelah menggagalkan Dokter Lutfi untuk mendekati Lala.


****

__ADS_1


"Hampir saja aku berurusan dengan pria beristri." Gerutu Lala sambil menendangi daun kering yang berserakan dijalan, gara-gara kedua pria aneh itu Lala sampai melupakan sepedanya, ia terpaksa harus berjalan kaki karena tak menemukan taxi kosong.


Langkah Lala terhenti, dia memutar bola matanya malas saat melihat tiga orang yang selalu saja mengganggunya, siapa lagi kalau bukan Bi Ningsih dan kedua anaknya. Mereka bertiga mempercepat langkahnya dan menghampiri Lala.


"Apa lagi bi?" Tanya Lala malas, sungguh dia tak ingin berurusan lagi dengan ketika dakjal itu.


"Dimana Mala?" Tanya Rani, gadis tengis itu melipat kedua tangnnya di dada.


"Mana aku tau." Hardik Lala.


"Nggak usah bohong deh lo." Cecar Sofyan.


"Siapa yang bohong, aku nggak tau Mala dimana. Udah ya, aku mau pulang." Lala menghentikan taxi yang melintas di dekat mereka, dia cepat-cepat untuk masuk kedalam taxi sebelum ketiga orang menyebalkan itu mengganggunya kembali.


Ketiga orang itu menatap jengkel kepergian Lala, mereka berhasil menemukan tempat kerja Mala setelah mengobrak-abrik bekas kamar Mala dan menemukan slip gaji Mala.


"Lebih baik kita ke kantornya saja bu." Usul Sofyan dan segera di setujui oleh Bi Ningsing.


Bi Ningsih berjalan lebih dulu di ekori oleh kedua anaknya, dia mencocokkan alamat yang terlulis di secarik kertas dengan alamat gedung tiga lantai yang kini ada di hadapan mereka.


"Benar ini alamatnya." Ucap Bi Ningsih yakin setelah beberapa kali memeriksanya.


"Besar juga ya bu, apa Rani bisa kerja di tempat seperti ini." Gumam Rani seraya membayangkan dirinya bekerja di Art Life.


Sofyan tertawa puas setelah mengejek-- adiknya,sementara Rani mencebikkan bibirnya, ingin rasanya dia menggunting lidah kakaknya yang sangat tajam saat berucap.


"Sudah-sudah, ayo kita masuk." Sergah bi Ningsing.


Rani melotot ke arah kakaknya sebelum dia mengikuti ibunya menuju Art Life, mereka segera masuk, kebetulan satpam yang bertugas sedang berganti shift sehingga mereka leluasa masuk kedalam kantor itu dan menghampiri meja resepsionis yang sudah kosong.


"Sudah tidak ada orang bu." Ucap Rani lalu memeriksa jam tangannya. "Sudah jam pulang kantor, pantas saja sepi, lebih baik besok lagi kita kesini bu."Imbuh Rani memberi saran kepada ibunya.


Mereka keluar dari gedung Art Life dengan wajah kecewa, mereka harus menemui Mala dan bertanya tentang stempel milik orang tuanya, uang seratus juta pemberian Tuan Mahesa sudah hampir habis sehingga mereka mencari cara untuk mendapatkan uang lagi dan salah satunya adalah menemui Mala.


****


"Waktu itu..mmm....setelah ulang tahunmu,,,, kebakaran itu terjadi.. hahhahaha....kau juga berada disana saat kebakaran itu terjadi Mala, ah tidak asik, bagaimana kau bisa lupa, kebakaran itu membunuh kedua orang tuamu dan Momy Lidya, ibu kandung Arthur."


Perkataan Petra sungguh mengganggu Mala, setelah pulang dari club dia kembali membongkar kopernya dan mengurungkan niatnya untuk pergi dari apartemen Arthur. Awalnya Mala berniat untuk pindah setelah memutuskan hubungannya dengan Rey, namun setelah mendengar ocehan Petra gadis itu berubah fikiran, dia ingin tau apakah yang di ucapkan Petra adalah sebuah kebenaran, apakah dia dan Arthur memang saling mengenal sejak mereka kecil.


Untuk mendapatkan jawaban dari teka-teki itu, mau tidak mau Mala harus tetap berada di samping Arthur dan menggali informasi baik dari Arthur maupun orang terdekatnya.

__ADS_1


Mala meraih ponsel dari sakunya, dia mencoba menghubungi Raflu untuk menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran sejak lama.


"Ya Mala, apa kalian sudah pulang?" Ucap Rafli dari seberang telefon.


"Sudah. mmm.." Mala sempat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Asisten Rafli, apa boleh saya bertanya." Ucap Mala setelah mengumpulkan keberaniannya.


"Katakan."


"Mm, apa saya boleh tau dimana tempat kebakaran yang menewaskan ibu Tuan Arthur?"


"Kenapa kau menanyakan itu?"


"Saya rasa saya harus lebih berhati-hati, saya tidak mau kejadian kemarin terulang lagi, jika saya tau tempatnya saya bisa mengantisipasi trauma Tuan Arthur kambuh." Jelas Mala bohong, dia terpaksa melakukan kebohongan agar Rafli tak mencurigainya.


"Oh. Menurut informasi yang saya dengar, kebakaran itu terjadi di Villa pribadi di daerah Puncak."


"Terimakasih informasinya Asisten Rafli."


"Hem. Oh ya bagiaman keadaan Tuan Arthur?"


"Petra sempat mabuk, dia sedang tidur sekarang."


"Jaga dia."


"Baik Asisten Rafli."


Mala hendak menutup pangilannya, namun tiba-tiba Rafli kembali berbicara, Mala kembali menempelkan ponselnya didekat telinganya.


"Ya Asisten Rafli, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Mm,, begini Mala.." Kali ini Rafli yang terdengar ragu. "Boleh aku minta nomer telefon Lala." ucapnya kemudian setelah membuang jauh rasa gengsinya. Sebenarnya bisa saja dia memeriksa biodata Lala dan mengambil nomer telefonnya, namun Rafli tal ingin seperti pencuri, lebih baik dia meminta meskipun tidak langsung kepada orangnya.


"Baiklah, nanti saya kirim."


Tut.. Mala mengakhiri panggilannya, dia berkutat dengan ponselnya dan segera mengirim nomer Lala sesuai permintaan Rafli.


"Villa di puncak." Ulang Mala.


Gadis itu lalu mengambil sebuah hoodie dan memakainya, dia keluar dari kamarnya dan memeriksa Petra yang masih terlelap, Mala lalu bergegas pergi, dia harus menemui seseorang untuk mencari tau dimana kedua orang tuanya meninggal.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2