My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 79 TIDAK JERA


__ADS_3

Mama Wulan masuk ke dalam ruangan suaminya setelah anak buah Tuan Raymon pergi, ia bersikap seolah tak mendengarkan apapun, padahal mama Wulan sudah berencana untuk mencari tau apa yang di sembunyikan oleh suaminya.


Mama Wulan berjalan menghampiri suaminya dengan senyuman manis di wajahnya, ia meletakan tas di atas meja lalu duduk dikursi yang berada di hadapan suaminya, mereka hanya terpisah oleh meja kayu berlapis marmer diatasnya.


"Belum selesai?" Tanya mama Wulan dengan lembut, ia menatap suaminya yang masih sibuk dengan beberapa dokumen yang berada di atas meja kerjanya.


"Sebentar lagi. Kenapa tidak menunggu di rumah saja?" Jawab Tuan Raymon.


"Aku ingin mengajak Arthur dan Mala makan malam bersama kita."


Tuan Raymon menghentikan aktivitasnya, ia menutup dokumen yang tengah di garapnya lalu menatap sang istri heran.


"Kau kenapa senang sekali dengan gadis itu." Tanyanya dengan wajah kurang suka.


"Dia gadis yang sangat baik, dia mampu merubah Arthur, lihatlah putra kita sekarang, dia mulai bisa tersenyum semenjak bersama Mala, bukankah itu hal yang bagus. Dia juga gadis yang sangat sederhana." Ujar mama Wulan panjang lebar.


"Ya ya ya terserah kau saja. Tapi apa mereka setuju untuk makan malam bersama."


Mama Wulan mengangkat kedua bahunya, ia meraih tasnya lalu mengeluarkan ponsel dan segera menghubungi Arthur.


"Ya ma, ada apa." Sahut Arthur begitu panggilan tersambung.


"Mama mau mengajak kalian makan malam, apa kamu sibuk?"


"Makan malam?"


"Ya, ajak Mala juga ya."


"Baiklah ma, kirim saja alamatnya, Arthur akan datang bersama Mala."


Mama Wulan mengakhiri panggilannya, ia memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Done." Ucapnya dengan bangga.


***


Mala masih berada di ruang kerja Arthur, keduanya sibuk mengerjakan desain proyek terbaru mereka. Mala sangat antusian mengerjakan bagiannya, apalagi kalau bukan mendesain taman.


Arthur menghentikan pekerjaannya saat ponselnya berbunyi, ia lalu mengangkat panggilan itu dan berbincang sejenak, setelah panggilan berakhir ia tak melanjutkan pekerjaannya, ia justru mengamati Mala yang sedang bekerja.


"Lanjut besok lagi, kita pulang sekarang." Ucap Arthur pelan.


Mala menoleh sejenak lalu kembali fokus kepada laptopnya. "Sebentar lagi, pekerjaanku belum selesai."


"Apa kau sangat menyukai pekerjaanmu?" Tanya Arthur, matanya tak lepas dari Mala sedetikpun.


"Hem." Jawab Mala singkat.


"Lalu apa yang lebih kau sukai, aku atau desain?"


"Aku suka keduanya." Jawab Mala tanpa sadar, ia bahkan kembali menggunakan kata aku saat bercapak dengan Arthur.


Arthur mengulas senyum di wajah yang biasanya tanpa ekspresi itu, meskipun Mala belum menjawab lamarannya, namun setidaknya ia tau isi hati Mala yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Kau harus pilih salah satu, pilih aku atau desain?" Arthur kembali memancing Mala dengan pertanyaannya.


"Tentu saja kam..." Mala tak melanjutkan kalimatnya, ia tersadar akan pertanyaan Arthur yang sengaja menjebaknya. "Tentu saja desain,bagiku desain adalah segalanya." Kilah Mala dengan wajah bersemu merah karena malu.


Arthur terkekeh, kemudian dia ingat sudah berjanji kepada mama Wulan untuk makan malam bersama.


"Selesaikan besok." Arthur menutup paksa laptop Mala membuat gadis itu menggerutu.


"Ish." Desis Mala sebal.


"Kita ada janji makan malam bersama mama."


"Kita. Kapan saya berjanji. Saya tidak mau." Tolak Mala tanpa basa-basi.


"Cih, kenapa si saya keluar lagi." Batin Arthur kesal.


"Tapi mama ingin makan malam bersama."


"Tidak mau, saya mau pulang dan istirahat di rumah." Mala masih tetap menolak.


"Apa yang kau mau? Uang, kenaikan gaji, sebutkan apapun yang aku inginkan, aku akan memberikannya untukmu asal kau mau menemaniku makan malam bersama mama."


Mala diam sejenak, gadis itu sedang memikirkan sesuatu yang sangat di inginkannya. "Anda yakin?"


"Tentu saja, katakan." Tantang Arthur.


"Akhir pekan nanti temani saya ke Villa keluarga anda yang pernah terbakar."


Arthur menelan salivanya kasar, mendengar namanya saja tubuh Arthur sudah gemetar, lalu bagaimana dia akan menyanggupi keinginan Mala untuk mengunjungi Villa terkutuk itu.


"Tidak." Tegas Mala, ia lalu berdiri dan mengemasi barang-barangnya.


"Tapi aku takut." Aku Arthur, dia benar-benar tak bisa menyanggupi keinginan Mala.


Mala kembali duduk, ia merapatkan kursinya agar lebih dekat dengan Arthur, meski sedikit ragu namun akhirnya Mala memberanikan diri menggenggam tangan Arthur yang mulai terasa dingin.


"Kenapa takut, kita pergi bersama, ada aku di belakangmu. Bukankah kamu bilang ingin sembuh dan membantuku mencari tau tetang kebakaran itu." Mala mencoba meyakinkan Arthur, dia tau Arthur sangat senang saat Mala berbicara non formal padanya, untuk itu Mala menggunakan kesempatan tersebut untuk membujuk Arthur.


"Bagaimana kalau aku malih rupa disana."


Mala menahan senyum manakala kata malih rupa keluar dari mulut kejam Artur. "Aku sudah menjinakkan semua parasit itu." Ucap Mala mantap.


"Kau yakin?"


Mala mengangguk.


"Oke, besok kita ke puncak."


Mala buru-buru melepaskan tangan Arthur dan kembali berkemas, setelah semua barangnya masuk ke dalam tas gadis itu ngeloyor keluar dari ruangan Arthur.


"Habis manis sepah di buang." Gumam Arthur lalu ia bangun dan menyusul Mala keluar dari ruangannya.


***

__ADS_1


Langit mulai berwarna orange kemerahan, senja telah tiba saat keduanya menuju sebuah restoran sesuai dengan alamat yang mama Wulan kirimkan. Didalam mobil mereka hanya di temani keheningan, keduanya saling diam dan sibuk dengan fikiran masing-masing, helaan nafas berat dari keduanya cukup membuktikan betapa berat beban fikiran yang sedang mereka rasakan.


Setengah jam berlalu, mereka sudah sampai di sebuah restoran mewah yang berada di pusat kota Jakarta, restoran yang berada di dalam gedung pencakar langit dan menempati lantai tertinggi itu menyajikan pemandangan malam kota Jakarta. Monumen Selamat Datang yang menjadi icon kota Jakarta bertengger di tengah bundaran air mancur membuat siapapun takjub saat melihatnya dari ketinggian.


Mala menggandeng lengan Arhtur sesuai perintah atasannya, mereka harus terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai satu sama lain, keduanya melenggang menuju sebuah meja bundar dimana mama Wulan dan Tuan Raymon sudah menunggu mereka.


"Mama sangat merindukanmu." Sapa mama Wulan seraya memeluk Mala.


Mala menundukan kepalanya, memberi hormat kepada Tuan Raymon setelah mama Wulan melepaskan pelukannya.


"Duduk." Perintah Tuan Raymon dingin.


Mala dan Arthur duduk berdampingan layakya seorang kekasih. Mama Wulan mengembangkan senyum melihat kedekatan mereka, sementara Tuan Raymon memasang wajah datar, sungguh tak bisa ditebak apa yang sedang ada di dalam kepalanya.


"Bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Tuan Raymon pada putranya.


"Baik." Jawab Arthur singkat. Mala dan mama Wulan saling pandang dan menggelengkan kepala mereka heran, kenapa bapak dan anak ini tak bisa akur.


"Kapan kau akan pindah ke kantor induk?"


"Dad, kita di sini mau makan bukan membahas pekerjaan." Mood Arthur tiba-tiba menjadi buruk, ia berdiri lalu menarik tangan Mala agar gadis itu berdiri.


"Maaf ma, lain kali saja kita makan bersama, tapi jangan ajak pria tua itu lagi." Ujar Arthur lalu dia meninggalkan kedua orang tuanya.


"Kamu si mas, merusak suasana." Protes mama Wulan, ia berdiri dan meninggalkan suaminya dengan wajah kesal.


***


Di dalam mobil, Arthur meluapkan semua amarahnya, ia memukul setir berkali-kali hingga tangannya memerah. Mala yang menyaksikan amarah Arthur tak bergeming, ia sudah terbiasa melihat sikap kasar Arthur sebelum ia mengenalnya lebih dekat.


"Kenapa kalian selalu saja berdebat?" Mala akhirnya membuka mulutnya.


"Kau tau pria tua itu selalu saja memaksa kehendaknya." Ucap Arthur dengan wajah merah padam.


"Beliau hanya ingin kamu memimpin perusahaan induk, lalu dimana masalahnya?"


"Dia akan menghancurkan Art Life begitu aku menggantikan posisinya, sejak awal dia tak pernah setuju aku membuat perusahaan sendiri."


"Apa tidak bisa di bicarakan baik-baik."


Arthur melirik Mala dengan kilat amarah diwajahnya, ia merubah posisi duduknya, lalu tanpa memberi peringatan Arthur menarik tengkuk Mala dan melu*mat bibir gadis itu dengan kasar.


Hemmpp... Mala mencoba mendorong tubuh Arthur, ia hampir kehabisan nafas karena Arthur menciumnya dengan kasar.


Mala terpaksa menggigit bibir Arthur dan berhasil membuat Arthur melepaskan ciumannya. Namun Mala justru terkejut saat melihat darah keluar dari bibir Arthur, ia mulai panik sementara Arthur metapanya dengan rasa bersalah.


"Maaf, lagi-lagi aku menyakitimu." Sesal Arthur.


Mala tak mengindahkan ucapan Arthur, ia meraih tisu basah dari tasnya dan mulai menyeka bibir Arthur yang berdarah.


Arthur menyengir menahan perih, bibirnya sobek karena digigit oleh Mala. Arthur menggenggam pergelangan tangan Mala membuat gadis itu berhenti menyeka darah dari bibirnya, manik mata mereka saling bertemu, untuk sesaat mereka larut dalam pesona masing-masing.


Wajah mereka sangat dekat hingga keduanya saling merasakan hembusan hangat dari nafas mereka, jarak yang semakin terkikis membuat Arthur semakin leluasa untuk mengecup bibir Mala, rupanya sebuah gigitan tak membuat Arthur jera untuk mencium Mala.

__ADS_1


Bak terhipnotis, Mala hanya diam mendapat ciuman dari Arthur, ciuman lembut yang kali ini Arthur mainkan membuat Mala terbuai, ia mulai memejamkan matanya dan menikmati ciuaman yang Arthur berikan, Mala bahkan mulai membuka mulutnya agar lidah keduanya lebih leluasa untuk bertemu, keduanya menikmati ciuman hangat di malam yang dingin.


BERSAMBUNG...


__ADS_2