
Selesai bekerja Mala menunggu Arthur didepan Art Life, dia sengaja keluar lebih dulu dan menyiapkan mobil sehingga saat Arthur keluar mobil sudah siap.
Lima menit kemudian Arthur keluar bersama Rafli, Mala segera membukakan pintu untuk atasannya itu. Rafli membungkukkan badannya saat Arthur akan masuk kedalam mobil, setelah itu Mala melajukan mobilnya untuk pulang ke apartemen. Perjalanan mereka hanya ditemani oleh keheningan, mereka saling diam, hanya suara hembusan nafas keduanya yang sayup-sayup terdengar didalam mobil itu.
Sesampainya diapartemen mereka berdua terkejut karena melihat mama Wulan sedang menunggu mereka didepan pintu apartemen Arthur. Mama wulan mengulum senyum begitu melihat anak sambungnya datang bersama dengan kekasihnya, ya begitulah yang mama Wulan tahu, Mala adalah kekasih Arthur.
"Ma, kenapa tidak masuk?" Sapa Arthur lembut, sebuah nada yang jarang keluar dari mulut Arthur.
"Mama lupa tidak membawa kuncinya." Ujar mama Wulan, dia kembali tersenyum saat melihat Mala berada dibelakang Arthur. "Kalian tinggal bersama?"
"Ya." Jawab Arthur singkat. "Masuk ma." Arthur membuka pintu dan mempersilahkan mamanya untuk masuk, kemudian diikuti oleh Mala dibelakang mereka.
Mama Wulan bergegas kedapur dengan barang bawaannya, dia memang rajin mengisi kulkas putra sambungnya meskipun kadang mendapat protes dari Arthur.
"Mama belanja lagi?" Tanya Arthur.
Mama wulan hanya mengangguk, dia membuka kulkas dan menggelengkan kepalanya saat mendapati kulkas itu hanya berisi air putih.
"Arthur, apa pacarmu tidak dikasih makan?" Tanya mama Wulan seraya mengulum senyum. "Untung saja mama kesini, mama sudah menduganya, kulkasmu pasti kosong." Imbuh mama Wulan, namun Arthur tak menanggapi apapun.
Ketika mama Wulan akan memasukkan belanjaannya kedalam kulkas, Mala segera mendekatinya dan berniat untuk membantu.
"Biar saya saja nyonya."
"Nyonya." Ucap mama Wulan keget, wanita paruh baya itu menatap Mala tak percaya. "Panggil mama, bukan nyonya." Ujarnya lagi dengan penuh penekanan.
"Tapi nyonya.."
"Tidak ada tapi-tapi, kamu itu kekasih Arthur, nantinya kita akan menjadi keluarga, mengerti."
Mala hanya mengangguk dan tersenyum, lebih baik dia mengiyakan perintah mama Wulan dari pada masalahnya semakin panjang.
"Saya pembantunya nyonya, bukan pacarnya." Batin Mala.
__ADS_1
Mala dan mama Wulan berkutat didapur, gadis itu membantu mama Wulan masak untuk makan malam. Mala banyak tersenyum saat membantu mama Wulan, dia merasa seperti bersama ibunya, andai saja ibunya masih hidup, mungkin mereka akan memasak bersama seperti yang dilakukan Mala dan mama Wulan sekarang.
Makan malam sudah siap, Mala manata semua masakan mama Wulan diatas meja makan, dia juga menyiapkan piring dan perlengkapan makan lainnya.
"Mala, tolong panggilkan Arthur nak."
"Iya ma." Mala menurut, dia tidak ingin mama Wulan curiga padanya, hari ini dia akan berakting menjadi pacar yang baik. Mala mengayunkan kakinya mendekati kamar Arthur, dia mengetuk beberapa kali namun tak kunjung Arthur bukakan.
"Masuk saja, pasti Arthur didalam." Perintah mama Wulan.
Dengan ragu Mala mendorong pintu kamar Arthur yang ternyata tidak terkunci, dia masuk dengan hati-hati.
"Tuan." Panggil Mala saat melihat Arthur diatas tempat tidurnya. "Tuan." Panggilnya lagi karena tak mendapat jawaban dari Arthur.
Mala mendekati tempat tidur Arthur dan mendapati Arthur tengah tidur. Mala tidak ingin membangunkannya dia berniat untuk keluar sebelum tuannya marah melihat Mala masuk kedalam kamarnya tanpa izin.
"Jangan pergi."
"Aku mohon, jangan pergi."
Mala memperhatikan Arthur yang mulai gelisah, wajahnya sudah dipenuhi dengan keringat, mulutnya komat kamit meskipun matanya terpejam. Dengan hati-hati Mala mendekati tubuh Arthur. "Tuan, apa anda mimpi buruk, tuan, bangunlah."
Mala terkejut karena tiba-tiba Arthur bangun, nafasnya tersenggal-senggal dan matanya memerah seperti orang yang akan menangis.
"Anda baik-baik saja." Tanya Mala pelan.
Arthur menoleh dan menatap Mala, gadis itu beringsut, dia menyiapkan diri untuk dimaki oleh Arthur lagi karena sudah lancang masuk kedalam kamarnya. Namun dugaan Mala salah, bukannya memaki, Arthur malah menarik tangan Mala dengan kuat sehingga tubuh gadis itu limbung dan berakhir dipangkuan Arthur .
Mala merasa tisak asing dengan kejadian ini, dia teringat akan Petra dan mencoba melepaskan diri dari Arthur. Namun Mala kalah kuat, Arthur memeluk pinggangnga dengan erat, dan kepalanya sudah menempel didada Mala.
"Tuan, saya mohon lepaskan." Pekik Mala, tangannya berusaha untuk mendorong bahu Arthur. Namun Arthur tak bergeming, pria itu malah terisak, air matanya mulai menetes dan membasahi baju Mala.
"Anda baik-baik saja?"
__ADS_1
Arthur tak menjawab dan dia semakin terisak. Mala menghela nafas panjang, namun tak sadar tangannya sudah menepuk punggung Arthur.
"Sepertinya aku melihat sisi baru dalam diri anda tuan." Ucap Mala didalam hati.
Sementara didepan pintu mama Wulan mengulum senyum melihat Arthur dan Mala berpelukan, dia yakin sekarang bahwa mereka benar-benar pacaran. Mama Wulan kembali kedapur, dia tidak ingin mengganggu anaknya yang menurutnya tengah kasmaran itu.
Lima menit berlalu, Arthur mulai tenang, tangisnya tak terdengar lagi, dia melepaskan kaitan tangannya dipinggang Mala. Arthur mengangkat kepalanya dan menatap Mala, gadis itu hanya diam dan membalas tatapan Arthur. Dug, dug, dug, jantung Arthur mulai berdetak dengan cepat dan pipinya memerah.
"Anda demam?" Tanya Mala, dia menempelkan punggung tangannya dikening Arthur. "Tidak demam, tapi kenapa wajah anda memerah." Imbuh Mala lagi.
Arthur yang menyadari itu segera mendorong tubuh Mala, dia salah tingkat lalu bangun dari tempat tidurnya.
"Maaf." Ucap Arthur lalu dia masuk kedalam kamar mandi.
"Tuan, nyonya menyuruh anda untuk makan." Seru Mala sebelum gadis itu keluar dari kamar Arthur.
Mala kembali kedapur dan mendapati mama Wulan yang sudah menunggu mereka dimeja makan. Mala tersenyum dan menarik kursi lalu duduk disebelah mama Wulan. Tak selang lama Arthur keluar dan menghampiri kedua wanita yang sedang menunggunya.
Arthur menarik kursi yang berada di seberang Mala, gadis itu lalu berdiri dan mengambilkan makanan untuk Arthur, dia benar-benar menjiwai perannya sebagai pacar pura-pura. Arthur menatap Mala, namun Mala hanya memberi kode lewat anggukan , Arthur pasrah dan membiarkan Mala berbuat semaunya. Sementara mama Wulan kembali tersenyum melihat kedekatan mereka.
Mereka mulai makan, Mala fokus dengan makanan didepannya, dia tengah sibuk memisahkan bawang putih dari tumis kankungnya, hal demikianpun tengah dilakukan oleh pria yang duduk didepannya.
"Sepertinya kalian memang jodoh." Ucap mama Wulan yang melihat mereka sibuk memisahkan irisan bawang putih.
"Apa?"Ucap Mala dan Arthur bebarengan.
"Lihat saja, kalian sama-sama tak menyukai bawang putih dan memisahkannya dari sayur kalian."
Arthur dan Mala memeriksa piring masing-masing lalu mereka bertukar pandang dan benar saja mereka melakukan hal yang sama.
"Ini hanya kebetulan." Batin Mala
BERSAMBUNG....
__ADS_1