My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 55 Calon istri


__ADS_3

"Anda baik-baik saja?" Tanya Arthur segera setelah Tuan Mahesa duduk.


Mala yang juga merasa khawatir segera mendekati meja, dia meraih gelas berisi air putih yang berada diatas meja dan memberikannya kepada Tuan Mahesa.


Dengan tangan yang masih sedikit bergetar Tuan Mahesa meraih gelas dari tangan Mala dan meminumnya. "Terimakasih." Ucap Tuan Mahesa lemah.


"Lebih baik kita tunda saja meetingnya tuan, sepertinya anda sedang kurang sehat." Ucap Arthur.


"Saya baik-baik saja Tuan Arthur, maaf membuat kalian khawatir." Tolak Tuan Mahesa, dia berikeras untuk melanjutkan meetingnya bersama Arthur.


"Apa saya bisa melihat desainnya sekarang." Tanya Tuan Mahesa setelah dia merasa jauh lebih baik.


Arthur dan Mala duduk bersebelahan, Arthur menunjukkan desain rancangannya dan juga Mala, dia mulai menjelaskan setiap detail dari desainnya. Tuan Mahesa memperhatikan dengan seksama, sesekali dia melirik Mala dan membuatnya semakin penasaran, siapakah gadis ini sebenarnya, kenapa dia sangat mirip dengan seseorang yang dikenalnya.


"Siapa yang mendesain Lansekapnya?" Tuan Mahesa menunjuk gambar yang didesain oleh Mala.


"Saya tuan." Jawab Mala ragu-ragu.


"Kenapa kamu memilih membuat hutan ditengah hotel, bukankah kita bisa menanam pohon disekitat hotel?" Tanya Tuan Mahesa, dia sangat penasaran dengan desain Mala yang cukup unik.


"Kita berada di negara dengan iklim tropis, saat musim penggujan datang biasanya akan diselingi dengan angin yang kencang, dan untuk meminimalisir adanya pohon tumbang saya memilih menanam pohon ditengah hotel. Hotel akan dibangun dengan ketinggian lebih dari 20 meter, sedangkan pohon yang saya pilih tidak akan lebih dari 20 meter, sehingga angin akan sedikit terhalau oleh bangunan hotel dan tumbangnya pohon bisa kita hindari." Jelas Mala panjang lebar, kegugupan yang sejak tadi disaranya tiba-tiba hilang dengan sendirinya.


"Baiklah, saya akan menggunakan desain ini, dengan syarat Mala yang akan bertanggung jawab dengan proyek Lansekap ini." Ucap Tuan Mahesa membuat Arthur dan Mala terkejut.


"Tapi tuan, saya bukan seorang Arsitek, saya hanya...."


Mala belum menyelesaikan kalimatnya, namun Arthur lebih dulu memotong ucapannya. "Dia masih magang, jadi pengalamannya masih kurang banyak, tapi saya akan membimbingnya agar bisa menyelesaikan proyek ini dengan baik, terimakasih untuk kesempatan ini Tuan." Ujar Arthur dengan wajah penuh keyakinan.


Setelah urusan pekerjaan selesai, mereka melanjutkannya dengan makan malam bersama. Tak ada yang spesial, mereka hanya menikmati makan malam mereka dengan hening, hanya saja Arthur merasa sedikit tidak nyaman karena Tuan Mahesa diam-diam memperhatikan Mala.


Setelah makan malam selesai, Arthur dan Mala pamit untuk pergi terlebih dahulu.

__ADS_1


"Semoga kerja sama kita lancar ya." Ucap Tuan Mahesa saat menjabat tangan Arthur.


"Dan semoga desain kami tidak mengecewakan anda." Balas Arthur datar.


"Senang bekerja sama dengan calon Arsitek seperti kamu." Tuan Mahesa menjulurkan tangannya kearah Mala. Gadis itu segera meraih tangan Tuan Mahesa dengan senyum diwajahnya. "Terimakasih banyak untuk kesempatan baik ini tuan, saya akan berusaha sebaik mungkin." Jawab Mala dengan lembut.


Setelah berpamitan, Arthur dan Mala keluar dari restoran itu, namum saat Mala hendak masuk kedalam mobil tiba-tiba seseorang datang dan menarik rambutnya yang tergerai.


"Aduhh." Pekik Mala seraya memegang tangan yang tengah menarik rambutnya.


Melihat hal itu sontak membuat Arthur terkejut dan juga marah, dia segera menghampiri Mala dan melepaskan tangan yang sedang menarik rambut Mala. Saat rambutnya sudah terbebas, Mala berbalik, dia terkejut melihat sosok yang tengah berdiri didepannya.


"Bibi." Ucap Mala gugup, gadis itu mundur satu langkah seolah dia membutuhkan perlindungan Arthur.


"Bagus kalau kau masih ingat aku..Sekarang katakan dimana stempel itu?" Tanya bi Ningsih tanpa basa-basi, dia bahkan tak memperdulikan Arthur yang tengah menatapnya tajam.


"Stempel apa si bi, Mala nggak tau apa yang bibi maksud?" Jawab Mala dan tanpa dia sadari dia meremas ujung jas Arthur.


"Lo." Sofyan mendelik begitu melihat Arthur, dia masih ingat wajah bringas Arthur saat sedang memukulinya.


"Siapa dia La?" Tanya Arthur pelan.


"Mereka bibi dan sodara sepupu saya."


"Ada apa kalian menemui Mala, bukankah kalian sudah mengusirnya." Ucap Arthur dingin, tatapannya begitu mengintimidasi dan membuat bi Ningsih sedikit gusar.


"Bukan urusan anda." Jawab Bi Ningsih.


"Jelas urusan saya, karena Mala adalah calon istri saya."


Deg,, Mala terpaku, dia menatap Arthur yang kini tengah menggenggam tangannya, ada perasaan aneh yang menelisik dihatinya saat Arthur menyebutnya sebagai calon istri.

__ADS_1


"Apa?" Bi Ningsih dan Sofyan terkejut mendengar penuturan Arthur.


"Benar itu Mala?" Selidik bi Ningsih.


Mala bingung harus menjawab apa, dia tidak mau Arthur terlibat dalam masalah keluarganya, namun disisi lain dia juga tidak ingin berurusan lagi dengan bibi dan sepupunya. "Ya, dia adalah calon suami Mala." Jawab gadis itu dengan keras. Kali ini Arthur yang tertegun, dia tidak menduga Mala akan mengikuti permainannya, Arthur tersenyum sekilas, lalu dia kembali berwajah sangat saat menatap bi Ningsih dan Sofyan.


"Terserah dia siapa, aku tidak peduli, yang penting sekarang serahkan dulu stempel milik orang tuamu." Ucap bi Ningsih, dia berkacak pinggang seperti sedang menantang Arthur.


"Stempel apa yang mereka maksud La?" Tanya Arthur penasaran.


"Saya juga tidak tau, lebih baik kita pergi sekarang." Jawab Mala, dia melepaskan tangan Arthur dan segera masuk kedalam mobil.


"Mau kemana kamu?" Teriak bi Ningsih, dia tidak terima Mala meninggalkannya begitu saja. Bi Ningsih hendak menyusul Mala, namun Arthur lebih dulu menghadangnya.


"Saya bisa memasukkan anda ke penjara jika anda berani mengganggu calon istri saya lagi." Bisik Arthur penuh ancaman, lalu dia segera masuk kedalam mobil dan meninggalkan tempat itu.


Dari kejauhan Tuan Mahesa mengamati mereka, dia menyipitkan matanya saat melihat sosok yang tidak asing baginya. Setelah Arthur dan Mala pergi, Tuan Mahesa segera menghampiri Bi Ningsing dan juga anaknya.


"Ningsih." Panggil Tuan Mahesa, siempunya namapun menoleh, Bi Ningsih terkejut, begitupun dengan Tuan Mahesa yang tak kalah kaget melihat bi Ningsih.


"Mahesa." Gumam bi Ningsih.


"Siapa gadis yang baru saja pergi?" Tanya Tuan Mahesa, dia ingin memastikan sesuatu.


"Dia..dia." Bi Ningsih tiba-tiba gagap.


"Dia anaknya Intan kan?" Ucap Tuan Mahesa penuh penekanan.


"Jawab Ning, dia putriku kan?"


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2