My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 61 Bolos Kerja


__ADS_3

Matahari telah meninggi saat sepasang muda-mudi masih terlena dalam mimpi panjang mereka, entah jam berapa keduanya tidur semalam, namun pagi ini mereka terlihat sangat damai dalam dekapan satu sama lain.


Pemuda yang seharian kemarin bergonta-ganti kepribadian kini mulai mengerjapkan matanya, tengan kirinya terasa pegal karena menjadi bantal untuk kepala seseorang, matanya terbuka sempurna dan senyum merekah membuat lesung pipi dikedua sisi wajahnya terukir sempurna saat melihat seorang gadis terlelap dipelukannya, namun beberapa detik kemudian senyuman itu pudar, tergantikan sebuah wajah sendu penuh dengan kesedihan, tak ada yang tau pasti siapa yang bangun dipagi ini, mungkinkah pemilik tubuh yang sesungguhnya atau penghuni lain yang kembali mengusai tubuh pemuda itu.


Mala mulai menggerakan badannya, sekujur tubuhnya terasa sangat pegal, mungkin karena dia harus berbagi kasur sempit dengan orang lain semalam, niat awalnya hanyalah untuk menemani Ara tidur, namun siapa sangka dia justru turut hanyut dalam pelukan sang malam.


Mata gadis itu membola saat melihat pemuda yang menjadi atasannya kini tengah memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan, Mala beringsut, dia segera bangun dan merapikan baju serta rambutnya, kegugupan tiba-tiba menyerang dirinya.


"Kenapa tidak membangunkanku?" Ucap Mala dengan pelan, dia sendiri ragu siapa yang tengah bersamanya sekarang.


"Aku tidak tega membangunkanmu, apa tidurmu nyenyak?" Tanya sipemuda dengan kepribadian ganda itu.


"Mmm,, ya.. mm,, maksudku lumayan nyenyak." Jawab Mala dengan gugup, dia takut salah bicara.


"Apa kamu tidak mengenaliku lagi?" Tanya pemuda itu lagi, kini dia berdiri dan menghampiri Mala.


"Aku..."


"Apa kamu senang tidur bersama Arthur? Apa kalian sudah sering tidur bersama? Apakah ini alasan sikapmu berubah kepadaku." Cecar pemuda itu dengan mata berkaca-kaca.


"R..Rey."


"Ya ini aku, kenapa? Kamu tak mengharapkan kehadiranku?"


"Bukan begitu, aku hanya bingung. Seharian kemarin Tuan Arthur selalu berubah-ubah, terakhir Ara muncul dan dia memintaku untuk menemaninya tidur." Jelas Mala, dia tidak ingin menciptakan kesalahpahaman.


Rey menghela nafas lega, dia menarik pinggang Mala dan memeluk gadis itu dengan erat seolah tak rela jika gadisnya pergi dari dekapannya.


"Aku fikir kamu menyukai Arthur dan mulai membenciku." Gumam Rey dan membuat Mala terenyuh dibuatnya.

__ADS_1


"Maaf aku sangat sibuk akhir-akhir ini dan tidak sempat menunggumu." Ucap Mala seraya membalas pelukan Rey.


Rey mengangguk pelan, dia menuangkan semua kerinduannya lewat pelukan yang begitu erat, dia bahkan menghujani pucuk kepala Mala dengan kecupan yang bertubi-tubi, entah sudah berapa lama ia tak bisa bertemu dengan Mala karena saat ia muncul saat itu pula gadisnya telah tertidur pulas, dia tak tega untuk membangunkannya.


"Rey, apa kamu mau jalan-jalan, kita bisa bolos hari ini." Ajak Mala disela pelukan hangat mereka.


Rey melonggarkan pelukannya, ia menunduk agar bisa melihat wajah Mala, gadis itu mendongakkan kepalanya sehingga tatapan mereka saling bertemu. "Kamu ingin jalan-jalan kemana?" Tanya Rey dengan lembut.


"Pantai."


"Oke"


****


Sementara di depan gedung Art Life, Rafli tengah menunggu kedatangan Arthur dan juga Mala, berkali-kali dia memeriksa jam tangannya, sudah lebih dari lima menit Rafli menunggu kedatangan mereka, namun keduanya tak juga nampak, padahal Arthur dan Mala tak pernah telat sebelumnya.


Rafli menatap sesosok gadis yang tengah berjalan menuju ke arahnya, tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan cepat tat kala gadis itu semakin dekat dengannya. Namun tak sesuai harapnya, gadis itu hanya menundukkan kepalanya sekilas dan melewati Rafli begitu saja, perasaan kecewa mulai menyeruak dihatinya, dia tak suka di abaikan.


"La." Ulang Rafli lagi.


"Mikhayla." Seru Rafli dengan suara yang melengking.


Lala membuang nafas dengan kasar, dia terpaksa berhenti sebelum Rafli membuat geger dipagi hari, gadis itu berbalik dan memutar bola matanya malas.


"Apa ada yang bisa saya bantu Asisten Rafli?" Tanya Lala dengan sopan.


"Kau mengabaikanku?" Ucap Rafli kesal.


"Saya, mengabaikan anda?" Tanya Lala seraya menunjuk wajahnya sendiri, gadis itu tersenyum getir mendengar kata mengabaikan keluar dari mulut Rafli.

__ADS_1


"Mana berani saya mengabaikan Asisten Rafli yang terhormat." Ucap Lala mengejek.


"Kalau tidak ada yang lain saya permisi." Imbuhnya lalu dia membungkukkan tubuhnya gingga membentuk sudut empat puluh lima derajat, setelahnya dia kembali meninggalkan Rafli yang masih menatap heran akan dirinya.


"Gimana rasanya di abaikan, enak kan, sudah ku bilang, aku akan membuatmu menggilaiku suatu hari nanti Raf." Batin Lala dengan senyum penuh kemenangan.


Rafli menatap kepergian Lala dengan kesal, dia tak menyangka gadis kecil itu akan menyerah dengan mudahnya.


Rafli kembali fokus dengan tujuan utamanya, yaitu menunggu Arthur, tak sabar menunggu kedatangan mereka akhirnya Rafli menghubungi Mala.


"Ya Asisten Rafli." Jawab Mala.


"Kau dimana, bagaimana kondisi Tuan Arthur?"


"Kami dirumah, kami tidak pergi kekantor, Tuan Arthur terus saja berubah-ubah." Jawab Mala bohong, dia berusaha mengakali Rafli agar tak perlu datang ke kantor tanpa pemotongan gaji.


"Baiklah, biarkan Tuan Arthur istirahat, jaga dia dengan baik." Titah Rafli, lalu dia memutuskan sambungan telefonnya dan masuk kedalam kantor.


Sementara di apartemen, Mala tengah bersiap untuk pergi bersama Rey, dia ingin menghabiskan waktu bersama Rey, menebus waktu-waktu yang telah mereka lewatkan beberapa hari terakhir.


"Kita sarapan diluar aja ya." Ajak Mala setelah keduanya siap.


"Kenapa nggak pake jaket, nanti kamu kedinginan." Bukannya menjawab Rey malah memperhatikan penampilan Mala yang hanya mengenakan kaos.


"Hari ini kita bawa mobil Tuan Arthur saja, aku sedikit masuk angin, lain kali kita pergi dengan motormu, oke." Bujuk Mala dengan suara manja, dia bahkan bergelayut di lengan Rey membuat Rey merasa aneh dengan sikap Mala yang tiba-tiba sangat manis dan manja kepadanya.


"Maafkan aku Rey, sungguh aku berhutang kata maaf padamu." Batin Mala seraya menatap Rey dalam, lalu tiba-tiba Mala berjinjit dan mengecup bibir Rey sekilas, kesempatan itu tentu tak akan Rey lewatkan, dia meraih pinggang Mala dan membalas ciumannya, kini keduanya saling bertaut, melepas kerinduan yang telah tertahan, keduanya larut dalam ciuman yang hangat dan penuh kasih sayang.


Namun tanpa Rey sadari, buliran bening menetes dari pelupuk mata gadisnya, entah apa yang dirasa Mala, namun gadis itu seperti menyembunyikan sesuatu yang hanya di ketahui olehnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2