My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 101 Meminta Restu


__ADS_3

Pagi menyapa, mentari perlahan mulai menampakan sinarnya, suara nyanyian burung semakin membuat suasa pagi ini semakin hidup.


Di dalam kamarnya, Lala sedang belajar merangkai kata-kata sebelum memberitahu kedua orangtuanya tentang niat Rafli yang akan melamarnya. Lala sebenarnya sudah membahas hal ini kepada sang ibu, namun ia belum berani membicarakannya kepada ayahnya.


Lala keluar dari kamarnya dan menemui kedua orang tuanya di ruang keluarga. Lala mematung melihat ayahnya yang sedang menonton televisi, rangkaian kalimat yang tersusun di kepalanya tiba-tiba menghilang, ia menjadi gugup, tangannya mulai gemetaran.


Bu Erni keluar dari dapur dengan membaea secangkir kopi untuk suaminya, ia menepuk pundak putrinya yang tengah berdiri di ambang pintu seraya menatap ayahnya. Bu Erni menunjuk suaminya dengan dagu, memberi kode kepada Lala untuk mendekat ayahnya dan membicarakan maksud Rafli yang ingin menikahinya.


"Aku takut bu." Bisik Lala, ia kembali melirik ayahnya dari ekor mata.


Pak Dahlan yang mendengar suara bisik-bisik dari arah lainpun menoleh, ia melihat istri dan anaknya yang sedang berdiri dan saling menyikut satu sama lain.


"Kalian ngapain?" Pak Dahlan menatap anak dan istrinya secara bergantian.


Bu Erni tersenyum kecut, ia segera mengantar kopi untuk suaminya. "Katanya Lala mau membahas sesuatu denganmu yah." Ucapnya seraya menaruh cangkir kopi di atas meja.


Lala melangkahkan kakinya dengan ragu, ia menunduk mengamati kedua tangannya yang saling meremas. Lala duduk di hadapan kedua orang tuanya, ia masih menunduk karena tidak mempunyai keberanian untuk menatap ayahnya.


"Mau ngomong apa? Uangmu habis? Pak Dahlan menatap bingung anak semata wayangnya, tak biasanya Lala bersikap seperti itu jika ia membutuhkan uang.


Lala menggeleng dengan cepat karena kali ini ia tidak membutuhkan uang, namun mulutbya tetap bungkam membuat ayahnya kebingungan.


Pak Dahlan meraih cangir yang berisi kopi, ia meniup kopi panasnya dan menyesapnya perlahan, namun tatapannya tak lepas dari putrinya yang sejak tadi tak mau mengangkat kepalanya.


"Apa yang mau kamu omongin." Ulang pak Dahlan karena tak mendapat jawaban dari pertanyaan sebelumnya.


Lala mengatur detak jantungnya, ia mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki, perlahan kepalanya mulai terangkat, Lala menatap kedua orangtuanya secara bergantian.


"Lala mau menikah ayah, ibu " Ucapnya lantang setelah diam cukup lama.


Pak Dahlan terkejut, pria bertubuh gempal dengan perut buncit itu sampai menjatuhkan cangkir kopinya, untung saja cangkir tersebut tidak pecah karena terjatuh di atas karpet yang cukup tebal


"Apa katamu?" Pak Dahlan menatap Lala begitu tajam.


"Lala mau menikah yah, Rafli berniat melamar Lala." Ulang Lala dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Kamu hamil?" Tebak pak Dahlan dengan wajah memucat.


Lala menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak pak."


"Terus kenapa buru-buru menikah, kuliahmu saja belum selesai, kamu itu masih ingusan, belum saatnya untuk menikah. Kamu fikir menikah itu gampang?"


"Lala dan Rafli saling mencintai yah, kami takut akan berbuat khilaf, untuk itu kami memutuskan untuk menikah." Lala terpaksa berbohong kepada orangtuanya, padahal mereka memang sudah melakukan kekhilafan sampai akhirnya memutuskan untuk menikah.


"Ibu rasa Rafli pria yang baik yah, buktinya dia memilih untuk menikahi putri kita dari pada kelamaan berpacaran. Lala sudah dewasa sekarang, bukankah lebih baik kita menikahkan mereka dari pada terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan?" Bu Erni berusaha meyakinkan suaminya.


"Tapi bu, dia masih kuliah, dia....


"Lala kesepian yah, Lala butuh teman." Lala memotong kalimat ayahnya. "Malam hari Ayah dan ibu sibuk bekerja, saat siang Lala sibuk kuliah, kita jarang memiliki waktu untuk bertemu. Lala tau kalian bekerja demi Lala, tapi Lala juga ingin perhatian lebih dari kalian, tetapi setelah bertemu Rafli dan mengenalnya lebih jauh, Lala tidak merasa kesepian lagi, Lala punya teman bercerita dan pendengar yang baik."


"Menikah bukan sekedar mencari teman untuk menghilangkan kesepianmu La." Ujar pak Dahlan, ia menatap sendu putri kecilnya.


"Lala tau yah. Kami hanya saling mencintai dan ingin terus bersama. Ayah nggak perlu khawatir, Lala akan menyelesaikan kuliah, Rafli juga tidak melarangnya."


Di tengah perdebatan Lala dan ayahnya, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu rumah mereka, bu Erni segera bangun dan berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Masuk nak."


Rafli hanya mengangguk, ia mengikuti bu Erni masuk ke dalam rumah. Lala dan ayahnya menoleh bersamaan, mereka terkejut melihat Rafli berdiri di belakang bu Erni.


"Rafli, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Lala dengan wajah bingung.


"Silahkan duduk nak."


Rafli kembali mengangguk, ia lalu duduk di sebelah Lala dengan wajah yang terlihat sangat tenang. Lala menatap heran kekasihnya karena berkunjung di pagi hari.


"Ngapain kamu kesini lagi-pagi?" Tanya pak Dahlan tak bersahabat.


Rafli mengatur nafasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan pak Dahlan. "Maafkan kelancangan saya pak karena bertamu terlalu pagi, niat kedatangan saya kemari karena saya ingin meminta restu kepada bapak dan ibu, sayang sangat mencintai Lala dan ingin memperistrinya." Rafli mengucapkan kalimat itu dengan tenang dan lantang, sorot matanya menyiratkan sebuah keseriusan.


"Nak Rafli, saya sangat berterimakasih dengan niat baik nak Rafli, tapi perlu nak Rafli ketahui, Lala masih kecil dan belum menyelesaikan pendidikannya." Pak Dahlan menolak niat baik Rafli secara halus.

__ADS_1


"Saya tau pak, saya tidak akan membatasi ruang gerak Lala, dia masih bisa melanjutkan kuliahnya, saya juga tidak akan melarang jika Lala ingin bekerja nantinya." Rafli belum menyerah untuk meyakinkan calon mertuanya. Rasa bersalah dan rasa cintanya yang besar untuk Lala membuatnya terus berjuang demi mendapatkan restu dari kedua orang tua Lala lebih tepatnya ayahnya, pak Dahlan.


Pak Dahlan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, ia masih tidak rela jika anaknya harus menikah di usia muda. Pak Dahlan memiliki harapan yang tinggi terhadap putri satu-satunya, ia ingin melihat Lala menjadi Arsitek yang sukses.


"Maaf nak Rafli, saya keberatan dengan niat baik nak Rafli."


"Ayah." Lala menatap ayahnya dengan wajah masam, penolakan ayahnya membuat Lala merasa sedih dan merasa bersalah kepada Rafli.


"Keputusan ayah sudah bulat, ayah tidak mengizinkan kalian untuk menikah, tidak untuk saat ini " Ujar pak Dahlan penuh penekanan, ia lalu beranjak dari duduknya dan melenggang meninggalkan ruang keluarga.


"Bagaimana kalau Lala hamil?"


Bu Erni dan Rafli menatap Lala bersamaan, begitupun pak Dahlan, ia menghentikan langkahnya dan segera berbalik mengahmpiri putrinya dengan wajah merah padam.


"Kau hamil? Dia menghamilimu?" Tanyanya dengan amarah.


Lala berdiri dan mensejajari ayahnya. "Tidak yah, Lala hanya memikirkan kemungkinan terburuk. Bukankah lebih baik ayah mengizinkan kami untuk menikah dari pada nantinya Lala hamil dan membuat ayah malu?"


Pak Dahlan memijat kepalanya yang tersa berdenyut, ia di buat pusing oleh putri tunggalnya.


"Apa Lala kawin lari saja?" Ancam Lala dengan wajah serius.


Pak Dahlan membelalakan matanya mendengar kalimat yang di ucapkan Lala barusan. "Menikah itu bukan hal main-main La."


"Kami serius, kami tidak main-main yah." Sahut Lala dengan cepat.


"Menikah itu nggak cuma makan cinta."


"Lala tau, ayah nggak perlu khawatir, Rafli sudah mapan dan tidak akan membiarkan Lala hanya makan cinta. Lala nggak akan kelaparan yah." Jawab Lala, ia salah mengartikan perkataan ayahnya perihal makan cinta.


Pak Dahlan membuang nafasnya dengan kasar, anaknya sudah di butakan oleh cinta.


"Yo wes, terserah kowe, ayah mumet."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2