My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 133 Linangan air mata


__ADS_3

Dengan wajah berlinang air mata, gadis bergaun pengantin berlarian meninggalkan area ballroom tempat pernikahannya. Mendengar teriakan sang sahabat membuat gadis itu menatap ke segala arah, ia harus segera bersembunyi sebelum sahabatnya menemukannya. Tangan yang masih bergetar hebat menarik kedua sisi gaunnya dengan sekuat tenaga, gadis itu berlari masuk ke dalam toilet pria yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Gadis itu sedikit bernafas lega saat mendapati toilet itu kosong, setelah seperkian menit ia memeriksa keluar memastikan jika sang sahabat tak menemukannya.


Saat di rasa aman, gadis bergaun pengantin itu keluar dari kamar mandi, ia segera keluar dari hotel dan mencegat sebuah taxi yang kebetulan melewatinya di depan lobby. Gadis itu masuk ke dalam taxi, sang sopir beberapa kali mengintipnya dari balik kaca spion, namun gadis itu tak memperdulikan tatapan aneh dari sang sopir.


Mala, gadis malang itu kembali menangis di dalam taxi yang di tumpanginya, riasan wajahnya telah tergusur derasnya air matanya siang ini, wajah ayunya tertutupi kesediahan yang mendalam, pernikahan yang telah di nantinya harus batal akibat suatu kesalahan di masa lalu.


Satu jam berlalu, taxi yang di tumpanginya telah sampai di depan sebuah rumah mewah milik keluarga Bagaskara, Mala segera menghapus air matanya, ia lantas turun dari taxi tersebut.


"Pak, tunggu sebentar, saya hanya akan mengambil beberapa barang." Pesannya pada sang supir.


"Baik mbak." Jawab sopir taxi tesebut dengan ramah, melihat gadis bergaun pengantin menangis di dalam taxinyya membuatnya sedikit merasa iba.


Mala berlari masuk ke dalam rumah besar tersebut, beberapa pelayan nampak terkejut melihat kedatangan nyonya baru mereka seorang diri, namun para pelayan tak berani bertanya mereka hanya menyapa melalui anggukan kepala.


Mala segera masuk ke dalam kamar yang beberapa hari di tempatinya, dengan cepat ia melepaskan gaun pengantin yang melekat pada tubuhnya, menggantinya dengan celana jeans dan kaos kebesaran favoritnya, tak lupa sisa-sisa make up ia bilas dengan air, setalah selesai ia menarik koper miliknya keluar dari kamar tersebut.


Mala kembali berlari, ia menuruni anak tangga dengan tergesa, membuat para pelayan kembali memperhatikannya. Gadis itu tak mengucapkan sepatah kata apapun, ia keluar dari rumah besar itu dan segera masuk ke dalam taxi yang menunggunya di luar.


"Jalan pak." Ucapnya setelah berada di dalam taxi.

__ADS_1


Supir taxi tersebut hanya mengangguk, ia kembali mengintip Mala dari balik kaca spion, dahinya tiba-tiba mengkerut melihat Mala telah mengganti gaun pengantinnya. Namun sopir tersebut enggan bertanya, ia lantas melajukan mobilnya meninggalkan rumah besar itu.


Mala termenung menatap ke luar jendela, air matanya seolah tak habis dan kembali menetes. Bayangan saat Arthur melemparkan kembang api dan menyebabkan kebakaran membuat dadanya terasa sesak. Namun tiba-tiba akal sehatnya seperti kembali, ia menyeka air matanya dengan kasar.


"Bagaimana mungkin sebuah kembang api bisa menimpulkan sambaran api sebesar itu? Ini mustahil, kecuali tempat itu sudah di siram bahan bakar sebelumnya?" Gumamnya seraya kembali menyeka air matanya.


Tanpa di sadarinya taxi yang ia tumpangi sudah berhenti di depan sebuah rumah dua lantai berukuran cukup besar. "Sudah sampai mbak." Ucapnya dengan sopan.


"Eh, iya." Mala meraih beberapa lembar uang dari dompetnya dan memberikannya kepada sang supir, ia merapikan penampilannya sebelum keluar dari taxi tersebut. "Terimakasih pak." Ucapnya lirih.


Taxipun berlalu pergi, ia masih berdiri menatap pagar rumah yang telah lama di tinggalnya, rumah yang puluhan tahun lalu menampungnya hingga tumbuh dewasa. Mala menarik nafas panjang, ia memantapkan hatinya untuk masuk ke dalam rumah itu.


Kedatangan Mala membuat seluruh penghuni rumah terperangah, mereka menatap Mala dan kopernya secara bersamaan.


Ya, Mala pulang ke rumah bibinya, rumah yang harusnya tak pernah ia jejaki lagi, namun Mala sadar hanya rumah tersebutlah satu-satunya tempat untuk Mala berlindung saat ini.


Bi Ningsih beranjak dari kursinya, ia berdiri mendekati Mala dan menatap gadis itu tak percaya. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya di sertai tendangan kecil pada koper Mala.


Mala tak segera menjawab pertanyaan bibinya, ia merogok tas kecil yang bertaut di pundaknya, Mala mengeluarkan stempel milik mendiang sang ayah dan menunjukkannya kepada bi Ningsing.

__ADS_1


"Ijinkan aku untuk tinggal di sini selama beberapa hari." Ujar Mala tanpa ragu, ia lalu menatap Sofyan, sepupu laki-lakinya dengan tajam. "Dan aku membutuhkan bantuan kak Sofyan. Sebagai imbalannya aku akan memberikan stempel ini kepada kalian." Imbuhnya seraya menempelkan ujung stempel itu di punggung tangan bi Ningsih sehingga meninggalkan cap bertuliskan nama ayahnya.


Bi Ningsing mengamati tangannya, ia tersenyum seraya menatap kedua anaknya. "Baiklah, kau boleh tinggal disini." Ucapnya setuju.


"Ah ya, aku tinggal di sini bukan berarti aku akan menjadi budak kalian, aku tidak akan melakukan pekerjaan seperti dulu lagi. Dan satu hal lagi, keberadaanku di tempat ini adalah sebuah rahasia!" Tegas Mala dengan tatapan tajam.


"Bukan masalah, yang penting stempel itu menjadi milik kami."


Setelah mendapat persetujuan dari bibinya, Mala segera naik ke lantai atas di kamana kamarnya dulu berada, Mala masuk ke dalam kamar sempit itu, ia menatap sekeliling dan tak ada yang berubah sedikitpun. Mala mengunci pintu kamarnya, ia meraih kain sprei dari dalam lemari plastik yang teronggok di sudut kamar tersebut dan memasangnya pada kasur kecilnya.


Gadis itu merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur, salah satu lengannya menutup kedua matanya yang terpejam, sungguh ia sangat ingin tertidur dan saat ia bangun nanti semuanya akan baik-baik saja.


***


Keluarga Bagaskara kini berada di kinik tempat Dokter Sheila melakukan prakteknya, mereka berada di dalam ruangan khusus yang memang di rancang untuk Arthur. Pria berlesung pipi itu masih tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Hampir dua jam lamanya Arthur tak juga membuka matanya, mama Wulan, Rafli dan Dokter Sheila nampak begitu cemas, mereka khawatir ketakutan mereka akan terjadi.


Senja mulai menyingsing, kicauan burung yang terbang bergerombol kembali ke sarangnya menandakan jika langit akan segera gelap, di dalam ruangan dengan ukuran 5x5 meter tersebut, Arthur mulai menggerkaan kelopak matanya. Dokter Sheila berjalan mendekati Arthur, ia memeriksa tanda vital Arthur yang telah kembali stabil, beberapa menit kemudian kedua kelopak mata pria itu mulai terbuka, pupil matanya mulai bergerak mengelilingi orang yang ada di dalam ruangan itu


Semua orang yang berada di dalam ruangan itu nampak bernafas lega, namun tidak dengan Dokter Sheila, Dokter cantik itu menangkap sesuatu yang tidak beres pada tubuh Arthurr, tatapan mata itu nampak sangat asing baginya.

__ADS_1


"Dónde estoy?"...


BERSAMBUNG...


__ADS_2